FFS 2012: Pesta Film Fiksi-Pendek Dimulai

Berita :: Penulis: Redaksi FI

Pidato Nanang Musha, manajer festival, di malam pembukaan FFS 2012. (Foto: FI)“Festival ini adalah sebuah pesta untuk film fiksi-pendek Indonesia. Kami tidak saja memutar film, tapi juga membuka ruang temu untuk teman-teman komunitas,” tutur direktur festival Ricas Cwu di malam pembukaan Festival Film Solo (FFS), 9 Mei 2012, di Teater Besar ISI Surakarta. Teater tersebut menjadi salah satu lokasi kegiatan Festival Film Solo, selain Wisma Seni di Taman Besar Jawa Tengah, sampai 13 Mei nanti. Ada 31 film pendek yang akan diputar: 21 untuk kategori Ladrang (umum), 10 untuk Gayaman (pelajar). Masing-masing kategori mengkompetisikan empat film pendek. Ladrang mengkompetisikan dua film Yogyakarta dan dua dari Jakarta, sementara Gayaman mempertarungkan dua film Purbalingga dengan dua film dari Yogyakarta dan Salatiga. Tim juri untuk kategori Ladrang terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Joko Anwar, dan Ifa Isfansyah, sementara untuk Gayaman ada Ariani Darmawan, Kuntz Agus, dan Blontank Poer.

Pada tanggal 10 Mei, akan digelar peluncuran DVD kompilasi khusus berjudul “Fiksi-Pendek Indonesia”. DVD ini merupakan hasil kerja sama FFS dengan Jive Collection. “Menariknya, royalti dari penjualan DVD ini duputuskan oleh para filmmaker untuk dikelola FFS dalam bentuk film funding. Jadi, hasil royalti akan dikumpulkan di FFS. Bagi para sineas yang ingin mendapatkan funding untuk film pendek bisa mempresentasikan kepada FFS,” terang manajer festival Nanang Musha dalam konferensi pers.

Khusus untuk Solo, FFS mengadakan program Tarung Solo. Program ini merupakan respons terhadap sedikitnya film pendek dari Solo yang masuk FFS. "Hanya ada enam film dari Solo dari 214 film yang diterima tim kurator FFS," jelas programmer festival Bayu Bergas. Program ini akan memutar tiga film: Pilihanku (M. Aldila Isnaadi, 2001), Diam (Ananta Putra, 2011), dan Jago Tarung (Abdurachman Sya'bani Nasution, 2012). Penonton kemudian akan memilih film favorit yang akan menjadi film pemenang Tarung Solo. Gelar juara ini yang harus dipertahankan pada FFS berikutnya.

FFS tahun ini mengadakan retrospeksi karya-karya Ariani Darmawan dan Ifa Isfansyah. “Kami tim program ingin festival ini tak saja melihat film pendek dalam semesta perfilman secara meluas, tapi juga melihat ke belakang. Ariani dan Ifa punya dua karier di film pendek yang cukup mapan. Karya-karya mereka layak menjadi referensi untuk generasi pembuat film sekarang. Jadilah kami menyusun program retrospektif ini,” jelas programmer festival Adrian Jonathan Pasaribu saat konferensi pers. Film-film pendek Ariani dan Ifa akan diputar tanggal 12 dan 13 Mei, dengan diskusi  bersama kedua sineas setelah pemutaran.

Antrian penonton malam pembukaan Festival Film Solo 2012. (Foto: FI)Selain pemutaran film, FFS juga menyelenggarakan sejumlah lokakarya. Untuk pembuat film yang karyanya masuk seleksi Ladrang, ada Lokakarya Manajerial Karya yang diisi oleh Senoaji Julius dari Fourcolours Films (Yogyakarta) dan Paul Agusta dari Kinekuma Pictures (Jakarta). Senoaji akan mengajar tentang manajemen produksi, sementara Paul tentang fundraising dan pitching. Untuk pembuat film kategori Gayaman, ada Lokakarya Penulisan Naskah yang diisi oleh Ariani Darmawan dan Budi Warsito dari Kineruku (Bandung). Untuk para pegiat film dari komunitas, ada Kelas Pemutaran Film yang diisi oleh Lintang Gitomartoyo (Yayasan Konfiden) dan Sugar Nadia Azier (Kineforum).

Selain itu, diadakan juga Obrolan Malam, semacam forum untuk para pegiat film dari komunitas, setiap malam dari tanggal 10 sampai 12 Mei. Masing-masing sesi Obrolan Malam ini memiliki topik bahasannya sendiri. Sesi pertama bicara tentang ide cerita film pendek, dengan Joko Anwar sebagai narasumber. Sesi kedua akan membahas etika dan hak cipta dalam sinema, dengan Jeihan Angga dan BW Purbanegara sebagai narasumber. Sesi ini berangkat dari suatu kasus di Festival Film Solo tahun lalu, ketika film Jeihan  yang berjudul Gara-Gara Bendera lolos seleksi kurator, namun tak bisa diputar oleh pihak penyelenggara karena film tersebut menggunakan musik yang belum diurus perizinannya. Setelah informasi tersebut disampaikan oleh pihak festival, Jeihan memutuskan untuk membuat sendiri musiknya dan menyunting ulang filmnya. Sesi terakhir akan melibatkan pengamat film Ekky Imanjaya untuk berbagi pendapat soal kritik film pendek.

Jadwal kegiatan FFS 2012 selengkapnya dapat diakses di situs resmi mereka.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.