Film Mouly Surya Masuk Sundance 2013

Berita :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Salah satu adegan Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (Foto: Cinesurya Pictures)Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta (What They Don’t Talk When They Talk About Love) terseleksi masuk Sundance 2013. Film terbaru Mouly Surya ini akan bersaing dengan sebelas film dari berbagai belahan dunia dalam kategori World Cinema Dramatic Competition. Ini pertama kalinya film Indonesia diputar di seksi kompetisi Sundance. Perwakilan Indonesia sebelumnya, The Raid karya Gareth Evans, diputar di seksi non-kompetisi Sundance tahun ini.

Sewaktu proses seleksi, Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta bersaing dengan 12.146 film lainnya hingga akhirnya terpilih dalam 113 film yang akan diputar sepanjang festival. Sundance 2013 akan berlangsung dari tanggal 17 sampai 27 Januari, namun belum diketahui kapan film Mouly Surya ini akan beredar di Indonesia. “Adalah suatu kehormatan untuk bisa mewakili Indonesia dan menayangkan film ini di Sundance. Saya selalu bermimpi ingin ke situ,” ucap Mouly Surya.

Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta menuturkan sejumlah kisah cinta di sebuah sekolah luar biasa. Ada Fitri yang tuna netra bertemu dengan Edo yang tidak bisa bicara. Jika saja Fitri dapat melihat dan Edo dapat bicara, mereka mungkin sudah saling jatuh cinta sejak lama. Ada juga Diana yang hanya mampu melihat dalam jarak dua sentimenter. Yang ia dambakan hanyalah momen pertama menstruasi, yang sayangnya tak kunjung datang. Ketika Diana bertemu Andhika, seorang murid baru, hidup Diana mulai berubah.

“Ide film ini lahir ketika saya bertemu dengan saudara yang tidak bisa melihat tetapi terlihat asik sendiri meng-update status Facebook-nya lewat telepon genggam,” jelas sutradara pemenang Piala Citra tahun 2008 ini. Mouly Surya menghabiskan 15 hari untuk syuting film terbarunya ini. Sepanjang proses produksinya, ia mendapat dukungan dari sejumlah sumber pendanaan internasional, yaitu Goteborg International Film Festival dari Swedia, Asian Project Market dari Korea, dan Hubert Bals Fund dari Belanda.

Pencapaian Mouly Surya melanjutkan kiprah film Indonesia di kancah internasional belakangan ini. Bulan Februari lalu, ada Postcard from the Zoo karya Edwin yang menjadi nomine Golden Bear di Berlinale Film Festival. Beberapa minggu sebelumnya, ada Parts of the Heart karya Paul Agusta dan Mata Tertutup karya Garin Nugroho yang mendapat respons positif di International Film Festival Rotterdam. Tidak lama setelahnya, Lovely Man karya Teddy Soeriaatmadja memperoleh penghargaan di Hongkong International Film Festival, hasil restorasi Lewat Djam Malam diputar perdana di Cannes, dan Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya karya Yosep Anggi Noen masuk kompetisi Festival Film Locarno. Bulan Oktober kemarin, Atambua 39C karya Riri Riza juga masuk kompetisi Tokyo International Film Festival.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.