Angga D Sasongko: Kalau Tidak Cedera, Belum Tentu Jadi Sutradara

Sosok :: Penulis: Pandji Putranda

Angga Dwimas SasongkoEmpat tahun setelah roman Hari untuk Amanda (2010), sutradara Angga Dwimas Sasongko yang akrab disapa Dimas kini kembali ke layar bioskop dengan memboyong rombongan tim sepak bola anak-anak Maluku ke dalam film Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014).

Film mengisahkan Sani Tawainela (diperankan oleh Chico Jerrico), mantan pemain Tim Nasional U-15 Indonesia yang gagal menjadi pemain professional di Piala Pelajar Asia tahun 1996. Setelah karir sepak bolanya kandas, Sani menyambung hidup sebagai tukang ojek sembari tinggal di Tulehu bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil. Pekerjaannya sebagai tukang ojek menuntut Sani mondar-mandir dari kota ke kota yang pada saat itu tengah bersitegang karena konflik agama. Sani kemudian mengalami guncangan besar tatkala menyaksikan tertembaknya seorang anak dalam kontak senjata di Ambon. Pada titik inilah intuisinya lahir. Segera ia memutuskan melatih sepak bola untuk anak-anak, dengan harapan agar perhatian mereka dapat teralihkan dari ketegangan konflik.

“Pertama kali saya bertemu dengan Sani itu tahun 2007 di Ambon. Saat itu saya sedang syuting dokumenter dan butuh pinjaman motor selama 10 hari. Nah kebetulan, dia tukang ojek saya sendiri,” tutur Angga. Pertemuannya dengan Sani berlanjut dengan obrolan-obrolan yang pada nantinya menjadi cikal bakal cerita Cahaya dari Timur. “Tapi sejujurnya, tidak terbayangkan buat saya kalau filmnya bisa selesai sekarang. Saya malah berpikir kalau film ini baru akan selesai (berhenti sejenak) nanti ketika saya berumur 35 tahun.” lanjutnya tertawa, karena Angga juga mengaku bahwa film ini cukup berat untuk ukuran produksinya sekarang.

“Setelah Hari untuk Amanda selesai, pertanyaannya kemudian adalah ‘apa lagi setelah ini?’, dan saya memang ingin membuat sesuatu yang jauh lebih besar. Baik dari naskah, jumlah karakter, porsi drama, topik yang diangkat, dan lain sebagainya. Maka dari itu, memori saya tentang Sani pada tahun 2007 lalu saya keluarkan lagi, saya kembangkan lagi, diolah menjadi cerita. Saya minta tolong Swastika Nohara untuk menulis naskahnya, kemudian saya ajak Irfan Ramli juga untuk menulis bertiga. Jadi bisa dibilang benar-benar mulai digarap itu tahun 2010.” sambungnya. Masa produksi film ini memakan waktu 13 bulan, mulai pada awal tahun 2013 hingga rampung syuting di bulan Februari 2014.

Di samping itu, ada beberapa nama musisi Indonesia yang terlibat dalam pembuatan film ini. Sebut saja Glenn Fredly yang namanya tertera sebagai produser. Angga bercerita bahwa Ia dan Glenn sebenarnya telah lama bersahabat. Keduanya cepat akrab satu sama lain lantaran gemar merancang kegiatan-kegiatan advokasi, terlebih memiliki visi yang sama terhadap isu-isu seputar Indonesia Timur. “Sekitar 2010-2011, saya sempat membuat video klipnya Glenn. Setelah itu kami ngobrol banyak hal. Lalu saya menawarkan proyek pengerjaan film ini, karena toh saya memang belum punya rekan. Sempat saya tawarkan ke beberapa rumah produksi, namun ditolak. Glenn sendiri sempat ragu karena dia mengaku tidak mengerti apa-apa soal produksi film. Tapi langsung saya bilang, ‘produser itu nggak harus mengerti produksi. Lo bangun jaringan di luar, gue urus hal-hal internal.’” kenang Angga. “Tapi seluruh keputusan produksi tetap kami diskusikan dan putuskan bersama. Mungkin selama pengerjaan ini, jadwal manggung Glenn berkurang hampir setengah.” lanjutnya.

Sejak Hari untuk Amanda, Angga sempat menolak beberapa tawaran skenario. “Film saya berikutnya harus ini. Harus Cahaya dari Timur. Nggak boleh ada yang lain.” Selain itu, Angga juga memiliki rencana untuk membuat Cahaya dari Timur sebagai serial. “Tapi yang berikutnya akan diangkat mungkin bukan Sani lagi. Nanti akan ada tokoh lain. Mungkin dari NTT, mungkin dari Papua, Sulawesi, kami belum bisa pastikan. Sejauh ini sudah ada dua kandidat tokoh yang saya pikirkan bareng teman-teman, dan salah satunya sudah dalam tahap pengembangan. Proyek berikut yang sudah pasti adalah Filosofi Kopi dari cerita pendeknya Dewi Lestari. Rencananya awal tahun depan baru bergerak untuk produksi.” ujarnya sambil membenarkan kacamata.

 

Sepak Bola, Film, dan Indonesia Timur

Melihat karir filmografi Angga, Cahaya dari Timur adalah film perdananya yang mengangkat tema olah raga. Namun siapa sangka, Angga remaja ternyata ialah salah satu skuad junior tim professional sepak bola lokal. “Saya penggila sepak bola. Saya cukup serius menekuni sepak bola sampai berumur 16 tahun. Setelah itu saya mengalami cedera di bagian lutut. Tapi dengan begitu, kalau saya tidak cedera, mungkin sekarang saya tidak jadi sutradara.” ia tertawa.

“Adegan-adegan sepak bola di sini semuanya saya sutradarai sendiri. Saya sendiri yang merancang koreografinya.” Lebih daripada itu, Angga merasa beruntung berada di tengah-tengah tim yang handal. “Saya punya DOP yang cakap soal sinematografi dan story-telling, sehingga enak diajak diskusi, saya punya Yoga Krispratama yang senior sebagai editor, penata artistik yang luar biasa, banyak sekali orang-orang di sekeliling saya yang membuat penggarapan film ini jadi terasa mudah dan menyenangkan.” sambungnya.

“Visi kami semua sama. Kami melihat Cahaya dari Timur bukan sekedar proyek film lain. Karena ini adalah proyek dengan tujuan-tujuan yang lebih spesifik, bukan hanya proyek film reguler. Dari awal saya ngobrol bareng mereka, saya tidak bilang ingin membuat film. Saya bilang kalau saya mau membuat sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar film.” pungkas Angga.

Betapa pun, kesan terbesar yang membekas bagi Angga tak lain adalah pengalamannya syuting di Ambon. “Syuting di sana luar biasa menarik. Stereotip negatif yang biasanya muncul di tengah masyarakat Jakarta terhadap orang-orang Indonesia Timur patah semua. Apalagi banyak orang Jakarta yang menganggap kalau orang-orang Ambon itu mengerikan. Itu tidak terbukti sama sekali. Kalau anda ke sana dan anda bertamu ke salah satu rumah penduduk di sana, anda nggak akan dikasih minum doang, seisi dapurnya keluar di meja.” lanjutnya bersemangat. “Contoh lain, ada banyak lokasi syuting yang kami pakai. Begitu kami selesai dan bersiap membayar, mereka nggak mau terima uangnya. Mereka selalu bilang ‘sudahlah, ini buat katong (kita) juga toh?’. Saya selalu merinding setiap kali mengingat itu. Bahkan sekarang saya merinding lho.” Angga mengusap-usap lengannya, tersenyum.

Suasana hangat masyarakat Ambon membuat Angga dan seluruh tim produksi harus menunda kepulangan mereka selama tiga hari. Angga sendiri merasa berat meninggalkan Ambon. “Berat. Berat sekali meninggalkan Ambon karena mereka memang sebaik itu sama kami.” sambungnya.

 

Antara yang Kawakan dan Wajah Baru

Cerita Cahaya dari Timur memunculkan banyak pemain dengan latar belakang dan pengalaman akting yang cukup kontras. Dari aktris kawakan Jajang C Noer sampai Bebeto Leutualy pemeran Salim Ohorella yang Angga ibaratkan seperti kanvas putih, karena sama sekali belum pernah berpengalaman menjadi aktor. “Pilihan kami ada dua: kalau bukan pemain kawakan, sekalian pakai yang baru sama sekali.” tutur Angga.

“Komposisinya bisa dilihat sendiri, kami tidak pakai yang di tengah-tengah. Chico Jerrico pertama kali syuting untuk film layar lebar, anak-anak Ambon itu juga, Glenn dan Ridho Slank dasarnya musisi, bukan aktor. Jadi kami memang tidak mau di tengah-tengah. Mengapa? Karena dinamis. Ketika saya mendapatkan pemain yang tidak lagi perlu saya tuntut ini-itu, seperti Jajang misalnya, tinggal dikasih naskah, ngobrol sebentar, selesai. Kemudian di sisi lain saya mendapatkan pemain yang masih baru, pemain yang nggak merasa terlalu ganteng, terlalu cantik, mereka yang nggak takut untuk terlihat jelek karena masih baru, hasrat akting mereka masih besar, dan karenanya lebih mudah untuk dibentuk dan diajak kerja sama. Lebih dari semua itu, kami berusaha membina hubungan yang luwes antar pemain dan kru, sehingga suasananya tidak terasa seperti sedang bekerja.” jelasnya.

Namun begitu, membina hubungan dan pola interaksi dengan pemain-pemain asli Ambon pasti membutuhkan usaha lebih. Salah satunya adalah bahasa dan proses penyesuaian kultur. Angga sendiri mengatakan bahwa Ia tidak memiliki tim khusus dari masyarakat asli sebagai pemandu dan perantara komunikasi. Proses-proses adaptasi dan pendekatan sosial Ia lakukan sendiri bersama rekan-rekan yang lain.

“Semua tim coaching orang Jakarta asli. Casting Director dari tim kami memulai proses casting dari Januari sampai dengan Juni 2013. Enam bulan dia casting di Ambon, dan baru kami berangkatkan acting coach setelah casting selesai. Coaching memakan waktu sampai satu setengah bulan. Pada saat itu, saya harus bolak-balik memonitor, karena coaching berlangsung di dua tempat, Ambon dan Jakarta. Kemudian coacing team di dua kota tadi kami tukar, yang di Jakarta pindah ke Ambon, dan sebaliknya.” jelas Angga.

Ia sadar bila proses tersebut sangat memakan waktu. Namun pada akhirnya terbayar dengan kedekatan dan chemistry yang hadir di antara para pemain dan kru. “I am a happy director!” tutupnya sambil tertawa puas.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.