Deddy Mizwar-Rudy Sanyoto: Meluruskan Masalah Film Impor

Kajian :: Lisabona Rahman

Ingat film The Others? Film yang dibintangi Nicole Kidman tersebut terjadi dalam sebuah rumah, dengan tujuan mengisolasi penghuni rumah dari dunia luar. Isolasi yang dimaksud diterapkan hingga level yang paling ekstrem. Tidak boleh ada yang keluar rumah. Cahaya matahari bahkan tidak boleh masuk ke dalam rumah barang setitik pun. Alhasil, tercipta suatu ketegangan tersendiri. Ada apakah di luar sana yang begitu mengancam eksistensi orang-orang di dalam rumah? Sejumlah pengalihan perhatian pun diterapkan. Kecurigaan penonton dimainkan oleh pembuat film, dari satu karakter ke karakter lainnya, dari satu insiden ke insiden lainnya. Laiknya film-film thriller, sebuah plot twist mengungkap segalanya menjelang akhir cerita.

The Perfect House bekerja dengan formula serupa, walau eksekusinya berbeda. Dalam film yang disutradarai Affandi Abdul Rachman tersebut, penonton dituntun mengikuti teka-teki dalam suatu rumah misterius. Ketidaktahuan penonton diwakili oleh Julie (Cathy Sharon), seorang guru privat untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Pada suatu hari, Julie diminta Madame Rita (Bella Esperance) untuk memberi les privat pada cucunya, Januar (Endy Arfian). Guru Januar yang sebelumnya lenyap entah ke mana. Syarat dari pekerjaan ini: Julie harus menginap di rumah mereka, karena jauhnya rumah mereka dari perkotaan. Tidak mungkin bagi Julie untuk bolak-balik setiap harinya. Walau sejatinya ingin berlibur, Julie mengiyakan permintaan Madame Rita.

Di rumah tempat Julie bekerja, ada suatu tatanan kuasa yang meregulasi kegiatan sehari-hari dalam rumah. Madame Rita bertindak layaknya diktator yang merumuskan batas-batas yang tak boleh dilanggar. Salah satunya adalah larangan keluar rumah. Januar harus patuh, dan Julie mau tak mau mengikut. Kalau tidak, ada Yadi (Mike Lucock) yang senantiasa mengawasi. Ia berbadan besar dan bermata nanar. Tindak-tanduknya hampir mekanis, mengikuti apapun yang Madame Rita perintahkan. Akibat penampilan fisiknya yang eksplisit, ia menjadi perwujudan dari segala kemungkinan buruk yang ada dalam rumah tempat Julie bekerja.

Yadi pula yang menjadikan The Perfect House mudah ditebak alur ceritanya. Pasalnya, keberadaan Yadi menyingkap formula di balik narasi film secara terang-terangan. Yadi menjadi pion kuasa dalam pertarungan antara Madame Rita sebagai yang menyiksa (tormentor) dan Januar-Julie sebagai yang disiksa (tormented). Narasi film tersimplifikasi menjadi baik-lawan-buruk semata. Misteri tentang apa yang ada di dalam dan luar rumah menjadi tak signifikan, karena yang penting adalah hasil akhir dari pertarungan Januar-Julie versus Rita-Yadi.

Mari kembali sejenak ke The Others. Film tersebut bisa berhasil karena misteri tentang apa yang ada di luar dan dalam rumah dipertahankan terus hingga akhir cerita. Sementara itu, relasi karakter yang ada di dalam rumah terjadi dalam relasi berbasis kebutuhan, yang tidak melulu berurusan dengan baik dan buruk. Konflik dalam rumah menjadi intro dari misteri yang lebih besar di luar rumah. Berdasarkan bingkai pemikiran tersebut, The Perfect House bisa dikatakan terlampau sederhana dalam membangun plotnya. Segalanya terlalu hitam-putih dan mudah terbaca. Konsekuensinya, plot twist yang disiapkan di akhir cerita tak terlalu mengejutkan lagi.

Sangat disayangkan memang, karena kejutan merupakan jualan utama film thriller macam The Perfect House. Semakin disayangkan karena film tersebut hampir tak bermasalah secara teknis. Visual film tidak sekadar indah, tapi efektif dalam menyokong tujuan cerita. Kontras gelap-terang yang diterapkan sepanjang film sesuai dengan kondisi keterjebakan yang Julie dan Januar alami. Mereka berada dalam sebuah rumah yang suram, dan berjuang untuk keluar menuju cahaya yang masuk lewat jendela. Namun, teknis barulah setengah pencapaian. Setengah lainnya adalah konten cerita, yang sayangnya tak tergarap dengan baik dalam The Perfect House.

Komentar 5

daniel
1 tahun yang lalu

Saya baru saja kelar berbincang dengan Rudy S. Sanyoto, Bang Willy dari Delta Film dan Bang Nasarudin dari BP2N, mengenai kondisi obyektif yang terjadi dalam ranah perfilman Indonesia. Dari Bung Rudy, saya mendapatkan gambaran yang sangat gamblang tentang persoalan yang dihadapi negara berkaitan dengan distribusi film Hollywood melalui perwakilan MPA dan Group 21.

Perilaku korupsi ternyata berlaku pada Grup 21 dan MPA (Motion Picture Asociation America). Mereka bagaikan garong yang sangat brutal, ngemplang pajak dan tidak membayarkannya kepada negara. Akibatnya, perfilman Indonesia terus menerus mandul, karena uang yang seharusnya menjadi modal pembangunan perfilman Indonesia, digarong habis-habisan oleh mereka.

Bagaimana aparat negara dalam hal ini dirjen pajak dan jajarannya dapat kecolongan? Perilaku korup yang merugikan Negara dan merampas hak rakyat Indonesia itu berjalan bukan hanya satu tahun atau dua tahun! Mereka telah menggarong republik ini sejak tahun 90an!!!

Lantas, bagaimana mungkin sebagian penggiat perfilman Indonesia, tokoh-tokoh muda perfilman Indonesia yang diwawancarai media itu dengan gagahnya bicara bahwa polemik bioskop 21 ini akan membunuh bioskop dan film Indonesia???

Saya gemessssss dengan realitas perfilman Indonesia saat ini! Persoalan ruwet yang menggunung ini harus segera dibongkar!!! Tidakkah sadar bahwa korupsi yang dilakukan Grup 21 dan MPA itu lebih besar dari korupsi yang dilakukan Gayus berikut gurita-guritanya??????

SADARLAH WAHAI MASYARAKAT FILM INDONESIA DAN PEMERINTAH!!! NEGARA KITA SEDANG DIRAMPOK HABIS-HABISAN!!!

Andreas
1 tahun yang lalu

kok komentar saya keapus T_T

ada info baru ga klo MPA bener2 narik yg coming soon? klo yg now playing kan masi ada tuh film2nya.
http://www.21cineplex.com/coming.htm

vidinugraha
1 tahun yang lalu

klo menurut saya si kita harus melihat dari dua sisi, memang berdasarkan artikel anda mereka berbuat curang perihal masalah pajak, tapi kita harus juga intropeksi mengapa mereka bisa berbuat demikian??? Tingginya tingkat pembajakan film di indonesia yang tidak terkendali membuat para produsen film luar cemas, banyaknya pembajak yang mengambil keuntungan cuma2 dari film2 tersebut tentu memberikan kerugian yg juga besar bagi pihak luar, menurut saya masalah ini harus ditanggapi secara bijak dari dua sisi bukan hanya kita yang merasa dirampok mreka pun juga demikian. Pemerintahlah yang harus bisa menjadi pihak yang menyelesaikan masalah tersebut baik masalah pembajakan maupun kecurangan pajak. Just my opinion, no offense..

RatuAdil
1 tahun yang lalu

Kang Deddy gak tahu ya kalo hasil film itu harusnya kena pajak royalty, bukan Bea Masuk!!! Kalo dikenain Bea Masuk ya jelas si Amerika ngamuk kale…...... Mustinya dicek dolo sebelom berkoar Kang…... Lagian bea masuk film di Thailand juga gak dikenain berdasarkan hasil Kaaaang…....  Malah taripnye sekarang udah Turun jadi 5 baht/meter, masak inpo Kang Deddy gak akurat banget sich…... Ngomong masih ngawur getu dah mau jadi Presiden????? Maap ya Kang, becanda sambil ngingetin aja

rana
1 tahun yang lalu

Sbg penikmat film, sy ga peduli bila dicap tidak cinta indonesia. sy lbh pilih nonton the king's speech, drpd arwah goyang jupe depe atau jenglot pantai selatan. sy ga peduli soal perselisihan antara MPA vs pemerintah dan tetek bengeknya, krn yg satu bilang begini, yg satu bilang begitu, sy sbg orang awam jd bingung, ga tau mana yg benar mana yg ngibul. sy kerja susah payah dan tak sudi mengeluarkan sepeserpun utk nonton film indonesia murahan yg mengeksploitasi paha-dada.

tolong hargai penonton yg datang ke bioskop, yang notabene membutuhkan biaya tdk sedikit (biaya transpor-tiket-snack). jgn membodohi kami dgn film pengumbar syahwat, lalu bilang kami tdk nasionalis jika lbh milih nonton film hollywood!

sineas indonesia ga perlu kebakaran jenggot terhadap film2 hollywood, dgn membawa-bawa isu ttg nasionalisme. cukup bikin film bermutu yg menarik minat kami para penikmat film. sy rela merogoh kocek utk nonton film2 MILES (bahkan lbh milih film miles, dibanding film hollywood), krn film2 MILES menyentuh , apik, dan bisa ditonton smua golongan. jika MPA menarik semua film asing, sy hanya akan beredar di bioskop jika ada film MILES. MILES tetaplah berkarya, aku mendukungmu!

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.