Membicarakan Penonton Festival Film Kekinian

Thursday, 05 July 2018, Oleh Dyna Herlina S

Seiring dengan pertumbuhan kegiatan perfilman di Yogyakarta, festival film juga lahir dan berkembang atas dukungan penonton. Kehadiran penonton menjamin keberlangsungan peristiwa budaya semacam ini.

  • Menelanjangi (Keluarga) Indonesia Dengan Film Pendek

    Wednesday, 29 May 2013, Oleh Ifa Isfansyah

    Sutradara Ifa Isfansyah mencatat banyak hal menarik setelah menonton film-film pendek Indonesia tahun 2013. Beberapa film bahkan mampu meninggalkan energi yang sudah lama sekali tidak ia dapatkan dari film-film panjang Indonesia.

  • Sejarah dan Produksi Ruang Bioskop

    Friday, 17 May 2013, Oleh Elida Tamalagi

    Ruang bukanlah sekedar tempat terjadinya peristiwa. Ruang membentuk sekaligus ikut dibentuk oleh aktivitas manusia yang ada di dalamnya. Bioskop termasuk dalam kategori ruang yang menjadi tempat interaksi dan dinamika sosial yang riuh. Memakai contoh Indonesia, Malaysia, dan Filipina, tulisan ini mengamati bioskop sebagai produk warisan masa kolonial yang terus berubah seiring perkembangan zaman.

  • Box Office vs Film Festival

    Monday, 29 April 2013, Oleh Meiske Taurisia

    Adalah tidak relevan untuk membandingkan film dan penonton dari kedua kategori ini. Film Box Office dan Film Festival sebenarnya memiliki hubungan saling melengkapi (complementary). Film Box Office menjawab kebutuhan penonton akan tontonan massal, sedangkan ‘Film Festival’ menjawab kebutuhan penonton akan tontonan personal.

  • Risalah 2012: Ditinggalkan Bioskop, Diabaikan Pemerintah

    Wednesday, 24 April 2013, Oleh Totot Indrarto

    2012 adalah tahun yang sulit untuk mengevaluasi industri perfilman Indonesia. Semua yang terlihat mata dan tercatat sebagai data—yang memberi kesan telah terjadi pertumbuhan pesat (sebagai indikator kemajuan)—tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.

  • Risalah 2012: Menjaga Momentum Film Indonesia

    Tuesday, 02 April 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    Satu film dengan sejuta penonton adalah statistik, sejuta film dengan satu penonton adalah tragedi. Melihat kondisi perfilman Indonesia sekarang, dua-duanya adalah tragedi. Tanpa pencapaian Habibie & Ainun, 5 cm, dan The Raid, statistik penonton kita tahun 2012 sungguhlah mengkhawatirkan.

  • Romantisasi “Madre” dan “Tampan Tailor”

    Tuesday, 02 April 2013, Oleh JB Kristanto

    Film tidak sekadar menjadi produk romantisme atau reproduksi realitas seperti media massa cetak dan elektronik, tapi seharusnya bisa menjadi sumber inspirasi.

  • Risalah 2012: Jumlah Bioskop Bertambah, Harga Tiket Naik

    Sunday, 24 February 2013, Oleh Deden Ramadani

    Dalam kurun waktu bulan Agustus 2012-Februari 2013, terdapat pertambahan delapan bioskop Grup 21 dan dua bioskop Grup Blitzmegaplex. Pertambahan fasilitas ini diikuti dengan naiknya harga tiket. Dan masih menyisakan banyak masalah dalam peredaran film nasional.

  • Risalah 2012: Ganti Sistem Penjurian dan Rezim Juri FFI

    Thursday, 31 January 2013, Oleh Totot Indrarto

    Tampaknya ada yang salah dengan penyelenggaraan FFI 2012 hingga menimbulkan ketidakpuasan dan reaksi negatif yang meluas dan hampir merata terutama di kalangan pekerja, penggiat, dan pemerhati film nasional.

  • FFI 2012 Sebenarnya untuk Siapa?

    Sunday, 16 December 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    FFI idealnya tidak saja menjadi ajang penghargaan perfilman nasional, tapi juga kesempatan bagi masyarakat untuk merayakan sinema nasional. Sayangnya, FFI yang baru saja kita lalui masih jauh dari ideal.

  • Sejarah dan Perkembangan Teknologi 3D

    Sunday, 14 October 2012, Oleh Allan Lunardi

    Banyaknya film impor berformat 3D tampaknya mempengaruhi perfilman nasional juga. Dua film 3D buatan Indonesia sudah muncul: Jendral Kancil dan Petualangan Singa Pemberani. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang tekonologi 3D ini, ada baiknya kita mulai melihat sejarah awal dan perkembangannya.