Divergen Membawa Pulang Penghargaan Psikosinema Festival 2014

Berita :: Penulis: Pandji Putranda

Film pendek karya Cristian Imanuell, Divergen, berhasil membawa pulang penghargaan Psikosinema Festival ke-7, yang diadakan pada tanggal 17-21 Februari di Unika Atma Jaya dan 22 Februari di Teater Salihara, Jakarta. Tim dewan juri yang terdiri dari Radian Kanugroho, Getar Jagatraya, dan Danny Yatim memutuskan film fiksi tanpa dialog berdurasi tujuh menit ini sebagai pemenang di antara empat kompetitor lainnya, yakni Ciuman Maut karya Vincent Tjubianto, Hans karya Erina Adeline, Siluet karya Michael Timotius, dan Serdadu Potlot karya Ghalif Putra Sadewa. Selain plakat dan sertifikat, Divergen juga memboyong hadiah uang senilai tiga setengah juta rupiah.

Divergen menceritakan seorang siswa pindahan yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Di tengah upaya konformitasnya, Ia dihadapkan pada dua pilihan: topeng putih atau kantong kertas. Divergen menjadi pilihan utama tim dewan juri karena dinilai berhasil merepresentasikan dilema kaum muda urban ketika harus memilih zona sosialnya, sesuai dengan tema besar “Kaum Muda Urban: Mati Suri di Zona Nyaman” dan subtema “Muda=?” yang diusung oleh Psikonema Festival tahun ini.

Sementara film pendek yang mendapatkan Special Mention ialah Serdadu Potlot karya Ghalif Putra Sadewa. “Meski konteks filmnya tidak secara spesifik menggambarkan problem kaum muda urban, namun film Serdadu Potlot memiliki muatan lokal yang penting, khususnya mengenai kota Blitar,” ungkap Avicenna Santana, Ketua Pelaksana Psikosinema Festival ke-7.

 

Kaum Muda dan Konsistensi

Psikosinema Festival diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta. Festival kali ini merupakan festival ke-7, dengan tema besar yang masih senada dengan beberapa festival di tahun-tahun sebelumnya, yaitu “Kaum Muda Urban”. Jika Psikosinema Festival ke-6 “Kaum Muda Urban: (Bebas) Memilih Bebas” lebih spesifik mengangkat soal kebebasan kaum muda urban untuk memilih, Psikosinema Festival ke-7 mencoba menyelisik dari perspektif lain, yang dirampungkan dalam bunyi “Kaum Muda Urban: Mati Suri di Zona Nyaman”.

“Pemilihan tema ini berawal dari pertanyaan mengenai tingkat kesadaran sampai keterlibatan kaum muda urban (Indonesia) akhir-akhir ini, khususnya dalam konteks sosial bermasyarakat. Singkatnya: kaum muda urban kita ini ngapain sih?” lanjut Avicenna. Di sisi lain, bila dibandingkan dengan beberapa festival yang lalu, menurutnya festival kali ini memiliki beberapa poin yang lebih unggul. Salah satunya dengan lebih banyak menyajikan film pendek ketimbang film panjang.

Menurut Avicenna, hal ini menjadi keunggulan karena secara umum film pendek mampu menyajikan konten yang lebih spesifik ketimbang film panjang. Tidak seperti film pendek, film panjang dianggap cukup riskan melenceng dari konteks karena mengandung elemen cerita yang lebih variatif ketimbang film pendek. Selain penyajian film pendek, keunggulan lain Psikosinema Festival ke-7 ialah dengan diadakannya diskusi ilmiah yang dilanjutkan dengan kompetisi esai.

Psikosinema Festival ke-7 diawali oleh kompetisi film pendek bertema “Muda = ?” untuk kalangan pelajar dan mahasiswa di pulau Jawa. Kompetisi ini bertujuan untuk menemukan film-film berkualitas dan berisikan persepsi serta refleksi pelajar dan mahasiswa mengenai “Kaum Muda”.

Festival ini ditutup dengan pemutaran kedua film pemenang, dan dilanjutkan dengan konser musik di Teater Salihara, Pasar Minggu. Mendatangkan tiga band lokal yang mewakili aliran-aliran tertentu: romantisme oleh Sore, realisme oleh Armada Racun, dan surealisme oleh Sigmun. “Kami menganggap ketiga aliran (romantisme, realisme, dan surealisme) itu sebagai sebuah metode yang biasa dipilih kaum muda urban untuk mengekspresikan diri mereka,” jelas Avicenna.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.