Ateng Minta Kawin(1974)

Pintu Harmonika (23 Mei 2013)

Cynthia (Karina Salim) akhirnya mengetahui latar belakang Rizal (Fauzan Nasrul)

Optatissimus (23 Mei 2013)

Andreas (Rio Dewanto) dan Yunita (Nadhira Suryadi) pada pertunjukan drama di sekolah minggu

Cinta Brontosaurus (8 Mei 2013)

Dunia Imajinasi Dika (Raditya Dika), bersama dengan Jessica (Eriska Rein)

Sang Kiai (30 Mei 2013)

KH Hasyim Asy'ari (Ikranagara) memimpin rapat ulama

  • Dino Pemenang Kompetisi Film Pendek EoS 2013

    Film Dino (2013), yang disutradarai Edward Gunawan, terpilih menjadi pemenang pertama Kompetisi Film Pendek Europe on Screen 2013. Film ini mengungguli tujuh film finalis lainnya dan membawa pulang hadiah berupa Full HD Camcorder dari SONY Indonesia seri HDR-PJ30E.

  • Palu dan Purbalingga Juara Festival Film Solo 2013

    Halaman Belakang karya Yusuf Radjamuda (Palu) menjadi film terbaik kategori Ladrang atau umum, sementara Lawuh Boled karya Misyatun (Purbalingga) juara kategori Gayaman atau pelajar. Pengumuman pemenang ini menutup perhelatan Festival Film Solo 2013.

  • Europe on Screen Dimulai

    Film The Fourth State (2012) dari Jerman karya sutradara Dennis Gansel, resmi membuka perhelatan Europe on Screen 2013. Pembukaan festival film ini berlangsung di Auditorium 1 Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta Jumat (3/05/2013). Acara pembukaan juga dihadiri oleh Jari Litmanen, pemain sepak bola legendaris dari Finlandia, di mana film dokumenter tentang dirinya menjadi salah satu film yang diputar di acara tahunan ini.

  • Mouly Surya: Mencintai Film, Memfilmkan Cinta

    Mouly Surya bercerita tentang proses kreatif Don’t Talk Love, mulai dari pengembangan cerita, pemahaman komunitas tuna netra, penerjamahan ruang, hingga penyusunan gambar. Mouly juga bercerita tentang perkembangan dirinya sebagai pembuat film dan peredaran film-filmnya.

  • Lola Amaria: Gue Mencintai Proses Belakang Layar!

    Lola baru saja meluncurkan film layar lebar produksinya yang kelima, Kisah 3 Titik (K3T). Ia bercerita kepada FI tentang produksi film, berburu bakat-bakat baru dan juga tentang masa awal keterlibatannya di dunia film.

  • Vino Bastian: Aspirasi Anak Muda Lewat Film

    Aktor kelahiran 24 Maret 1982 ini bercerita tentang pengalamannya di Tampan Tailor dan Madre, proses kreatifnya, kariernya, rekan-rekan satu profesinya, krisis keaktoran di perfilman nasional, serta keinginannya untuk menyuarakan aspirasi anak muda lewat film.

  • Raditya Dika: Gue Membuat Apa Yang Gue Mau Tonton

    Raditya Dika merasa cukup puas  atas kelahiran film barunya, Cinta Brontosaurus. Selain banyak belajar, ia merasa puas karena bisa sepenuhnya menggarap naskah untuk film ini, tanpa bantuan langsung dari orang lain. 

  • Komitmen Dewi Irawan Menjadi Aktor

    Akting bukanlah suatu yang asing dan bahkan sudah mendarah daging di Keluarga Irawan. Termasuk bagi Dewi Irawan. Aktris kelahiran 13 Juni 1963 ini sudah akrab dengan dunia film sejak ia lahir. Ayahnya, Bambang Irawan, mendirikan rumah produksi Agora di tahun yang sama dengan tahun kelahirannya.

  • Tugas Berlipat Marcella di Rectoverso

    Setelah lebih banyak berkarya sebagai aktris, kemudian menjajal kerja sebagai produser, kali ini Marcella Zalianty juga mencoba menyutradarai film terbarunya, Rectoverso. “Terus terang saja, kalau seperti ini memang capek, ya. Mungkin kalau nanti aku produksi lagi, sebaiknya aku pilih salah satu antara menyutradarai atau memproduseri saja.”

  • Sejarah dan Produksi Ruang Bioskop

    Ruang bukanlah sekedar tempat terjadinya peristiwa. Ruang membentuk sekaligus ikut dibentuk oleh aktivitas manusia yang ada di dalamnya. Bioskop termasuk dalam kategori ruang yang menjadi tempat interaksi dan dinamika sosial yang riuh. Memakai contoh Indonesia, Malaysia, dan Filipina, tulisan ini mengamati bioskop sebagai produk warisan masa kolonial yang terus berubah seiring perkembangan zaman.

  • Box Office vs Film Festival

    Adalah tidak relevan untuk membandingkan film dan penonton dari kedua kategori ini. Film Box Office dan Film Festival sebenarnya memiliki hubungan saling melengkapi (complementary). Film Box Office menjawab kebutuhan penonton akan tontonan massal, sedangkan ‘Film Festival’ menjawab kebutuhan penonton akan tontonan personal.

  • Risalah 2012: Ditinggalkan Bioskop, Diabaikan Pemerintah

    2012 adalah tahun yang sulit untuk mengevaluasi industri perfilman Indonesia. Semua yang terlihat mata dan tercatat sebagai data—yang memberi kesan telah terjadi pertumbuhan pesat (sebagai indikator kemajuan)—tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.

Trailer
Resensi

Cinta Bisa Kadaluarsa, Film Juga

Cinta Brontosaurus mengingatkan akan klise-klise dalam film komedi-roman Indonesia. Lelaki bisa berbuat salah, tapi perempuan seakan-akan tak punya reaksi lain selain mengambek, mata melotot, bentak-bentak. Ternyata bukan cinta saja yang bisa kadaluarsa. Film juga.

Hati Perempuan dalam Realita yang Subtil

Mouly Surya dalam film keduanya ini malah memilih menempuh jalan pedang sebagai ronin (samurai tak bertuan) yang jauh penuh risiko. Itulah jalan para petarung sejati yang, dalam idealisasi budaya populer, digambarkan tidak sudi menghabiskan umur sebagai mediocre, untuk menemukan jatidiri dan takdirnya sendiri.

Tantangan Memandang, Mendengar dan Bernalar

Jarang sekali ada film Indonesia yang mengutak-atik persoalan dasar ‘film’ dan mempertanyakan kesatuan pandangan-pendengaran. Pada Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta elemen pandang-dengar ini bukan saja diceraikan, tapi lebih jauh lagi, dijadikan bahan percobaan. Film seperti ini, barangkali hanya dibuat (jangankan diputar) di Indonesia seabad sekali.