Andhy Pulung Menemui Ruang Tak Terbatas

Sosok :: Penulis: Redaksi FI

Andhy Pulung saat diwawancara FI (Foto: Abi)"Saat menjadi editor, ruang saya sangat terbatas. Kini saat menjadi sutradara saya menemui ruang tak terbatas. Dan itu adalah tantanganya, bagaimana saya membatasi dan harus memilih mana yang harus saya ambil," jelas Andhy Pulung tentang debutnya sebagai sutradara di film Keumala.

Meski berjenis drama, Andhy tetap membuat filmnya tersebut dengan sentuhan dokumenter. Maklum saja, karya-karyanya selama ini dan ilmu yang didapatnya berasal dari film dokumenter. Pendekatan sama tetap dipakai oleh pria yang dilahirkan di Purworejo 31 Juli 1976 itu ketika menyutradarai Keumala. "Yang mendasari film ini adalah editing. Saya yakin karena susunan gambar yang saya bikin dan saya ingin sampaikan sudah ada di kepala saya dulu. Itu yang membuat saya berani menyutradarai sebuah film. Dengan perspektif dan pengalaman yang saya dalam editing dokumenter, ini adalah bagian dari perjalanan belajar tentang seni visual," ungkap ayah dua anak ini.

Andhy pun tidak memungkiri bahwa dalam debutnya ini dirinya menemui beberapa kesulitan. Baginya, arti dalam sebuah adegan tidak hanya sebuah gambar saja. "Kesulitannya adalah memvisualisasikan apa yang ingin saya sampaikan. Memvisualisasikan dalam artian tidak hanya dalam konteks, menangis harus menangis, justru isi di balik apa yang ingin kita sampaikan itu yang lebih sulit.”

Di karya perdananya ini pun Andhy mengakui, beberapa gambarnya dikemas secara berbeda. Ada semacam perlakuan lain untuk setiap adegan yang dibuatnya. "Saya tidak membuat gambar cantik, tapi menggunakan pemandangan yang alami saja. Kekuatan di film ini adalah pemainnya. Kenapa? Justru saya tidak mau samar antara perspektif yang saya bikin dengan pola visualnya. Saya tidak mau di tengah-tengah," tambahnya.

Selama ini Karya Andhy sebagai editor terbilang cukup banyak, hampir dua puluh judul telah diselesaikannya. Beberapa film yang telah dieditnya seperti King, Denias, Tanah Air Beta, Semesta Mendukung, sampai Opera Jawa arahan Garin Nugroho. Apakah Andhy kini lebih memilih jadi sutradara ketimbang editor? "Sebetulnya sampai sekarang saya belum memutuskan untuk pindah haluan, tapi berfikir bahwa seni visual itu bisa tereksplor dari apapun juga. Mau jadi sutradara, editor atau bidang yang lain," pungkasnya.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.