Membicarakan Penonton Festival Film Kekinian

Thursday, 05 July 2018, Oleh Dyna Herlina S

Seiring dengan pertumbuhan kegiatan perfilman di Yogyakarta, festival film juga lahir dan berkembang atas dukungan penonton. Kehadiran penonton menjamin keberlangsungan peristiwa budaya semacam ini.

  • Noorca Massardi: Film Nasional Mati Jika Bioskop Mati

    Tuesday, 22 February 2011, Oleh Lisabona Rahman

    Noorca Massardi mengeluarkan pernyataan tertulis yang memicu perdebatan mengenai situasi impor film di Indonesia saat ini. Pernyataan ini kami kutipkan sebagaimana terbit.

  • Deddy Mizwar-Rudy Sanyoto: Meluruskan Masalah Film Impor

    Tuesday, 22 February 2011, Oleh Lisabona Rahman

    Tulisan ini merupakan rangkuman dari pernyataan yang dibuat Deddy Mizwar dan Rudy S Sanyoto yang mereka sampaikan dalam jumpa pers tentang kebijakan film nasional dan masalah pajak film impor di Jakarta pada Minggu 20 Februari 2011.

  • Dominasi Film Impor Dan Dilema Film Nasional

    Monday, 21 February 2011, Oleh A Rahim Latif

    Perdebatan ada dan tidak adanya monopoli ini tentunya akan terus berlanjut, karena secara de-jure memang benar praktek monopoli tidak dibenarkan keberadaannya. Sementara di lain pihak secara de-facto ia benar-benar ada.

  • Saatnya Membenahi Urusan Film Impor Secara Menyeluruh

    Monday, 21 February 2011, Oleh JB Kristanto

    Ada kekisruhan yang entah disengaja atau tidak dalam polemik tentang pajak impor film beberapa hari belakangan ini. Kenapa importir film, pengusaha bioskop Grup 21, dan perwakilan MPA (Motion Pictures Association yang mewakili studio-studio besar AS), meributkan hal yang sudah lazim berlaku ini?

  • Pajak Film Hollywood Membantu Film Nasional?

    Monday, 21 February 2011, Oleh Sheila Timothy

    Tujuan pemerintah memberlakukan pajak ini, seperti diberitakan berbagai media, adalah untuk mendukung industri perfilman nasional sehingga dapat bersaing di pasar domestik. Tujuannya sebenarnya baik, namun apabila ditelaah lebih mendalam, ternyata tidaklah tepat pada sasarannya dan justru berpotensi makin mempersulit industri film nasional.

  • Dari BKIF ke Konsorsium Sampai Asosiasi

    Tuesday, 22 February 2011, Oleh A Rahim Latif

    Memahami ekonomi film dengan menelusuri liku-liku dan politik dagang dari sejarah importir film di Indonesia.

  • Pers dan Film, Penjaga Sekaligus Bukan Penjaga Moral

    Monday, 24 January 2011, Oleh JB Kristanto

    Ketegangan yang terjadi antara dunia film dan masyarakat sebenarnya lebih tepat dikatakan dengan sebagian masyarakat yang merasa wajib menjadi “penjaga moral keluhuran nilai-nilai subversi-nasionalisme-politik” dan sebagainya.

  • Ihwal Akurasi Sejarah: Antara FFI dan Academy Awards

    Thursday, 09 December 2010, Oleh Tam Notosusanto

    Agaknya Festival Film Indonesia (FFI) perlu disesuaikan namanya menjadi Festival Film Fiksi/Non-Sejarah Indonesia. Keputusan Komite Seleksi FFI 2010 tidak meluluskan film Sang Pencerah [...] untuk memasuki medan penjurian, seakan menunjukkan tidak adanya ruang bagi film berlatar sejarah atau film yang menampilkan tokoh sejarah, dalam kompetisi film tahunan tersebut.

  • Bioskop Tua di Yogyakarta Tinggal Nama

    Wednesday, 03 November 2010, Oleh Ardi Wilda Irawan

    Bulan Agustus lalu, seorang kawan mengirim pesan pendek pada saya. Ia mengabarkan bahwa ia baru saja membaca pengumuman di depan pintu masuk Bioskop Permata yang menyatakan kalau bioskop itu akan tutup selamanya terhitung 1 Agustus 2010 lalu. Saya sempat tak percaya, namun setelah saya konfirmasi pada pemilik bioskop, ternyata benar, bioskop Permata gulung layar.

  • Maka Lengkaplah Penderitaan Itu

    Wednesday, 27 October 2010, Oleh JB Kristanto

    Jumlah penonton menurun drastis, hingga tidak ada satu pun produser yang berani menayangkan filmnya selama bulan puasa ini. Peristiwa pertama sepanjang sejarah. Film nasionalis seri Merah Putih yang berjudul Darah Garuda pun memilih penayangan pada tanggal sekitar lebaran mendatang, sebuah tanggal yang sudah menjadi tradisi untuk “panen” penonton.