Membicarakan Penonton Festival Film Kekinian

Thursday, 05 July 2018, Oleh Dyna Herlina S

Seiring dengan pertumbuhan kegiatan perfilman di Yogyakarta, festival film juga lahir dan berkembang atas dukungan penonton. Kehadiran penonton menjamin keberlangsungan peristiwa budaya semacam ini.

  • Pasar Bebas Film Lebaran

    Sunday, 11 September 2011, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    Jumlah layar film Lebaran tahun ini menunjukkan bahwa film Indonesia bisa menjadi tuan di rumah sendiri. Masalahnya, jumlah layar baru satu cerita. Masih ada cerita lain yang belum terkuak, yakni bagaimana film-film Lebaran tahun ini terancam tak ada yang balik modal.

  • Masih tentang Skandal Film Impor (Bagian 5)

    Wednesday, 27 July 2011, Oleh H Ilham Bintang

    Penangguhan PPn atas royalti film impor berarti pemerintah (negara/rakyat) yang menanggung beban itu. Penonton film Harry Potter dkk ikut menikmati uang rakyat yang sepatutnya bisa digunakan untuk mengentaskan orang miskin.

  • Menari di Atas Mayat Orang Lain

    Tuesday, 26 July 2011, Oleh Totot Indrarto

    Masih sangat banyak kabupaten/kota di Indonesia yang masyarakatnya tidak bisa menikmati hiburan bioskop. Padahal belum tentu tidak ada potensi pasar dan pebisnis yang mau membangun bioskop di sana.

  • Masih tentang Skandal Film Impor (Bagian 4)

    Monday, 25 July 2011, Oleh H Ilham Bintang

    Secara legalistik formal masuknya film-film Harry Potter 7 dan Transformer dilakukan secara ilegal. Film-film itu masuk masih menggunakan PT Omega Film yang diblokir.

  • Masih tentang Skandal Film Impor (Bagian 3)

    Sunday, 24 July 2011, Oleh H Ilham Bintang

    Direksi Omega Ajay Fulwani yang tak lain adalah kemenakan dari Haris Lesmana, salah satu bos besar di Grup 21. Fakta kedua, Ajay sudah lama bekerja di Grup 21, milik sang paman.

  • Masih tentang Skandal Film Impor (Bagian 1)

    Thursday, 21 July 2011, Oleh H Ilham Bintang

    Jangan sampai kegemaran kita pada film-film MPAA membuat kita mau saja membiarkan pihak asing tidak mau ikut aturan di negeri ini. Jangan biarkan monopoli terus meranggas.

  • Masih tentang Skandal Film Impor (Bagian 2)

    Thursday, 21 July 2011, Oleh H Ilham Bintang

    Pertanyaannya: bagaimana penyelesaian pembayaran kewajiban pada negara sebesar Rp. 250 miliar yang sudah jatuh tempo sejak 12 Maret 2011 lalu?

  • Jero Wacik, Menteri atau Pengusaha Bioskop?

    Monday, 11 July 2011, Oleh Totot Indrarto

    Niat baik Jero Wacik untuk memberikan sebanyak-banyaknya tontonan kepada masyarakat sekaligus menyediakan ruang pemutaran yang lebih banyak bagi film-film Indonesia harus didukung. Namun hal itu bisa dilakukan justru jika UU dan segala perundangan lain yang ada ditegakkan.

  • Working Girls: Benang Putus Antara Perempuan dan Dunia Kerja

    Monday, 04 July 2011, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    Working Girls bergeser dari niatan yang mendasarinya. Kecuali dalam cerita yang pertama, subyek perempuannya baru sebatas dianggap ada dalam cerita-ceritanya. Alhasil, ada yang hilang dari niat awal dan produk akhir Working Girls.

  • Tarif Bea Masuk Rp 20.000 Tidak Berdasar

    Thursday, 30 June 2011, Oleh Rudy S Sanyoto

    Tarif spesifik BM per menit Rp 20.000 terlalu rendah, tidak wajar dan tidak berdasarkan suatu nilai film yang wajar dan data yang akurat serta dapat dipertanggungjawabkan, sehingga harus ditolak serta dikoreksi.