FFD 2012: Tidak Ada Pemenang untuk Film Dokumenter Panjang

Berita :: Penulis: Amalia Sekarjati

Tidak ada pemenang untuk kompetisi film dokumenter kategori panjang Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta 2012. Dua film yang berkompetisi dalam kategori ini, Nuklir Jawa (Sulfikar Amir) dan Rock for Kamtis (Agni Tirta) dinilai hanya berhenti pada pemaparan saja dan kurang memperhitungkan kebutuhan struktur dalam dokumenter panjang, padahal memiliki peluang untuk dibahas lebih mendalam. Hal ini disampaikan pada malam penutupan FFD, Sabtu, 15 Desember 2012 di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta.

Namun, dewan juri yang terdiri dari Jane HC Yu (Taiwan), Nuraini Juliastuti dan Christine Hille (Jerman), memberikan apresiasi spesial kepada film Nuklir Jawa karena usahanya mengangkat mengangkat isu yang dianggap penting dewasa ini.

Sedangkan untuk kategori pendek, dari 11 film yang berkompetisi, Jadi Jagoan ala Ahok (Chandra Tanzil dan Amelia Hapsari) keluar sebagai pemenang. Dewan juri yang terdiri dari Ifa Isfansyah, J Nicolaas Warouw, dan Antariksa, melihat bahwa film ini paling berhasil mengolah data yang lengkap menjadi film yang komunikatif dan menghibur dan juga memberikan pandangan alternatif tentang politik di Indonesia dewasa ini. Selain itu, film Mama, Anak Perempuanmu Bertato (Citra Melati) mendapat Special Mention karena  pembuat film berhasil mengolah ide yang sederhana dengan cara penyajian yang tepat sehingga menjadi film dokumenter yang kuat.

Juri juga mencatat bahwa film-film kategori dokumenter pendek tahun ini, sebagian besar memiliki sudut pandang yang stereotipikal. Sebagian besar kurang fokus terhadap ide utama dan beberapa masih dalam tahap riset dan pendalaman ide.

Dari kategori pelajar, film Teladan Totem Pro Parte karya Suryo Buwono dari SMAN 1 Yogyakarta berhasil meraih film terbaik kategori film dokumenter pelajar di antara 6 film yang berkompetisi. Untuk kategori ini, dewan juri terdiri dari Ariani Darmawan, Kuntz Agus Nugroho, dan St. Kartono. Mereka melihat film tersebut berani mengangkat permasalahan di sekitar mereka yang cukup kompleks. Film ini juga memiliki gaya penceritaan yang sesuai dengan gaya mereka sebagai pelajar. Meskipun permasalahan yang diangkat terlalu banyak, tetapi film ini dikemas dengan alur dan struktur penceritaan yang baik.

Untuk kompetisi kategori pelajar, dewan juri mencatat bahwa secara umum, film dokumenter pelajar tahun ini tidak fokus menggali dan menceritakan idenya, padahal ada beberapa film yang memiliki tema menarik. Beberapa film lebih banyak memakai narasi dan gambar wawancara untuk menyampaikan cerita, dan melupakan kerja visual yang menggambarkan kejadian-kejadian dalam cerita yang ingin disampaikan.

FFD berlangsung selama lima hari, 10-15 Desember 2012, di Taman Budaya Yogyakarta. Festival yang penyelenggaraannya diketuai oleh Surya Adhy Wibowo, tidak hanya memutar film-film kompetisi, tetapi juga film-film dalam program Perspektif, Spektrum, SEA Doc, Special Screening, dan Docs on Stage, yang dikuratori oleh Dhany Yunar P, Krisna E Putranto, Kurnia Yudha Fitranto, dan DS Nugraheni sebagai dewan program. Di luar program pemutaran, ada pula program Master Class bertajuk Music et Docs bersama Enrique Sánchez Lansch, diskusi tentang Dokumenter dan Ingatan Sosial, serta program rutin School Doc yang telah berlangsung pada November lalu.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.