Ario Bayu: Masih Ada Satrio di Antara Pemuda Jakarta

Sosok :: Penulis: Arie Kartikasari

"Satrio itu korban. Ia memiliki ayah seorang koruptor, tapi ternyata dia memiliki nurani yang berbeda dengan ayahnya,"  demikian jelas Ario Bayu tentang karakternya di film Catatan Harian Si Boy. Bayu menggambarkan koruptor sebagai orang yang hidup dengan merebut hak semua orang, termasuk hak untuk bermimpi. "Kita semua punya mimpi. Mimpi itu menciptakan harapan, aspirasi, dan motivasi. Hal itu yang akhirnya menggerakkan tubuh kita untuk maju. Tapi apakah anak-anak kecil di jalanan itu punya semua itu?" tanya Bayu.  Ketika ditanyakan masihkah ada orang seperti Satrio di antara pemuda Jakarta. Bayu dengan mantap menjawab, "Masih ada. Di antara teman-teman gua masih bisa ditemukan orang yang memiliki nurani dan prinsip hidup seperti Satrio. Memang tergantung kepada mereka untuk tetap berpegang teguh dengan prinsip hidup seperti itu. Satrio sendiri memilih untuk keluar dari rumah, dan menjalani hidup yang meski tidak semewah dulu, tapi bisa dibilang lebih baik."

“Pada saat gua mendapatkan film Catatan Harian Si Boy, gua merasa senang luar biasa, karena ini adalah film yang memiliki nilai komersial cukup tinggi,” daku Bayu. Besar di Selandia Baru, Bayu mengaku baru menonton beberapa film Catatan Si Boy di masa persiapan syuting. "Setelah gua mengobrol dengan beberapa orang, kalau gua akan terlibat produksi ini, gua baru paham sebesar apa nama Boy untuk remaja Indonesia yang menonton film Catatan Si Boy pada zamannya. Gua baru paham kalo Boy memulai pop culture di tahun 80an," jelas Bayu.

Bayu, yang memulai kariernya di tahun 2005 lewat film Belahan Jiwa, mengaku sedang bermasalah dengan potensi aktingnya. "Gua udah kepatok dengan kebosanan, ini adalah unsur personal dari hidup gua. Gua udah hampir tujuh tahun di Indonesia dan merasa tidak berkembang lagi. Gua enggak mau hal ini berlangsung terus sampai di umur tertentu," cerita Bayu. "Kalau di sini, mau tidak mau lo harus jualan, untuk dikenal orang dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Lo seperti ada di negara berkembang namun kapitalis, sehingga segala macam hanya mengenai uang. Kalau lo nggak punya uang, lo nggak bisa berkembang. Sedangkan di sana, faktor penunjang profesinya baik. Lo mau jadi aktor, ada sekolah teater di mana-mana. Lo juga bisa melihat role-play di hari-hari biasa dengan harga tiket yang murah. Di sana juga banyak sekali bioskop alternatif, sehingga nuansanya lebih luas," Bayu membandingkan.

Ketika disinggung mengenai rencananya ke depan, Bayu memaparkan, "Misi gua tahun ini adalah mendapatkan uang, untuk  membangun jembatan menuju mimpi gua yang lain. Gua memberikan waktu dua tahun di Indonesia, habis itu mau cabut dan mulai lagi dari nol. Gua mau masuk sekolah teater, belajar musik, ngeband, dan main musik rock. Secara serius gua mau belajar film dan semua faktor pendukungnya, karena gua memang tertarik dengan film."  Ia menambahkan, “Gua ingin membangun sesuatu dengan sistem dan SDM yang baik, karena menurut gua hal ini yang tidak ada di Indonesia.”

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.