Sinema: ”Magic Indonesia”

Monday, 12 October 2015, Oleh Garin Nugroho

Saatnya sinema Indonesia tidak lagi bertanya: kenapa film-film berkualitas tidak cukup laku, tetapi yang harus dilakukan adalah membangun strategi budaya film Indonesia menghidupkan tiga pilar budaya film, baik alternatif, komersial, maupun heritage.

  • Bioskop, Karakter Bangsa?

    Monday, 31 August 2015, Oleh Garin Nugroho

    Saatnya kerja konstruktif bersama dilakukan, namun juga orang film harus berani terus menuntut dan berkata ” tidak” pada diskriminasi produktivitas produk lokal. Jika ini tidak dilakukan sebagai suatu kewajaran, Nawacita Jokowi hanya jadi cita-cita yang tak bernyawa...

  • Tanggapan: Film Nasional Versus Penonton

    Sunday, 09 August 2015, Oleh Catherine Keng

    Apa pun yang dilakukan bioskop dan apa pun yang diatur dalam tata edar film tak akan menggerakkan penonton ke bioskop selama kebijakan tersebut tidak memihak kepada penonton. Dalam hal ini, posisi Cinema 21 tegas memihak kepada masyarakat penonton karena kami ada untuk melayani penonton.

  • Film Nasional Versus Bioskop

    Saturday, 08 August 2015, Oleh A Rahim Latif

    Hingga sekitar sepuluh tahun lalu bioskop Blok M Plaza 21 sudah menjadi sangat potensial bagi film nasional. Bahkan, pernah terjadi seluruh enam layarnya memutar hanya film nasional. Namun, itu tak pernah terjadi lagi dan mayoritas film yang diputar di bioskop tersebut adalah film impor saja. Mengapa?

  • Lembaga Sensor Film Daerah, Perlukah?

    Friday, 05 June 2015, Oleh Dyna Herlina S

    Penulis menyarankan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk tidak menyelenggarakan LSF Daerah DIY karena tidak relevan dengan situasi DIY saat ini. 

  • Catatan Tengah Tahun Film Indonesia 2014

    Thursday, 10 July 2014, Oleh Deden Ramadani

    Meski tren menurunnya jumlah penonton terus terjadi dalam empat tahun terakhir, kenaikan jumlah penonton dan rata-rata jumlah penonton setengah tahun ini dibandingkan setengah tahun sebelumnya boleh lah menjadi kabar baik juga bagi para pembuat film Indonesia. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa perhitungan jumlah dan rata-rata perolehan penonton setengah tahun di atas masih merupakan hitungan kasar. Karena realitanya, sering terjadi ketimpangan perolehan jumlah penonton antarfilm Indonesia.

  • Proyeksi Integrasi Vertikal Film di Indonesia

    Monday, 26 May 2014, Oleh Meiske Taurisia

    Cinemaxx adalah nama jaringan bioskop baru kepemilikan Lippo Group, yang bergerak dalam jenis usaha ekshibisi dan distribusi film. Apakah ini mengindikasikan integrasi vertikal industri media kepemilikan Lippo Group akan merambah ke jenis usaha film?

  • Jumlah Bioskop dan Film Bertambah, Jumlah Penonton Turun

    Monday, 26 May 2014, Oleh Deden Ramadani

    Dengan logika pasar sederhana, dukungan infrastruktur seperti bertambahnya jumlah bioskop dan jumlah film Indonesia yang diproduksi, akan sejalan dengan pertambahan jumlah penonton. Ternyata hal itu belum berlaku untuk industri film tanah air. Tren penurunan jumlah data penonton masih terus terjadi hingga hari ini.

  • Rekam Jejak Idris Sardi Di Layar Sinema

    Friday, 02 May 2014, Oleh Denny Sakrie

    Idris Sardi memang mewarisi seluruh kemampuan musik yang dimiliki sang ayah, Mas Sardi, mulai dari penggesek biolin, komposer, hingga ke pembuat skor untuk film layar lebar.

  • Dakwah Islam dan Tuntutan Melek Film

    Sunday, 13 April 2014, Oleh Hikmat Darmawan

    Ini boleh disebut sebagai perwujudan watak takfiri dalam bentuk halus dan mungkin tak sengaja. Watak demikian kemungkinan besar tidak akan mampu menghasilkan keragaman film Dakwah Islam di Indonesia. Malah, bisa jadi, membunuh potensi keragaman itu.