Sekilas Mengenang Edward Pesta Sirait (7 Agustus 1942 – 12 Januari 2019)

Wednesday, 23 January 2019, Oleh Parakitri T. Simbolon

Setelah dirawat di RS Pondok Indah, Jakarta, karena komplikasi diabetes sejak Kamis 3 Januari 2019, Edward Pesta Sirait, sutradara puluhan film dan ratusan seri sinetron Indonesia, akhirnya meninggal dunia di ruang perawatannya pada hari Sabtu 12 Januari 2019, pukul 17:58 WIB. Sejak malam harinya jenazah disemayamkan di rumahduka RS Dharmais, Jakarta, lalu dimakamkan pada siang hari Senin 14 Januari di Sandiego Hills, Karawang Barat. Edward, yang disebut Edo oleh teman-temannya, meninggalkan 16 orang kesayangan terdekatnya: isterinya, Gottina Tiapul br Tambunan, empat anak dan empat menantu, serta tujuh cucu.

  • Teguh Karya: Mau Jadi Orang Film yang Lain

    Monday, 22 November 2010, Oleh JB Kristanto

    Kumpulan cuplikan wawancara dengan Teguh Karya yang menggambarkan sudut pandangnya terhadap definisi 'orang film'.

  • H Benyamin S: ”Awas Jangan Bajak. Tuhan Lihat!”

    Thursday, 25 November 2010, Oleh JB Kristanto

    Benyamin S. memiliki prinsip yang kuat mengenai ketenarannya sebagai pemeran film dan sebagai penyanyi/pencipta lagu, serta sebagai kepala keluarga.

  • Leo Fioole: Seorang Profesional dalam Bidangnya

    Wednesday, 01 December 2010, Oleh JB Kristanto

    Tulisan mengenai Leo Fioole, penata kamera ternama, setelah ia meninggal di tahun 1981.

  • Marini: Hidup Itu Bukan Hanya Sanjungan

    Wednesday, 01 December 2010, Oleh JB Kristanto

    Sikap Marini dalam berkarir, baik sebagai pemeran film maupun penyanyi, dan waktu yang selalu ia sediakan untuk keluarga.

  • Wajah Teguh Karya dalam Film Pertamanya

    Monday, 08 November 2010, Oleh JB Kristanto

    Film pertama Teguh Karya, Wajah Seorang Laki-Laki, dibuat tahun 1971. Jadi usianya sekarang sudah 27 tahun. Sebuah rentang yang cukup panjang. Dan selama 18 tahun berikutnya ia sudah membuat 13 film. Kalau hanya dilihat dari jumlah karya film, mungkin bisa dikatakan tidak terlampau banyak, meski juga tidak bisa dikatakan terlampau sedikit, karena dengan jumlah itu, berarti setiap tahun Teguh membuat tiga-perempat film.