Sabrina (12 Juli 2018)

Vanya berbicara dengan Boneka Sabrina dan menganggap boneka tersebut telah dirasuki oleh ibunya

Rocker Balik Kampung (12 Juli 2018)

Joe Santani (Wingky Wiryawan) kembali ke kampung Sinar Asih dan berhadapan lagi dengan orang-orang dari masa lalunya

R - Raja, Ratu & Rahasia (12 Juli 2018)

Cinta Raja dan Ratu mengalami tantangan semenjak Raja mengetahui Ratu mengikuti kelompok rahasia di sekolah

Kulari ke Pantai (28 Juni 2018)

Sam (Maisha Kanna), anak pantai asal Rote, Nusa Tenggara Timur, beserta ibunya, Uci (Marsha Timothy), melakukan perjalanan darat berdua saja.

Rasuk (28 Juni 2018)

Langgir Janaka (Shandy Aulia) mendapat gangguan saat berlibur ke sebuah villa di Karma Rinjani

  • Membicarakan Penonton Festival Film

    Seiring dengan pertumbuhan kegiatan perfilman di Yogyakarta, festival film juga lahir dan berkembang atas dukungan penonton. Kehadiran penonton menjamin keberlangsungan peristiwa budaya semacam ini.

    Baca lebih lanjut

  • Kaleidoskop 2017: Keragaman Film

    Sepanjang 2017, banyak hal menarik ditinjau dari keragaman film-film yang beredar. Keragaman tersebut bukan muncul begitu saja tetapi hasil dari perkembangan sebuah proses yang berlangsung di industri film Indonesia.

    Baca lebih lanjut

  • Kaleidoskop 2017: Tinjauan atas bioskop

    Stabilnya pertumbuhan jumlah judul dan penonton film Indonesia turut disumbangkan oleh pertumbuhan industri bioskop di tanah air. Namun, nyatanya bioskop masih belum dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat.

    Baca lebih lanjut

  • Film Nasional Versus Bioskop

    Sekitar sepuluh tahun lalu bioskop Blok M Plaza 21 sangat potensial bagi film nasional. Bahkan, pernah terjadi seluruh enam layarnya memutar hanya film nasional. Itu tak pernah terjadi lagi. Mengapa?

    Baca lebih lanjut

  • Daftar Pemenang FFI 2017

    Daftar nomine dan pemenang di FFI 2017

  • FFD 14: Tanah Mama Terbaik

    Tanah Mama produksi Kalyana Shira Foundation dan film pertama sutradara Asrida Elisabet meraih penghargaan terbaik untuk kategori film dokumenter panjang dalam Festival Film Dokumenter yang berlangsung 7-12 Desember 2015 di gedung Societet Taman Budaya Yogya,  IFI-LIP, dan Tembi Rumah Budaya, Yogya.

  • JAFF ke10: Tiga Film Indonesia Raih Penghargaan

    Tiga film Indonesia meraih penghargaan dalam Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) ke10 yang berakhir 6 Desember 2015 malam di Taman Budaya Yogyakarta, meskipun penghargaan tertinggi festival (Golden Hanoman Award) jatuh pada film dokumenter Cambodian Son karya Masahiro Sugano (produksi Kamboja, AS, Perancis dan Inggris). Penghargaan Silver Award diraih oleh Swap karya Remton Siega Zuasola dari Filipina.

  • Marcel Batara Goempar: "Posesif" Dan Permainan Eksplorasi Ruang

    Sinematografi film ini berbeda dari film-film remaja lainnya, di sini dunia remaja bukan gambar lembut dan cerah berwarna-warni mencolok yang menyarankan keceriaan dan semacam kenaifan melainkan gambar tajam yang berwarna cenderung realistis dan berkesan kontemplatif.

  • CLC Purbalingga: Edukasi Film, Edukasi Politik

    Cinema Lovers Community (CLC) adalah komunitas lokal yang sudah membuktikan diri tahan banting.  “Puncak” kegiatan komunitas ini adalah Festival film Purbalingga yang berlangsung setahun sekali selama bulan Mei. Festival ini juga punya program unik: Layar Tanjleb yang diadakan dari desa ke desa. Hambatan-hambatan yang dihadapi komunitas ini membuka mata para pengurusnya bahwa kegiatan “mencintai” film ternyata harus berhadapan dengan urusan sosial-politik lokal, seperti bisa dibaca dari wawancara Windu Jusuf, penulis FI dan Cinema Poetica dengan para aktivis CLC berikut.

  • Benni Setiawan: Jatah Layar untuk Film Lokal Sedikit Sekali

    Saya justru menyayangkan soal distribusi layar bioskop. Katakanlah begini, seharusnya ada kesempatan bagi film-film Indonesia untuk jadi tuan rumah. Kasih kesempatan lebih besar agar jumlah orang yang nonton juga makin banyak. 

  • Lukman Sardi: Jangan Sampai Ada Korban Lagi

    Ada satu perubahan yang yang kita kenal dengan reformasi, tapi korban yang berjatuhan juga banyak. Kan maunya kejadian itu tidak terulang lagi. Kalau mau ada perubahan ke arah yang bagus, ya bagus. Namun, jangan sampai ada korban.

  • Eva Celia: This Is a Dream Come True!

    Kalau ada tawaran lagi untuk berpartisipasi dalam film laga, saya percaya kalau saya sanggup. Dengan catatan, standarnya seperti film ini. Soalnya sejak kecil saya memang sudah menyukai genre ini. Bisa ikut bermain dalam film ini adalah mimpi yang jadi kenyataan. This is a dream come true!”

  • Sidi Saleh: Bikin Film Murah yang Tidak Murahan

    "Venice itu festival film yang buat saya paling sentimental." Tahun 2011 silam, ketika Sidi diundang ke Festival di Udinese, ia sempat jalan-jalan ke Venice. Hari berikutnya Sidi menerima kabar ayahnya meninggal. “Ayah adalah orang pertama yang memperkenalkan saya dengan kamera."

  • Membicarakan Penonton Festival Film Kekinian

    Seiring dengan pertumbuhan kegiatan perfilman di Yogyakarta, festival film juga lahir dan berkembang atas dukungan penonton. Kehadiran penonton menjamin keberlangsungan peristiwa budaya semacam ini.

  • Kaleidoskop 2017: Bioskop yang Belum Ramah bagi Semua

    Stabilnya pertumbuhan jumlah judul dan penonton film Indonesia turut disumbangkan oleh pertumbuhan industri bioskop di tanah air. Meski saat ini banyak pemain yang terlibat, nyatanya bioskop masih belum dapat diakses oleh semua kalangan masyarakat, baik dari aspek geografis, maupun daya beli.

  • Kaleidoskop 2017: Mengukur detak jantung industri film Indonesia

    Terdapat beberapa hal menarik dari perjalanan film Indonesia sepanjang 2017. Pada beberapa indikator seperti jumlah layar dan penonton menunjukkan adanya pertumbuhan. Dari segi jumlah film beredar, terdapat penurunan dibandingkan dengan tahun 2016 tetapi dalam jumlah yang tidak signifikan. Bahkan bila dilihat dari pembagian perolehan penonton, berkurangnya jumlah film beredar di tahun 2017 juga dapat dipandang positif.

Trailer
Resensi

Realisme Komersil A Copy of My Mind

Film ini tidak sepenuhnya gagal menceritakan kisah manusia-manusia gagal, tapi ada diskrepansi yang signifikan di antara temanya yang personal dan bahasanya yang komersil—yang sering memaksakan yang personal menjadi politikal, dan yang politikal menjadi personal.

A Fistful of Locke: Delusi Orisinalitas dalam Nay

Selama hampir keseluruhan 80 menit film ini, penonton hanya disuguhi sosok Nay ngobrol di telepon di dalam mobil dengan berbagai karakter lain yang tidak pernah kelihatan sosoknya. Di akhir film, kita jadi mengerti banyak tentang dilema-dilema kehidupan yang dihadapi Nay sekarang.

Ringan, tetapi Nikmat Diminum

Filosofi Kopi bukan film yang penuh filosofi. Cerita-cerita tentang obsesi, persahabatan, penemuan jati diri, serta rekonsiliasi hubungan anak dan orang tua juga tidak menawarkan hal yang baru. Maka, jika diibaratkan kopi, ia bukan kopi tubruk, apalagi kopi tubruk yang dibuat dari biji Kopi Tiwus. Film ini adalah secangkir cappuccino: ringan, tetapi nikmat diminum.