
Sejarah dan Produksi Ruang Bioskop
Bioskop adalah ruang yang menjadi tempat interaksi dan dinamika sosial yang riuh. Memakai contoh Indonesia, Malaysia, dan Filipina, tulisan ini mengamati bioskop sebagai produk warisan masa kolonial yang berkembang seiring zaman.

Raditya Dika: Gue Membuat Apa Yang Gue Mau Tonton
Raditya Dika merasa cukup puas atas kelahiran film barunya, Cinta Brontosaurus. Selain banyak belajar, ia merasa puas karena bisa sepenuhnya menggarap naskah untuk film ini, tanpa bantuan langsung dari orang lain.

Cinta Bisa Kadaluarsa, Film Juga
Cinta Brontosaurus mengingatkan akan klise-klise dalam film komedi-roman Indonesia. Lelaki bisa berbuat salah, tapi perempuan seakan-akan tak punya reaksi lain selain mengambek, mata melotot, bentak-bentak.

Mouly Surya: Mencintai Film, Memfilmkan Cinta
Mouly Surya bercerita tentang proses kreatif Don’t Talk Love, mulai dari pengembangan cerita, pemahaman komunitas tuna netra, penerjamahan ruang, hingga penyusunan gambar. Mouly juga bercerita tentang perkembangan dirinya sebagai pembuat film.
Dino Pemenang Kompetisi Film Pendek EoS 2013
Film Dino (2013), yang disutradarai Edward Gunawan, terpilih menjadi pemenang pertama Kompetisi Film Pendek Europe on Screen 2013. Film ini mengungguli tujuh film finalis lainnya dan membawa pulang hadiah berupa Full HD Camcorder dari SONY Indonesia seri HDR-PJ30E.
Palu dan Purbalingga Juara Festival Film Solo 2013
Halaman Belakang karya Yusuf Radjamuda (Palu) menjadi film terbaik kategori Ladrang atau umum, sementara Lawuh Boled karya Misyatun (Purbalingga) juara kategori Gayaman atau pelajar. Pengumuman pemenang ini menutup perhelatan Festival Film Solo 2013.
Europe on Screen Dimulai
Film The Fourth State (2012) dari Jerman karya sutradara Dennis Gansel, resmi membuka perhelatan Europe on Screen 2013. Pembukaan festival film ini berlangsung di Auditorium 1 Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta Jumat (3/05/2013). Acara pembukaan juga dihadiri oleh Jari Litmanen, pemain sepak bola legendaris dari Finlandia, di mana film dokumenter tentang dirinya menjadi salah satu film yang diputar di acara tahunan ini.
Mouly Surya: Mencintai Film, Memfilmkan Cinta
Mouly Surya bercerita tentang proses kreatif Don’t Talk Love, mulai dari pengembangan cerita, pemahaman komunitas tuna netra, penerjamahan ruang, hingga penyusunan gambar. Mouly juga bercerita tentang perkembangan dirinya sebagai pembuat film dan peredaran film-filmnya.
Lola Amaria: Gue Mencintai Proses Belakang Layar!
Lola baru saja meluncurkan film layar lebar produksinya yang kelima, Kisah 3 Titik (K3T). Ia bercerita kepada FI tentang produksi film, berburu bakat-bakat baru dan juga tentang masa awal keterlibatannya di dunia film.
Vino Bastian: Aspirasi Anak Muda Lewat Film
Aktor kelahiran 24 Maret 1982 ini bercerita tentang pengalamannya di Tampan Tailor dan Madre, proses kreatifnya, kariernya, rekan-rekan satu profesinya, krisis keaktoran di perfilman nasional, serta keinginannya untuk menyuarakan aspirasi anak muda lewat film.
Raditya Dika: Gue Membuat Apa Yang Gue Mau Tonton
Raditya Dika merasa cukup puas atas kelahiran film barunya, Cinta Brontosaurus. Selain banyak belajar, ia merasa puas karena bisa sepenuhnya menggarap naskah untuk film ini, tanpa bantuan langsung dari orang lain.
Komitmen Dewi Irawan Menjadi Aktor
Akting bukanlah suatu yang asing dan bahkan sudah mendarah daging di Keluarga Irawan. Termasuk bagi Dewi Irawan. Aktris kelahiran 13 Juni 1963 ini sudah akrab dengan dunia film sejak ia lahir. Ayahnya, Bambang Irawan, mendirikan rumah produksi Agora di tahun yang sama dengan tahun kelahirannya.
Tugas Berlipat Marcella di Rectoverso
Setelah lebih banyak berkarya sebagai aktris, kemudian menjajal kerja sebagai produser, kali ini Marcella Zalianty juga mencoba menyutradarai film terbarunya, Rectoverso. “Terus terang saja, kalau seperti ini memang capek, ya. Mungkin kalau nanti aku produksi lagi, sebaiknya aku pilih salah satu antara menyutradarai atau memproduseri saja.”
Sejarah dan Produksi Ruang Bioskop
Ruang bukanlah sekedar tempat terjadinya peristiwa. Ruang membentuk sekaligus ikut dibentuk oleh aktivitas manusia yang ada di dalamnya. Bioskop termasuk dalam kategori ruang yang menjadi tempat interaksi dan dinamika sosial yang riuh. Memakai contoh Indonesia, Malaysia, dan Filipina, tulisan ini mengamati bioskop sebagai produk warisan masa kolonial yang terus berubah seiring perkembangan zaman.
Box Office vs Film Festival
Adalah tidak relevan untuk membandingkan film dan penonton dari kedua kategori ini. Film Box Office dan Film Festival sebenarnya memiliki hubungan saling melengkapi (complementary). Film Box Office menjawab kebutuhan penonton akan tontonan massal, sedangkan ‘Film Festival’ menjawab kebutuhan penonton akan tontonan personal.
Risalah 2012: Ditinggalkan Bioskop, Diabaikan Pemerintah
2012 adalah tahun yang sulit untuk mengevaluasi industri perfilman Indonesia. Semua yang terlihat mata dan tercatat sebagai data—yang memberi kesan telah terjadi pertumbuhan pesat (sebagai indikator kemajuan)—tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
Cinta Bisa Kadaluarsa, Film Juga
Cinta Brontosaurus mengingatkan akan klise-klise dalam film komedi-roman Indonesia. Lelaki bisa berbuat salah, tapi perempuan seakan-akan tak punya reaksi lain selain mengambek, mata melotot, bentak-bentak. Ternyata bukan cinta saja yang bisa kadaluarsa. Film juga.
Hati Perempuan dalam Realita yang Subtil
Mouly Surya dalam film keduanya ini malah memilih menempuh jalan pedang sebagai ronin (samurai tak bertuan) yang jauh penuh risiko. Itulah jalan para petarung sejati yang, dalam idealisasi budaya populer, digambarkan tidak sudi menghabiskan umur sebagai mediocre, untuk menemukan jatidiri dan takdirnya sendiri.
Tantangan Memandang, Mendengar dan Bernalar
Jarang sekali ada film Indonesia yang mengutak-atik persoalan dasar ‘film’ dan mempertanyakan kesatuan pandangan-pendengaran. Pada Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta elemen pandang-dengar ini bukan saja diceraikan, tapi lebih jauh lagi, dijadikan bahan percobaan. Film seperti ini, barangkali hanya dibuat (jangankan diputar) di Indonesia seabad sekali.
Kami Bangun Hari Esok(1963) merupakan film pertama dengan format cinemascope.
- Jangan Menangis Sinar - 13.035
- Masih Adakah Cinta… - 9.271
- Cinta Brontosaurus - 662.358
- Kembalinya Nenek Gayung - 66.185
- Kisah 3 Titik - 27.995
- Cinta Brontosaurus - 662.358
- Air Terjun Pengantin… - 215.161
- Mika - 169.151
- Operation Wedding - 151.216
- Dead Mine - 144.768
2012
- Habibie & Ainun - 4.444.960
Sejak 2008
- Laskar Pelangi - 4.606.785
1973 - 1994 di Jakarta
- Pengkhianatan G-30-S PKI - 699.282
