Festival Film Pelajar Jogja Melirik Dunia Internasional

Berita :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Suasana pembukaan Festival Film Pelajar Jogja 2011 (Foto: FI)Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) diadakan untuk kedua kalinya pada 17 dan 18 Desember 2011 dengan serangkaian kegiatan di Ruang Audiovisual Benteng Vrederburg. Tahun ini, tema yang diusung adalah Bhinneka Tunggal Ika. "Tujuannya adalah mengembangkan wacana di kalangan pelajar, untuk membumikan Bhinneka Tunggal Ika agar tidak dipahami sebatas slogan semata," ujar Nabila Azwida Faradisa, direktur festival.

Ada sepuluh film yang berkompetisi dalam FFPJ tahun ini: lima fiksi, lima dokumenter. Film peserta berasal dari SMA dan SMK pulau Jawa dan Bandar Lampung (klik untuk melihat daftar film selengkapnya). Selain itu, FFPJ mengadakan seminar Peran Komunitas Film Pelajar dalam Mendukung Praktik Bhinneka Tunggal Ika di Sekolah, klinik film Di Balik Layar Film Laskar Pencerah, serta forum film pelajar Indonesia dengan narasumber dari IKJ dan ISI Yogyakarta.

Satu perkembangan FFPJ tahun ini adalah kerja sama yang dibuka panitia dengan Toronto Student Film Festival (TSFF). Kerja sama tersebut terwujud dalam bentuk program pemutaran film-film finalis dan pemenang TSFF di FFPJ 2011. Sebaliknya, pihak dari Toronto akan mengapresiasi film-film yang menjadi nomine di FFPJ.

Kerja sama dengan Toronto adalah satu langkah dari sebuah skema besar, yang berujung pada penyelenggaraan Jogja International Student Film Festival (JISFF) di tahun 2012 nanti. TSFF bukanlah festival internasional pertama yang dihubungi oleh panitia FFPJ. Ada beberapa festival lain, namun hanya TSFF yang merespons dengan permohonan kerja sama yang konkret. Rencananya, kerja sama ini menjadi modal awal, sembari panitia FFPJ belajar mengenali dan melatih diri perihal sistem penyelenggaraan festival film pelajar yang baik.

Tomy Taslim, manajer program, menjelaskan bahwa JISFF harus ada karena Jogja merupakan kota pelajar, seni, dan budaya kaliber internasional. Dari Jogja, lahir sejumlah lembaga pendidikan seni film yang bersejarah. "Sebut saja Kino Drama Atelier, Cine Drama Institute, Akademi Seni Drama dan Film Indonesia, walau semuanya sekarang sudah tutup," jelas Tomy, "Jangan lupakan juga kelahiran, baik secara fisik maupun dalam konteks kultural, seniman-seniman film yang berkarakter, seperti Soemardjono, Ki Slamet Rahardjo, Ki Hartanto, Garin Nugroho, Hanung Bramantyo, dan Ifa Isfansyah."

Harapannya, JISFF dapat menjadi inisiatif yang bermanfaat untuk film pelajar, satu wilayah yang kurang banyak disentuh para penggiat sinema Yogyakarta dan Indonesia pada umumnya.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.