CLC Purbalingga: Edukasi Film, Edukasi Politik

Monday, 26 May 2014, Oleh Windu W Jusuf

Cinema Lovers Community (CLC) adalah komunitas lokal yang sudah membuktikan diri tahan banting.  “Puncak” kegiatan komunitas ini adalah Festival film Purbalingga yang berlangsung setahun sekali selama bulan Mei. Festival ini juga punya program unik: Layar Tanjleb yang diadakan dari desa ke desa. Hambatan-hambatan yang dihadapi komunitas ini membuka mata para pengurusnya bahwa kegiatan “mencintai” film ternyata harus berhadapan dengan urusan sosial-politik lokal, seperti bisa dibaca dari wawancara Windu Jusuf, penulis FI dan Cinema Poetica dengan para aktivis CLC berikut.

  • Benni Setiawan: Jatah Layar untuk Film Lokal Sedikit Sekali

    Friday, 18 April 2014, Oleh Pandji Putranda

    Saya justru menyayangkan soal distribusi layar bioskop. Katakanlah begini, seharusnya ada kesempatan bagi film-film Indonesia untuk jadi tuan rumah. Kasih kesempatan lebih besar agar jumlah orang yang nonton juga makin banyak. 

  • Loyalitas Oka Antara sebagai Aktor

    Friday, 21 February 2014, Oleh Amalia Sekarjati

    2014 menjadi tahun perkenalan Oka Antara bagi khalayak perfilman internasional. Dua film yang ia perankan, Killers dan The Raid 2, tayang perdana di Sundance Film Festival pertengahan Januari silam. Killers sudah beredar di bioskop nasional awal Februari lalu, sedangkan The Raid 2 baru akan tayang Maret mendatang.

  • Sastha Sunu: Setiap Potongan Gambar Adalah Pemikiran

    Wednesday, 17 July 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Amalia Sekarjati

    Obrolan dengan Sastha Sunu ini bertujuan untuk menyingkap proses kerja seorang editor, suatu profesi yang terhitung jarang terekspos ke publik. Di kalangan pekerja film, penyunting gambar kerap disebut sebagai ‘sutradara kedua’.

  • Mouly Surya: Mencintai Film, Memfilmkan Cinta

    Monday, 06 May 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    Mouly Surya bercerita tentang proses kreatif Don’t Talk Love, mulai dari pengembangan cerita, pemahaman komunitas tuna netra, penerjamahan ruang, hingga penyusunan gambar. Mouly juga bercerita tentang perkembangan dirinya sebagai pembuat film dan peredaran film-filmnya.

  • Lola Amaria: Gue Mencintai Proses Belakang Layar!

    Monday, 06 May 2013, Oleh Lisabona Rahman

    Lola baru saja meluncurkan film layar lebar produksinya yang kelima, Kisah 3 Titik (K3T). Ia bercerita kepada FI tentang produksi film, berburu bakat-bakat baru dan juga tentang masa awal keterlibatannya di dunia film.

  • Vino Bastian: Aspirasi Anak Muda Lewat Film

    Monday, 15 April 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Amalia Sekarjati

    Aktor kelahiran 24 Maret 1982 ini bercerita tentang pengalamannya di Tampan Tailor dan Madre, proses kreatifnya, kariernya, rekan-rekan satu profesinya, krisis keaktoran di perfilman nasional, serta keinginannya untuk menyuarakan aspirasi anak muda lewat film.

  • Trisno: Teknologi Tidak Ada Habisnya

    Sunday, 10 February 2013, Oleh Amalia Sekarjati

    Profesi Trisno sebagai perekam suara menentukan bagaimana suara bisa direkam sebaik mungkin dan sesuai dengan latar serta tuntutan sebuah cerita. Meskipun ia secara tidak sengaja menekuni profesi ini dan tanpa pendidikan formal, ia mengaku pekerjaan ini membuatnya ketagihan.

  • Reza Rahadian: Mata Penonton Tidak Bisa Dibohongi

    Friday, 11 January 2013, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Amalia Sekarjati

    “Ibu saya seorang penari dan sangat aktif di teater... Pengalaman melihat ibu di panggung yang membuat saya tertarik untuk terjun ke seni peran,” tutur Reza Rahadian. Selama satu jam lebih, ia bercerita tentang proses kreatifnya di Habibie & Ainun, kecintaannya pada seni peran, dan pengalamannya sebagai aktor di Indonesia.

  • Satrio Budiono: Perlu Ada Standar untuk Penataan Suara

    Wednesday, 12 December 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Arie Kartikasari

    Satrio Budiono sudah berurusan dengan suara film sejak zaman Petualangan Sherina (1999). Ia sudah mendapatkan 12 nominasi dan 3 penghargaan untuk bidang penataan suara di Festival Film Indonesia. Baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai penata suara terbaik di FFI 2012 atas hasil kerjanya dalam Rumah di Seribu Ombak. Pria yang akrab dipanggil Yoyok ini bercerita tentang profesinya sebagai penata suara dan perlunya standardisasi dalam pengerjaan suara film di Indonesia.