CLC Purbalingga: Edukasi Film, Edukasi Politik

Senin, 26 Mei 2014, Oleh Windu W Jusuf

Cinema Lovers Community (CLC) adalah komunitas lokal yang sudah membuktikan diri tahan banting.  “Puncak” kegiatan komunitas ini adalah Festival film Purbalingga yang berlangsung setahun sekali selama bulan Mei. Festival ini juga punya program unik: Layar Tanjleb yang diadakan dari desa ke desa. Hambatan-hambatan yang dihadapi komunitas ini membuka mata para pengurusnya bahwa kegiatan “mencintai” film ternyata harus berhadapan dengan urusan sosial-politik lokal, seperti bisa dibaca dari wawancara Windu Jusuf, penulis FI dan Cinema Poetica dengan para aktivis CLC berikut.

  • Edwin: Film Tak Bisa Lepas dari Pembuatnya

    Selasa, 13 Maret 2012, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    Postcards from the Zoo keliling dunia dan membuat sejarah untuk sinema Indonesia. Film ini mewakili Indonesia di Berlinale 2012. Edwin, pembuatnya, sendiri sebenarnya sudah memulai karier internasionalnya tujuh tahun silam. 

  • Nani Widjaja: Lima Dasawarsa di Film dan Televisi

    Kamis, 23 Pebruari 2012, Oleh Arie Kartikasari

    Menyikapi bahwa semua peran sama pentingnya adalah kunci Nani Widjaja dalam menjalani pekerjaannya.

  • Shalahuddin Siregar: Uang Penting untuk Kesinambungan Karya

    Jumat, 30 Desember 2011, Oleh Amalia Sekarjati

    Film Negeri di Bawah Kabut memenangkan Special Jury Prize pada Dubai Film Festival 2011 awal Desember lalu. Shalahuddin Siregar bicara tentang film, pilihan festival, dan tentang dokumenter itu sendiri.

  • Lalu Roisamri: JIFFest Merancang Format Baru

    Senin, 05 Desember 2011, Oleh Lintang Gitomartoyo, Amalia Sekarjati

    Lalu Roisamri, Direktur JIFFest, bercerita tentang pembatalan acara, pendanaan, serta dukungan pemerintah dan publik.

  • Surya Saputra: Mau Main Film dengan Pesan Moral yang Baik

    Rabu, 23 November 2011, Oleh Arie Kartikasari

    Surya Saputra terkesan sangat berhati-hati dalam memilih peran yang terlihat dari jumlah film per tahun yang ia bintangi sejak 2008.

  • Yadi Sugandi: Mengapa Tidak Digital?

    Kamis, 10 November 2011, Oleh Arie Kartikasari

    "Saya bisa memaklumi mengapa seorang sutradara selalu mencari penata kamera yang sama. Ada chemistry seperti suami-istri."

  • Ifa Isfansyah: Aku Generasi 98, Bukan 65

    Rabu, 09 November 2011, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu

    "Film ini bukan tentang politik. Aku melihat politik itu dari sudut pandang anak-anak muda sekarang. Aku nggak ngerti peristiwa 65. Aku nggak tahu dan nggak mau sok tahu."

  • Agung Sentausa: Yang Perlu Saling Apresiasi

    Senin, 03 Oktober 2011, Oleh Amalia Sekarjati

    Mungkin kekurangan saya adalah less productive, tapi kelebihan saya adalah keleluasaan memilih apa yang mau saya bikin. Namun, saya juga mau produktif karena terlalu banyak hal di kepala yang mau dijadikan film, yang mau dibagi.

  • Nayato Fio Nuala: Saya Buat Film Untuk Nonton Film

    Selasa, 20 September 2011, Oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Arie Kartikasari

    Saat ini, nama Nayato Fio Nuala beredar sebagai sutradara paling produktif di industri film nasional. Sampai September 2011, sudah ada sembilan film yang dirilis. Sepanjang kariernya sejak 2003, Nayato sudah memproduksi 50 film.

  • Syamsul Lussa: Jangankan 2014, Setahun Saja Bisa, Kok!

    Senin, 05 September 2011, Oleh Lisabona Rahman, Amalia Sekarjati

    "Semua aspek mencakup produksi, pasar, distribusi dan marketing. Kita akan garap secara keseluruhan. Sekarang ini yang lebih banyak disinggung adalah ekonomi perfilman. Sistem harus kita lihat secara utuh, untuk dalam negeri dan luar negeri." - Drs. Syamsul Lussa, MA