Akademi FI: Postcards from the Zoo Film Terbaik, Lovely Man Dua Piala

Berita :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Para pemenang Piala Jati Emas: Teddy Soeriaatmadja (Lovely Man), Meiske Taurisia (Postcards from the Zoo), Karan Mahtani (Habibie & Ainun)Akademi Film Indonesia membuka ruang apresiasi baru dalam perfilman nasional. Dalam penganugrahannya yang pertama, 8 April di Jakarta, dua puluh anggota Akademi membagikan Piala Jati Emas untuk empat kategori. Postcards from the Zoo karya Edwin dinobatkan sebagai Film Terbaik. Piala Jati Emas untuk Skenario Terbaik menjadi milik Lovely Man, sementara Sutradara Terbaik diraih Teddy Soeriaatmadja untuk film yang sama. Ada pula Film Terlaris dimenangkan oleh Habibie & Ainun produksi MD Pictures, yang mengungguli perolehan 83 film nasional lainnya di tahun 2012 dengan 4.37 juta penonton. Pesaing terdekatnya adalah 5 cm produksi Soraya Intercine dengan 2.38 juta penonton.

Dalam konferensi pers setelah acara penganugrahan, Meiske Taurisia menyatakan kepuasannya. “Saya senang  dengan inisiatif yang dilakukan Akademi Film Indonesia. Bukan karena saya menang ya,” tutur produser Postcards from the Zoo ini sambil tertawa, “tapi karena acara ini juga mengapresiasi film dari karya seni, bersanding dengan film sebagai barang komersil.” Sentimen serupa diungkapkan Teddy Soeriaatmadja. “Lovely Man itu film kecil. Film itu bisa menang di sini, saya sangat bersyukur,” ujarnya di panggung seusai menerima Piala Jati Emas untuk Skenario Terbaik.

Karan Mahtani, mewakili film Habibie & Ainun, turut puas dengan kemenangannya sebagai Film Terlaris. “Penghargaan ini sangat berarti buat kami, karena kami serius betul dalam menyiapkan Habibie & Ainun. Kami menghabiskan tiga tahun untuk riset, mencari tahu informasi-informasi yang dibutuhkan untuk mengangkat kehidupan beliau di layar lebar.” Ketika ditanya seorang wartawan akan formula film laris, Karan berpendapat, “Sulit sekali menjawab itu. Kami tentunya tidak tahu formula pastinya. Saat mengerjakan Habibie & Ainun, kami melihat masyarakat kita senang menonton cerita cinta. Jadilah, kami mengangkat sisi itu dari tokoh Habibie.”

 

Penilaian

Tahun ini ada 86 film Indonesia yang dinilai oleh Akademi. Pembagiannya: 84 film yang ditayangkan di bioskop berjadwal, 1 film yang ditayangkan di bioskop pada waktu tertentu saja (Sinema Purnama), dan 1 film yang ditayangkan di berbagai tempat bukan bioskop dengan memungut uang tanda masuk (Postcards from the Zoo). Seluruhnya, sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam rapat pertama anggota, beredar pada tahun kalender 2012, dari 1 Januari hingga 31 Desember.

Dari 86 film ini, terpilih 10 sebagai film unggulan. Penetapan film unggulan ini berdasarkan pada dua ketentuan: nilai resensi di situs filmindonesia.or.id dan usulan anggota Akademi. Film-film yang mendapat nilai 7/10 di situs FI otomatis menjadi unggulan, namun masing-masing anggota Akademi punya hak untuk memilih film yang dianggap layak menjadi film unggulan. Film-film tersebut adalah Atambua 39C, Cinta tapi Beda, Habibie & Ainun, Jakarta Hati, Postcards from the Zoo, Lovely Man, Mata Tertutup, Rayya: Cahaya di Atas Cahaya, Soegija, dan The Raid.

Penilaian terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama adalah penilaian kuantitatif. Masing-masing anggota memilih lima favorit untuk kategori skenario, sutradara, dan film terbaik. Peringkat pertama mendapat nilai 5, peringkat kedua mendapat nilai 4, dan seterusnya. Hasil ini kemudian ditabulasi oleh tim FI dan kemudian dipresentasikan pada semua anggota Akademi. Lima film yang mendapat perolehan nilai terbanyak: Postcards from the Zoo, Lovely Man, Rayya: Cahaya di Atas Cahaya, Soegija, dan Mata Tertutup. Hasil tabulasi ini belumlah final, karena Akademi kemudian melakukan penilaian lanjutan di tingkat kualitatif. Masing-masing anggota mengajukan pertanyaan, pernyataan, maupun pembacaan dari hasil tabulasi, hingga akhirnya tiba pada kesepakatan yang sama perihal pemenang di masing-masing kategori.

 

Suasana malam penganugrahanVisi ke Depan

Tahun ini Akademi Film Indonesia baru memberi penghargaan untuk empat kategori. Ke depannya, Akademi beraspirasi membuka lebih banyak penghargaan untuk unsur-unsur perfilman lainnya. Syaratnya tentu saja adalah penambahan anggota, agar tercipta diskusi yang lebih optimal dalam melakukan penilaian. Kata Totot Indrarto, salah satu anggota Akademi, dalam konferensi pers, “Di tahun-tahun mendatang, kami membayangkan Akademi beranggotakan lima puluh orang, seratus orang, bahkan lebih. Dalam visi kami, Akademi ini haruslah beranggotakan pegiat-pegiat film yang dianggap memiliki keahlian di bidangnya, dan juga rajin mengikuti perkembangan perfilman nasional serta sinema pada umumnya. Semakin banyak dan beragam anggota Akademi, semakin banyak pula lini serta unsur perfilman yang bisa diapresiasi.”

Akademi Film Indonesia sendiri lahir dari keinginan untuk memberi tawaran alternatif dalam mengapresiasi film-film nasional. “Perfilman yang baik adalah perfilman yang mengakui film tidak saja sebagai komoditas komersil, tapi juga sebagai karya yang mengandung nilai-nilai kesenian. Nilai-nilai inilah yang ingin kami para anggota Akademi coba apresiasi,” tutur Totot Indrato dalam pidato pembuka malam penganugrahan. Aspirasi lainnya, seperti yang diuraikan dalam catatan Totot, adalah untuk memberi tekanan dari luar agar Festival Film Indonesia dan Apresiasi Film Indonesia yang diselenggarakan pemerintah untuk terus membenahi diri. Oleh karena itu, penilaian yang dilakukan terwujud dalam lembaga independen beranggota tetap, berbasis kompetensi, dan berorientasi pada nilai kesenian dari setiap film.

Sikap ini terekam dalam pernyataan yang mendahului setiap pengumuman penghargaan. Skenario Terbaik, diumumkan oleh Paul Agusta, dinilai sukses “menghadirkan sebuah pembacaan dan pengalaman yang intim akan perbedaan, satu hal yang kita ketahui mengakari kehidupan kita sehari, baik ras, agama, maupun ideologi.” Kemenangan Teddy Soeriaatmadja sebagai Sutradara Terbaik, diumumkan oleh Riri Riza, dilandasi pada penilaian bahwa ia “menampilkan kedewasaan bertutur serta kematangan kreasi yang mengagumkan” dan “mampu menangkap hal-hal kecil di sekitar kita, yang mungkin selama ini terlewatkan tapi sebenarnya penting dalam kehidupan kita bersama.” Begitu pula Postcards from the Zoo yang menjadi Film Terbaik. Film panjang kedua Edwin tersebut, yang pengumumannya dibacakan Mira Lesmana dan Didi Petet, dinilai “memperkaya perfilman nasional, seperti yang sudah dirintis oleh leluhur-leluhur kita.”

Prioritas Akademi pada nilai kesenian dalam film tak serta-merta mengabaikan aspek film sebagai komoditi komersil. Bagaimanapun juga iklim kepenontonan kita merupakan satu hal yang sulit diperkirakan, apalagi ditaklukan. Statistik berbicara demikian. Tahun 2008 dan 2009 jumlah penonton film nasional mencapai 30 juta lebih, sementara tahun-tahun berikutnya jauh di bawahnya, di antara 15-18 juta penonton. Fakta ini tercermin dalam pidato pengantar penghargaan Film Terlaris yang dibacakan oleh salah dua anggota redaksi FI, JB Kristanto dan Deden Ramadani, “Dalam iklim kepenontonan sekarang, melewati angka lima ratus ribu penonton merupakan sebuah prestasi tersendiri. Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk memberi apresiasi bagi film terlaris, bagi film yang mampu melampaui segala kondisi yang belum ideal ini, bagi film yang tidak saja membantu pergerakan roda industri, tapi juga memberi momentum menuju terbentuknya industri perfilman nasional yang dapat menghidupi dirinya sendiri di masa mendatang.”

 

AKADEMI FILM INDONESIA 2013

Film Terbaik

Postcards from the Zoo


Sutradara Terbaik

Teddy Soeriaatmadja (Lovely Man)

 

Skenario Terbaik

Lovely Man oleh Teddy Soeriaatmadja

 

Film Terlaris

Habibie & Ainun (MD Pictures)

 

Film-film Unggulan

Atambua 39C

Cinta Tapi Beda

Habibie & Ainun

Jakarta Hati

Postcards from the Zoo

Lovely Man

Mata Tertutup

Rayya, Cahaya di Atas Cahaya

Soegija

The Raid

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.