Deddy Mizwar-Rudy Sanyoto: Meluruskan Masalah Film Impor

Kajian :: Penulis: Lisabona Rahman

Tulisan ini merupakan rangkuman dari pernyataan yang dibuat Deddy Mizwar dan Rudy S Sanyoto. Kedua nama ini adalah Ketua dan Wakil Ketua BP2N, namun pernyataan ini disampaikan sebagai pandangan mereka sebagai pribadi.

Berikut adalah isi pernyataan yang mereka sampaikan dalam jumpa pers tentang kebijakan film nasional dan masalah pajak film impor di Gedung Sapta Pesona, Kementrian Budaya dan Pariwisata di Jakarta pada Minggu 20 Februari 2011.


Karena di TV, Radio, koran, dan di twitter ramai tentang Hollywood akan berhenti mengirim film ke Indonesia, dengan alasan ada peraturan/regulasi baru, mereka akan dikenakan pajak yang tinggi (tanpa menerangkan nomer dan tanggal peraturan yang dimaksud), maka perlu diluruskan hal-hal sebagai berikut:

I. Tidak ada peraturan/regulasi baru yang akan mengenakan pajak yang tinggi dan merugikan usaha mereka, tapi SURAT EDARAN (SE) Dirjen Pajak No. 3 tanggal 10 Januari 2011 hanya menegaskan agar mereka (importir dan Hollywood) harus bayar pajak impor yang benar dan wajar sesuai ketentuan peraturan perundangan (UU pajak dan UU Kepabeanan) yang ada dan berlaku.

Dengan demikian :

  • tidak merugikan negara dan bangsa Indonesia.
  • keberadaan film asing tidak menekan perkembangan film nasional.
  • tidak ada yang menjadi korban karena dianggap menyalahgunakan wewenang membantu penghindaran/penggelapan pajak impor film.

II. Pernyataan Noorca Massardi bahwa importir bayar 23,75% itu menyesatkan, seolah-olah telah kena beban yang tinggi, karena tidak diterangkan 23,75% itu terdiri dari pajak apa saja dan dari nilai berapa?

23,75% terdiri atas:

  • BM (Bea Masuk): 10% dari Nilai Pabean.
  • PPN (Pajak Pertambahan Nilai): 10 % dari (Nilai Pabean + BM) = 11% dari Nilai Pabean,
  • PPH (Pajak Penghasilan): 2,5 % dari (Nilai Pabean + BM) = 2,75 % dari Nilai Pabean,

Nilai Pabean adalah nilai transaksi yang sebenarnya, yang dibayar atau akan dibayar untuk memperoleh barang/jasa yang diimpor tersebut. Nilai Pabean (NP) menjadi Nilai yang menjadi dasar pengenaan pajak.

Berapa nilai pabean yang importir dan Hollywood laporkan ketika mengimpor? Wajar dan sudah benar sesuai peraturan yang berlaku?

Selama ini MPA dan importir telah mengelabui pajak dan Bea Cukai dengan mengaku hanya beli/jual dengan harga US Dollar (USD) 0,43/meter; atau + USD 1,000/copy, sehingga kalau mengimpor 1 judul film dengan jumlah:

  • 1 copy (NP = USD 1,000), pajaknya 23,75% = USD 237,50 atau + Rp.2,1 juta.
  • 5 copy (NP = USD 5,000), pajaknya hanya Rp. 10 juta?
  • 30 copy (NP = USD 30,000), pajaknya hanya Rp. 60 juta?
  • 50 Copy (NP = USD 50,000), + Rp 500 juta: Pajaknya USD 11,875 = + Rp. 110 juta.

Jadi rata-rata per copy hanya sekitar Rp 2 juta? Apa kata Dunia?

Sebagai perbandingan, Beban Pajak untuk film nasional:

  • PPN per copy film = Rp. 1 juta (10% dari sekitar Rp. 10 juta),
  • Rata-rata per judul 35 copy, dari cetak copy saja kena PPN Rp 35 juta?
  • Kalau mencetak 100 copy, PPN yang harus dibayar mencapai Rp. 100 juta (biasanya untuk film besar atau menarik, yang ingin beredar serentak agar dapat meraup hasil edar yang cukup banyak, sehingga mampu mengembalikan biaya produksinya yang besar)
  • Rata-rata beban pajak produksi film nasional adalah 10% dari budget, sehingga:
    • ketika anggarannya Rp 5 milyar, beban pajaknya mencapai 500 juta, dan
    • ketika anggarannya makin besar misalnya Rp. 15 Milyar, pajaknya mencapai Rp. 1,5 milyar. (beberapa kali lipat dari beban pajak film impor?)

III. Rupanya selama ini importir dan Hollywood tidak melaporkan harga transaksi jual/beli film impor secara benar. Mereka hanya melaporkan Nilai Pabean senilai biaya cetak copy-nya saja = USD 0,43/meter. Padahal Harga beli film tersebut bukan hanya itu, karena ada yang dibayarkan kemudian yaitu sebesar prosentase (%) tertentu dari hasil edar film tersebut.

Nilai Pabean dilaporkan sama untuk semua filmnya, baik yang blockbusters (produksi mahal dan peredaran sukses), maupun yang biasa-biasa saja (produksi murah dan peredarannya tidak sukses). Aneh? Sangat wajar, kalau dikoreksi Ditjen Bea Cukai dan Ditjen Pajak?

Menurut UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang kepabeanan, Nilai Pabean adalah Nilai Transaksi yang sebenarnya, yaitu yang dibayar atau yang akan dibayarkan oleh importir. Hasil edar yang wajib disetorkan ke Luar Negeri adalah komponen harga/nilai transaksi, sebagai suatu syarat dari perolehan hak edar film impor di Indonesia, (istilah pabeannya = Proceeds), harus dimasukan dalam nilai pabean yang harus diperhitungkan ketika membayar Bea Masuk (BM) dan PPN serta PPH ketika mengimpor film.

BM hanya 10% total pungutan impor 23,75% dari Nilai Pabean, maka Nilai nominal pajak akan makin membesar seiring dengan besarnya hasil edar film tersebut, sehingga sebesar apapun tetap tidak mungkin memberatkan, karena mereka masih memiliki 76,25% yang menjadi bagian importir/Hollywood.

Karena PPN dapat dikreditkan, PPH dapat diperhitungkan untuk PPH badan, maka yang benar-benar jadi beban importir film hanya BM 10% dari Nilai Pabean.

Perhitungan

Pelaksanaan dari UU Kepabeanan secara konsekuen dan benar, dapat kita lihat dari perhitungan sebagai berikut:

Data Box Office Mojo, (terlampir):

Hasil edar 65 judul film Hollywood di tahun 2010 = USD 85 juta (Rp.765 milyar)
atau rata-rata per copy USD 1,3 juta (Rp. 11,8 milyar).

Kalau 50% setor ke LN, dan itu dianggap Nilai Pabean (NP):

  • NP per tahun = USD 42,5 juta (Rp 382 juta, dengan kurs Rp. 9.000/USD).
  • NP per judul = USD 653 ribu (Rp 5,9 milyar)

Maka total pungutan impor sebesar 23,75% dari NP :

  • per tahun = Rp 91 Milyar;
  • per judul = Rp.1,4 Milyar;

Jumlah itu masih kecil sekali jika dibandingkan hasil edar film tersebut, sehingga tidak lazim meminta keringanan, apalagi mengajukan boikot, karena setelah dikurangi dengan Pungutan Impor, keuntungan film impor =

  • per tahun : Rp (765 - 91) = 654 Milyar?
  • per judul : Rp (11,8 - 1,4) = 10,4 Milyar?

Maka yang benar-benar jadi beban importir hanya Bea Masuk 10% dari Nilai Pabean, yaitu:

  • BM per tahun = Rp 38,2 Milyar
  • BM per judul = Rp.58juta;

Jadi, beban untuk pengimporan film asing masih kecil sekali dibandingkan hasil edar/keuntungannya; Beban tersebut juga masih lebih kecil (hanya 1/3) dibandingkan tarif di Thailand yang mencapai Rp 1,5 Milyar/judul.

Jadi permasalahannya adalah importir dan/atau Hollywood terbukti selama ini bayar pajak impor terlalu rendah, dengan cara melanggar ketentuan yang berlaku. Mereka telah melakukan self assesment yang salah. Bukan pemerintah yang menambah pajak dengan mengeluarkan peraturan pajak baru. Justru sangat tidak wajar kalau pemerintah tidak mengoreksi hal ini.

Mereka tentunya terancam akan ditagih hutang pajak yang bertumpuk sekian tahun, kemudian ketakutan ditagih sekaligus (plus bunga dan dendanya). Mungkinkah ini yang dimaksud sdr. Noorca Massardi bahwa pemerintah akan mengenakan pajak yang besar? Dia mendahului keputusan dinyatakan bersalah berdasarkan hasil audit Bea Cukai dengan cara ‘mencak-mencak mendiskreditkan pemerintah’, membangun opini publik, menciptakan ketakutan hilangnya film Hollywood dari bioskop dan ketakutan bioskop akan hilang dari Indonesia. Padahal seharusnya kita yang ‘mencak-mencak’, karena mereka selama ini telah berbohong dalam rangka menghindari pajak.

Akan berhasilkah mereka tidak dikejar kewajiban bayar hutang pajak sesuai ketentuan yang berlaku? Masihkan mereka mampu mengelabui petugas Bea Cukai dan Petugas Pajak sehingga tidak usah bayar pajak yang benar? Wajarkah beban pajak untuk film impor lebih kecil dari pajak untuk film nasional?

IV. Pernyataan Sdr. Noorca Massardi bahwa didunia ini tidak ada yang mengenakan pajak yang besar atas film impor adalah kebohongan besar.

Thailand mengenakan bea masuk (belum termasuk PPN) tinggi dan importir serta Hollywood serta semua produser asing yang ekspor ke Thailand terbukti tidak protes.

Tarifnya :
Per meter: 30 baht atau sekitar USD 1/meter,
Per copy @ 3000 m = USD 3.000.
Per judul @ 50 copy = 50 X 3.000 = USD 150.000 atau sekitar Rp 1,5 milyar.

Jumlah ini kelihatan besar tapi masih wajar karena :
Jumlah ini tetap tidak berat bagi importir dan Hollywood, karena film Hollywood seperti Avatar bisa memperoleh hasil edar Rp 70 milyar? Setelah dipotong BM Rp. 1,5 milyar masih untung Rp. 68,5 milyar.

Kalau hasil edar film impor diperkirakan tidak mencapai lebih dari Rp 1,5 milyar? Kalau memang tidak mau atau takut rugi seyogyanya tidak perlu impor bukan? Layar bioskop yang ada lebih baik untuk memutar film indonesia.

V. Sesuai dengan Pernyataan Presiden di sidang kabinet tanggal 23 Desember 2010 dan sesuai dengan UU no. 33 tahun 2009 tentang perfilman, kebijakan perfilman menyangkut film impor dan pajak impor yang harus dibayar sudah waktunya dibenahi demi eksistensi dan kemajuan kualitas dan kuantitas perfilman nasional serta perwujudan perannya sebagai alat pendidikan dan benteng budaya.

MPA juga pernah menggertak pemerintah Thailand ketika akan dikenakan pajak tinggi, tapi kemudian mereka balik lagi dan membayar pajak yang tinggi. Jadi, kelakuan MPA memang suka ‘gertak-boikot’. Masyarakat dan Pemerintah jangan terpengaruh, karena mereka akan jual mahal dan tidak menghormati hukum yang berlaku.

Di Indonesia mereka sudah senang karena tanpa quota. Bisa bebas mendatangkan filmnya dalam jumlah judul yang tidak terbatas Di Cina, hanya boleh 20 judul saja per tahun untuk seluruh film asing.

VI. Sebaiknya diberlakukan saja ketentuan yang ada. Kalau mereka tidak mau, masih banyak film asing independen yang bagus dan belum beredar di Indonesia.

Jakarta, 20 Februari 2011

 

Data Hasil Edar Film Hollywood DI INDONESIA Berdasarkan www.boxofficemojo.com per Januari - Desember 2010

1 USD = Rp.9.000

No. Judul Studio Bulan Edar Hasil Edar
      Awal Akhir USD Rp.
1AvatarFox April6.085.52954.769.761.000
2Sherlock HolmesWBJanMar2.163.21619.468.944.000
3Alvin and the ChipmunksFox  876.7857.891.065.000
4The Princess and the FrogDisneyJanFeb308.5702.777.130.000
52012Sony  6.637.51259.737.608.000
6Ninja AssasinWB Mar1.862.72816.764.552.000
7Old DogsDisney April437.8683.940.812.000
8Did you Hear about the MorgansSonyJanFeb157.3761.416.384.000
9Tooth FairyFoxJanFeb451.1974.060.773.000
10Legion (2010)SonyJanMar668.8796.019.911.000
11Case 39UIPJanApril119.0571.071.513.000
12Percy Jackson & The Olympians: The Lightning ThiefFoxFebMay1.554.10913.986.981.000
13Valentine's DayWBFebMar428.1493.853.341.000
14The WolfmanUIPFebMay1.101.0859.909.765.000
15Up In The AirUIPFebApril154.2201.387.980.000
16Alice In Wonderland (2010)DisneyMarJune2.047.95918.431.631.000
17Shutter IslandUIPMarApril624.7525.622.768.000
18Green ZoneUIPMarMay905.1528.146.368.000
19How To Train Your DragonUIPMarJuly1.560.73314.046.597.000
20It's ComplicatedUIPMarApril112.6761.014.084.000
21Clash of the Titans (2010)WBAprJune3.164.69928.482.291.000
22When in RomeDisneyAprSept317.7762.859.984.000
23The Lovely BonesUIPAprApril65.710591.390.000
24The Book of EliSonyAprSept606.1135.455.017.000
25Date NightFoxAprMay364.0473.276.423.000
26Cop OutWBAprJuly225.1462.026.314.000
27Toy Story 1 & 2 (3D)DisneyAprApril65.049585.441.000
28Iron Man 2UIPAprJuly4.487.38340.386.447.000
29The Bounty HunterSonyMayNov225.3242.027.916.000
30A Nightmare on Elm Street (2010)WBMayDec399.6543.596.886.000
31Robin HoodUIPMayJuly1.880.55516.924.995.000
32Shrek Forever AfterUIPMayJune1.621.22614.591.034.000
33Prince of Persia: The Sand of TimeDisneyMaySept4.105.29636.947.664.000
34The LosersWBMayDec152.9181.376.262.000
35Sex and the City 2WBJuneJuly919.9268.279.334.000
36The Karate KidSonyJuneSept3.346.22030.115.980.000
37Toy Story 3DisneyJuneAug2.433.49221.901.428.000
38Despicable MeUIPJulySept1.494.92513.454.325.000
39InceptionWBJulySept2.381.24521.431.205.000
40The Sorcerer's ApprenticeDisneyJulyNov2.007.84718.070.623.000
41SaltSonyJulyOct2.612.23523.510.115.000
42The Last AirbenderUIPAug 3.185.06428.665.576.000
43The Back-Up PlanSonyAugAug109.744987.696.000
44Cats & Dogs: Revenge of Kitty GaloreWBAugOct632.3535.691.177.000
45Grown UpsSonyAugOct465.8704.192.830.000
46Resident Evil: AfterlifeIndep.SeptOct588.5835.297.247.000
47Legend of the Guardians: The Owls of Ga'HooleWBOctNov632.0625.688.558.000
48The Other GuysSonyOctNov346.8873.121.983.000
49PredatorsFox Oct789.7937.108.137.000
50Going the DistanceWBOctOct82.287740.583.000
51ZombielandSonyOct 225.2592.027.331.000
52Eat Pray LoveSonyOct 1.476.83413.291.506.000
53Cloudy with a Chance of MeatballsSony Oct667.8906.011.010.000
54Life as We Know ItWBOctNov280.4422.523.978.000
55TakersSonyOct 746.5836.719.247.000
56MegamindUIPNov 1.260.77811.347.002.000
57The Social NetworkSonyNov 337.6523.038.868.000
58You AgainDisneyNov 157.4261.416.834.000
59Harry Potter and the Deathly Hallows (Part One)WBNov 6.140.15255.261.368.000
60TangledDisneyNov 1.843.21416.588.926.000
61 UIPDec 267.4472.407.023.000
62Due DateWBDec 309.1032.781.927.000
63Tron LegacyDisneyDec 2.239.46620.155.194.000
64DevilUIPDec 192.2631.730.367.000
65The TouristSonyDec 800.7347.206.606.000
Total Hasil Edar Film Hollywood tahun 2010 (65 judul) =84.912.224764.210.016.000

 

Pungutan Import yg Harus Dibayar Sesuai Undang2 Pabean,  Nilai Pabean = Nilai transaksi yang sebenarnya dibayar atau akan dibayar

KeteranganUSDRp.
Total Hasil Edar Film Hollywood tahun 2010 - 65 judul =84.912.224764.210.016.000
Rata - rata Hasil Edar per Judul1.306.34211.757.077.169
Bila disetorkan ke luar negeri 50% = Nilai Pabean (NP)per tahun42.456.112382.105.008.000
per judul653.1715.878.538.585
Keteranganper tahunper judul
Bea Masuk10%NP38.210.500.800587.853.858
PPN11%NP42.031.550.880646.639.244
PPH2,75%NP10.507.887.720161.659.811
Total Pungutan Import23,75% 90.749.939.4001.396.152.914

Karena PPN Import dapat dikreditkan sebagai pajak masukan dan PPH ps 22 bisa diperhitungkan untuk pajak badan. Maka, yang benar - benar jadi beban biaya hanya bea masuk; yaitu hanya sebesar + Rp. 588 juta per judul atau + Rp. 38 milyar per tahun.

 

Ikut Debat Tentang Topik Ini

Komentar 5

daniel
7 tahun yang lalu

Saya baru saja kelar berbincang dengan Rudy S. Sanyoto, Bang Willy dari Delta Film dan Bang Nasarudin dari BP2N, mengenai kondisi obyektif yang terjadi dalam ranah perfilman Indonesia. Dari Bung Rudy, saya mendapatkan gambaran yang sangat gamblang tentang persoalan yang dihadapi negara berkaitan dengan distribusi film Hollywood melalui perwakilan MPA dan Group 21.

Perilaku korupsi ternyata berlaku pada Grup 21 dan MPA (Motion Picture Asociation America). Mereka bagaikan garong yang sangat brutal, ngemplang pajak dan tidak membayarkannya kepada negara. Akibatnya, perfilman Indonesia terus menerus mandul, karena uang yang seharusnya menjadi modal pembangunan perfilman Indonesia, digarong habis-habisan oleh mereka.

Bagaimana aparat negara dalam hal ini dirjen pajak dan jajarannya dapat kecolongan? Perilaku korup yang merugikan Negara dan merampas hak rakyat Indonesia itu berjalan bukan hanya satu tahun atau dua tahun! Mereka telah menggarong republik ini sejak tahun 90an!!!

Lantas, bagaimana mungkin sebagian penggiat perfilman Indonesia, tokoh-tokoh muda perfilman Indonesia yang diwawancarai media itu dengan gagahnya bicara bahwa polemik bioskop 21 ini akan membunuh bioskop dan film Indonesia???

Saya gemessssss dengan realitas perfilman Indonesia saat ini! Persoalan ruwet yang menggunung ini harus segera dibongkar!!! Tidakkah sadar bahwa korupsi yang dilakukan Grup 21 dan MPA itu lebih besar dari korupsi yang dilakukan Gayus berikut gurita-guritanya??????

SADARLAH WAHAI MASYARAKAT FILM INDONESIA DAN PEMERINTAH!!! NEGARA KITA SEDANG DIRAMPOK HABIS-HABISAN!!!

Andreas
7 tahun yang lalu

kok komentar saya keapus T_T

ada info baru ga klo MPA bener2 narik yg coming soon? klo yg now playing kan masi ada tuh film2nya.
http://www.21cineplex.com/coming.htm

vidinugraha
7 tahun yang lalu

klo menurut saya si kita harus melihat dari dua sisi, memang berdasarkan artikel anda mereka berbuat curang perihal masalah pajak, tapi kita harus juga intropeksi mengapa mereka bisa berbuat demikian??? Tingginya tingkat pembajakan film di indonesia yang tidak terkendali membuat para produsen film luar cemas, banyaknya pembajak yang mengambil keuntungan cuma2 dari film2 tersebut tentu memberikan kerugian yg juga besar bagi pihak luar, menurut saya masalah ini harus ditanggapi secara bijak dari dua sisi bukan hanya kita yang merasa dirampok mreka pun juga demikian. Pemerintahlah yang harus bisa menjadi pihak yang menyelesaikan masalah tersebut baik masalah pembajakan maupun kecurangan pajak. Just my opinion, no offense..

RatuAdil
7 tahun yang lalu

Kang Deddy gak tahu ya kalo hasil film itu harusnya kena pajak royalty, bukan Bea Masuk!!! Kalo dikenain Bea Masuk ya jelas si Amerika ngamuk kale…...... Mustinya dicek dolo sebelom berkoar Kang…... Lagian bea masuk film di Thailand juga gak dikenain berdasarkan hasil Kaaaang…....  Malah taripnye sekarang udah Turun jadi 5 baht/meter, masak inpo Kang Deddy gak akurat banget sich…... Ngomong masih ngawur getu dah mau jadi Presiden????? Maap ya Kang, becanda sambil ngingetin aja

rana
7 tahun yang lalu

Sbg penikmat film, sy ga peduli bila dicap tidak cinta indonesia. sy lbh pilih nonton the king's speech, drpd arwah goyang jupe depe atau jenglot pantai selatan. sy ga peduli soal perselisihan antara MPA vs pemerintah dan tetek bengeknya, krn yg satu bilang begini, yg satu bilang begitu, sy sbg orang awam jd bingung, ga tau mana yg benar mana yg ngibul. sy kerja susah payah dan tak sudi mengeluarkan sepeserpun utk nonton film indonesia murahan yg mengeksploitasi paha-dada.

tolong hargai penonton yg datang ke bioskop, yang notabene membutuhkan biaya tdk sedikit (biaya transpor-tiket-snack). jgn membodohi kami dgn film pengumbar syahwat, lalu bilang kami tdk nasionalis jika lbh milih nonton film hollywood!

sineas indonesia ga perlu kebakaran jenggot terhadap film2 hollywood, dgn membawa-bawa isu ttg nasionalisme. cukup bikin film bermutu yg menarik minat kami para penikmat film. sy rela merogoh kocek utk nonton film2 MILES (bahkan lbh milih film miles, dibanding film hollywood), krn film2 MILES menyentuh , apik, dan bisa ditonton smua golongan. jika MPA menarik semua film asing, sy hanya akan beredar di bioskop jika ada film MILES. MILES tetaplah berkarya, aku mendukungmu!

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.