Joko Anwar: Lebih Tertarik Karakter daripada Teknis

Wawancara :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Joko Anwar ketika diwawancara FI di Kemang, Jakarta, 18 April 2012. (Foto: FI)Joko Anwar adalah salah satu anak muda yang masuk ke perfilman nasional pasca reformasi. Awalnya kritikus dan jurnalis film untuk Jakarta Post, Joko masuk ke dunia produksi tahun 2003 sebagai asisten sutradara untuk Biola Tak Berdawai dan penulis naskah Arisan!. Barulah kemudian ia menyutradarai film panjang pertamanya, Janji Joni, di tahun 2005.

Selang tujuh tahun, nama Joko Anwar sudah beredar di kancah internasional. Modus Anomali, film panjang keempatnya, diputar perdana di South by Southwest, sebuah festival kebudayaan di Texas, Amerika Serikat, bulan Maret 2012. Dua film Joko sebelumnya, Kala (2007) dan Pintu Terlarang (2009), dipilih sebagai salah satu film terbaik di tahunnya oleh Sight & Sound, majalah film terbitan British Film Institute.

Pada tanggal 18 April 2012, redaksi FI mendapat kesempatan mewawancarai Joko Anwar di Kemang, Jakarta. Sejam lebih ia bercerita tentang proses produksi Modus Anomali dan pandangannya tentang sinema.

 

Modus Anomali

Film Indonesia (FI): Dalam film-film Anda, saya menangkap selalu ada trivia-trivia yang merujuk ke film Anda berikutnya. Di Janji Joni, ada poster film Kala. Di Kala, ada Pintu Terlarang di nomor telepon yang diputar Sari (Shanty). Di Pintu Terlarang, ada jalan dengan nama Modus Anomali. Kesan yang saya tangkap Anda sudah punya rencana yang jelas untuk karier film Anda. Anda seperti sudah tahu film apa yang Anda akan buat berikutnya. Apakah memang begitu atau trivia-trivia tadi hanya kebetulan saja?

Joko Anwar (JA): Sebentar. (Joko membuka iPhone dan menunjukkan daftar judul film) These are my plans for my movies. Semua ada di sini. Termasuk film terakhir saya. Saya percaya kalau kita harus selalu punya goal yang jelas, whoever we are, mau kerja di mana saja, di bidang mana saja. Punya goal itu tujuannya supaya bisa bikin plan dan strategi yang jelas. Kalau nggak punya goal, kita bakal gampang melenceng. Saya sudah lihat banyak contohnya, terutama di Indonesia. Teman-teman saya waktu awal-awal masuk film, mereka punya mimpi untuk buat big things. Tapi karena mereka nggak punya goal, tidak ada plan, ketika ada satu hal terjadi, misalnya nikah dan harus cari duit untuk menghidupkan keluarga, mereka selalu bilang iya untuk setap tawaran yang datang, walaupun tawaran itu tak sesuai dengan apa yang mereka mau. Jadinya mereka ke pinggir, nggak maju-maju, nggak jalan ke apa yang mereka mau di awal-awal.

Empat film pertama saya, dari Janji Joni sampai Modus Anomali, semuanya saya niatkan sebagai sekolah film saya. Di situlah saya belajar produksi film, karena saya tidak sekolah film. Rencananya empat film ini untuk belajar. Waktu buat Janji Joni, I don’t know what film is. Waktu syuting hari pertama, clueless banget. Saya nggak tahu harus melakukan apa. Ya udahlah, pakai insting. Teknis, bullshit. I don’t know anything about filmmaking. Untungnya pernah jadi astrada, jadi punya modal sedikit. Kala jadi semacam ujian praktek. Saya mempraktekkan apa yang saya pelajari tentang cinematic storytelling dengan kamera dan segala macam.

Waktu itu ibaratnya begini: semuanya textbook, walaupun textbook-nya nggak ada. Saya belajar dari film-film seperti film-film Akira Kurosawa dan Peter Weir. Ada beberapa shot yang sangat praktis untuk menyampaikan banyak hal. Efektif banget. Saya pelajari itu. Jadilah di Kala, saya susun filmnya shape demi shape. Contohnya begini, everything related to goodness, saya penuhi adegannya dengan garis lurus. Everything related to corruptness, evil and bad things, saya penuhi adegannya dengan garis lengkung, baik setengah bulat maupun bulat sekalian. Ternyata itu efektif untuk menyampaikan cerita unconsciously. Jadi saya nggak perlu, misalnya, kasih narasi kalau Kala bercerita tentang sebuah kota korup yang berisikan orang-orang cari aman. Dengan bahasa gambar tadi, semuanya sudah tersampaikan. Di adegan pembukaan Kala, ada barisan orang-orang pakai payung lewat searah. Tiba-tiba muncul Janus (Fachri Albar) menerobos berlawanan arah, dari kanan ke kiri. Kita kan terbiasa baca dari kiri ke kanan. Gerakan Janus ini menganggu pandangan kita. Dari sini kita tahu, kalau apapun yang berhubungan dengan tokoh ini pasti akan ada apa-apanya.

Pintu Terlarang sama saja. Everything is related to shapes. Modus Anomali memang saya rencanakan sebagai film terakhir saya untuk masa belajar, where everything is very tight. There is no prop. Just camera and the actors. Kalau Anda tanya sebelum saya bikin Modus Anomali, tanya apa itu storytelling, saya bisa jawab banyak. Setelah Modus Anomali, saya akan bilang bullshit. Storytelling is everything within the frame. Apa yang bisa anda lihat dan apa yang bergerak. Yang bergerak itu banyak: ada pemain, ada kamera, ada segala macam. Modus Anomali is intensely very minimal. Tadinya saya mau syuting cuma dua hari, secara real-time, dari John Evans bangun sampai dia tidur lagi.

FI: Kenapa akhirnya tidak bisa syuting dua hari saja?

JA: Nggak mungkin. Secara lokasi, secara persiapan set, secara jadwal. Jadinya syuting sembilan setengah hari.

FI: Apakah ada kendala teknis selama syuting di hutan?

JA: Untuk Modus Anomali, masalah teknis muncul karena kami nggak punya peralatan yang cukup. Pas tracking shot Rio Dewanto lari-lari di hutan, orang-orang film kaget lihatnya, orang-orang awam pasti take it for granted. Seratus meter lari di hutan dan gerakan kamera mulus. Ruangnya sebenarnya nggak leluasa. Di Amerika, orang biasanya pakai motion control. Kami pakai tali, ikat kamera di situ, terus dilempar. Untuk adegan-adegan yang masuk kolong, kami pakai wajan penggorengan. Taruh di kolong, terus kamera bisa diselipkan dan didorong. Awalnya kami pakai kotak, tapi hasilnya tidak sesuai dengan yang saya inginkan.

Saya selalu memperlakukan kendala teknis sebagai bagian dari pembelajaran. Kalau syuting mulus-mulus saja, kami layak untuk bertanya-tanya: apa yang kami lakukan ini benar atau salah ya? Waktu di Kala, pas syuting dua hari di asrama militer, tadinya kami dapat izin syuting dua hari. Hari kedua mendadak nggak boleh, karena bos asrama belum lapor ke komandannya. Jadilah kami bangun set sendiri dengan sangat cepat. Hasilnya malah lebih baik.

FI: Berapa banyak kru yang dibutuhkan waktu syuting di hutan?

JA: Waktu take, kru tak boleh lebih dari delapan orang di set. Supaya efektif. Tapi ada juga kru lain, di luar hutan.

FI: Modus Anomali memang sejak awal diniatkan berbahasa Inggris?

JA: Ya. Sejak awal ditulis dengan bahasa Inggris.

FI: Kenapa?

Joko Anwar dan Rio Dewanto di lokasi syuting. (Foto: Lifelike Pictures)JA:  Sebenarnya pas press conference kemarin (setelah press screening di Pacific Place, Jakarta, 17 April 2012), saya jujur jawabnya. Bahasa gampangnya, ada yang nanya, “Kenapa bahasa Inggris?” Ya, karena ceritanya nggak terjadi di Indonesia. Sesederhana itu. Which is true. Tapi juga ada jawaban panjangnya. Saya sebagai manusia, di luar saya sebagai filmmaker, saya selalu menentang yang namanya boundaries. Dengan batas, muncul pikiran yang sempit. Begitu kamu punya batas, kamu merasa sebagai orang Asia, Amerika, Eropa, punya agama. Ini sering banget dipakai oleh orang-orang yang merasa tidak memiliki identitas. With those boundaries, come clashes. Orang perang karena itu kan. Saya paling benci kalau ada orang nuduh Malaysia ambil batik Indonesia. What do you care about? It’s humanity, man!

Misi personal saya di dunia ini, bukan cuma di film, adalah menghancurkan batas. Semua karya-karya saya tentang itu, termasuk Onrop!, termasuk nanti misalnya saya nulis buku. Di Kala jelas. Jawa tapi pakai baju film noir. Di Pintu Terlarang, Jakarta tapi rasanya kota-kota di Amerika. Di Modus Anomali, ya bahasa. Kalau ada yang nanya, film itu dimana kejadiannya? Siapa yang peduli. Bukan itu intinya.

Meski begitu, karya-karya saya yang lain juga ada yang terasa lebih “Indonesia” atau “Jakarta”. Film pendek seperti Durable Love atau Waiting Room, yang lagi saya buat . Naskah-naskah saya juga ada yang begitu. Fiksi, Quickie Express. But, I’m not making a film about Indonesia. I want to make a film about a very simple story. It’s a genre film. It’s not “art” or whatever. Saya mau bikin film genre yang mengeksplorasi banyak hal, yang menghancurkan batas. Saya nggak mau buat film genre saja. I have seen many movies like that. I’m a movie buff and I’m bored. Kalau ada orang yang suka dengan karya saya, itulah target audience saya. Kalau nggak, ya bukan. Kalau ada orang yang tak suka film saya, ya sudah, saya tak mau ambil pusing. I’m unfazed by that. But I know some people will like my films.

FI: Sebagai penggemar film, film-film apa yang menjadi preferensi Anda? Atau sebutlah inspirasi Anda, akar sinematik Anda sebagai penonton film.

JA: Saya tidak pernah punya spesifik satu pembuat film yang karya-karyanya saya suka, sampai saya puja-puja orangnya. Saya perhatikan karyanya saja. Bukan orangnya. Ya, saya tahu tentang mereka dari koran, internet, berita saja. Cukup dari situ. Saya nggak mau bodoh juga. [Tertawa]

Tapi ada beberapa film yang buat saya milestone. One of the great movies ever made, for me, is Punch Drunk Love (Paul Thomas Anderson, 2002). Soalnya tahun 2001 sampai 2002, saya bosan dengan film. Pada waktu itu, saya pun mengalami personal low. Saya udah nggak percaya lagi dengan cinta, tapi bukan karena itu saya nonton Punch Drunk Love ya. [Tertawa] Keduanya itu pecah. Oh, I like movies and I believe in love. Satu lagi Lost Highway (David Lynch, 1997). Film itu menunjukkan keberanian seorang pembuat film untuk menjelajah, untuk bercerita. Nggak asal. Itu yang membangunkan saya.

Ada satu film yang saya benci pas pertama kali nonton. Pas selesai nonton, saya benar-benar teriak, “Film apaan sih ini!” Pas nonton kedua kali, saya jatuh cinta sama film itu. One of the best films ever made. Tahu filmnya apa? Lost in Translation. [Tertawa] Nah, saya jadi teringat Modus Anomali pas di SXSW kemarin. Ada satu resensi di hari pertama yang bilang, “One of the worst film I have ever seen.” Di hari kedua, orang itu nonton lagi dan bikin resensi baru. Judulnya Horror at SXSW: Modus Anomali and Films that Kill a Second Time Around. [Tertawa]

FI: Kembali ke Modus Anomali. Berarti penggunaan bahasa Inggris di film itu bukan karena ada niat untuk mengedarkan Modus Anomali untuk audiens internasional?

JA: Pemikiran itu datangnya belakangan. Pas produser saya nanya kenapa filmnya pakai bahasa Inggris, jawaban saya: I want to spark discussions. Kami sama sekali tidak pernah bicara soal audiens internasional. Kami tahu kalau pasar Indonesia lebih yang kita harapkan. I want to spark discussions. Saya tak terlalu ambil pusing dengan pertanyaan soal nasionalisme dan segala macam, hanya karena saya menggunakan bahasa Inggris di Modus Anomali. Mungkin yang tanya seperti itu juga tak nasionalis orangnya, malah kesannya kaya inferior complex. Lihat Jackie Chan. Dengan aksen Mandarin seperti itu, dia bisa main di Hollywood pakai bahasa Inggris. Apa orang-orang Cina ambil pusing dengan itu? Nggak kan. Penelope Cruz juga begitu. Makanya saya aneh lihat orang-orang tanya kenapa Modus Anomali pakai bahasa Inggris. Ini bukan sekadar masalah penggunaan bahasa. Ada hal-hal lebih besar yang lebih pantas didiskusikan.

FI: Seingat saya, Modus Anomali memenangkan grant dari Network of Asian Fantastic Films di Puchon, Korea Selatan. Bagaimana pengaruhnya ke komposisi pendanaan filmnya?

JA: Pendanaan dari private investors. Puchon sedikit duitnya. Sebenarnya setelah menang di Puchon, orang-orang dari Australia, Jepang, dan Filipina mau biayain. Tapi kami bilang, nggak usahlah, filmnya murah. Daripada pusing. Nanti saya nggak bisa buat apa yang saya mau. Kami juga mempertimbangkan rights dan segala macam. Kemenangan di Puchon membuat buzz yang cukup besar untuk Modus Anomali. Sebatas itu saja.

FI: Kabar tentang Modus Anomali sudah saya dengar April tahun 2011. Kira-kira berarti setahun sampai akhirnya Modus Anomali rilis. Anda syuting sepuluh hari. Sisa waktunya banyak dihabiskan di mana?

JA: Di desain produksi. Desain berarti semuanya ya, mulai dari gerakan kamera, set, segala macam. Bikin desainnya nggak lama sebenarnya, tapi back and forth yang bikin lama, proses diskusinya. Tiga hari sebelum syuting, kami ke lokasi, bikin filmnya dulu pakai handycam. Untuk koreografi. Untuk orang art sama kamera supaya tahu nanti harus bagaimana, geraknya bagaimana, posisinya bagaimana. Semacam storyboard, tapi storyboard kan cuma kasih letak karakternya aja. Orang art dan kamera masih harus kerja keras lagi dari situ. Jadilah kami pakai handycam dulu. Bangun set, kabin-kabin di hutan itu, juga makan waktu banyak. Sama uang. Uang banyak habis di situ sebenarnya.

 

Joko Anwar mengarahkan Marsha Timothy sebelum pengambilan gambar. (Foto: Lifelike Pictures)Pandangan tentang Sinema

FI: Sebagai pembuat film, Anda tak berasal dari latar belakang produksi. Sebelum menulis naskah Arisan dan menyutradarai Janji Joni, Anda intens bekerja sebagai kritikus dan jurnalis film untuk Jakarta Post. Ketika akhirnya ganti profesi jadi pembuat film, apakah ada perubahan dalam cara Anda melihat film?

JA: Saya sendiri tak pernah melihat film sebagai sesuatu untuk dianalisa. Bahkan pas jadi kritikus film, saya tak pernah masuk ke bioskop dengan tujuan untuk menulis film yang akan saya tonton. Nggak pernah. Saya lahir dan besar dengan film. Dari kecil, saya nonton di bioskop, walau seringnya lewat kisi-kisi jendela lubang angin. Movies inspire me. Sehingga akhirnya saya mau keluar dari tempat tinggal yang waktu itu tak kondusif untuk seorang anak yang ingin berkembang. I never judge movies.

Kalau ditanya sekarang, saya melihat film sama seperti saya waktu kecil. Sama. Saya masuk ke bioskop nonton film dengan blank page, termasuk film-film Nayato [Fio Nuala] maupun KK Dheeraj.

FI: Menarik kemudian melihat pendirian Anda sebagai pembuat film. Kalau kita mau pakai logika yang paling sederhana, ada dua jenis pembuat film: satu berorientasi pasar, satu lagi berpaku pada misi tertentu, entah itu pernyataan personal, sosial, politik, budaya, macam-macam. Dari film-film yang Anda buat, agak susah mengotakkan Anda di salah satu kategori tadi. Di satu sisi, Anda membuat film-film genre, tapi bukan genre yang laris untuk pasar Indonesia. Di sisi lain, pencapaian teknis film-film Anda begitu menutupi wacana apapun yang Anda niatkan dalam film, kalau memang ada. Sebagai pembuat film, Anda melihat diri Anda sebenarnya berpijak di mana?

JA: Itu dia masalahnya. [Tertawa] That’s a very good question. Begini, saya lebih melihat pembagian sutradara. Kalau kita bagi jadi dua, seperti yang Anda lakukan, ada filmmaker for hire. Misalnya ada produser mau bikin film, “Panggil siapa ya? Oh Rudi Soedjarwo kayaknya oke.” Semacam itu. Bahkan Garin Nugroho termasuk filmmaker for hire. Satu lagi, filmmaker with something to say, atau filmmaker yang buat film berangkat dari idenya sendiri. Buat saya, pengkategorian macam ini lebih tepat.

Kalau ditanya di mana saya di antara dua standpoint itu, saya jelas bukan filmmaker for hire. Saya mau bikin film karena memang saya mau bikin film. I want to tell stories. Or I want to say something through stories. Kebanyakan film-film saya memang tidak ingin mengatakan apa-apa. Just stories. Kadang orang-orang yang misunderstand film-film saya, karena mereka think too much about it. They look too much into it. Kala dan Pintu Terlarang, misalnya, itu film-film buat saya belajar filmmaking. Sebenarnya apa yang saya mau katakan lebih sedikit dari apa yang saya mau ceritakan. I just want to tell stories.

Bercerita lewat film ya lewat elemen teknis dan estetika. Modus Anomali, misalnya, film itu terlihat seperti dibuat tanpa teknik, padahal sebenarnya sangat technical. Gerakan kameranya sangat shaky, karena memang sengaja dibuat shaky. Bukan karena kami tak bisa buat kameranya steady. Ada alasan di balik itu. Dengan bercerita, berarti saya juga mau sebanyak orang mungkin mendapatkan film itu kan, yang berarti juga sebenarnya saya berpikir tentang pasar.

Janji Joni sebenarnya makes a good profit. Kala ya itu flop, tapi saya bisa paham kenapa begitu. Kurang promosi, dan film apapun yang kurang promosi pastilah sulit menarik penonton. Pintu Terlarang actually makes quite good money. Kalau film-film saya dibilang tak ramah pasar, saya cuma buat satu film flop. Kalau film saya ditarik ke budaya, hmm, I don’t know. Film-film Nayato dan KK Dheeraj itu sudah jadi prasasti budaya, tentang how bad filmmaking can be in Indonesia tahun 2000an. So, I don’t know.

Pastinya, saya tak pernah bikin film buat show off, buat pamer, buat gaya-gayaan. Modus Anomali ini, misalnya orang suka, fine, misalnya tidak, fine juga. Ketika film saya terlihat gaya-gayaan, because that’s my way of telling stories, through technicalities and aesthetics.

FI: Dari penjelasan Anda, bisa nggak saya bilang kalau Anda punya ketertarikan mengeksplorasi bentuk film? Teknis, gambar, bentuk fisik film.

JA: Misalkan Anda tanya ke kru-kru dan aktor-aktor saya, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan pemain film saya, baru ke kru. Yang terakhir misalnya, Modus Anomali, saya menghabiskan tiga bulan dengan pemain saya. Tiga bulan, intens. Saya menghabiskan waktu dengan kru malah baru dekat-dekat syuting. Sama halnya dengan Kala dan Pintu Terlarang sebenarnya. Saya tertarik dengan teknis, hmm, I’m not sure, mungkin iya, mungkin nggak.

Saya lebih tertarik dengan karakter daripada teknis. Di Janji Joni, buat saya Joni adalah ikon. Memorable character. Di Kala, ada Janus sama Eros. Kalau misalnya film itu banyak nama karakternya, orang akan ingat nama-nama itu. Di Pintu Terlarang, jelas Gambir. Orang ingat dengan dia. Di Modus Anomali, saya rasa orang akan ingat dengan John Evans. So, I’m more interested in characters than technicalities. Teknis nggak pernah saya taruh di depan.

FI: Berarti cara Anda menyusun film adalah dengan mengkonsep karakternya dulu, baru kemudian mencari teknis yang tepat untuk mendukung karakter tersebut?

JA: Exactly. How to tell stories or how to bring these characters into this journey. Caranya ya lewat teknis dan estetika film.

FI: Sebagai mantan kritikus film yang sekarang membuat film, bagaimana Anda melihat kritik film di Indonesia sekarang?

JA: Kritik film sekarang kan udah nggak kaya dulu. Dulu harus menanggung label “kritikus film”, nulis di koran atau majalah. Media-media besar. Mereka dibayar untuk menganalisa, membedah, dan menulis tentang film. Sekarang lebih informal. Orang bisa menulis di blog. Menurut saya, malah lebih oke. Karena mereka bertindak sebagai film viewer. Sekarang orang menonton film karena mereka cinta dengan film. Kritik film sekarang ada di blog dan Twitter bahkan. Biasanya kan pembuat film sekarang kalau baca kritik film karena mau mengumpulkan bahan buat promosi. Carinya ya ke blog dan Twitter.

Suasana syuting Modus Anomali. (Foto: Lifelike Pictures)FI: Kalau Anda membaca resensi tentang film Anda, bagaimana pengaruhnya ke Anda sebagai pembuat film?

JA: Saya pembuat film dan juga manusia. Kalau baca resensi film saya, apalagi yang bilang nggak suka, saya nggak mungkin nggak bereaksi begitu saja. Pasti ada lah dua-tiga menit pikir dulu. Terus ya sudahlah. Tapi kalau misalnya saya baca ada resensi yang muji-muji film saya, terus saya retweet, itu sama sekali bukan buat saya. Saya tak percaya itu. Murni karena promosi. Saya pernah ngobrol sama Lala [Timothy], “Boleh nggak gue tweet komentar yang jelek-jelek aja?” Dia jawab nggak boleh lah. Ini urusan promosi.

Tapi ada yang menarik dari pertanyaan Anda tadi soal di mana pendirian saya sebagai pembuat film. Jadi menarik buat saya, karena saya pun tak pernah menempatkan diri saya. Ini di luar kategori for hire atau satunya lagi. Ini juga di luar soal genre. Kalau Hanung [Bramantyo], kita bisa taruh di garis film-film yang politically correct. Standpoint dia di situ. Kalau saya, nggak tahu. Saya nggak tahu. Nggak mau tahu. Kematian dari seorang kreator adalah ketika dia merasa belong to something. Ketika seorang kreator merasa belong to something, dia akan punya obligasi untuk mempertahankan itu. Padahal yang namanya seni, sifatnya kan membebaskan. Bagaimana bisa membebaskan kalau pembuatnya sendiri tidak bebas? Kalau kamu mengkategorikan dirimu sendiri, atau kalau orang mengkategorikan kamu, kamu terima dan nyaman di situ, itu bahaya.

FI: Pernyataan Anda ini menjadi menarik karena dalam tiga film terakhir, Anda bermain di genre thriller. Ini menjadi pertanyaan sendiri juga bagi saya: apakah genre thriller menjadi zona nyaman Anda atau akan bermain-main di genre lain?

JA: Nggak. Saya sendiri tidak pernah berencana juga menjadikan thriller sebagai zona nyaman. Bahaya. Saya suka Madonna, bukan musiknya, tapi cara dia selalu berusaha mencoba hal-hal baru. Sama halnya dengan Radiohead. Di film, ada Paul Thomas Anderson. Menurut Anda, Paul Thomas Anderson itu reinkarnasi dari siapa?

FI: Kalau melihat pendekatan film-filmnya, saya kira Robert Altman.

JA: Buat saya, Stanley Kubrick. He never made the same movie twice. Paul Thomas Anderson begitu. Begitulah. Kalau ada yang memuji film saya, apakah saya terima begitu saja pujiannya? Tidak juga. Kalau ada yang mengkritik, maybe right, maybe no. Apalagi kalau yang dikritik latar belakang saya sebagai pembuat film, sebagai manusia, nggak masuk akal. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala saja. [Tertawa] Itu ya susahnya kalau nonton film dengan baggage, dengan ekspektasi dan prasangka. Makanya saya bikin film yang kalau ditonton, ya udah masuk saja, nonton, nggak usah berharap apa-apa. Karena nggak tahu juga ini apa. Karena itu juga saya belum bikin film drama yang benar-benar drama, because I feel I don’t have big enough understanding of human emotion. Saya harus lebih dewasa, masih harus belajar lagi, untuk memahami emosi manusia.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.