AFI 2014: Catatan Dewan Juri

Berita :: Penulis: Redaksi FI

Pengantar: Apresiasi Film Indonesia 2014 sudah berlalu, pemenangnya sudah diumumkan. Dan seperti ingin dijadikan tradisi, dewan juri mengumumkan juga pertimbangan-pertimbangannya dan alasan-alasan dari keputusan yang diambil.  Berikut ini pertimbangan dan alasan itu:

Dewan Juri, yang beranggotakan sembilan orang, bekerja dengan berpegang pada Pedoman Penjurian Apresiasi Film Indonesia 2014. Kendati demikian, kami melakukan penilaian dengan keleluasan dan kebebasan penuh.

Bagi kami, kata “apresiasi” dalam Apresiasi Film Indonesia tidak lain daripada kerja menghargai karya-karya film yang memperkokoh, menyegarkan, dan memperbaharui budaya sinema Indonesia. Dengan demikian, film-film Indonesia “berbasis nilai budaya, kearifan lokal dan pembangunan karakter bangsa” yang dimaksud oleh Pedoman Penjurian, bagi kami adalah film-film yang sanggup bergulat dengan segenap permasalahan manusia-manusia Indonesia dan menerjemahkannya ke dalam bahasa film. Setiap film yang baik adalah film yang tidak akan mengorbankan dirinya menjadi khotbah, verbalisme, atau corong bagi jargon apa pun.

Kreativitas adalah upaya menempuh risiko untuk mengggali tema tertentu dan mencapai bentuk seni yang sepadan dengan itu. Bila tema tersebut memang kompleks (misalnya menyangkut perhubungan antara dua manusia yang berbeda-kelas dan berbeda-agama), maka bentuk filmnya juga dituntut untuk mewadahi kompleksitas itu, meski bentuk itu sendiri barangkali terpaksa melawan “selera umum”.

Bentuk atau bahasa film adalah reaksi tertentu terhadap sejarah sinema Indonesia atau dunia. Seperti juga kaum ilmuwan, kaum seniman, juga seniman film, berjuang untuk mencari jalan-jalan baru di bidangnya. Dengan begitu kebudayaan—juga kebudayaan Indonesia—menjadi dinamis dan termudakan kembali, sejalan dengan perubahan yang terjadi di dunia luas. Kebudayaan yang hidup bukanlah “kebudayaan selera pasar” yang dieksploitasi oleh kaum kolot. Itulah pelajaran yang diberikan oleh karya-karya film yang baik.

Dengan demikian, kerja menilai film adalah juga kerja pendidikan (dan) kebudayaan. Kami percaya bahwa semangat dasar Apresiasi Film Indonesia adalah untuk mengatakan kepada khalayak bahwa budaya sinema Indonesia jauh lebih luas ketimbang film-film yang ditayangkan di bioskop. Kami ingin mendorong semangat ini lebih jauh lagi: bahwa khalayak harus diperkenalkan kepada film-film yang baik dari berbagai bentuk, jenis, dan latar belakang pembuatan, dan bahwa khalayak bisa merangsang lebih lanjut kreativitas perfilman kita.

Itulah sebabnya kerja menilai film juga kerja memihak, yaitu memihak pada semangat pembaharuan. Pada Apresiasi Sutradara Perdana, misalnya, kami menghargai tinggi sutradara yang berhasil menghindari klise dalam penokohan dan penceritaan. Pada Apresiasi Komunitas Film, suara kami jatuh pada komunitas yang berupaya mendorong makna dan praktik kebebasan berekspresi di tengah masyarakat yang semakin mengalami defisit kebebasan. Pada Apresiasi Adi-Insani (yang diberikan kepada tokoh yang masih hidup dan berkarya), kami berpihak kepada kepeloporan dalam memperluas budaya sinema Indonesia. Semangat pembaharuan itulah yang penting ditegaskan kembali sebagai semangat pokok pendidikan dan kebudayaan.

 * * *

Dewan Juri bekerja berdasarkan rangkaian daftar pendek yang dihasilkan oleh Tim Seleksi, namun dapat mengusulkan karya-karya yang dianggap layak dinilai berdasarkan pengalaman kami menonton film dan mengamati perfilman Indonesia.

Tak kurang penting, kami harus menjelaskan keterlibatan empat anggota Dewan Juri (Lasja F. Susatyo, Alex Komang, Hafiz Rancajale, Kemala Atmojo) dalam sejumlah karya dan entri yang dinilai di beberapa kategori. Sesuai Pedoman Penjurian, dalam penjurian awal mereka dilarang mencalonkan karya atau entri sendiri. Kemudian, pada sidang dan diskusi penetapan pemenang pada kategori-kategori terkait, mereka harus keluar dari ruang persidangan. Dengan penegasan ini, kami berani menjamin kejernihan hasil penilaian kami.

Akhirnya, perkenankanlah kami Dewan Juri menyampaikan pertimbangan tentang para penerima penghargaan:

1. APRESIASI FILM CERITA PANJANG BIOSKOP

Sudah lama banyak muatan dalam film Indonesia seolah terputus dari kenyataan sehari-hari yang dialami penontonnya. Salah satunya, keberadaan keluarga dengan segala kerumitannya. Dalam hampir semua film mutakhir kita, keluarga menjadi sekadar pelengkap bahkan tempelan atas permasalahan yang dialami tokoh-tokohnya. Padahal, sejatinya pusat kehidupan manusia Indonesia adalah keluarga, bukan individu. Hal itulah yang digambarkan dengan baik dalam film Sebelum Pagi Terulang Kembali. Problem satu anggota keluarga praktis menjadi persoalan seluruh keluarga. Relasi-relasi “aneh” dalam keluarga, karena dilandasi hubungan emosional yang sangat kuat, juga dideskripsikan dengan cermat dalam film ini. Intelektualitas, integritas, moralitas, dan nilai-nilai ideal lain yang terlihat kuat dari luar, misalnya, mendadak jadi tumpul di ruang-ruang keluarga.

Keberhasilan tersebut menjadikan film ini ajakan pencegahan korupsi yang cerdas terutama bagi individu-keluarga seperti kita. Ia mampu menyatakan banyak hal tanpa perlu mengatakan banyak hal, misalnya tentang keluarga sebagai benteng pertahanan terkuat menangkal korupsi. Tanggapan permisif keluarga bukan hanya menjerumuskan si pelaku semakin dalam ke jurang kejahatan. Pada akhirnya bukan hanya dirinya, tapi seluruh keluargalah yang bakal menanggung akibat. Ketekunan dan ketelitian sutradara Lasja F. Susatyo, penulis skenario, para pekerja lain, dan hampir semua pemeran film ini dalam mengurai dan memvisualisasikan seluruh kerumitan dan kedalaman relasi emosi dalam keluarga koruptor baru tersebut merupakan keunggulan film ini dibanding tiga calon penerima penghargaan lain dalam kategori ini.

2. APRESIASI FILM CERITA PANJANG NONBIOSKOP

Salah satu masalah terbesar dalam film cerita panjang Indonesia adalah bahwa si sutradara, demi menghidupkan cerita dan “menghibur” penonton, hanya berani mengetengahkan tokoh-tokoh yang lurus. Tapi sutradara Teddy Soeriaatmadja, dengan Something in the Way, menghadirkan tokoh-tokoh bengkok, yaitu tokoh-tokoh yang tak sejalan dengan tata moral umum. Ia menyajikan sebuah potret sosial melalui psikologi tokoh-tokoh itu. Sang sopir taksi dalam film tersebut, misalnya, adalah manusia yang tak berhasil mendamaikan iman dan kehidupan erotiknya, kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya, dunia rumah dan profesinya. Kamera yang bergerak menangkap kehidupan jalanan Jakarta pada malam hari mengantarkan kita secara perlahan kepada drama terselubung, kepada hidup yang secara laten mengandung kekerasan.

Keunggulan film ini adalah caranya menyatakan paradoks dalam kehidupan sosial kita: bahwa semakin banyak khotbah, semakin sulit si penerima khotbah mengelola pribadinya. Sebagian besar film ini berisi adegan-adegan diam, antipoda terhadap sejumlah adegan khotbah agama yang kadang-kadang diperlihatkannya. Dan itu adalah bentuk seni yang sangat piawai menyatakan paradoks. Sang sutradara telah berhasil menyelenggarakan semacam psikoanalisis di kalangan profesi kelas bawah, dan dengan begitu pula filmnya menjadi alternatif terhadap jenis film-komentar-sosial yang sudah sangat klise.

3. APRESIASI FILM PENDEK

Film pendek (atau film cerita pendek) bukanlah film cerita panjang yang dipendekkan. Maryam adalah film yang sangat berhasil mendayagunakan kependekannya untuk menyampaikan cerita dan tema yang kuat, karakter-karakter yang melampaui stereotipe, dan pernyataan sosial-budaya yang tajam. Cerita tentang seorang perempuan muslimah pembantu rumah tangga yang terpaksa mengantarkan majikan lelakinya yang “sakit” ke misa Natal di gereja di tangan sang sutradara segera menjadi potret masa kini yang menusuk, komentar tanpa verbalisme, sekaligus pernyataan pribadi yang orisinal. Dengan sangat cemerlang film ini menggarap paralelisme antara sosok Maryam sang muslimah dan citra Bunda Maria.

Cerita yang keluar dari segala jebakan prasangka masyarakat kita tentang kehidupan beragama dan hubungan antarumat, dan akhirnya bahasa film yang efektif menyampaikan semua itu, membuat film ini sangat penting bagi pengalaman sehari-hari kita yang banyak dihantui oleh fanatisisme dan intoleransi keagamaan. Film ini mendidik kita bahwa bahasa film mampu menyingkap kenyataan dari sudut tak terduga. Sutradara Sidi Saleh adalah seorang auteur: ekspresi pribadinya menjadi ekspresi sosial-politik kita. Ia membuktikan kecakapan teknik dan eksplorasi estetika menambah bobot gagasan yang memperkaya cara kita memandang kebudayaan Indonesia mutakhir.

4. APRESIASI FILM DOKUMENTER

Konflik tanah menempati kedudukan tertinggi dalam permasalahan yang diadukan masyarakat kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Salah satunya terjadi di Kecamatan Lambu, Bima, Nusa Tenggara Barat, pada 2010. Film yang merekonstruksi peristiwa berdarah tersebut menggambarkan persoalan sengketa agraria dalam konteks HAM. Tapi narasi besar (hak warga, kekuasaan negara) dan tujuan besar (sosialisasi, edukasi) itu tidak sedikit pun membuat film Marah di Bumi Lambu menjadi film dokumenter bermuatan berat dan bersuara bising.

Sebaliknya, sutradara Hafiz Rancajale berhasil “melipat” beban-beban besar itu dalam bingkai yang bersahaja. Alih-alih datang bak jurnalis pemburu fakta, ia berkunjung sebagai tamu dekat yang merekam apa adanya keseharian warga dan membuka percakapan akrab buat memancing para pelaku bertutur dalam perspektif personal. Kita pun mendengar kisah yang memang ingin mereka bagi, bukan cerita yang mau kita dengar. Menggunakan warna hitam-putih, dengan gambar-gambar sejuk, tidak terdengar kemarahan, kisah-kisah heroik, atau analisis cerdas yang biasa muncul pascakejadian.

Pembingkaian seperti itu bukan kelaziman dalam kecenderungan umum dokumenter di Indonesia, tetapi jadi terasa pas sebagai refleksi atas tragedi kemanusiaan yang menewaskan tiga orang dan melukai ratusan lainnya tersebut, tanpa harus mengorek luka lama dan mengobarkan dendam. Dengan itu dokumenter ini telah menyumbang sudut pandang dan bentuk baru mengenai sosialisasi dan edukasi.

5. APRESIASI FILM ANIMASI

Teknologi animasi di Indonesia telah berkembang pesat dan melahirkan banyak pekerja di bidang ini. Banyak animator kita bahkan bekerja di studio-studio animasi besar dunia. Sayangnya, hal itu tidak diimbangi dengan lahirnya film-film animasi berkualitas baik. Umumnya, film-film itu masih terlihat lemah dalam menggarap potensi cerita dan miskin dalam eksperimentasi.

Film Pret memberikan angin segar. Menggunakan bahasa yang paling mendasar dari gambar, yaitu garis, film ini berhasil membangun petualangan gambar yang memukau. Dalam dunia animasi, penggunaan garis merupakan teknik paling klasik. Dibutuhkan kemampuan imajinasi yang handal buat menyusun garis-garis tersebut menjadi bidang gambar bergerak. Meskipun tampak sederhana, ia menyimpan kerumitan sebuah produksi animasi. Menengok sejarahnya, animasi garis berkontribusi besar dalam masuknya animasi sebagai film eksperimental avant-garde dalam tradisi seni rupa dunia.

Pesan sosial yang ingin disampaikan dalam film ini memang klise, namun sutradara Firman Widyasmara bisa menutupinya dengan permainan gambar yang memberikan imaji dramatik kepada penonton. Keunggulan lainnya, ia berhasil menghadirkan kritik sosial politik Indonesia kontemporer secara jenaka.

6. APRESIASI FILM ANAK

Dari tahun ke tahun, tampaknya masalah yang dihadapi aneka film anak kita tetap sama, yaitu bahwa film-film tersebut hanya mengetengahkan tokoh anak-anak namun menggunakan logika dan sudut pandang orang dewasa. Patutlah disayangkan bila film anak menjadi serba-menggurui dan memaksa tokoh-tokoh anak-anak hanya sebagai obyek.

Dengan segenap keterbatasannya, film Sepatu Dahlan (sutradara Benny Setiawan) telah berusaha keras menghadirkan dunia kanak-kanak: si tokoh utama yang tampil dalam lingkungan asuhannya dalam keluarga dan pendidikan sekolah. Film ini juga terasa sangat padu bicara tentang ketabahan dalam kemiskinan dengan berfokus pada bagaimana si tokoh berhasrat memiliki sepatu dan berlaku dengan sepatu baru.

7. APRESIASI ADI-KARYA

Menentukan sebuah “adikarya” film adalah upaya membangun khazanah karya-karya terpenting dalam sejarah sinema Indonesia. Pada saatnya nanti, bila penetapan “adikarya” ini berlangsung terus-menerus, kita akan memiliki sebuah kanon sinema Indonesia, yang bisa menjadi landasan estetika bagi para pencipta film berikutnya. Seturut Dewan Juri Apresiasi Film Indonesia 2013, dua karya kanonik yang sudah ada ialah adalah Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail, ditambah “adikarya” pilihan mereka, yaitu Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1970) karya Asrul Sani. Pada tahun ini kami ingin melanjutkan upaya mereka dengan memilih Harimau Tjampa (1953) karya Djaduk Djajakusuma (1918-1987).

Film hitam-putih ini dibuat dengan pendekatan teater rakyat. Bila film-film Usmar Ismail bersifat realis dan bersemangat nasional, Harimau Tjampa bersifat nonrealis dan bersemangat lokal. Aksi silek kumango dari Minangkabau dan pepatah-petitih menjadi dasar estetika film garapan Djajakusuma itu. Masalah keluarga, dendam kesumat, kehidupan adat, dan lingkungan asuhan yang terolah di situ juga membuktikan bahwa sebuah film bisa menjadi sangat Indonesia hanya dengan mengolah masalah “kecil”—ranah desa di Minangkabau—yang tak usah berurusan langsung dengan proyek negara-bangsa.

Film yang dibintangi juara pencak silat PON II 1951, Malin Maradjo, ini dalam sejarah tercatat sebagai film silat asli Indonesia pertama. Menengok jauh ke belakang, pada 1930-an istilah silat dipopulerkan melalui karya-karya sastra Melayu Cina, yang beberapa di antaranya difilmkan. Di luar itu ada film berlatar cerita rakyat Betawi yang sarat dengan unsur budaya dan seni bela diri Cina. Tapi praktis kebanyakan orang waktu itu sudah menyebut semua itu silat.

8. APRESIASI ADI-INSANI

Menapak tilas sejarah perkembangan film animasi dan film pendek eksperimental di Indonesia, niscaya kita akan menemukan jejak-jejak kepeloporan Gotot Prakosa (lahir 1955). Semua itu dilakukannya selagi film masih berwujud seluloid dan berlanjut pada tahap awal perkembangan teknologi video.

Seni rupa, khususnya seni lukis, menjadi landasan penciptaannya. Gotot sudah mulai membuat film pendek eksperimental sejak lulus Sekolah Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta. Adapun perkenalannya dengan dunia animasi berawal dari kegemarannya mengumpulkan seluloid film milik sutradara Sjumandjaja, yang kemudian “dilukis”-nya menjadi karya-karya film. Film-film animasi dan eksperimental karya Gotot beroleh penghargaan di pelbagai festival dan forum nasional dan internasional. Karya-karya yang dibuat antara 1974-1984, baik film maupun video, menjadi koleksi yang dipreservasi oleh National Library of Australia. Di luar kegiatannya mengajar di almamaternya, Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta, ia ringan membagi pengetahuan dan keterampilan melalui berbagai forum. Pemikirannya tertuang dalam puluhan tulisan, yang kemudian terbit dalam sejumlah buku, misalnya Pengetahuan Dasar Film Animasi Indonesia, dan Film Eksperimental & Film Dokumenter.

Ketika revulousi digital dalam produksi dan penayangan telah menumbuhkan kegairahan besar melakukan eksperimentasi dalam film animasi dan film pendek, sudah waktunya Indonesia memberi pengakuan atas kompetensi, kontribusi, dan dedikasi Gotot Prakosa.

9. APRESIASI SUTRADARA PERDANA

Ukuran yang sangat kami pentingkan untuk penghargaan ini adalah kepengarangan (authorship), yaitu sikap sang sutradara dalam membubuhkan ekspresi pribadi dan mencari jalan baru dalam khazanah film cerita panjang Indonesia. Film cerita panjang pertama bagi seorang sutradara pada umumnya adalah pembuktian dirinya dalam penguasaan bahasa film, tapi seringkali itu berubah menjadi penyerahan kepada standar perfilman yang baku. Maka kami menilai tinggi keberanian seorang sutradara perdana termaksud dalam menantang cara kita menonton dan menilai film.

Anggun Priambodo dengan Rocket Rain jelas berusaha keras menemukan bahasa film yang baru. Film itu sendiri berisi rangkaian percakapan antara dua tokoh utama tentang masalah rumah tangga dan keluarga masing-masing, yang mengalir tanpa menuju klimaks dan resolusi apapun, dengan sejumlah adegan “antirealis” mengoyak rangkaian percakapan tersebut. Hasilnya, sebuah “minimalisme” kehidupan sehari-hari yang tertekuk-tekuk oleh fantasi yang lebih bersifat seni rupa. Memang sang sutradara menanggung risiko bahwa filmnya menjadi tidak koheren, tapi pada saat yang sama ia mampu mencapai ambiguitas dan sifat main-main yang mengesankan.

Dengan segala upayanya mencari bahasa film yang lain dan keberaniannya menerobos tata produksi yang lazim, Anggun Priambodo mengungguli tiga sutradara lain calon penerima penghargaan dalam kategori ini.

10. APRESIASI POSTER FILM

Poster Sebelum Pagi Terulang Kembali adalah poster film yang tidak lazim. Sekalipun menonjolkan wajah sang tokoh utama, ia tidak menggunakan foto. Wajah itu dihadirkan dengan hand-drawing, yang menonjolkan sifat garis dan baluran hitam-putih di atas dasar kuning. Wajah itu “terpenjara” oleh tiang-tiang tinggi yang didaki oleh kerumunan manusia berukuran kecil. Ini sebuah sugesti: si tokoh utama itu sendirian belaka, seperti terikat oleh kebenarannya sendiri, di tengah para manusia—mungkin masyarakatnya, keluarga besarnya, atau rekan-rekan kerjanya—yang terikat kepadanya, tapi juga mengikatnya.

Dengan begitu, sang wajah di poster itu telah mengalihkan kita kepada masalah, mengajak kita bertanya-tanya tentang isi dan pesan filmya. Bersama judulnya filmnya sendiri, seluruh rancangan grafis poster itu memberi kita misteri ganda yang sepadan dengan filmnya yang berbicara tajam tentang situasi hari ini.

11. APRESIASI FILM INDEPENDEN PELAJAR

Mengejutkan bagaimana si pembuat film yang masih pelajar mampu menghasilkan sebuah dokumenter yang sungguh-sungguh seperti Pengidep dan Penderes. Dalam jarak sangat dekat ia merekam keseharian pasangan Suwitno dan Suwini yang melakoni hidup sebagai pengidep (perajin bulu mata) dan penderes (perajin gula merah). Ia, yang kehadirannya semata diwakili oleh lensa kamera, bukan hanya merekam rutinitas Suwitno memanjat pohon-pohon kelapa yang disewa untuk diambil air niranya, atau kesuntukan Suwini menata helai demi helai bulu mata, tetapi juga menangkap momen-momen pribadi termasuk percakapan mengenai kesulitan keuangan keluarga. Semua dilakukan tanpa mendramatisasi perjuangan hidup dan kemiskinan subyeknya.

Penghargaan untuk film ini merupakan apresiasi yang tinggi atas kejelian menangkap isu, mengerjakan riset dan observasi, melakukan pembingkaian, serta mengeksplorasi cara dan bentuk penceritaan. Hal-hal yang merupakan pengetahuan dan keterampilan esensial bagi kreator dalam bidang apapun. Achmad Ulfi, pelajar SMA Kutasari, Purbalingga, sudah menunjukkan kesungguhan dan potensinya dalam film ini.

12. APRESIASI FILM INDEPENDEN MAHASISWA

Gagasan bagus baru permulaan, satu langkah kecil, untuk menghasilkan film bagus. Selanjutnya dibutuhkan kerja keras membumikan gagasan tersebut dalam konteks sosial-budaya yang melingkupinya. Di tahap berikutnya diperlukan pengetahuan dan keterampilan melukiskannya dalam rekaman gambar bergerak dengan menggunakan segenap perangkat estetika sinema. Film ini, sebagaimana film-film lain penerima penghargaan tahun ini, merupakan contoh bagaimana seluruh proses tersebut—dalam tingkatan yang sesuai kategorinya—berhasil dituntaskan dengan baik.

Sepatu Baru, tugas akhir Aditya Ahmad di Institut Kesenian Makassar, adalah tilikan yang kuat mengenai hasrat pamer seorang remaja, di mana pun di atas bumi ini. Dorongan untuk menggunakan sepatu yang baru dimilikinya begitu mendesak di dada hingga ia berusaha keras menghentikan hujan dengan cara yang bisa jadi sudah tidak dipercaya akal sehatnya. Isu mengenai sepatu dan hujan itu disulam sedemikian rupa dalam bingkai lingkungan “tradisional” yang masih mempercayai kekuatan-kekuatan irasional penangkal hujan. Hasilnya, sebuah drama singkat yang tidak berlebihan namun mengharukan, sekaligus kritik budaya yang sangat keras namun sama sekali tidak menyakitkan. Pencapaian naratif seperti ini boleh dibilang kekayaan medium film yang mesti lebih banyak diikhtiarkan oleh para pembuat film kita. Untuk memperkokoh kodrat film sebagai narasi visual-auditif, bukan narasi verbal.

13. APRESIASI KOMUNITAS

Arti penting Liga Kebudayaan Komunitas Tikar Pandan (Banda Aceh) adalah bahwa ia memperjuangkan kebebasan berkreasi, toleransi, dan perhubungan dengan dunia luas di tengah masyarakat yang semakin dikuasai oleh formalisme keagamaan. Bermula dari kegiatan sastra dan tulis-menulis di tahun 2003, komunitas ini kemudian bergerak ke bidang-bidang kesenian yang lain, termasuk memutar dan membuat film serta menggelar lokakarya bersama para pembuat film. Keaktifan di bidang film tersebut menjadi sangat bermakna manakala di provinsi yang bersangkutan tidak terdapat gedung bioskop dan tempat-tempat pemutaran film, dan menonton film di tempat ramai tak termasuk kegiatan yang “direstui”.

Melalui Tikar Pandan, olah kesenian, termasuk olah perfilman, adalah jawaban terhadap berbagai komplikasi kemasyarakatan yang terjadi sejak masa Daerah Operasi Militer sampai bencana tsunami hingga berlakunya hukum agama pada hari ini.

14. APRESIASI FESTIVAL FILM

Kelima calon penerima penghargaan Apresiasi Festival Film dengan tradisinya masing-masing telah memberikan sumbangan besar dalam menyemaikan iklim “perlawanan” terhadap arus utama sinema Indonesia. Tapi tahun ini dewan juri memutuskan memihak pada kepeloporan dan seberapa besar hal itu memberi kemanfaatan bagi ranah yang menjadi fokus perhatiannya.

Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta merupakan festival khusus dokumenter pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Sejak 2002 FFD menjadi ruang eksibisi, belajar, diskusi, apresiasi, kompetisi, dan pengembangan jejaring yang sangat penting bagi para pembuat dan peminat dokumenter. Hasilnya bukan hanya mendongkrak kegairahan membuat karya dokumenter yang sebelumnya hanya hidup di televisi dan ruang-ruang terbatas, tetapi juga melipatgandakan keragaman isi dan bentuk. Festival ini, baik langsung maupun tidak, telah memperkaya perspektif dan spektrum mengenai pelbagai kemungkinan mengolah isu dengan sudut pandang dan cara bercerita yang berbeda atau baru. Dalam anggapan umum, festival ini telah menjadi acuan standar kualitas film dokumenter Indonesia sekaligus sumber referensi film dokumenter yang kaya.

15. APRESIASI PENDIDIKAN FILM

Reformasi 1998 menumbuhkan berbagai inisiatif para seniman, aktivis, dan para pemuda untuk membentuk kelompok-kelompok pemberdayaan masyarakat, antara lain melalui media. Pertimbangannya, media merupakan alat yang efektif menyebarkan suara masyarakat yang sebelumnya didominasi negara dan kelompok tertentu. Salah satunya, Yayasan Kampung Halaman, sejak 2006 memfasilitasi remaja dan anak muda denga keterampilan, kreativitas, dan penguasaaan media (video, musik, teks, foto). Tujuannya untuk memunculkan suara dan sikap kritis tentang isu-isu yang mereka dan lingkungan sosialnya anggap penting.

Kampung Halaman secara rutin dan berkala memberikan pendidikan secara gratis melalui program-program, antara lain, Jalan Remaja, Depot Video, Indonesia Youth Media Camp, Rumah Belajar Kampung Halaman, dan Produk Film Kolaborasi. Pengetahuan media tersebut secara tidak langsung telah berkontribusi pada pengetahuan film kaum muda Indonesia. Dengan kerja yang berkelanjutan, lembaga ini dapat menjadi salah satu cara alternatif dalam memberikan ruang kepada lebih banyak orang untuk mendapatkan pengetahuan tentang dunia perfilman di Indonesia.

16. APRESIASI MEDIA CETAK

Majalah Tempo mempunyai rubrik tetap Sinema pada setiap penerbitannya. Kendati tidak rutin meresensi film Indonesia, yang terkadang dilengkapi obrolan dengan pembuatnya, majalah ini menonjol pada sikapnya dalam berlaku kritis terhadap sinema Indonesia. Film-film Indonesia yang diresensi—selain diseleksi sesuai profil kelompok pembacanya—umumnya karya-karya yang dibuat sebagai pernyataan sikap atau ekspresi kreatif pembuatnya. Di rubrik-rubrik lain majalah ini juga terbilang rajin mewartakan isu-isu mutakhir perfilman Indonesia.

Kontribusi penting lain yang diberikan majalah ini untuk menstimulasi pertumbuhan film-film Indonesia yang baik adalah tradisi tahunan Film Terbaik Pilihan Tempo sejak 2009. Selain film, apresiasi juga diberikan kepada sutradara terbaik, penulis skenario terbaik, aktor dan aktris terbaik, serta aktor pendukung dan aktris pendukung terbaik, berdasarkan penilaian sekelompok wartawan Tempo dan juri tamu yang diundang. Menariknya, penghargaan tersebut merupakan pengembangan dari tradisi lama penghargaan Tokoh Seni Pilihan Tempo, di mana salah satunya Tokoh Film. Hal itu mencerminkan sikap majalah ini yang menempatkan film sebagai bagian dari kesenian, bukan semata hiburan atau komoditas dagang.

17. APRESIASI MEDIA NONCETAK

cinemapoetica.com membangun lingkungan penonton kritis di antara anak-anak muda dan menggiatkan penulisan ulasan film di antara mereka. Media online yang berdiri sejak Oktober 2010 ini menyadarkan kita bahwa sinema Indonesia bukan hanya  film-film yang diputar di bioskop, tetapi juga berbagai bentuk dan genre lain yang tumbuh secara bawah-tanah dan di berbagai ranah pinggiran. Peka terhadap karya-karya film yang bersifat alternatif ini, para penulis di media ini mencoba menularkan melek-huruf budaya sinema di tengah industri hiburan yang hanya menciptakan para penonton pasif dan “buta huruf”.

Di tengah kekosongan kritik film Indonesia, kami menganggap penting kehadiran cinemapoetica.com, yang boleh jadi mengancang masa depan kajian film kita. Kami juga mencatat bahwa para redakturnya telah berupaya keras menegakkan standar penulisan, penyuntingan, dan argumentasi yang baik. Sesuatu yang sangat jarang dikerjakan media online garapan kaum muda.

Jakarta, 5 September 2014

Totot Indrarto (Ketua), Nirwan Dewanto (Sekretaris), Alex Komang, A.S. Laksana, Hafiz Rancajale, Hilmar Farid, Kemala Atmojo, Lasja F. Susatyo, Sheila Timothy (Anggota)

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.