Dakwah Islam dan Tuntutan Melek Film

Kajian :: Penulis: Hikmat Darmawan

Entah berapa yang pernah mengalami kejadian ini: seorang penulis menuliskan kritiknya atas sebuah film, lalu beberapa hari kemudian, salah satu karakter film yang ia kritik mengontaknya. Minggu lalu, tanggapan kritis saya terhadap film dwilogi 99 Cahaya Di Langit Eropa, berjudul Imajinasi Islam dalam Nalar Kekalahan dimuat di situs ini.

Lalu, pada 31 Maret 2014, kotak pesan saya di Facebook menerima pesan dari Rangga Almahendra, ini nama karakter utama dalam film 99 Cahaya… Dia mengontak saya untuk bersapa dan berkirim tautan ke tulisan dia, sebuah tanggapan terhadap kritik saya tersebut. Saya berterima kasih pada Rangga secara langsung melalui kotak pesan Facebook atas tanggapannya, juga atas koreksinya terhadap dua buah kelalaian data dalam tulisan saya itu.

Tapi, saya juga senyum-senyum sendiri, berpikir, "Kok bisa saya bertukar pesan dengan sebuah karakter dalam film?"

Tentu saja, itu hanya sudut pandang iseng saya saja. Saya sepenuhnya paham bahwa Rangga yang menghubungi saya di Facebook adalah berbeda dengan "Rangga" yang ada dalam film. Tapi, bagi Rangga, rupanya penting sekali mengukuhkan bahwa karakter dalam film itu "nyata" dan bukan fiksi. Dalam tanggapannya terhadap tulisan saya, Rangga menolak kata "Imajinasi" yang saya gunakan dalam tulisan saya. Tulis Rangga:

Film 99 Cahaya di Langit Eropa bukanlah produk imajinasi, film ini sepenuhnya inspirasi kisah nyata.

Rangga meneruskan pernyataan tersebut dengan penyebutan beberapa bagian dari film 99 Cahaya di Langit Eropa sebagai sebuah "undeniable truth" (kebenaran yang tak terbantahkan). Demikian juga tokoh-tokoh dalam film tersebut, kata Rangga, "bukanlah konstruksi imajinatif".

Terbaca dari penegasan itu, dua hal dari Rangga: Pertama, Rangga rupanya cukup lugu dalam memahami beda antara "fiksi" dan "non-fiksi" dalam sebuah cerita (berbentuk film, ataupun buku). Jika sebuah karakter atau kejadian, pun juga lokasi, diambil dari kejadian nyata (faktual), maka Rangga menganggap itu bukan konstruksi imajinatif.

Pandangan Rangga ini tentu saja saya sebut lugu, karena kesepakatan umum dalam dunia penulisan maupun film, adalah bahwa ada beda yang jelas antara fiksi (karya rekaan) dan non-fiksi (karya bukan rekaan), betapa pun bahan sebuah karya fiksi diambil dari fakta atau kenyataan. Inilah hukum besi fiksi. Film 99 Cahaya… diadaptasi dari buku berjudul sama, yang jelas mencantum di sampulnya label "Novel Islami".

Novel, tentu saja sebuah karya fiksi—sekali lagi, terlepas dari apakah sumbernya dari kejadian nyata. Dan ketika difilmkan, 99 Cahaya… jelas termasuk kategori film fiksi. Sebab, filmnya disusun berdasarkan skenario, adegan-adegannya ditata sesuai pengaturan sutradara, dan para karakternya diperankan oleh aktor-aktor. Dengan kata lain, film ini bukan film dokumenter.

Kedua, bisa kita simpulkan juga bahwa Rangga menganggap jika sebuah kisah dipetik dari kejadian nyata, maka ia memiliki tingkat kebenaran yang mutlak, tak bisa dibantah, disangkal, bahkan dikritisi  ("undeniable truth"). Yang menarik buat saya dalam soal ini adalah, sebaliknya, Rangga malah menempatkan tulisan saya sebagai hasil "imajinasi". Begini, tulis Rangga:

Namun sebagai orang dengan latar pendidik, saya sangat tergugah untuk menggunakan hak dialektika saya untuk juga bisa menyampaikan standing opinion atas kritik subyektif, atau tepatnya imajinatif, seperti bahasa, yang dibuat Saudara Hikmat.

Saya gagal paham, mengapa Rangga merasa lebih tepat menyebut tulisan saya sebagai karya "imajinatif" daripada "kritik subyektif". Saya cuma bisa menyimpulkan bahwa ini lagi-lagi sebuah keluguan Rangga dalam memahami kata "imajinasi", "fiksi", "non-fiksi", dan mungkin juga kata "subjektif" (atau "objektif").

Keluguan Rangga dalam soal semendasar pemahaman akan kata "imajinasi" dan lainnya itu membuat saya tertarik melanjutkan percakapan ini ke soal yang lebih mendasar, yakni soal Dakwah Islam dan kebutuhan agar seorang yang hendak membuat film untuk Dakwah Islam lebih melek film.

Sebab, di akhir tulisannya, Rangga menegaskan bahwa dia akan membuat "99 Cahaya-99 Cahaya yang lain". Saya sama sekali tak keberatan jika Rangga atau siapa pun ingin membuat film untuk mendakwahkan nilai-nilai kebajikan Islam. Tapi, saya tak bisa berdiam diri membiarkan film-film dengan niat baik itu lantas dibuat dengan memikul banyak salah kaprah soal film itu sendiri.

 

Tentang Konstruksi Islam Dalam Film

Rangga menyebutkan bahwa tulisan saya lahir dari sebuah "keresahan" karena menyaksikan semakin banyaknya muslimah berjilbab di mana-mana. Saya gagal paham lagi, dengan pendidikan PhD-nya, Rangga sedang menggunakan metode apa hingga (merasa) bisa membaca pikiran, niat, dan motif saya menulis kritik terdahulu? Di bagian mana dari tulisan saya itu yang bisa membuat Rangga bersimpulan demikian?

Apalagi kenyataannya, simpulan Rangga tentang motif saya itu meleset jauh. Saya sudah membela hak perempuan berjilbab sejak masa jilbab masih dilarang dan dimusuhi pada 1980-an di Indonesia. Sampai sekarang, saya tak risau ibu saya berjilbab, dan banyak teman saya berjilbab—termasuk model jilbab bergaya fashionista ala kaum "hijabers".

(Dan sedikit catatan: Rangga juga keliru saat menulis bahwa saya merujuk pada populasi pemakai hijab di Indonesia yang ia yakini "lebih dari 1,1 juta". Saat saya menuliskan tentang kelompok "hijabers", saya tak merujuk pada seluruh pemakai hijab, tapi pada sebuah kelompok khusus: kelompok pemakai jilbab/hijab bergaya fashionista ala Dian Pelangi dan kawan-kawan komunitas hijabers-nya.)

Tapi, lebih penting lagi: itu bukan poin tulisan saya sama sekali. Saya memberi porsi cukup banyak untuk pergeseran makna sosial dan kultural kata "jilbab" dan "hijab" terkait dengan metode saya membaca film 99 Cahaya… atau film pada umumnya.

Bagi saya, isi dan bentuk sebuah film akan lebih bermakna ketika diletakkan di dalam konteks sosio-kulturalnya, termasuk dalam latar ekonomi-politiknya. Film juga akan lebih bermakna bagi saya, saat diletakkan dalam kesejarahannya. Sebuah karya tak pernah lahir dari ruang kosong, atau "tahu-tahu begitu". Saya tak terlalu tertarik mengulas sebuah film untuk sekadar menyimpulkan film itu "bagus" atau "jelek". Kalau pun akhirnya saya harus menjatuhkan nilai "bagus" atau "jelek", saya tak ingin sekadar berdasarkan selera pribadi saya saja.

Dalam memahami konteks itulah, memahami letak film 99 Cahaya… dalam kesejarahannya, saya tak begitu saja terpukau dengan intensi (niat, maksud) dan retorika para pembuat filmnya yang terasa serba ideal dan heroik itu.

O, ya, ini pun jadi catatan saya: Rangga agaknya salah kaprah juga dalam memahami kata "substansi film", dan lantas menuduh saya sebagai abai ("tidak tertarik") pada substansi film 99 Cahaya…. Kita tunda dulu soal perdebatan apakah simbol dan substansi harus dipisahkan atau disatukan. Saat Rangga menyatakan bahwa substansi film 99 Cahaya… adalah ajakan pada "Islam Damai", saya pikir yang ia maksud sebetulnya adalah "intensi" (niat) dari film 99 Cahaya….

Intensi sebuah film bisa dituliskan dalam sebuah press release, atau dibicarakan dalam diskusi para pembuatnya saat memproses karya tersebut. Intensi itu bisa sangat ideal. Tapi, intensi itu harus diterjemah menjadi rangkaian rekaan adegan, percakapan, dan teknik visualisasi agar film itu bisa dinikmati. Agar film itu bisa sampai maksudnya. Intensi bisa gagal dalam eksekusi. Dialog yang klise atau terasa dibuat-buat, pengadeganan yang tak bisa dipercaya, akting yang tak lihai, banyak hal bisa menjegal intensi tersebut.

Sementara, saya sebagai penonton, melihat film itu dalam produk jadinya. Saya bisa percaya atau menangkap intensi si pembuat, bisa tidak. Tapi saya bisa membaca apa yang dikatakan oleh film tersebut dengan menyimak dialog-dialognya, melihat visualisasinya, mencerap penyutradaraannya dan sebagainya. Dari situlah saya membaca substansi sebuah film. Kesan saya terhadap sebuah film tak bisa didikte oleh intensi si pembuatnya.

Jika sebuah film dibaca (maksud saya, tentu saja, ditonton) secara keseluruhan unsur-unsurnya, maka di situlah saya bisa menemukan konstruksi yang disusun oleh para pembuatnya. Konstruksi apa? Bisa konstruksi ceritanya. Bisa konstruksi pesannya, atau konstruksi pemikirannya tentang sebuah hal. Film Cahaya 99… adalah sebuah film bertema Islam. Wajar jika lantas saya mencoba memahami konstruksi pemahaman Islam yang ada di dalam film itu. Bukan yang ada di dalam diri Rangga Almahendra yang di luar film.

Pemahaman saya bisa salah, tapi paling tidak, saya mencoba memahami sebuah film secara berdisiplin, tidak dengan cara menduga-duga atau berprasangka. Saat saya menangkap begitu banyak tanda bahwa 99 Cahaya… memang sebuah, katakanlah, "film Dakwah" atau "film Islam", tentu saja saya langsung mencari konstruksi pemahaman Islam dalam film tersebut. Untungnya saya juga terbantu oleh rujukan film-film dakwah atau film-film Islam di Indonesia dalam sejarah film Indonesia.

 

Film Dakwah Islam: Keterlibatan Sosial, atau Heroisme Sukses Pribadi?

Ya, sejarah film Indonesia sebetulnya menyimpan khasanah yang cukup kaya tentang film bertema Islam. Jika kita memiliki pemahaman yang sangat cair tentang "film Dakwah", sebagai film-film yang menjadikan Islam sebagai bagian penting karakter atau logika cerita, banyak dalam film Indonesia bisa dimasukkan ke dalam kategori film dakwah. Misalnya, hampir seluruh film Rhoma Irama praktis bisa dikategorikan sebagai film dakwah. Begitu juga, film-film laga silat semacam Jaka Sembung (1981, Sutradara: Sisworo Ghautama Putra) atau Ronda Macan Betawi (1978, Sutradara: Fritz G. Schadt). Tentu saja, pemahaman cair ini akan memancing perdebatan—dan tak akan saya ulas dalam tulisan ini.

Pun jika kita mengartikan "film Dakwah Islam" dengan agak khusus, yakni sebagai film yang membahas soal Islam, dengan semangat ingin menyampaikan nilai-nilai kebajikan Islam, maka film seperti Al Kautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, dan Nada dan Dakwah—ketiganya disutradarai oleh Chaerul Umam berdasarkan skenario dari Asrul Sani—jelas memenuhi kategori itu. Dan saya musti bilang, ketiga film tersebut lebih berhasil dalam menampilkan dakwah Islam ketimbang film 99 Cahaya… dan semacamnya.  

Saya menyebutkan tiga contoh itu untuk memudahkan perbandingan. Ketiganya saya anggap mewakili film-film dengan kesadaran menjadikan Islam sebagai pusat pembicaraan. Atau, lebih tepat lagi, ketiga film tersebut, menempatkan Islam di pusat persoalan masyarakat dan kemudian diuji sebagai sebuah jalan keluar. Artinya, konstruksi Islam di dalam ketiga film tersebut tidaklah sekadar sebuah konstruksi identitas yang menempatkan para tokoh film itu masih bertanya-tanya bagaimana mereka bisa menampilkan diri sebagai seorang muslim di tengah sebuah masyarakat yang menyalahpahami.

Dengan kata lain, film Al Kautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, dan Nada dan Dakwah menempatkan Islam sebagai sebuah tawaran etika terhadap masalah kemasyarakatan. Para karakternya tidak bertanya-tanya, "bagaimana saya bisa mempertahankan identitas (berupa tampilan) Islam saya?", alih-alih malah bertanya-tanya, "apa yang bisa saya lakukan, dengan ke-Islam-an saya, agar bisa mengatasi masalah masyarakat saya?"

Dalam konstruksi Islam seperti yang dibangun oleh film 99 Cahaya…, para karakternya sibuk dengan persoalan-persoalan individual mereka, serta sibuk mempertahankan diri dari masyarakat "luar" atau "asing". Mereka, dengan demikian, sibuk membedakan diri dari masyarakat tempat mereka hidup.

Sementara dalam konstruksi Islam seperti yang dibangun oleh ketiga film lawas Chaerul Umam tersebut, karakter utama hadir dengan identitas keislaman yang praktis sudah jadi.

Dalam Al Kautsar (1977), Saiful Bachri (diperani oleh Rendra), dikirim oleh pesantrennya ke sebuah kampung pelosok, untuk membuka kembali pesantren kampung itu yang telah lama terbengkalai. Kehadirannya mengguncang status quo, karena ajaran-ajaran kebajikannya bertentangan dengan para jagoan kampung yang dipimpin oleh Harun (Soultan Saladin).  Saiful menghadapi banyak penentangan, dan terutama fitnah. Ia sempat dihujat masyarakat kampung karena fitnah Harun bahwa Saiful mendekati seorang janda cantik.

Salah satu karakter paling mengesankan dalam film itu adalah tokoh Sutan (Wahab Abdi) yang dulunya santri senior Saiful, tapi lantas menyeberang jadi kawan penjudi si Harun. Dalam salah satu adegan, digambarkan bahwa Sutan masih mampu mengutip teks suci Islam, tapi dengan tafsir sesuai kepentingannya untuk berbuat maksiat. Tergambar di situ, bukan hanya konflik batin Sutan dan Saiful, tapi juga dilema-dilema etis saat ajaran Islam berhadapan dengan godaan-godaan kenyataan.  

Di situ, Islam dikonstruksi bukan sebagai sebuah ideologi yang hadir mendesak, dan direduksi jadi soal menang dan kalah. Islam dalam Al Kautsar dikonstruksi sebagai sistem etika yang dijadikan ilham bagi sebuah perubahan sosial. Karakter utamanya, Saiful, menjadi pelaku aktif sebuah perubahan sosial. Ia menghadapi risiko-risiko yang kadang bersifat kekerasan karena keteguhannya memegang prinsip Islam.   

Saiful juga tidak terlepas dari kebimbangan-kebimbangan manusiawinya. Tapi, kebimbangannya lebih terasa sebagai ujian dalam pelaksanaan keyakinan-keyakinannya. Ia bertanya-tanya, apakah ia sudah benar melakukan tugas kesantriannya? Apakah ia harus menyerah?

Kebimbangan-kebimbangan itu terasa manusiawi, karena sifatnya eksistensial: menyangkut pilihan-pilihan hidup yang sangat menentukan, bisa jadi dengan risiko maut, bahkan kadang punya dampak sosial.

Konstruksi Islam yang demikian, juga karakterisasi tokoh yang aktif terlibat dan berupaya ikut mengubah keadaan masyarakat dengan (nilai-nilai) sebagai pijakan mereka, tampak berulang dalam film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983) dan Nada dan Dakwah (1991).

Titian Serambut Dibelah Tujuh adalah sebuah remake (pembuatan ulang) dari film Asrul Sani yang ia sutradarai sendiri pada 1959. Mengisahkan Ibrahim (dalam versi Chaerul Umam, diperani oleh El Manik), seorang guru agama, yang datang ke sebuah kampung yang selalu tersaput kabut dan dikuasai oleh Harun (Soekarno M. Noor). Kabut jadi metafor kegelapan dan keburukan akhlak sang juragan Harun dan anak buahnya. Dalam menegakkan nilai-nilai kebajikan Islam, Ibrahim diancam dan dihalang-halangi oleh anak buah Harun. Juga, seperti Saiful dalam Al Kautsar, Ibrahim mengalami pemfitnahan.

Kedegilan penguasa kampung dalam film Titian Serambut Dibelah Tujuh lebih terasa dekaden, dan lebih total, daripada gambaran dalam Al Kautsar. Dan ketakutan Ibrahim lebih terasa dramatis daripada ketakutan Saiful. Justru itu yang membuat film ini terasa sangat manusiawi. Ibrahim, dan Saiful, mengalami ketakutan dan kebimbangan manusiawi, tanpa kesibukan menggapai heroisme atau menjadi heroik secara pribadi.

Heroisme karakter mulai tampak dalam Nada dan Dakwah. Rhoma Irama dan KH. Zainuddin MZ, tampil sebagai tokoh yang serbatahu dan pusat kekaguman tokoh lain dalam film tersebut. Walau begitu, persoalan yang dihadapi kedua tokoh itu bukanlah persoalan identitas pribadi/kelompok seperti yang jadi pusat masalah tokoh-tokoh dalam 99 Cahaya….

Dalam Nada dan Dakwah, KH. Zainuddin MZ dan Rhoma Irama mendampingi penduduk dan pesantren di sebuah desa yang mengalami konflik antara penduduk dengan konglomerat. Konfliknya adalah perebutan tanah. Sekali lagi, tampak di sini, konstruksi Islam yang terlibat dengan persoalan kemasyarakatan. Walau dalam film Nada dan Dakwah, mulai dimunculkan hero yang super, tapi masalah dan penyelesaian yang ditawarkan bersifat sosial.

Perlu dicatat bahwa Chaerul Umam sendiri, mengalami pergeseran sikap dan gagasan tentang Islam. Setelah Nada dan Dakwah, ia semakin condong pada ajaran Islam yang dikembangkan dalam gerakan Islam yang sering dinamai "tarbiyah" (gerakan Islam yang mengacu pada metode dakwah Ikhwanul Muslimin dari Mesir dan bersifat internasional). Chaerul Umam (almarhum) di senja hidupnya secara terbuka sering mengungkap ketaksukaannya pada film-film awalnya itu.

Kecondongan itu sudah terlihat dalam sebuah adegan dalam Nada dan Dakwah yang menggambarkan KH. Zainuddin MZ menerangkan konsep dakwah kemasyarakatannya di papan tulis hitam dengan menggunakan bagan mirip dengan metode rasmul bayan (bagan ajaran) seperti lazim dalam pengajian dan pesantren kilat yang dikelola para aktivis tarbiyah. Dalam film Fatahillah, Chaerul Umam bahkan melibatkan para aktivis tarbiyah itu sebagai penasihat dan bintang filmnya.

Saya tak menjadikan film Fatahillah sebagai perbandingan, karena film itu butuh perbincangan sendiri sebagai fenomena dakwah Islam dalam film. Tapi kita melihat bahwa secara ideologis, dan tampak dalam film-filmnya sesudah itu, Chaerul Umam jadi mendekat ke konstruksi Islam yang mirip dengan konstruksi Rangga dalam 99 Cahaya… Kecenderungan pada heroisme pribadi, dalam naungan konstruksi Islam yang menekankan pada ajaran keselamatan dan sukses (perjuangan mendapat gelar S3, istri cantik dan pintar, bisnis yang sukses), tampak dalam film Ketika Cinta Bertasbih.  

Sebetulnya, menarik untuk menelaah bagaimana pergeseran kecondongan ideologis/konstruksi Islam tersebut memengaruhi gagasan sinematik atau mutu sinematik film-film Chaerul Umam. Saya termasuk yang menilai terjadi penurunan mutu filmis karya Chaerul Umam seperti Fatahillah dan Ketika Cinta Bertasbih dibanding tiga karya terdahulunya yang saya sebut di atas. Tapi, telaah itu tidak bisa saya lakukan dalam tulisan ini.

Untuk tulisan ini, saya lebih lanjut menyorot betapa niatan membuat film Dakwah Islam bisa jadi justru menjebak para pelakunya mengukuhkan sistem yang ada.

 

Melek Industri Imajinasi

Salah satu sebutan legendaris terhadap para pengusaha dan pembuat film di dalam sejarah Hollywood adalah para "dream merchant" (saudagar mimpi). Sebutan itu memberi pensifatan yang cukup jitu akan corak industri yang berkembang di Hollywood. Mereka, pada dasarnya, menangguk keuntungan besar dari kegiatan "menjual mimpi". Film, sebagai produk budaya, ditekankan fungsinya sebagai media hiburan. Bahkan lebih khusus lagi, hiburan eskapis.

Sebagai hiburan eskapis, film difungsikan untuk memberi dan memanjakan impian tertentu bagi para penonton agar mereka bisa lari, paling tidak untuk sejenak, dari kenyataan hidup yang mungkin terasa (atau didefinisikan) keras dan menindas. Kita bisa melihat fungsi itu dalam film 99 Cahaya….

Gagasan, atau niatan, untuk menjual mimpi tentang Islam yang dikagumi di Eropa membentuk pilihan-pilihan estetika 99 Cahaya… yang kita saksikan di layar: corak sinematografi, pendekatan cerita (termasuk dialog), pilihan untuk memakai bintang-bintang serba ganteng dan cantik, dan sebagainya. Aspek-aspek itulah yang saya sebut sebagai "imajinasi Islam" dalam 99 Cahaya….

Film ini, dengan kata lain, masih termasuk dalam tradisi "Hollywoodisme" (bisa dibaca soal Hollywoodinsme ini antara lain dalam buku Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia, Tim Rumahfilm.org, Penerbit: Rumah Film dan Yayasan Tifa, 2012). Dilihat dari segi ini, maka film 99 Cahaya… sebetulnya berada dalam kotak yang sama dengan film-film hiburan dari genre lain, termasuk film horor.

Jadi, saat Rangga dalam tanggapannya, "menodong" saya agar memihak mana—"industri 3G" ("ghost, girls, guns") vs. industri "film Islami" seperti yang, menurut Rangga, diterapkan oleh 99 Cahaya… —saya melihat itu sebagai oposisi semu. Saya justru sedang mengritik dasar-dasar logika industrialisasinya. Dalam pandangan kritis ini, 99 Cahaya… dan  Oo Nina Bobo sama-sama produk berkarakter film hiburan eskapis yang mengajak para penonton untuk sejenak melupakan kenyataan di luar bioskop. Dan, keduanya termasuk kategori film mainstream.  

Lebih jauh, saya melihat bahwa todongan oposisi semu dari Rangga tersebut mencerminkan keluguan lain dari Rangga: keluguan memahami lekuk-liku industri film. Kalau diukur dari sukses 99 Cahaya… meraup jumlah penonton, simpulan saya ini bisa dianggap aneh. Tapi, saya memandang bahwa moda industri film akan memengaruhi produksi gagasan sebuah film. Bahkan jika film itu diniatkan sebagai "film dakwah".

Secara sangat saya sederhanakan, kira-kira begini: moda produksi film mainstream bercorak Hollywoodisme yang mendasari cara produksi 99 Cahaya… memengaruhi corak penceritaan dan tuturan visualnya, yang pada gilirannya membentuk corak gagasan yang diproduksi film tersebut. Dalam alur demikian, dakwah rentan menjadi gimmick pemasaran; dan umat rentan dipandang sebagai pasar.

Maka, kehadiran 99 Cahaya…, dengan segala niat mulianya, adalah justru sebuah pengukuhan bagi sistem kapitalisme-konsumtif yang menaungi industri film bercorak Hollywoodisme tersebut. Apalagi kita bisa membaca bahwa film tersebut tidak memiliki kesadaran kritis terhadap sistem. Konstruksi Islam yang ditawarkan adalah "berdamai, dan sukses, dalam sistem yang ada"—yang berarti  bisa dibaca sebagai ajakan konformis (atau nrimo) terhadap sistem yang ada.

Sah saja, jika itu adalah tawaran yang sadar dari para pembuat film 99 Cahaya…, termasuk Rangga dan Hanum di dunia nyata tersebut. Tapi, menjadi patut dikritisi ketika lantas ada waham seolah "film Islami" hanyalah yang sama dengan model produksi semacam film mereka. Penunggalan model demikian akan mengerdilkan potensi tema Islam dalam film Indonesia itu sendiri.

Penunggalan semacam itu, walau mungkin dilakukan oleh produser baru macam Rangga secara tak sadar atau berasal dari niat mulia, akan membunuh keragaman film Islam di Indonesia, membunuh potensi penggalian Islam dengan Nalar Kritis, Nalar Etis, dan sebagainya, dalam perfilman Indonesia. Bagaimana para penunggal-model macam Rangga memandang film-film semacam 3 Doa 3 Cinta (Nurman Hakim), Rayya, Cahaya Di Atas Cahaya (Viva Westi), Rindu Kami Padamu dan Mata Tertutup (Garin Nugroho), atau Lovely Man (Teddy Soeriaatmadja)?

Padahal, keragaman itulah yang genting diupayakan untuk menyelamatkan perfilman Indonesia dari krisis saat ini. Saya pernah melontarkan sketsa permasalahan industri film kita dalam sebuah seminar tentang perfilman nasional kita pada 2009, dalam makalah berjudul Film Indonesia Sebagai Industri Konten. Walau banyak data dan analisa perlu diperbaharui, salah satu hal yang masih saya yakini dari makalah tersebut adalah penting dan gentingnya keragaman bagi perfilman Indonesia.

 

Keragaman vs. watak takfiri

Dengan berharap bisa meminimalisasi kesalahpahaman akan kata "keragaman" di atas, saya perlu tegaskan bahwa yang saya maksud adalah keragaman variasi produk perfilman Indonesia. Keragaman itu bisa diukur dari keragaman tema, gaya, pendekatan naratif, variasi karakter, dan sebagainya dalam film-film yang diproduksi oleh sebuah industri pada sebuah periode.

Tapi keragaman tersebut memang bisa membuka peluang bagi keragaman gagasan yang dihasilkan dalam produk-produk kebudayaan sebuah film. Secara sederhana, kita bisa andaikan begini: jika industri film di Indonesia dalam keadaan sehat, semestinya ada pelangi keragaman film Dakwah Islam.

Masalahnya, konten Islam di dalam film dan perfilman Indonesia bisa amat rentan terhadap tanggapan-tanggapan emosional para pelaku maupun pengampu film Indonesia. Lihat saja kasus protes-protes terhadap film seperti Cinta Tapi Beda karya Hanung Bramantyo. Dalam protes-protes tersebut, terasa ada pemaksaan dan penunggalan kosntruksi Islam macam apa yang dianggap sebagian umat Islam Indonesia sebagai "pantas" atau "layak" ada di layar lebar.

Lantas, saya pun bertanya-tanya, apakah saat ini para pelaku Dakwah Islam dalam film atau media popular lain, seperti Rangga, cukup siap mendukung keragaman film Dakwah Islam seperti yang saya paparkan di atas? Saya, terus terang, jadi ragu akan kesiapan itu, setelah membaca tanggapan Rangga atas tulisan saya sebelumnya.  

Tulisan Rangga itu dipenuhi bahasa santun dan retorika tentang "Islam damai". Tapi, mungkin tanpa disadari Rangga sendiri, tulisan tersebut mengandung tuduhan-tuduhan serius pada tulisan dan niat saya sebagai pribadi. Tuduhan bahwa saya menulis tentang 99 Cahaya… karena motif mencemaskan peningkatan jumlah pengguna jilbab di Indonesia, sebagai akibat "Islamphobia" adalah tipikal perilaku kelompok yang berwatak takfiri (kelompok Islam yang gemar menganggap kafir kelompok Islam lain yang berbeda dari mereka).

Memang tak terucap tuduhan bahwa saya "kafir" dalam tulisan Rangga. Tapi menganggap saya, atau tulisan saya, sebagai bagian dari "Islamophobia" adalah penghalusan tuduhan bahwa saya adalah bagian dari kelompok anti-Islam (paling tidak, kelompok anti-Dakwah Islam model Rangga). Ini boleh disebut sebagai perwujudan watak takfiri dalam bentuk halus dan mungkin tak sengaja.

Betapa pun, saya harus bilang bahwa watak demikian kemungkinan besar tidak akan mampu menghasilkan keragaman film Dakwah Islam di Indonesia. Malah, bisa jadi, membunuh potensi keragaman itu. Dalam jangka panjang, itu sebuah kerugian bagi masyarakat kita yang de facto sangat beragam. Dan, ya, saya akui resah akan potensi suksesnya watak takfiri tersebut dalam film Indonesia. 

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.