Marcel Batara Goempar: "Posesif" Dan Permainan Eksplorasi Ruang

Saturday, 11 November 2017, Oleh Pandji Putranda

Sinematografi film ini berbeda dari film-film remaja lainnya, di sini dunia remaja bukan gambar lembut dan cerah berwarna-warni mencolok yang menyarankan keceriaan dan semacam kenaifan melainkan gambar tajam yang berwarna cenderung realistis dan berkesan kontemplatif.

  • Satrio Budiono: Perlu Ada Standar untuk Penataan Suara

    Wednesday, 12 December 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Arie Kartikasari

    Satrio Budiono sudah berurusan dengan suara film sejak zaman Petualangan Sherina (1999). Ia sudah mendapatkan 12 nominasi dan 3 penghargaan untuk bidang penataan suara di Festival Film Indonesia. Baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai penata suara terbaik di FFI 2012 atas hasil kerjanya dalam Rumah di Seribu Ombak. Pria yang akrab dipanggil Yoyok ini bercerita tentang profesinya sebagai penata suara dan perlunya standardisasi dalam pengerjaan suara film di Indonesia.

  • Mira Lesmana: Produser Tidak Sama Dengan Cukong

    Wednesday, 05 December 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Amalia Sekarjati

    Berbeda dengan dua produksi Miles Films sebelumnya, Atambua 39C dibuat dengan kru dan dana yang terhitung minim. Mira Lesmana bercerita bagaimana proses produksi film tersebut dan pengalaman dia sebagai produser di industri film Indonesia.

  • Salman Aristo: Jakarta Tak Akan Pernah Selesai

    Saturday, 10 November 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    Salman Aristo bercerita tentang proses pembuatan Jakarta Hati, teknik penyutradaraannya, serta pengalamannya di perfilman nasional.

  • Viva Westi: Semua Orang Punya Perjalanannya Sendiri

    Friday, 21 September 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    Viva Westi bicara tentang proses kreatif produksi film Rayya-Cahaya di Atas Cahaya, tantangan sewaktu membuat road movie, dan cerita di balik kolaborasinya dengan Emha Ainun Najib.

  • Harry Dagoe: Karena Anak-anak adalah Kunci

    Thursday, 09 August 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    Harry Dagoe bercerita tentang pengalamannya selama berkecimpung di dunia film. Dia juga mempertanyakan: pemerintah sebenarnya melihat film sebagai apa? Barang budaya atau komoditas ekonomi?

  • Pierre Rissient Tentang Lewat Djam Malam dan Film Indonesia

    Monday, 11 June 2012, Oleh Asmayani Kusrini

    Kritikus senior Pierre Rissient pernah menonton Lewat Djam Malam pada tahun 1977, ketika pertama kali berkunjung ke Indonesia. Pada masa itu, Rissient menonton karya Usmar Ismail ini tanpa subtitel, menikmati gambar-gambar sambil berusaha merangkai sendiri persepsinya tentang isi film itu.

  • Murti Hadi SJ: Soegija Bukan Film Dakwah

    Tuesday, 29 May 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    "Dulu kami selalu takut kalau Soegija dianggap film Katolik. Salah-salah orang kira ini film dakwah. Ini film tentang nasionalisme. Dan renungan-renungan Soegija sangatlah universal. Itu yang kami tekankan."

  • Donny Damara: Akting Itu Katup Pelepasan Kejenuhan

    Wednesday, 16 May 2012, Oleh Amalia Sekarjati

    "Rutinitas itu ada fase jenuhnya ya, dan buat saya salah satu katup pelepasannya adalah berakting. Mencoba keluar dari aku, memerankan orang lain, seoptimal mungkin. Pasti setelah itu beda rasanya."

  • Joko Anwar: Lebih Tertarik Karakter daripada Teknis

    Monday, 07 May 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    "Saya lebih tertarik dengan karakter daripada teknis. Di Janji Joni, buat saya Joni adalah ikon. Di Kala, ada Janus sama Eros. Di Pintu Terlarang, jelas Gambir. Orang ingat dengan dia. Di Modus Anomali, saya rasa orang akan ingat dengan John Evans. Teknis nggak pernah saya taruh di depan."

  • Misbach Jusa Biran: Sejarah Adalah Ilmu

    Thursday, 12 April 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Amalia Sekarjati

    Selama kurang lebih satu jam, Misbach bertutur tentang Lewat Djam Malam, Usmar Ismail, dan sekelumit pemikirannya tentang perfilman Indonesia.