Cinta Pertama, Kedua & Ketiga (6 Januari 2022)

Upaya Raja (Angga Yunanda) meyakinkan Asia (Putri Marino) bahwa kedua orangtua mereka cocok bersama menemukan kendala: Raja dan Asia perlahan justru jatuh cinta.

Dear Nathan: Thank You Salma (13 Januari 2022)

Nathan (Jefri Nichol) berada dalam situasi sulit: memperjuangkan keadilan untuk Zanna (Indah Permatasari) atau mempertahankan hubungan dengan Salma (Amanda Rawles).

Makmum 2 (30 Desember 2021)

Di tengah situasi duka, Rini (Titi Kamal) kembali diganggu oleh sosok ghaib menyerupai Makmum, yang membuat imannya goyah.

Merindu Cahaya de Amstel (20 Januari 2022)

Khadija Veenhoven (Amanda Rawles) mengusik kenangan Nico (Bryan Domani) akan ibu yang meninggalkannya saat kecil.

Teluh (20 Januari 2022)

Satu per satu anggota keluarga Pak Indra mengalami hal yang aneh dan mistis setelah mendapat kiriman teluh. Keluarga Pak Indra berupaya melawan pengaruh teluh itu.

  • Industri Film Indonesia 2020

    Industri perfilman Indonesia dilumpuhkan oleh sesuatu di luar tindakan manusia. Dibandingkan tahun sebelumnya, 2020 seperti tiba-tiba terjatuh ke jurang saat berjalan mendekati puncak, 2 minggu menjelang Hari Film Nasional pada 30 Maret 2020.

    Baca lebih lanjut

  • Pustaka Festival Film di Indonesia

    Perbincangan mengenai festival film di Indonesia dimulai melalui tulisan mengenai pengalaman pembuat film menghadiri festival film. Awalnya tulisan tersebut terbit di media massa, kemudian hadir bersama tulisan tentang film dalam bentuk buku.

    Baca lebih lanjut

  • 2019: Bukan Sekadar Jumlah Penonton

    Kumpulan data-data angka tersebut tidak mewakili gambaran utuh keadaan industri dan masih sangat membutuhkan analisis-analisis lain dengan pendekatan multidisiplin-multidimensi.

    Baca lebih lanjut

  • Analisis Industri Film Indonesia 2019

    Buku Pandangan Umum Industri Film Indonesia 2019 dapat diunduh secara cuma-cuma, sebagai referensi perihal analisis tahunan industri film Indonesia.

    Baca lebih lanjut

  • Pengumuman Peroleh Penghargaan FFI 2021

    Pengumuman peroleh penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2021

  • Nominasi FFI 2021

    Terdapat 22 nominasi kategori perolehan Piala Citra dan 1 nominasi Penghargaan Khusus (karya kritik film) hasil dari proses seleksi dan penjurian yang dilakukan oleh 54 orang perwakilan asosiasi-asosiasi profesi perfilman.

  • Macan Tutul Emas untuk Dendam, Prestasi Tertinggi Film Indonesia yang…

    Di tengah pandemi global Covid-19 yang membatasi produksi film serta berkumpul secara fisik di bioskop dan di festival, Indonesia mendapat kabar baik ini. Saya harus menyatakan bahwa saya merasa sangat beruntung dapat menyaksikan film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (singkatnya, ”Dendam”) menemui penontonnya dalam pemutaran perdana dunia di Locarno.

  • Marcel Batara Goempar: "Posesif" Dan Permainan Eksplorasi Ruang

    Sinematografi film ini berbeda dari film-film remaja lainnya, di sini dunia remaja bukan gambar lembut dan cerah berwarna-warni mencolok yang menyarankan keceriaan dan semacam kenaifan melainkan gambar tajam yang berwarna cenderung realistis dan berkesan kontemplatif.

  • CLC Purbalingga: Edukasi Film, Edukasi Politik

    Cinema Lovers Community (CLC) adalah komunitas lokal yang sudah membuktikan diri tahan banting.  “Puncak” kegiatan komunitas ini adalah Festival film Purbalingga yang berlangsung setahun sekali selama bulan Mei. Festival ini juga punya program unik: Layar Tanjleb yang diadakan dari desa ke desa. Hambatan-hambatan yang dihadapi komunitas ini membuka mata para pengurusnya bahwa kegiatan “mencintai” film ternyata harus berhadapan dengan urusan sosial-politik lokal, seperti bisa dibaca dari wawancara Windu Jusuf, penulis FI dan Cinema Poetica dengan para aktivis CLC berikut.

  • Benni Setiawan: Jatah Layar untuk Film Lokal Sedikit Sekali

    Saya justru menyayangkan soal distribusi layar bioskop. Katakanlah begini, seharusnya ada kesempatan bagi film-film Indonesia untuk jadi tuan rumah. Kasih kesempatan lebih besar agar jumlah orang yang nonton juga makin banyak. 

  • In Memoriam Gunawan Maryanto (10 April 1976-06 Oktober 2021)

    Jauh sebelum rencana pembuatan film tentang Wiji Thukul, saya sudah menemui Gunawan Maryanto untuk meminta pendapat sekaligus meminangnya memainkan Siman, astronot dari Bantul di film yang berjudul The Science of Fictions yang akan saya bikin.

  • Sekilas Mengenang Edward Pesta Sirait (7 Agustus 1942 – 12 Januari 2019)

    Setelah dirawat di RS Pondok Indah, Jakarta, karena komplikasi diabetes sejak Kamis 3 Januari 2019, Edward Pesta Sirait, sutradara puluhan film dan ratusan seri sinetron Indonesia, akhirnya meninggal dunia di ruang perawatannya pada hari Sabtu 12 Januari 2019, pukul 17:58 WIB. Sejak malam harinya jenazah disemayamkan di rumahduka RS Dharmais, Jakarta, lalu dimakamkan pada siang hari Senin 14 Januari di Sandiego Hills, Karawang Barat. Edward, yang disebut Edo oleh teman-temannya, meninggalkan 16 orang kesayangan terdekatnya: isterinya, Gottina Tiapul br Tambunan, empat anak dan empat menantu, serta tujuh cucu.

  • Lukman Sardi: Jangan Sampai Ada Korban Lagi

    Ada satu perubahan yang yang kita kenal dengan reformasi, tapi korban yang berjatuhan juga banyak. Kan maunya kejadian itu tidak terulang lagi. Kalau mau ada perubahan ke arah yang bagus, ya bagus. Namun, jangan sampai ada korban.

  • Pemandangan Umum Industri Film Indonesia 2020

    Baru kali ini industri perfilman Indonesia dilumpuhkan oleh sesuatu yang bukan tindakan manusia. Sepanjang sejarahnya sejak awal abad ke-20, industri film Indonesia memang tidak stabil perkembangannya dan selalu naik-turun, akan tetapi penyebabnya berasal dari perang, konflik politik atau kebijakan yang lebih membela monopoli peredaran film impor - dengan kata lain, bencana tindakan manusia. 

  • Pustaka Festival Film di Indonesia

    Perbincangan mengenai festival film di Indonesia dimulai melalui tulisan mengenai pengalaman pembuat film menghadiri festival film. Awalnya tulisan tersebut terbit dalam media massa, kemudian diterbitkan bersama tulisan mengenai praktik film lainnya dalam bentuk buku

  • Perkembangan Film Indonesia 2019: Bukan sekadar jumlah penonton.

    Dalam paparan tentang perkembangan industri film, indikator kuantitatif hanyalah pijakan awal untuk membaca dan memahami kondisi dan pertumbuhan industri. Kumpulan data-data angka tersebut tidak mewakili gambaran utuh keadaan industri dan masih sangat membutuhkan analisis-analisis lain dengan pendekatan multidisiplin-multidimensi.

Trailer
Resensi

Cerita dari Grobogan

Oleh kritik perfilman Indonesia, peta perkembangan perfilman Indonesia umumnya disederhanakan menjadi dua bagian saja, yakni masa awal perkembangan dimana film-film Indonesia dikategorikan sebagai dalam masa perjuangan, dan masa sesudahnya dimana film lebih diperlakukan sebagai barang dagangan.

Bumi Manusia, Bumi Masyarakat Kontemporer dengan Persoalannya

Ramainya perhatian orang terhadap Bumi Manusia bahkan sejak penentuan siapa sutradaranya ketika novel karya Pramoedya Ananta Toer itu hendak dibikin film, terus terang lumayan menarik perhatian saya. Ketika film beredar, saya menonton pada hari kedua film tersebut diputar di bioskop di Bogor. Dari situ saya terdorong untuk membikin catatan ini.

Catatan yang saya buat mencoba menyorot dua aspek. Pertama, aspek alih medium, dari buku ke film. Kedua, bagaimana konsekuensi dari pengalihan medium, dalam hal ini dari buku ke film, terutama pada segi estetik. Film, selain sebagai produk industri dan barang dagangan, adalah juga produk estetik. Pada konsekuensi pengalihan medium saya sedapat-dapatnya membatasi pada hal terakhir itu saja.

Realisme Komersil A Copy of My Mind

Film ini tidak sepenuhnya gagal menceritakan kisah manusia-manusia gagal, tapi ada diskrepansi yang signifikan di antara temanya yang personal dan bahasanya yang komersil—yang sering memaksakan yang personal menjadi politikal, dan yang politikal menjadi personal.