Edwin: Film Tak Bisa Lepas dari Pembuatnya

Wawancara :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Edwin ketika diwawancara FI di Jakarta, Januari 2012 (Foto: FI)Postcards from the Zoo keliling dunia dan membuat sejarah untuk sinema Indonesia. Lima puluh tahun setelah Badai Selatan karya Sofia WD, film panjang kedua Edwin mewakili Indonesia untuk pertama kalinya di Berlinale 2012. Edwin sendiri sebenarnya sudah memulai karier internasionalnya tujuh tahun silam. Film pendeknya, Kara, Anak Sebatang Pohon, menjadi film Indonesia pertama yang diundang ke forum Director’s Fortnight di Festival Film Internasional Cannes, Perancis.

Sebelum keberangkatannya ke Belanda untuk studi lanjutan beberapa waktu lalu, FI sempat berbincang dengan Edwin di Cikini, Jakarta. Selama satu jam lebih, Edwin bercerita tentang proses kreatif dalam Postcards from the Zoo, rencananya ke depan, dan pandangannya tentang sinema.

 

FI (Film Indonesia): Dalam setiap film Anda, saya melihat ada satu gambar kunci yang Anda jadikan titik perkembangan film. Contohnya di Babi Buta yang Ingin Terbang: gambar Ladya Cheryl dengan petasan di mulutnya. Konon, itu gambar pertama yang Anda bayangkan sebelum kemudian menyusun filmnya.

Edwin: Postcards from the Zoo ini agak berbeda dari film-film saya sebelumnya. Film itu berangkat dari ketertarikan saya dengan lokasi ceritanya: kebun binatang Ragunan. Benar, Babi Buta yang Ingin Terbang memang berkembang dari gambar Ladya [Cheryl] dengan petasan di mulut. Itu gambar pertama yang muncul di kepala saya, kemudian saya tarik ke belakang untuk menyusun filmnya. Nah, Postcards from the Zoo murni karena ketertarikan saya dari lokasinya. Tidak ada gambar spesifik yang muncul di kepala saya.

FI: Apa yang Anda lihat dari kebun binatang Ragunan?

Edwin: Saya selalu suka kebun binatang. Setiap mengunjungi suatu kota, saya selalu menyempatkan diri ke kebun binatangnya. Enak berkenalan dengan kota, tempat, atau mungkin situasi yang baru lewat kebun binatang. Kita bisa lihat macam-macam pengunjung kebun binatang, beda kelas sosialnya. Bisa juga lihat bagaimana pengurusnya, cara memperlakukan binatangnya seperti apa. Ragunan itu unik buat saya pribadi. Tempat itu mewakili point of view tersendiri tentang Indonesia. Yang saya tangkap begini, mungkin cara Indonesia memperlakukan kebun binatangnya mencerminkan cara Indonesia memperlakukan masyarakatnya.

Kebun binatang itu manifestasi dari disorientasi. Kalau kita lihat binatangnya sendiri, mereka kan sebenarnya nggak berada di habitat asli mereka. Mereka semua displaced. Saya jadi berpikir, banyak juga orang-orang yang menghabiskan waktunya di kebun binatang ya sama dengan binatang ya mereka tonton. Sama-sama displaced. Sama-sama nggak mantap dalam satu situasi. Saya pun lihat bentuk kehidupan di sekitar saya. Banyak yang nggak seharusnya ada di sini. Saya jadi bertanya, manusia-manusia yang ada di bumi ini apa iya memang berada di tempatnya. Kalau iya, apa fungsinya? Apakah ini memang benar habitat kita? Kenapa kita harus berada di tempat ini? Mungkin kita semua juga displaced.

Ragunan itu tempat yang enak buat saya. Kalau habis selesai kerja, jalanan macet, pergilah saya ke Ragunan. Di satu sisi, Postcards from the Zoo bicara tentang perasaan-perasaan saya tentang Jakarta. Kota ini kan nggak enak banget ya. Ramai. Sesak. Saya kadang bertanya, kenapa sih saya harus berada di tempat ini? Apakah benar saya memang mau di sini terus?

FI: Ada empat binatang yang difokuskan dalam Postcards from the Zoo: jerapah, harimau, kuda nil, dan gajah. Kenapa Anda memilih binatang-binatang itu?

Edwin: Jerapah itu binatang favorit saya di Ragunan. Bentuk kandangnya saja sudah sok Afrika. Lucu. Kalau kita kembali lagi soal disorientasi, kondisi si jerapah ini kental sekali dengan itu. Kalau saya duduk di situ, di pojokan jerapah itu, rasanya sudah bukan di Jakarta lagi. Sudah nggak ada lagi informasi geografis. Rasanya sendirian. Pasangan si jerapah itu sudah meninggal sepuluh tahun lalu, kalau tidak salah. Saya pun menghubungkan si jerapah ini dengan kesedihan. Mungkin dia nggak merasa sesedih itu ya. Kalau duduk di situ lebih dari lima menit, bisa mellow. [Tertawa]

Harimau ceritanya lain lagi. Binatang itu yang paling sering muncul dalam mimpi. Saya melihat harimau sebagai binatang yang mistis. Dia kucing tapi gede. Buat saya yang real itu kucing. Harimau itu nggak real.

Saya baru suka kuda nil pas lagi buat Postcards from the Zoo. Saya suka perawatnya, Pak Budi. Menarik sekali orangnya. Kuda nil lama-lama jadi terlihat menarik juga. Geraknya diam-diam tapi ternyata berbahaya. Ada satu mitos yang Pak Budi cerita ke saya. Ada satu kuda nil jantan, Jacky namanya. Badannya besar, beratnya tiga ton kalau nggak salah. Katanya beberapa kali dia suka lompat dari kandangnya. Pagarnya sekitar dua meter. Dia keluar lompat kandang, jalan-jalan di kebun binatang sampai kandang gajah, terus balik lagi masuk kandangnya. Itu lumayan jauh ya.

Pada suatu malam pas kami syuting, Pak Budi bilang, "Ini kayaknya mau keluar lagi. Kita tunggu saja." Ya kita tunggu. Jacky lompat. Nggak keluar kandang. Itu saja kami udah kaget. Sampai lupa nyalain kamera buat rekam.

Kalau gajah, alasannya visual. Kulitnya bagus, badannya besar. Oh iya, ngomong-ngomong soal gambar yang saya bayangin pas buat Postcards from the Zoo, itu ya gambar kulit gajah kena gerimis. Ada kan itu di tengah-tengah film, satu shot kulit gajah, close up, terus pelan-pelan warnanya berubah kena gerimis. Dari kering, debu-debu, terus kena air. Itu pernah saya lihat sendiri di kebun binatang. Bagus banget. Visual.

FI: Dalam Postcards from the Zoo, Lana (protagonis film) ingin menyentuh perut jerapah. Apakah Anda punya keinginan yang sama? Mengingat Anda tadi bilang kalau jerapah binatang favorit.

Edwin: Jujur, iya, saya mau pegang perut jerapah. Mau banget. Dari kecil. Mau ada di bawahnya jerapah. Kayaknya enak banget rasanya. Tapi sampai sekarang saya nggak berani. Bahkan sampai selesai syuting ini. [Tertawa] Bahaya banget. Waktu saya di Kenya (untuk syuting film pendek Nairobi Notes) tahun 2009, saya lihat ada jerapah terus ada babi-babi kecil di sekitar kakinya. Kakinya itu yang bikin jerapah bahaya. Singa saja bisa mati kalau kena tendang.

FI: Ada tiga elemen dalam Postcards from the Zoo: binatangnya sendiri, pengurus binatang, dan para aktor. Untuk yang bukan aktor, bagaimana cara Anda mendekati mereka untuk berperan dalam film ini?

Edwin: Cukup dengan berteman saja. Saya nggak ada pendekatan-pendekatan teknis yang terbilang rumit. Cukup berteman dengan para pengurus kebun binatang. Begitu juga yang saya minta dari para aktor. Mengajak mereka berteman dengan para pengurus kebun binatang. Mereka nggak susah juga didekati. Para aktor pun gampang. Apalagi kalau mereka sudah cerita-cerita tentang hal yang para aktor nggak pernah dengar.

Saya sendiri melihat penggunaan aktor dan non-aktor ini cocok untuk filmnya. Ada jarak buat Lana. Bagaimanapun juga Lana tetaplah outsider di kebun binatang ini. Dia tidak bisa benar-benar dekat dengan orang-orang di kebun binatang, karena dalam cerita dia memang tidak berasal dari situ.

FI: Berapa lama membiasakan para aktor di kebun binatang?

Edwin: Ladya sekitar setahun setengah, terutama di kandang jerapah dan kuda nil. Yang lain kurang lebih sama, atau lebih cepat. Ada satu kuda nil lahir pas kita di situ. Ladya yang kasih nama. Karena lahirnya 10 Maret, Ladya kasih nama Semar.

FI: Saya perhatikan Ladya Cheryl banyak bermain di film-film Anda. Kalau diperhatikan juga, Anda bekerja dengan tim yang kurang lebih sama, dari film pertama Anda sampai sekarang. Apakah ini metode kerja yang ideal untuk Anda, atau untuk sekadar mencari konsistensi, atau bagaimana?

Edwin: Betul, betul. 70% tim produksi saya hampir sama, dari film pertama sampai sekarang. Ada satu-dua orang yang ganti, karena kesibukan sendiri dan lain sebab. Saya percaya film itu kerja bareng-bareng. Modal saya nggak banyak. Kami tidak punya uang dan waktu untuk memaksakan chemistry orang ketemu. Sementara saya percaya film itu harus dibuat oleh orang-orang yang berproses bersama. Nggak bisa cabutan per proyek. Film kan karya yang umurnya panjang. Saya nggak punya alasan mengganti orang begitu saja, dari satu proyek ke proyek lain, karena buat apa. Saya lebih nyaman kerja dengan orang yang saya percaya, yang saya sudah pernah kerja sama, yang pernah saya saksikan prosesnya. Mungkin cuma saya yang tahu semua ini, tapi ini penting buat saya.

Bagi saya, film tak bisa lepas dari pembuatnya. Nggak bisa film selesai, terus nggak ada hubungannya lagi sama orang-orang yang buat. Buat saya nggak bisa kayak begitu. Untuk Postcards ini saya sudah habis tiga tahun. Waktu dan tenaga saya sudah masuk dalam film ini. Saya sudah punya ikatan personal dengan film ini. Untuk kerja semacam ini, saya mau dengan orang-orang yang saya percayai, orang-orang yang saya yakini mau invest waktu dan tenaganya untuk film ini. Energi bersama ini yang saya hargai. Bisa saja saya bayar orang mahal untuk bantu saya, tapi saya yakin hasilnya nggak akan lebih indah dari kita yang mau bareng-bareng bikin film ini.

Ini yang kemudian jadi Babibuta Films. Tapi jangan bayangkan Babibuta Films seperti kantor biasa, yang ada jam kantornya, dan orang tiap hari ada di situ. Nggak begitu. Babibuta Films itu tidak ada member atau bagaimana. Memang kalau syuting, kumpul. Kebetulan saya sudah lama kerja dengan Sidi Saleh, yang biasa pegang kamera. Lama juga kerja bareng [Herman Kumala] Panca, editor. Sama Ladya [Cheryl] juga.

FI: Sehari-harinya, bagaimana Babibuta Films menghidupi dirinya?

Edwin: Babibuta Films sih nggak selalu bikin film-film non-komersial seperti ini ya. Kebanyakan kami dapat penghasilan dari proyek-proyek seperti bikin company profile, iklan. Proyek-proyek ini yang bisa menghidupi orang-orang Babibuta Films. Kami pun masing-masing kadang dapat proyek sendiri juga.

FI: Komposisi pendanaan Postcards from the Zoo sendiri bagaimana?

Edwin: Sekitar 90% dari luar negeri. Banyak banget lah dari luar negeri. Sisanya dari dalam negeri, itu pun bantuan fasilitas. Misalnya, kita dapat dari teman di PH iklan, mereka punya film lebih, kasih. Atau fasilitas lab dan processing, pakai saja. Selebihnya kita dapat bantuan dari Torino [Film Fund], Hubert Bals Fund, Sundance [Institute], Goteberg [International Film Festival Fund], dan beberapa lainnya. Itulah yang kemudian kami belanjakan untuk persiapan, produksi, dan pasca-produksi.

FI: Apakah metode pendanaan ini juga dipakai untuk Babi Buta yang Ingin Terbang?

Edwin: Bisa dibilang kurang lebih sama. Bantuan dari dalam negerinya justru lebih banyak. Bentuknya ya seperti tadi. Fasilitas, alat, segala macam.

FI: Memang lebih mudah cari dana dari luar negeri daripada dari dalam?

Edwin: Untuk film seperti Babi Buta saya rasa nggak mungkin ada yang mau biayai. Babi Buta yang Ingin Terbang produksinya seingat saya cukup lama juga, tiga sampai empat tahun. Kami keliling cari duit, nggak ada tuh yang kasih. Kalau fasilitas iya, karena teman, karena mereka support. Tapi kalau investor, nggak. Film macam Babi Buta yang Ingin Terbang memang tidak masuk akal untuk dijadikan investasi. Untuk Postcards from the Zoo, kami pun tidak terlalu mencoba mencari dana dari dalam negeri.

FI: Setelah Postcards from the Zoo, rencana ke depannya bagaimana? Produksi film lagi?

Edwin: Kalau film belum tahu. Ada sih beberapa tulisan, naskah, tapi belum tahu. Paling kuliah dulu dua tahun di Belanda, di Netherlands Film & Television Academy. Kuliahnya ini wujudnya riset, bukan kelas.

FI: Riset tentang apa?

Edwin: Tentang kemungkinan merekam bau dalam sinema.

FI: Kenapa bau? Bagaimana Anda melihat relasinya dengan sinema?

Edwin: Dari dulu saya memang sudah tertarik dengan fenomena ini. Kadang-kadang kalau nonton film, saya merasa, "Wah ada baunya nih." Artinya, ada kemungkinan secara visual, film bisa memicu memori kita akan bau. Memori saja, bukan secara fisik ada baunya. Karena bau itu penting banget untuk menghadirkan memori. Misalnya, kita dapat bau makanan di suatu tempat yang kita nggak tahu dimana, kita akan teringat makanan itu. Saya belum lihat barangnya, tapi kalau sudah cium baunya, langsung muncul banyak gambar di kepala. Menarik cari tahu tools-nya bagaimana untuk memicu memori itu dalam film. Mungkin juga susah ya. Tapi setidaknya ini memacu saya untuk memahami cara kerja otak menghadapi medium audio visual. Mungkin bau salah satu faktor penting di sini.

FI: Menarik. Anda bicara soal bau yang bisa memicu memori dan mengaitkannya pada kegiatan menonton. Apakah Anda sendiri melihat film sebagai cara alternatif untuk mengingat?

Edwin: Iya. Iya sekali. Apa lagi sih yang kita punya sebagai manusia selain ingatan. Itu hal yang paling berharga. Banyak sekali ingatan yang hilang karena situasi di luar tidak memungkinkan orang menyimpan ingatan itu, atau ada pihak-pihak yang sengaja menghilangkan ingatan. Saya yakin dengan film, dengan sinema, banyak sekali momen-momen yang bisa tersimpan.

Saya senang membayangkan kalau orang-orang yang menonton di bioskop sebenarnya sedang membaca kembali memori-memorinya masa lalu. Kita lihat orang-orang terlalu sibuk menjalani harinya. Kasihan. Saya sendiri orangnya juga gampang lupa. Nggak enak banget kalau lupa. Pas nonton, kalau lihat suatu adegan, saya jadi sadar "Wah ternyata saya pernah alami ini, alami itu." Jadi nggak merasa tua. Jadi nggak rugi merasa tua. Kan nggak enak kalau kita tahu kita sudah tua, sakit-sakitan, tanpa tahu kita sudah berbuat apa saja.

FI: Dalam Postcards from the Zoo, saya menangkap banyak sekali adegan yang merujuk pada kegiatan menonton. Ada banyak adegan kerumunan orang melihat binatang, ada juga beberapa shot dari perspektif binatang dalam kandang ke Lana.

Edwin: Di kebun binatang banyak sekali tontonan sebenarnya. Kita menonton binatang, binatang menonton kita. Banyak proses menonton. Nah, itu yang saya pikirkan saat proses membuat Postcards from the Zoo. Kenapa sih suka menonton? Kenapa sih kita suka mengamati kehidupan di sekitar kita?

Begini. Saya agak curiga kebun binatang itu dibangun karena kita manusia perlu merasa kasihan untuk sesuatu di luar dirinya. Perlu ada sesuatu untuk dikasihani. Binatang ini kok kandangnya jorok, atau kok binatang itu badannya kurus. Kasihan. Dalam film sama saja, wah kasihan jagoannya mati. Sampai nangis. Padahal banyak orang di sekeliling kita yang mati juga. Banyak orang yang tidur di trotoar tiap hari, kelindes kakinya, mati, kita santai saja. Kenapa bisa begitu? Tiba-tiba kemanusiaan kita jadi lebih tinggi kalau lagi di kebun binatang dan nonton film. Dua ini yang saya perhatikan terus. Mungkin karena tidak bisa menyentuh subjeknya, kita tidak akan pernah bisa benar-benar merasa bertanggung jawab. Kebun binatang ada tanda "dilarang menyentuh hewan" di mana-mana. Sementara film ya datar saja, cuma gambar.

 

Dalam acara Bulan Film Nasional 2012 (15-31 Maret 2012), Kineforum menghadirkan program "Focus on Edwin". Lihat jadwalnya di situs web resmi Kineforum.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.