Martabak Bangka (19 September 2019)

Jaya (Ramon Y Tungka) memutuskan untuk mencari keluarga Koh Acun di Pulau Bangka dengan bermodalkan fotonya ditemani Asep (Ario Astungkoro).

Hayya: The Power of Love 2 (19 September 2019)

Hayya memutuskan untuk pergi dari rumah setelah terlibat dalam hubungan yang kompleks antara Rahmat dan Yasna

Pretty Boys (19 September 2019)

Rahmat (Deddy Mahendra Desta), Anugerah (Vincent Rompies) serta dukungan dari Asty (Danilla Riyadi) mencoba mengejar cita-cita menjadi terkenal.

Perburuan (15 Agustus 2019)

Hardo (Adipati Dolken) dikejar oleh tentara Nippon setelah kembalinya ke Blora.

Bumi Manusia (15 Agustus 2019)

Perkenalan pertama Minke (Iqbaal Ramadhan ) dan Annelies (Mawar De Jongh)

  • Unduh buku Pandangan Umum Industri Film Indonesia 2019

    Buku Pandangan Umum Industri Film Indonesia 2019 dapat diunduh secara cuma-cuma, sebagai referensi perihal analisis tahunan industri film Indonesia. 

  • Daftar Pemenang FFI 2017

    Daftar nomine dan pemenang di FFI 2017

  • FFD 14: Tanah Mama Terbaik

    Tanah Mama produksi Kalyana Shira Foundation dan film pertama sutradara Asrida Elisabet meraih penghargaan terbaik untuk kategori film dokumenter panjang dalam Festival Film Dokumenter yang berlangsung 7-12 Desember 2015 di gedung Societet Taman Budaya Yogya,  IFI-LIP, dan Tembi Rumah Budaya, Yogya.

  • Marcel Batara Goempar: "Posesif" Dan Permainan Eksplorasi Ruang

    Sinematografi film ini berbeda dari film-film remaja lainnya, di sini dunia remaja bukan gambar lembut dan cerah berwarna-warni mencolok yang menyarankan keceriaan dan semacam kenaifan melainkan gambar tajam yang berwarna cenderung realistis dan berkesan kontemplatif.

  • CLC Purbalingga: Edukasi Film, Edukasi Politik

    Cinema Lovers Community (CLC) adalah komunitas lokal yang sudah membuktikan diri tahan banting.  “Puncak” kegiatan komunitas ini adalah Festival film Purbalingga yang berlangsung setahun sekali selama bulan Mei. Festival ini juga punya program unik: Layar Tanjleb yang diadakan dari desa ke desa. Hambatan-hambatan yang dihadapi komunitas ini membuka mata para pengurusnya bahwa kegiatan “mencintai” film ternyata harus berhadapan dengan urusan sosial-politik lokal, seperti bisa dibaca dari wawancara Windu Jusuf, penulis FI dan Cinema Poetica dengan para aktivis CLC berikut.

  • Benni Setiawan: Jatah Layar untuk Film Lokal Sedikit Sekali

    Saya justru menyayangkan soal distribusi layar bioskop. Katakanlah begini, seharusnya ada kesempatan bagi film-film Indonesia untuk jadi tuan rumah. Kasih kesempatan lebih besar agar jumlah orang yang nonton juga makin banyak. 

  • Sekilas Mengenang Edward Pesta Sirait (7 Agustus 1942 – 12 Januari 2019)

    Setelah dirawat di RS Pondok Indah, Jakarta, karena komplikasi diabetes sejak Kamis 3 Januari 2019, Edward Pesta Sirait, sutradara puluhan film dan ratusan seri sinetron Indonesia, akhirnya meninggal dunia di ruang perawatannya pada hari Sabtu 12 Januari 2019, pukul 17:58 WIB. Sejak malam harinya jenazah disemayamkan di rumahduka RS Dharmais, Jakarta, lalu dimakamkan pada siang hari Senin 14 Januari di Sandiego Hills, Karawang Barat. Edward, yang disebut Edo oleh teman-temannya, meninggalkan 16 orang kesayangan terdekatnya: isterinya, Gottina Tiapul br Tambunan, empat anak dan empat menantu, serta tujuh cucu.

  • Lukman Sardi: Jangan Sampai Ada Korban Lagi

    Ada satu perubahan yang yang kita kenal dengan reformasi, tapi korban yang berjatuhan juga banyak. Kan maunya kejadian itu tidak terulang lagi. Kalau mau ada perubahan ke arah yang bagus, ya bagus. Namun, jangan sampai ada korban.

  • Eva Celia: This Is a Dream Come True!

    Kalau ada tawaran lagi untuk berpartisipasi dalam film laga, saya percaya kalau saya sanggup. Dengan catatan, standarnya seperti film ini. Soalnya sejak kecil saya memang sudah menyukai genre ini. Bisa ikut bermain dalam film ini adalah mimpi yang jadi kenyataan. This is a dream come true!”

  • Membicarakan Penonton Festival Film Kekinian

    Seiring dengan pertumbuhan kegiatan perfilman di Yogyakarta, festival film juga lahir dan berkembang atas dukungan penonton. Kehadiran penonton menjamin keberlangsungan peristiwa budaya semacam ini.

  • Kaleidoskop 2017: Bioskop yang Belum Ramah bagi Semua

    Stabilnya pertumbuhan jumlah judul dan penonton film Indonesia turut disumbangkan oleh pertumbuhan industri bioskop di tanah air. Meski saat ini banyak pemain yang terlibat, nyatanya bioskop masih belum dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat, baik dari aspek geografis, maupun daya beli.

  • Kaleidoskop 2017: Mengukur detak jantung industri film Indonesia

    Terdapat beberapa hal menarik dari perjalanan film Indonesia sepanjang 2017. Pada beberapa indikator seperti jumlah layar dan penonton menunjukkan adanya pertumbuhan. Dari segi jumlah film beredar, terdapat penurunan dibandingkan dengan tahun 2016 tetapi dalam jumlah yang tidak signifikan. Bahkan bila dilihat dari pembagian perolehan penonton, berkurangnya jumlah film beredar di tahun 2017 juga dapat dipandang positif.

Trailer
Resensi

Cerita dari Grobogan

Oleh kritik perfilman Indonesia, peta perkembangan perfilman Indonesia umumnya disederhanakan menjadi dua bagian saja, yakni masa awal perkembangan dimana film-film Indonesia dikategorikan sebagai dalam masa perjuangan, dan masa sesudahnya dimana film lebih diperlakukan sebagai barang dagangan.

Bumi Manusia, Bumi Masyarakat Kontemporer dengan Persoalannya

Ramainya perhatian orang terhadap Bumi Manusia bahkan sejak penentuan siapa sutradaranya ketika novel karya Pramoedya Ananta Toer itu hendak dibikin film, terus terang lumayan menarik perhatian saya. Ketika film beredar, saya menonton pada hari kedua film tersebut diputar di bioskop di Bogor. Dari situ saya terdorong untuk membikin catatan ini.

Catatan yang saya buat mencoba menyorot dua aspek. Pertama, aspek alih medium, dari buku ke film. Kedua, bagaimana konsekuensi dari pengalihan medium, dalam hal ini dari buku ke film, terutama pada segi estetik. Film, selain sebagai produk industri dan barang dagangan, adalah juga produk estetik. Pada konsekuensi pengalihan medium saya sedapat-dapatnya membatasi pada hal terakhir itu saja.

Realisme Komersil A Copy of My Mind

Film ini tidak sepenuhnya gagal menceritakan kisah manusia-manusia gagal, tapi ada diskrepansi yang signifikan di antara temanya yang personal dan bahasanya yang komersil—yang sering memaksakan yang personal menjadi politikal, dan yang politikal menjadi personal.