Wanalathi (11 Agustus 2022)

Upaya pembuktian soal perbedaan antara bunga lotus dan bunga teratai justru membuat mereka berhadapan dengan sindikat penambang emas ilegal

Tumbal Hitam: Darah Anak Melik (11 Agustus 2022)

Sepasang suami istri ingin mengubah takdir kehidupan mereka menjadi kaya raya melalui pesugihan dengan tumbal darah anak melik.

Pengabdi Setan 2 Communion (4 Agustus 2022)

Pada sebuah malam penuh teror, Rini dan keluarganya harus kembali menyelamatkan diri.

Ngeri-ngeri Sedap (2 Juni 2022)

Pak Domu (Arswendi Bening Swara) dan Mak Domu (Tika Panggabean) akhirnya pura-pura bertengkar dan ingin bercerai demi mendapatkan perhatian anak-anak mereka.

Jo Sahabat Sejati (11 Agustus 2022)

Jo, kuda milik Arif (Ismu Tanjung), dituduh menjadi penyebab segala peristiwa yang terjadi.

  • Industri Film Indonesia 2020

    Industri perfilman Indonesia dilumpuhkan oleh sesuatu di luar tindakan manusia. Dibandingkan tahun sebelumnya, 2020 seperti tiba-tiba terjatuh ke jurang saat berjalan mendekati puncak, 2 minggu menjelang Hari Film Nasional pada 30 Maret 2020.

    Baca lebih lanjut

  • Pustaka Festival Film di Indonesia

    Perbincangan mengenai festival film di Indonesia dimulai melalui tulisan mengenai pengalaman pembuat film menghadiri festival film. Awalnya tulisan tersebut terbit di media massa, kemudian hadir bersama tulisan tentang film dalam bentuk buku.

    Baca lebih lanjut

  • 2019: Bukan Sekadar Jumlah Penonton

    Kumpulan data-data angka tersebut tidak mewakili gambaran utuh keadaan industri dan masih sangat membutuhkan analisis-analisis lain dengan pendekatan multidisiplin-multidimensi.

    Baca lebih lanjut

  • Analisis Industri Film Indonesia 2019

    Buku Pandangan Umum Industri Film Indonesia 2019 dapat diunduh secara cuma-cuma, sebagai referensi perihal analisis tahunan industri film Indonesia.

    Baca lebih lanjut

  • Penerima Piala Gunungan FFWI 2022

    Pada 27 Oktober 2022, telah diumumkan film-film yang perolehan penghargaan Piala Gunungan, film-film terbaik pilihan Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) 2022.

  • Nominasi FFI 2022

    Sabtu, 22 Oktober 2022 lalu, Komite Festival Film Indonesia mengumumkan daftar nominasi perolehan penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2022.

  • Pengumuman Peroleh Penghargaan FFI 2021

    Pengumuman peroleh penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2021

  • Marcel Batara Goempar: "Posesif" Dan Permainan Eksplorasi Ruang

    Sinematografi film ini berbeda dari film-film remaja lainnya, di sini dunia remaja bukan gambar lembut dan cerah berwarna-warni mencolok yang menyarankan keceriaan dan semacam kenaifan melainkan gambar tajam yang berwarna cenderung realistis dan berkesan kontemplatif.

  • CLC Purbalingga: Edukasi Film, Edukasi Politik

    Cinema Lovers Community (CLC) adalah komunitas lokal yang sudah membuktikan diri tahan banting.  “Puncak” kegiatan komunitas ini adalah Festival film Purbalingga yang berlangsung setahun sekali selama bulan Mei. Festival ini juga punya program unik: Layar Tanjleb yang diadakan dari desa ke desa. Hambatan-hambatan yang dihadapi komunitas ini membuka mata para pengurusnya bahwa kegiatan “mencintai” film ternyata harus berhadapan dengan urusan sosial-politik lokal, seperti bisa dibaca dari wawancara Windu Jusuf, penulis FI dan Cinema Poetica dengan para aktivis CLC berikut.

  • Benni Setiawan: Jatah Layar untuk Film Lokal Sedikit Sekali

    Saya justru menyayangkan soal distribusi layar bioskop. Katakanlah begini, seharusnya ada kesempatan bagi film-film Indonesia untuk jadi tuan rumah. Kasih kesempatan lebih besar agar jumlah orang yang nonton juga makin banyak. 

  • In Memoriam Gunawan Maryanto (10 April 1976-06 Oktober 2021)

    Jauh sebelum rencana pembuatan film tentang Wiji Thukul, saya sudah menemui Gunawan Maryanto untuk meminta pendapat sekaligus meminangnya memainkan Siman, astronot dari Bantul di film yang berjudul The Science of Fictions yang akan saya bikin.

  • Sekilas Mengenang Edward Pesta Sirait (7 Agustus 1942 – 12 Januari 2019)

    Setelah dirawat di RS Pondok Indah, Jakarta, karena komplikasi diabetes sejak Kamis 3 Januari 2019, Edward Pesta Sirait, sutradara puluhan film dan ratusan seri sinetron Indonesia, akhirnya meninggal dunia di ruang perawatannya pada hari Sabtu 12 Januari 2019, pukul 17:58 WIB. Sejak malam harinya jenazah disemayamkan di rumahduka RS Dharmais, Jakarta, lalu dimakamkan pada siang hari Senin 14 Januari di Sandiego Hills, Karawang Barat. Edward, yang disebut Edo oleh teman-temannya, meninggalkan 16 orang kesayangan terdekatnya: isterinya, Gottina Tiapul br Tambunan, empat anak dan empat menantu, serta tujuh cucu.

  • Lukman Sardi: Jangan Sampai Ada Korban Lagi

    Ada satu perubahan yang yang kita kenal dengan reformasi, tapi korban yang berjatuhan juga banyak. Kan maunya kejadian itu tidak terulang lagi. Kalau mau ada perubahan ke arah yang bagus, ya bagus. Namun, jangan sampai ada korban.

  • Pemandangan Umum Industri Film Indonesia 2020

    Baru kali ini industri perfilman Indonesia dilumpuhkan oleh sesuatu yang bukan tindakan manusia. Sepanjang sejarahnya sejak awal abad ke-20, industri film Indonesia memang tidak stabil perkembangannya dan selalu naik-turun, akan tetapi penyebabnya berasal dari perang, konflik politik atau kebijakan yang lebih membela monopoli peredaran film impor - dengan kata lain, bencana tindakan manusia. 

  • Pustaka Festival Film di Indonesia

    Perbincangan mengenai festival film di Indonesia dimulai melalui tulisan mengenai pengalaman pembuat film menghadiri festival film. Awalnya tulisan tersebut terbit dalam media massa, kemudian diterbitkan bersama tulisan mengenai praktik film lainnya dalam bentuk buku

  • Perkembangan Film Indonesia 2019: Bukan sekadar jumlah penonton.

    Dalam paparan tentang perkembangan industri film, indikator kuantitatif hanyalah pijakan awal untuk membaca dan memahami kondisi dan pertumbuhan industri. Kumpulan data-data angka tersebut tidak mewakili gambaran utuh keadaan industri dan masih sangat membutuhkan analisis-analisis lain dengan pendekatan multidisiplin-multidimensi.

Trailer
Resensi

Cerita dari Grobogan

Oleh kritik perfilman Indonesia, peta perkembangan perfilman Indonesia umumnya disederhanakan menjadi dua bagian saja, yakni masa awal perkembangan dimana film-film Indonesia dikategorikan sebagai dalam masa perjuangan, dan masa sesudahnya dimana film lebih diperlakukan sebagai barang dagangan.

Bumi Manusia, Bumi Masyarakat Kontemporer dengan Persoalannya

Ramainya perhatian orang terhadap Bumi Manusia bahkan sejak penentuan siapa sutradaranya ketika novel karya Pramoedya Ananta Toer itu hendak dibikin film, terus terang lumayan menarik perhatian saya. Ketika film beredar, saya menonton pada hari kedua film tersebut diputar di bioskop di Bogor. Dari situ saya terdorong untuk membikin catatan ini.

Catatan yang saya buat mencoba menyorot dua aspek. Pertama, aspek alih medium, dari buku ke film. Kedua, bagaimana konsekuensi dari pengalihan medium, dalam hal ini dari buku ke film, terutama pada segi estetik. Film, selain sebagai produk industri dan barang dagangan, adalah juga produk estetik. Pada konsekuensi pengalihan medium saya sedapat-dapatnya membatasi pada hal terakhir itu saja.

Realisme Komersil A Copy of My Mind

Film ini tidak sepenuhnya gagal menceritakan kisah manusia-manusia gagal, tapi ada diskrepansi yang signifikan di antara temanya yang personal dan bahasanya yang komersil—yang sering memaksakan yang personal menjadi politikal, dan yang politikal menjadi personal.