JAFF 2013: Altering Asia

Berita :: Penulis: Amalia Sekarjati

JAFF 2013: 29 Nov - 7 Des 2013Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), yang mengkhususkan diri pada sinema Asia, akan menggelar edisi ke-8 pada 28 November-7 Desember 2013. Program pemutaran film, seminar, dan diskusi, akan diselenggarakan di Empire XXI, Taman Budaya Yogyakarta, Lembaga Indonesia-Prancis, dan beberapa kampung di Yogyakarta. JAFF akan memutar 80 film yang terdiri dari 37 film panjang dan 43 film pendek.

Kali ini JAFF mengusung tema Altering Asia sebagai upaya mengajak sineas Asia untuk membaca kembali “keaslian” Asia di tengah berbagai perubahan dan pandangan tentang Asia itu sendiri. Semakin banyaknya prestasi yang diraih pembuat film Asia di beberapa festival film dunia, memunculkan tantangan bagi sineas Asia untuk keluar dari kecenderungan perspektif masyarakat Barat dalam melihat Asia, dan bisa membawa cara pandang baru. Hal ini disampaikan Ifa Isfansyah selaku Direktur Eksekutif JAFF 2013 pada konferensi pers, Jumat, 15 November 2013 di SAE Institute, Jakarta. 

JAFF tahun ini akan dibuka dengan film dari Malaysia garapan U Wei dengan judul Hanyut dan ditutup dengan film Cold Eyes karya Cho Ui Seok dan Kim Byung Seo dari Korea Selatan. JAFF akan diisi dengan beberapa program: Feature Film Competition, Short Film Competition, Feature Film Non-Competition, Short Film Non-Competition, Special Program, Special Screening, dan Public Lecture.

Ada lima film Indonesia yang akan berkompetisi di Feature Film Competition: Don’t Talk Love (Mouly Surya), Denok dan Gareng (DS Nugraheni), Toilet Blues (Dirmawan Hatta), Jalanan (Daniel Ziv), dan Rocket Rain (Anggun Priambodo). Jika empat film pertama telah diputar di beberapa festival film luar, Rocket Rain baru akan tayang pertama kali di JAFF. Ada delapan film dari negara Asia lainnya dalam seksi ini.

Sedangkan dalam Short Film Competition, ada enam film Indonesia yang lolos seleksi kompetisi: Kamu di Kanan Aku Senang (BW Purbanegara), Liburan Keluarga (Tunggul Banjaransari), Halaman Belakang (Yusuf Radjamuda), The Flaneurs #3 (Aryo Danusiri), Sepatu Baru (Aditya Ahmad), dan Lewat Sepertiga Malam (Orizon Astonia). Ada 12 film Asia yang berkompetisi di seksi ini.

Para peserta kompetisi akan memperebutkan Golden Hanoman Award untuk film Asia terbaik pertama, Silver Hanoman Award untuk film Asia terbaik kedua, Geber Award untuk film Asia pilihan beberapa komunitas film, Blencong Award untuk film pendek Asia terbaik, serta NETPAC Award untuk pembuat film yang memiliki kontribusi bagi gerakan sinema baru di lingkup Asia. Penilaian akan diberikan oleh empat kelompok juri: Juri JAFF (Stanley Kwak, JB Kristanto, U Wei), Juri NETPAC (Hikmat Darmawan, Thomas Nam), Juri Komunitas (Suryo Wiyogo, Novi Hanabi, Bowo Leksono), dan Juri Film Pendek (Prisia Nasution, Matsue Tetsuaki, Ari Syarif).

Di program non-kompetisi, ada film terbaru Tonny Trimarsanto, Walking to the West, film Hari Ini Pasti Menang karya Andibachtiar Yusuf, dan Something in the Way karya Teddy Soeriaatmadja sebagai perwakilan Indonesia. Serta sembilan film pendek Indonesia yaitu Akar (Amelia Hapsari), Fitri (Sidi Saleh), A Lady Caddy Who Never Saw a Hole in One (Yosep Anggi Noen), Vulgar (Ladya Cheryl), Lembar Jawaban Kita (Sofyana Ali Bindiar), Pingitan (Orizon Astonia), Lawuh Boled (Misyatun), Umar Amir (Eldiansyah Ancha Latief), dan Gazebo (Senoaji Julius).

 

Korea

Selain pemutaran kompetisi dan non kompetisi, JAFF 2013 juga membuat Special Screening yang terdiri dari beberapa program. Pertama, program National Figure on Cinema yang memutar film-film biopik tokoh yang dianggap berjasa membangun ke-Indonesia-an, yaitu Sang Pencerah, Soegija, dan Sang Kyai. Kedua, Focus on Korea, yang memutar beberapa film Korea Selatan antara lain Miracle in Cell No. 7 dan The Thieves. Menurut Ifa, Korea Selatan dipilih karena belakangan ini negara tersebut telah menjadi kiblat baru sinema Asia. Diskusi tentang Distribusi dan Produksi Film Korea Selatan dengan pembicara Stanley Kwak akan melengkapi program tersebut. Ketiga, program Ngerjain (Film) Teman, sebuah program yang menindaklanjuti inisiatif beberapa pembuat film Indonesia pada JAFF 2012. Berangkat dari kekhawatiran bahwa selama ini mereka hanya berkarya di zona aman, program ini menantang mereka untuk membuat film dengan pendekatan di luar kebiasaan masing-masing. Pembuat film yang terlibat dalam program ini adalah Bambang “Ipoenk” KM, Paul Agusta, Ismail Basbeth, Jason Iskandar, Bani Nasution, dan Jeihan Angga. 

Special Program JAFF kali ini akan hadir dengan tema Film For Social Movement, yang bekerjasama dengan Yayasan Danny JA. Yayasan Danny JA adalah lembaga yang menggagas gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi, dimana salah satu bentuk kampanye dilakukan lewat film. Yayasan Danny JA berkolaborasi dengan Hanung Bramantyo memproduksi 5 film dengan tema diskriminasi dari berbagai latar belakang: Sapu Tangan Fang Yin (Karin Bintaro), Romi dan Juli dari Cikeusik (Indra Kobutz), Cinta yang Dirahasiakan (Rahabi MA), Bunga Kering Perpisahan (Emil Heradi), dan Minah Tetap Dipancung (Indra Kobutz). Program ini juga menghadirkan seminar “Film untuk Gerakan Sosial” dengan mengundang lembaga-lembaga yang menggunakan film sebagai medium kampanye sosial, para pembuat film, dan komunitas film.

Untuk program Public Lecture, ada dua acara bedah buku: Krisis dan Paradoks Film Indonesia karya Garin Nugroho dan Dyna Herlina serta buku Malaysian Cinema in a Bottle: A Century (and Bit More) of Wayang karya Hasan Muthalib dari Malaysia. JAFF juga menghadirkan sarasehan NETPAC, tempat pertemuan kritikus-kritikus film dunia yang peduli terhadap sinema Asia, untuk membicarakan perkembangan sinema Asia ke depan. Setiap tahunnya, JAFF juga menjadi ajang bertemu para penggiat komunitas film lewat kegiatan Forum Komunitas. Pada forum ini, masing-masing komunitas berkesempatan untuk berbagi tentang perkembangan komunitasnya. Tahun ini, beberapa komunitas yang akan hadir di JAFF adalah komunitas film Palu, Jember, Medan, Banten, Bandung, Solo dan Yogyakarta sebagai tuan rumah. Tahun ini, JAFF juga berkolaborasi dengan penyelenggaraan Bienalle Jogja. Tidak jarang film dan seni rupa saling beririsan di ruang “pasar” yang sama. Maka dari itu, salah satu program diskusi akan membicarakan tantangan seni di Indonesia dengan menilik kasus seni rupa dan film.

JAFF juga mengadakan kegiatan pra festival berupa Open Air Cinema yang akan diselenggarakan di Kampung Brayut, Desa Tembi, dan Kampung Kotagede. Beberapa film yang akan diputar dalam program ini adalah Cita-citaku Setinggi Tanah, Ambilkan Bulan, Man Dove, dan beberapa film pendek Indonesia.

Tahun lalu, JAFF berhasil menghadirkan 11.782 pengunjung dengan 183 film. Bagi Ifa, setelah tujuh tahun penyelenggaraan, JAFF telah memberikan dampak bagi masyarakat kota Yogyakarta. “Kota yang pada awalnya tidak memiliki budaya sinema, kini telah memiliki penontonnya, dan juga penonton-penonton baru. Perkembangan terjadi karena konsistensi. Festival juga mencerminkan keadaan kotanya. Selain itu, yang juga penting dari festival adalah memberikan pengalaman menonton. Pengalaman menonton menciptakan budaya menonton. Harapannya, JAFF bisa memberikan pengalaman bahwa film juga bisa dinikmati dengan cara ini, bahwa film Asia banyak macamnya, bisa bervariasi, dan berbeda dengan film-film yang dihadirkan di jaringan arus-utama.” ujar Ifa lagi. 

Penyelenggaraan JAFF tahun ini juga didukung berbagai lembaga seperti Korean Culture Centre, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, LOCFEST, dan Djarum Bakti Budaya. Untuk informasi lengkap mengenai JAFF, kunjungi situs resmi JAFF

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.