ARKIPEL 2014: Peran Seluloid dalam Sinema Kontemporer

Berita :: Penulis: Pandji Putranda

Poster ARKIPEL 2014Sekumpulan pekerja dan pegiat film yang tergabung dalam Lab Laba Laba berusaha menghidupkan kembali seluloid dalam sinema Indonesia kontemporer. Berkolaborasi dengan Film Farm Canada dan Nano Lab Australia, Lab Laba Laba menggelar pemutaran footages hasil eksperimentasi dengan bahan seluloid. Pemutaran yang berlangsung di Goethe-Institut Selasa, 16 September 2014 itu dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama Edwin (Lab Laba Laba), Scott Miller (Canada), dan Richard Tuohy (Australia). 

Kegiatan ini merupakan tanggapan atas fenomena digital yang membawa dampak signifikan terhadap pola produksi dan konsumsi masyarakat. Perubahan  teknologi dari format seluloid menuju Digital Cinema Package (DCP) telah mengubah banyak hal: para pembuat film dan konsumen mulai meninggalkan medium analog, perusahaan-perusahaan raksasa seluloid film terseok menuju kebangkrutan, studio-studio film beralih-produksi ke citra berbasis komputerisasi elektronik, sementara kondisi pasar film juga terus beradaptasi seiring dengan perkembangan teknologi mutakhir.

Usai pemutaran, Scott Miller memperkenalkan secara singkat mengenai Film Farm Canada, yang selama 20 tahun terakhir sudah membuat lebih dari 100 film berformat seluloid. Ia berujar bahwa perkembangan teknologi yang semakin mendesak para pembuat film meninggalkan format seluloid ialah sebuah konsekuensi logis yang tidak dapat terhindarkan. “Ada banyak kendala yang mendasar. Misalnya, pembiayaan untuk memproses film seluloid terbilang sangat tinggi. Cairan-cairan kimia yang biasa dipakai tidak mudah didapat, dan karenanya tidak murah. Beberapa negara bahkan harus mengimpor. Selain itu, memproses film seluloid membutuhkan keterampilan dan kecermatan khusus. Tenaga terampil semakin sedikit karena peminatnya juga semakin berkurang.” paparnya.

“Salah satu siasat yang mungkin dilakukan ialah dengan memproduksi seluloid secara mandiri. Bahkan jika memungkinkan, melakukan inovasi terhadap teknik produksi dan pemrosesan berbasis seluloid. Inilah gunanya eksperimen secara rutin.” sambung Scott.

Ia juga bercerita sedikit tentang lokakarya yang dilakukan berkala oleh Film Farm Canada. Sesuai dengan namanya, Film Farm, lokakarya berbasis seluloid tersebut dilakukan di ladang terbuka. Kemudian, hasilnya akan diproses di sebuah lumbung besar yang memuat tiga kamar gelap.

Lain halnya dengan Edwin dan Lab Laba Laba. Sejak Februari 2014, Lab Laba Laba bekerja sama dengan Produksi Film Negara (PFN) yang berlokasi di Jakarta Timur. PFN yang sejak 1975 sudah memproduksi 46.000 film dokumenter, fiksi, dan dokumentasi lainnya, sempat menjadi pusat produksi film terbesar di kawasan Asia Tenggara. Setelah vakum beroperasi selama 15 tahun terakhir, Lab Laba Laba mengapresiasinya dengan mengadakan berbagai macam aktivitas yang berkaitan dengan pengenalan, eksplorasi, serta interpretasi film analog berbasis seluloid, termasuk membuat film dengan arsip-arsip yang sudah ada (project cameraless).

Selain itu, Edwin sendiri menganggap PFN adalah tempat yang kondusif untuk melakukan eksperimen. “Seluloid sesungguhnya memiliki banyak ruang yang masih bisa dieksplorasi lagi, masih bisa dikulik dan diutak-atik, ruang eksperimennya boleh dikatakan tak terbatas.” ujarnya.

 

Paradigma Seluloid

Dalam kesempatan ini, salah satu topik yang hangat didiskusikan ialah bagaimana para penggiat seluloid mempersepsikan posisinya terhadap sinema digital. Scott sendiri menilai bahwa analog dan digital hanyalah ihwal pilihan medium semata. Ia tidak menganggap suatu medium dapat dinilai lebih baik dibanding medium lainnya.

“Bagi saya, karya yang bagus tidak serta-merta ditentukan oleh mediumnya. Seorang pembuat film bisa dan berhak menggunakan format apapun. Mulai dari analog 35mm, kamera HD, bahkan kamera ponsel. Dan ketika membicarakan soal respon atau tingkat penerimaan penonton, saya hanya mencoba menawarkan kembali pengalaman menonton lewat medium seluloid. Dewasa ini kita terus-menerus mengkonsumsi film secara digital dari perangkat-perangkat elektronik. Anggap saja, saya mencoba menawarkan alternatif tontonan dalam format seluloid bagi para penonton saat ini.” pungkasnya.

Di samping soal pilihan medium, Edwin turut menambahkan bahwa seluloid adalah langkah konkret untuk melakukan pengarsipan secara fisik. “Banyak orang Indonesia yang menganggap era seluloid sudah mati. Sebenarnya tidak juga. PFN bahkan masih menyediakan stok (bahan seluloid).”

“Begini, salah satu hal positif yang saya temukan lewat kegiatan-kegiatan Lab Laba Laba, kami bisa menemukan kembali arsip film-film nasional yang terbengkalai di PFN. Selama proses lokakarya berlangsung, Lab Laba Laba menemukan lebih dari 100 judul film yang berwujud seluloid dan sayangnya tidak diurus dengan baik. Bahkan hampir seluruhnya belum sempat didigitalisasi untuk kepentingan pengarsipan.” tutupnya.

Lebih dari itu, keduanya berpendapat bahwa para penikmat seluloid juga harus memainkan peran produksi secara mandiri. Dari mengelola bahan kimiawi buatan sendiri sampai memanfaatkan fasilitas-fasilitas film milik pemerintah yang ditelantarkan, praktik laboratorium film independen tengah berjuang mengatasi kesenjangan alur kerja film berbasis seluloid. Maka dari itu, dengan diadakannya kolaborasi antarnegara seperti ini, diharapkan kelompok-kelompok independen akan semakin terhubung secara global.

 

ARKIPEL

Acara pemutaran dan diskusi seputar peran seluloid dalam sinema kontemporer ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan ARKIPEL (Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival) 2014 dengan tema besar Electoral Risk. Menurut Direktur Festival, Yuki Aditya, pemilihan tema ini didasari upaya untuk mencoba menanggapi kondisi sosio-politik dunia, khususnya Indonesia di kurun waktu belakangan.

Kegiatan ARKIPEL yang memasuki tahun kedua ini berlangsung pada 11-21 September, bertempat di Studio XXI Taman Ismail Marzuki, Kineforum (Taman Ismail Marzuki), Goethe-Institut Jakarta, Graha Bakti Budaya, dan Gedung PFN. Selebihnya juga diadakan pameran sinema bertajuk “Jajahan Gambar Bergerak” yang berlangsung mulai dari 14 September – 21 Oktober 2014 di kawasan PFN.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.