Harry Dagoe: Karena Anak-anak adalah Kunci

Wawancara :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Harry Dagoe saat diwawancarai FI (Foto: FI)Sepanjang kariernya, Harry Dagoe (HD) akrab dengan dunia anak-anak. Film pendeknya yang berjudul Happy Ending (1995) bercerita tentang dampak kekerasan dalam film dan komik pada anak-anak. Film-film televisinya, macam Mencari Pelangi (1998) dan Berdongeng Peri (1999), berprotagoniskan anak-anak. Selain itu, dari tahun 2002 sampai 2004, Harry memproduksi serial musikal anak-anak berjudul Ratu Malu & Jendral Kancil untuk salah satu stasiun televisi swasta. Serial inilah yang kemudian Harry kembangkan menjadi film panjang berjudul Jendral Kancil The Movie (2012). Film ini tak saja menjadi film panjang ketiga Harry yang berkisahkan dunia anak-anak, setelah Melodi (2010) dan Ariel & Raja Langit (2005), tapi juga film 3D pertama di Indonesia.

Filmografi Harry bukannya terbatas pada dunia anak-anak saja. Tahun 2000, ia memproduksi Pachinko & Everyone’s Happy, yang menarasikan kehidupan tiga generasi penduduk Tokyo. Harry kembali bereksperimen dengan format drama multikarakter di Cinta Setaman delapan tahun kemudian. Dalam film itu, delapan kejadian di suatu taman, yang sebenarnya tak saling berkaitan, diramu dalam satu bingkai tematik: cinta. Selain itu, dalam dua kesempatan, Harry sempat terjun ke genre film horor melalui Dikejar Setan (2009) dan Pocong Minta Kawin (2011).

Redaksi Film Indonesia (FI) berkesempatan menemui Harry Dagoe. Selama dua jam, sineas kelahiran 12 Desember itu bercerita sejumlah pengalamannya selama berkecimpung di dunia film.

 

FI: Satu hal menarik yang perhatian saya: Anda selalu jadi sutradara dan produser sekaligus, dari produksi film Anda yang berbujet kecil sampai besar.

HD: Biasa saja ah. [Robert] Rodriguez juga begitu.

FI: Pertama kali orang tahu Rodriguez begitu, dia langsung jadi perhatian dunia.

HD: Iya sih [Tertawa].

FI: Menarik karena ada tabrakan peran di situ. Sebagai sutradara, anda berusaha sekreatif mungkin. Sebagai produser, anda harus menjaga gawang seketat mungkin.

HD: Di posisi saya seperti itu, tabrakan peran akan selalu terjadi. Selalu. Di setiap produksi, setiap kali saya bilang saya mau ambil peran sutradara-produser ini, orang-orang mengiyakan saja. Mereka tahu itu posisi sulit. Bisa bikin gila. Seperti yang kamu bilang tadi itu, tabrakan perannya besar. Saya bisa ada di sini ngobrol dan nggak masuk RSJ Grogol saja, saya udah bersyukur banget.

FI: Berarti ke depannya peran produser-sutradara akan Anda terus jalani?

HD: Saya tanya balik ke kamu: what can I do? Saya harus terus hidup, saya harus terus membuat film. Produser adalah semacam kepribadian pecah saya untuk menjaga film yang saya buat tetap ada di jalur yang saya inginkan. Bisa saja kan ada produser bilang, “Begini saja, Har, gambarnya bagus.” Saya nggak mau begitu. Dengan menjalani peran produser-sutradara begini, paling tidak yang menghambat saya hanya bujet, bukan konflik kreatif.

Saya hanya mau bikin apa yang saya mau. Melalui film, saya mau berbagi, berbagi perasaan. Kalau boleh centil sedikit, saya mau berbagi pertanyaan saya atas dunia ini, atas ketidakadilan yang saya lihat di mana-mana. Saya nggak mau bikin film yang asal keren aja. Wah, shot ini asik nih kalau ditaruh di bagian situ. Asik nih kamera kalau gerak ke sana ke mari. Buat saya, di situlah kegagalan sebuah film, di saat orang cuma mau bergaya, mau pamer, pamer bisa buat gambar-gambar keren, pamer bisa bikin film penuh efek kaya The Matrix. Bikin film dengan niat macam itu yang nggak masuk logika saya.

Tapi saya bukan tipe seniman gila begitu ya. Saya pun respek terhadap orang, terutama orang yang memang pengetahuannya lebih dari saya. Apalagi kalau saya nyaman sama orangnya. Saya orangnya mau belajar. Makanya, waktu menyusun tim produksi sebelum syuting, saya pun mencari orang yang kira-kira bisa sejalan dengan saya secara kreatif.

Waktu mau produksi Sunya, sampai sekarang film ini belum diproduksi ya, ada satu anak muda yang mau jadi produser. Saya bilang ke dia, “Sebentar, kamu baca dulu naskahnya.” Saya kasih ke dia naskahnya. Terus saya tanya, “Film yang bagus menurutmu apa?” “Top Gun,” kata dia. Wah, saya mulai bingung tuh. “Watchmen,” dia bilang lagi. “Okelah,” saya jawab, “pokoknya kamu baca dulu naskahnya, habis itu kita ngobrol lagi.” Dia baca dan sepertinya paham. Dia bilang oke, siap riset buat Sunya. Saya terangin lagi filmnya bagaimana. Dia tetap oke. Kami salaman.

Habis itu kami makan bareng. Dia nanya-nanya. “Bagaimana kalau filmnya begini?” “Bagaimana kalau begitu?” “Nanti filmnya dikirim ke sini sama ke sini saja.” Saya langsung gemetar. Kenapa baru sekarang? Tahu begitu kan kami tidak salaman dulu. Film ini kan tanggung jawab saya. Misalkan nanti hasilnya beda dengan apa yang saya bilang ke investor, saya yang kena. Saya bilang ke dia, “Dengan segala hormat, kita tetap temenan, tapi kita nggak bisa jalan bareng untuk proyek ini.” 

FI: Sunya sendiri kenapa belum diproduksi?

HD: Terlalu mahal untuk dibuat sekarang. Saya mau cerita soal anak-anak, dengan pola penuturan dan visual yang belum pernah saya coba sebelumnya. Sudah casting. Sudah cari lokasi juga. Tapi ya mungkin belum jodohnya saja. Bikin film kan harus satu-dua tahun. Ada film Korea yang judulnya Why Has Bodhi-Dharma Left for the East? [Bae Yong-kyun, 1989]. Sutradaranya memproduksi film itu selama tujuh tahun, dari ada kru sampai akhirnya sendirian. Selesai juga tuh film. Saya pun menganggap produksi Sunya yang tertunda ini sebagai bagian dari perjalanan.

FI: Banyak dari karya Anda yang bercerita tentang dunia anak-anak, dari yang di televisi sampai yang di layar lebar. Apa yang membuat Anda begitu tertarik dengan dunia anak-anak?

Karena ada anak-anak punya perspektif yang saya rasa belum terakomodir di sini, belum banyak lah. Anak-anak kan cara pandangnya beda dengan orang dewasa seperti kita-kita. Dan saya selalu tertarik mencoba mengeksplor kemungkinan-kemungkinan filmis dari dunia anak-anak. Makanya kalau kamu tonton Jendral Kancil The Movie atau film anak-anak yang saya buat, tidak ada shot yang eye-level. Maksudnya begini, paham tatami shot-nya [Yasujiro] Ozu kan? Kenapa dia taruh kamera satu atau dua kaki dari tanah? Karena kaya begitu cara pandang orang Jepang. Duduk di lantai, tenang, memperhatikan sekitar, ngobrol dengan satu sama lain. Ozu menerjemahkan cara pandang orang Jepang ke bahasa gambar. Saya mau coba hal serupa untuk perspektif anak-anak, dan saya masih cari-cari.

Selain itu, saya lihat tontonan buat anak-anak di sini nggak banyak pilihannya. Film anak-anak bisa dihitung pakai jari. Di televisi, adanya sinetron. Kalau pun ada, isinya nggak masuk akal. Begini, tahun 2002 dulu saya ngomong ke Multivision, “Kalian keterlaluan. Masa kalian bikin sinetron kaya Harry Potret.” Masa anak-anak menyelesaikan masalah pakai sihir-sihiran.

Saya kasih tawaran ke ANTV, “Bagaimana kalau kita bikin serial tentang suatu tokoh yang akrab sama merah-putih, jago, ambil ikon kancil, cerdik, dan punya banyak teman. Nggak cuma laku, Anda bakal saya kasih piala.” Di situlah pertama kali saya kepikiran tokoh Jendral Kancil. Dibuatlah serial Ratu Malu & Jendral Kancil. Alhamdulilah, untung beneran laku dan menang piala. [Tertawa] Menang sinetron anak terbaik [di Festival Film Bandung 2004]. Sampai sekarang belum ada yang menggantikan.

 

Adegan film Jendral Kancil (2012).3D

FI: Di Jendral Kancil The Movie, ada Arman, tokoh yang diperankan Achmad Albar di Djendral Kantjil. Apakah tokoh Jendral Kancil versi Anda ada hubungannya dengan film Nya Abbas Akub tahun 1958 itu?

HD: Sebenarnya, saya mau banget nonton Djendral Kantjil. Sampai sekarang saya belum pernah nonton film itu. Soal Arman, iya, saya sadar betul akan peran dia di Djendral Kantjil, tapi peran dia di film saya murni sebagai penanda kalau dulu pernah ada Jendral Kancil juga. Selebihnya, yang terjadi di Jendral Kancil The Movie, ya rekaan saya sendiri.

Tokoh Jendral Kancil itu sebenarnya kumpulan dari nilai-nilai yang saya anggap ideal untuk anak-anak. Inilah satu tokoh yang menyelesaikan masalahnya secara realistis, dengan cerdik, dan bisa bekerja sama dengan orang-orang di sekitarnya. Bukan magic, bukan sihir-sihiran. Realistis. Inspirasi saya dari dongeng anak-anak, karena paling gampang ngomong sama anak-anak lewat dongeng. Nah, dari dongeng yang ada di Indonesia, cuma kancil yang bisa menyelesaikan masalah dengan realistis. Siapa lagi coba? Timun Mas? Itu juga pakai sihir-sihiran.

Saya peduli dengan pendidikan anak-anak. Buat saya mereka penting, kunci negeri ini. Mereka harus paham soal nilai-nilai yang baik dan berguna sejak kecil, dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan perspektif mereka tentunya.

FI: Apakah Jendral Kancil The Movie sejak awal direncanakan diproduksi dalam format 3D?

Sejak awal sudah diniatkan begitu. Niatnya, bikin film hiburan untuk anak-anak yang tak saja baik cerita dan nilai-nilainya, tapi juga asik secara penyajiannya. Film 3D terbaik yang saya pernah lihat itu Avatar. Pas nonton itu, saya kepikiran, “Wah, asyik juga kalau bisa bikin beginian di Indonesia.” Lucu lah bayanginnya. Di bioskop, anak-anak nonton film 3D rame-rame, pada teriak-teriak.

Pas Jendral Kancil The Movie main di bioskop, saya sempat ikut nonton juga di beberapa bioskop, duduk di pojok buat lihat reaksi penonton. Banyak anak-anak yang ketawa-ketiwi. Beberapa bahkan ada yang mengulangi obrolan Guntur (Adam Farrel Xavier) sama Badil (Audric Adrian Pratama). Artinya kan mereka nggak sekali ini nonton Jendral Kancil The Movie. Wah, saya senang banget itu.

FI: Berapa lama waktu yang Anda dibutuhkan untuk mempelajari produksi film dalam format 3D?

HD: Kira-kira setahun. Lebih dikit. Saya bolak-balik browsing, cari bacaan di internet, tanya-tanya orang di Thailand. Di sana kan ada laboratorium Technicolor. Saya banyak tanya-tanya ke mereka. Begitulah. Sampai akhirnya saya rasa sip, rasanya sudah cukup paham, saya cobalah iseng-iseng bikin sendiri. Ada satu adegan simpel yang saya rekam pakai dua kamera. Saya edit sendiri terus kirim hasilnya ke Thailand. Mereka proses dulu, terus pas saya lihat hasilnya, ternyata kurang bagus. Bingung juga saya bagaimana. Saya coba-coba cari kamera yang kata mereka pas buat bikin 3D. Ternyata ada di Indonesia. Saya pakai itu buat syuting Jendral Kancil The Movie.

Saya sadar ini gambling yang sangat besar. Produksi film 3D itu sesuatu yang baru di Indonesia. Biaya yang dibutuhkan juga nggak sedikit. Kalau flop bagaimana. Risiko-risiko itu sempat terpikirkan. Tapi ya sudahlah, kalau tidak gambling, audiens sini cuma bakal dapat film yang itu-itu saja. Saya pun nekat.

FI: Apa saja prosedur yang dibutuhkan untuk membuat film 3D?

HD: Kalau dibandingkan dengan produksi film 2D, bikin film 3D itu perlu akrobat kamera yang lebih spesifik. Mulai dari framing sama focusing kamera. Panning sama tracking kamera juga perlu diperhitungkan. Pengaturan suara bahkan ada aturannya sendiri, supaya minimal match sama gambar yang dihasilkan. Sederhananya begini, misalnya, pengadeganan yang kamu buat tak boleh mengarahkan penonton ke pinggir frame, apalagi ke keluar frame. Subyek harus ada di tengah frame. Semua aksi dalam adegan kalau bisa juga diarahkan di situ. Dengan begitu, efek 3D akan terasa.

Terus, akan lebih maksimal lagi kalau ada waktu lebih, adegan-adegan yang diniatkan pakai efek 3D tadi itu disyuting ulang di blue screen. Dengan begitu kita bisa superimpose, kita bisa taruh satu gambar di atas gambar lain. Teknik itu yang sebenarnya bisa menggantikan metode produksi film 3D yang sebelumnya, yakni dengan double camera. Prinsip 3D kan sederhana sebenarnya: gambar dikloning. Ada dua gambar yang sama, diproyeksikan sedemikian rupa, sehingga menciptakan ilusi kedalaman. Itu yang kemudian kita rasakan sebagai “efek 3D”.

Sebelum ini saya nonton The Amazing Spider-Man di IMAX, di Bangkok. Jendral Kancil The Movie jauh lebih terasa 3D-nya. Saya sudah tes di Studio 1 XXI Pondok Indah Mall 1. Jangan teater lain. Sebelum Jendral Kancil The Movie final, saya bawa footage ke situ. Saya minta bioskop buat proyeksikan ke layar, kerasa banget 3D. Baru saya kirim footage-footage itu ke Bangkok buat post-production.

FI: Selain tema anak-anak yang mendominasi karya-karya Anda, saya lihat ada hal lain yang berulang dalam filmografi Anda, yakni banyaknya tokoh dalam cerita. Di Pachinko, ada tiga tokoh dari tiga generasi penduduk Tokyo yang terlibat dalam cerita. Masing-masing punya lingkaran sosialnya sendiri. Cinta Setaman malah lebih banyak lagi. Film anak-anak Anda juga begitu. Protagonisnya tergabung dalam kelompok dan bertindak berdasarkan dinamika dalam kelompok. Saya merasa Anda punya ketertarikan dengan interaksi manusia dalam kelompok.

HD: Begitulah cara saya melihat kehidupan ini. Kamu benar sekali, kamu nggak salah. Begitu memang cara saya melihat dunia ini, banyak kerumunan orang-orang di sekitar kita. Kita tidak hidup sendiri, walaupun mungkin beberapa dari kita ada yang merasa kesepian. Saya salah satunya. [Tertawa]

Bisa dibilang ini bentuk dari romantisme saya. Mungkin karena saya merasa kesepian, saya memenuhi film-film saya dengan banyak manusia. Saya sendiri selalu tertarik dengan cara manusia berinteraksi dengan sesamanya. Waktu saya buat Pachinko, misalnya, saya tertarik bagaimana geisha menjalani dua peran dalam kehidupan sehari-harinya. Itu semacam seni tersendiri. Di satu sisi, ia punya kehidupan pribadi. Di sisi lain, ia harus menjaga wajahnya untuk menghibur orang-orang. Permainan peran seperti itu yang menarik perhatian saya. Waktu saya di Jepang, saya tak bisa tak mengamati itu.

Jepang sendiri juga unik buat saya. Di situ banyak orang lalu lalang, tapi mereka seperti tak terhubung satu sama lain. Di sini kan rasanya beda. Orangnya juga banyak, tapi masih bisa kita temukan orang-orang berkumpul seperti kita begini, ngobrol, ada koneksi. Itu yang kemudian saya coba eksplor lewat Cinta Setaman. Untuk Jepang, hasil perenungan saya ya tertuang di Pachinko. Setelah sempat belajar di Jepang dan bikin Pachinko, saya bisa bilang kalau Jepang itu tempat yang asyik buat menyepi. [Tertawa]

Pola bertutur yang lain sebenarnya ingin saya coba di Sunya. Filmnya minimalis banget. Karakternya nggak sebanyak film-film saya biasanya. Cuma dua orang. Tapi, ya seperti yang saya bilang tadi, film itu belum bisa diproduksi sekarang.

 

Sikap pemerintah tak jelas

FI: Lantas, kenapa Anda membuat Dikejar Setan dan Pocong Minta Kawin? Dua film itu terasa beda sendiri dari filmografi Anda.

HD: Saya sudah menduga Anda akan tanya soal ini. [Tertawa] Ada dua jawaban. Jawaban resminya, kalau boleh dibilang begitu, saya mau mengakomodir kalangan penonton yang akrab dengan film-film horor dan komedi Indonesia dulu. Ya, film-film zaman Suzanna, Ateng, dan sejenisnya. Judul Pocong Minta Kawin itu judulnya dari Ateng Minta Kawin. Film-film seperti itu kan yang hampir tidak ada lagi di film Indonesia sekarang.

Waktu konferensi pers Pocong Minta Kawin, ada satu wartawan yang bilang ke saya, “Mas Harry Dagoe, saya kecewa Anda merendahkan talenta dan potensi Anda sendiri dengan membuat film semacam ini. Level Anda sudah begitu tinggi waktu bikin Cinta Setaman. Sekarang level Anda turun sekali di mata saya.” Saya cuma bisa elus-elus dada saja, terus balas, “Terima kasih teman-teman atas kritikannya. Kritikan teman-teman adalah tanda kepedulian, dan saya bersyukur masih ada yang peduli dengan saya.”

Saya tak menyangkal kalau saya pun mencari uang melalui dua film ini. Bukannya saya tak memikirkan profit ya di film-film lainnya, namun saya sadar betul kalau film-film macam Pocong Minta Kawin yang daya jualnya tinggi di sini. Semakin terbukti pas Jendral Kancil The Movie. Film itu cepat banget turun dari bioskop. Nggak sampai seminggu, udah kurang lebih dari setengah junlah layarnya. Yang versi 3D awalnya ada di tiga bioskop. Jalan beberapa hari, udah tinggal satu saja, di Cibubur.

Okelah, Pocong Minta Kawin itu satu film saya yang lumayan dapat respons negatif. Pas konferensi pers saja, sampai ada wartawan yang bilang begitu. Waktu Jendral Kancil The Movie, respons di media oke, positif banget malah. Nah, yang saya heran, kenapa malah Pocong Minta Kawin bisa lebih lama di bioskop? Saya cukup kaget melihat Jendral Kancil The Movie secepat itu turun dari bioskop.

Sudahlah, sudah jadi rahasia umum kalau memang ada yang salah dengan industri perfilman kita. Kita lihat pemerintah sekarang, film ada di bawah dua departemen: pendidikan [Kemendikbud] sama pariwisata [Parenkraf]. Terus, pertanyaan saya, pemerintah sebenarnya melihat film sebagai apa? Barang budaya atau komoditas ekonomi? Saya tidak melihat ada sikap yang jelas dari pemerintah. Dan ini berdampak ke mana-mana. Termasuk ke soal ekshibisi.

Dengan bilang begini, saya bukannya mau menyerah berkegiatan di film. Saya akan tetap berjuang mempertahankan hak saya membuat film, dan akan membela teman-teman saya yang juga berkegiatan di film. Bagaimanapun juga, kita orang Indonesia berhak membuat film, dan penonton Indonesia berhak menonton film-film negeri sendiri.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.