Lola Amaria: Gue Mencintai Proses Belakang Layar!

Wawancara :: Penulis: Lisabona Rahman

 

Lola Amaria sebagai Titik ManajerMengawali karir sebagai model lewat kompetisi Wajah Femina tahun 1997, setahun kemudian Lola Amaria masuk ke dunia film sebagai aktor. Film pertamanya adalah arahan sutradara Nan Achnas untuk televisi berjudul Penari (1998), di mana Lola berperan sebagai penari erotis. Masa-masa awal karir Lola di dunia film juga adalah periode kebangkitan kembali industri film Indonesia dan kelahiran para pembuat film baru dalam negeri. Meskipun orangtuanya tidak merestui Lola masuk ke sekolah film, ia mencari berbagai cara non-formal untuk belajar dan merintis jalannya sebagai pembuat film. Semangatnya membuahkan hasil, karya-karyanya sudah meraih penghargaan nasional maupun internasional.

Lola baru saja meluncurkan film layar lebar produksinya yang kelima, Kisah 3 Titik (K3T). Ia bercerita kepada FI tentang produksi film, berburu bakat-bakat baru dan juga tentang masa awal keterlibatannya di dunia film.



Berburu Bakat Baru

Film Indonesia (FI): Dari jamannya Betina sampai sekarang itu kan lo sebenernya milih proyek-proyek yang sangat nekat, bukan proyek-proyek yang aman. Bagaimana lo milih apa yang lo produksi?

Lola Amaria (LA): Kalau Betina memang jelas gue ingin bikin film seperti itu sejak lama. Proyek pertama memang biasanya obsesi, tapi sesudah itu proyek lain datang. Ketika ada kesempatan, kenapa nggak gue ambil? Contohnya Sanubari Jakarta (Sanubari). Film itu unik. Gue nggak pernah sangka hasilnya akan sebegini besar karena respon masyarakat ke proyek ini luar biasa. Awalnya lagi nongkrong aja. Ada Dinda Kanya, ada Lele, yang baru pingin belajar bikin film. Dinda mau nge-direct, tapi karena dia bilang, "Kan gue nggak sekolah film... Memang gue bisa?" Gue bilang, "Pasti lo bisa." Kenapa gue kasih semangat itu? Gue pun begitu, artinya kalau lo punya kemauan, lo akan yakin dengan kemauan lo dan lo akan bisa jalan.

Terus kita bikin workshop pendek untuk film yang judulnya Malam Ini Aku Cantik. Dinda produksi pakai uang sendiri. Kita cari teman lain yang juga ingin bikin film pendek dengan uang sendiri. Kalau bisa jangan semuanya LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transexual - Red), tapi ada yang heteroseksual. Semua yang terlibat di sini campuran. Ada yang sekolah film, ada yang artis, ada yang mahasiswa biasa, bahkan penulisnya masih mahasiswa berumur 20 tahun. Pokoknya nggak ada yang lebih pintar atau yang lebih bodoh. Yang penting kita belajar. Kalau nggak tahu harus tanya dulu, baru jalan.

Ternyata waktu filmnya jadi dan cari sponsor dari sana sini, kita bisa dapat dan bagus hasilnya. Anak-anak ini berbakat. Akhirnya nggak tanggung-tanggung, kita coba ke 21. Pihak 21 cuma tanya, "Sudah lolos sensor, belum?" Kalau sudah, boleh dapat tanggal. Gue tanya ke semua director, "Mau nggak ke 21?" Karena waktu awal bikin film nggak berencana ke 21. Mereka semua mau, kalau lolos sensor. Akhirnya jadi kayak sekarang: masuk bioskop dan melahirkan banyak director baru. Habis itu mereka berjuang sendiri di dunianya. Ada yang langsung bikin film panjang, ada yang bikin FTV (film TV), ada yang bikin iklan.

K3T juga agak unik ceritanya. Kan ada demo-demo berkepanjangan... Gue bertanya-tanya ini ada apa sebenarnya? Ada masalah dengan outsourcing, upah, jaminan sosial dan segala macam... Gue nggak nyangka akan jadi sebesar ini. Awalnya gue mikir, kalau kita bikin film ini yang nonton pasti segmented. Akhirnya kemasan filmnya kita bikin pop, nggak terlalu berat dan fokus ke beberapa topik penting yang orang-orang nggak tahu. Misalnya begini: gue pekerja, gue masuk sebuah perusahaan dan gue nggak tahu hak dan kewajiban gue.

FI: Berarti dalam proyek seperti ini lo yang pilih temanya? Apa lo juga yang menggali ceritanya dan lo juga yang milih sutradara?

LA: Iya. Pilih sutradara, pilih pemain, pilih kru. Tapi karena gue udah bikin Minggu Pagi Di Victoria Park (MPDVP), gue takut bias. Akhirnya gue pilih director yang laki-laki untuk bikin film tentang perempuan. Tapi tetap kita jagain. Kenapa pilihannya Bobby (Prabowo), karena pertama, dia belum pernah bikin film. Yang kedua, dia teman baik yang gue tahu kapasitasnya. Terus yang ketiga, gue yakin banget kita bisa kerjasama.

FI: Apa yang membuat lo memutuskan berada di posisi-posisi lain selain directing?

LA: Itu juga nggak pernah dirancang sedemikian rupa, jadi emang terjadi begitu aja. Kalau jadi sutradara memang impian gue. Gue pingin punya film, pingin nge-direct film dan apa yang gue pingin harus jadi. Ternyata bisa terjadi. Nah, kalau produser sebenernya nggak rumit. K3T ini akan beda hasilnya kalau gue nge-direct. Kenapa gue pilih posisi produser? Karena director-nya baru. Harus di-backup dan di-support dengan orang-orang yang berpengalaman. Dari pengalaman gue sendiri ketika bikin Betina itu gue keteteran karena orangnya baru semua. Gue nggak mau ini terulang. Jadi gue turun tangan untuk nge-backup Bobby.

Misalnya dia harus dapat DOP (Director of Photography – Red) yang bagus untuk menunjang gambar yang bagus dan kuat. Dia harus didukung aktor/aktris yang udah jadi ketimbang dia harus 'coaching' lagi atau harus workshop lagi karena pemainnya baru. Nanti dia keteteran. Terlalu banyak yang harus dia urus. Dia harus didukung sama kru seperti editor yang bagus, musik yang bagus, supaya semua elemennya jadi bagus. Kalau nggak , akan timpang.

FI: Untuk apa 'menumbuhkan' sutradara baru?

LA: Tujuan gue cuma satu: supaya dunia film berwarna dengan anak-anak ini. Jadi nggak cuma dia lagi, dia lagi. Ketika premiere orang bertanya-tanya, "Yang ini punya siapa?" Karena mereka semua style-nya beda dan gue menggabungkan mereka ke dalam sebuah karya. Sebetulnya masih banyak anak-anak di luar sana, bahkan di luar Jakarta, yang potensial. Gue sering ikut jadi juri film pendek, terus ikut LA Lights Indie Movie dan lihat banyak yang bagus-bagus filmnya. Tapi mereka nggak pernah dapat kesempatan. Nah, kayaknya lebih seru kalau ada wadah baru untuk film-film yang memang bagus biar nggak monoton.

FI: Gimana caranya lo tahu mereka akan bagus?

LA: Kan mereka pernah punya show reel sebelumnya. Jadi gue nggak langsung ambil. Biasanya mereka ikut magang dulu supaya ketahuan apa yang dia bisa. Kalau Bobby ini memang bukan teman baru. Gue pernah kerja sama dia beberapa kali. Dia memang pingin banget bikin film dan kalau ngomong juga punya konsep yang bagus. Jadi gue percaya sama anak ini. Dia lulus sekolah film dari Australia. Kalau sutradara lain yang dari Jakarta, rata-rata teman baik juga dan sebelumnya gue pernah kerjasama sama mereka, entah sebagai editor, astrada, pembuat film belakang layar (behind the scene), atau teman main. Jadi paling nggak gue tahu lah apa yang ada di otak mereka dan gue yakin anak ini bisa bikin sesuatu. Kalaupun dari sepuluh misalnya yang miss hanya satu atau dua.

FI: Jadi lo bukan hanya ngasih kesempatan mereka bikin film tapi juga bawa mereka ke network lo?

LA: Kadang-kadang misalnya ada orang yang mau bikin PSA (public service ad/iklan layanan masyarakat, Red). Nah, dari anak-anak ini gue bisa pilih siapa yang cocok. Biasanya untuk video clip, PSA atau kerjaan-kerjaan dokumenter kecil yang nggak butuh orang yang punya nama dan budget-nya nggak besar, gue akan 'oper' ke mereka untuk bikin dan jalan. Paling nggak ini ajang latihan buat anak-anak itu.

FI: Gimana cara ngebangun network ini? Background lo kan sebetulnya model dan aktor, bukan produser.

LA: Nggak ada formulanya. Yang pasti, ketika gue bekerja di film gue ketemu banyak orang. Mereka bukan cuma artis, tapi mungkin sponsor dari beberapa film yang lain. Kenal lalu ngobrol... Dari ngobrol jadi tahu apa yang ada di pikiran kita masing-masing. Dari situ pertemanan dijaga. Dan ketika gue bikin sesuatu mereka gue kasih lihat yang gue bikin. Jadi gue membangun jaringan sendiri yang membuat mereka akhirnya percaya. Ketika ada proyek mereka yang berhubungan dengan film, mereka suka nanya. "Budget gue cuma segini, kira-kira bisa nggak ya?" Ya, gue langsung ambil dong! "Bisa. Tapi yang ngerjain bukan gue, ya." Gue cuma ngejagain.

FI: Berarti lo juga menjalankan fungsi broker tapi sekaligus quality control?

LA: Iya. Dan gue nggak mau juga melepas. Kalau gue lepas, terus nanti dia salah-salah, gue juga yang malu.

FI: Orang-orang ini kemampuannya beda-beda, minatnya juga barangkali juga beda. Gimana caranya lo milih tema untuk mereka?

LA: Sebenarnya awalnya dari bergaul. Misalnya dari geng IKJ ada Aline (Jusria), ada Adri (W. Dewo). Mereka juga kepingin punya karya. Gue tahu karena pernah kerjasama dengan mereka dan berteman dekat. Artinya kerjaan tertentu akan gue kasih mereka karena mereka pasti jago. Ada juga geng artis tapi sekolahnya psikolog, seperti Dinda. Ini lain lagi. Dari berteman dan ngobrol, gue bisa tahu hal-hal apa yang membuat dia semangat. Dari situ gue tahu apa yang cocok. Di antara mereka ada yang pintar presentasi tapi karyanya biasa aja. Ada juga yang nggak bisa ngomong tapi karyanya bagus. Kayak Adri kan yang bikin film yang hitam-putih di Sanubari. Dia nggak bisa presentasi, tapi filmnya bagus. Yang bikin 1/2 juga sama, Tika (Pramesti). Dia nggak bisa nulis. Dia bisanya menggambar dan dia nggak jago presentasi tapi filmnya bagus. Atau ada yang seperti Dinda, ngomong jago, tapi eksekusi kreatifnya harus dijagain. Ada lagi yang seperti Aline, dia nggak jago cari uang tapi jago rekrut teman. Jadi masing-masing keahliannya berbeda! Gue jadi bisa tahu, kalau ada kebutuhan A yang gue bisa kasih si A. Kalau butuhnya C gue kasih yang C.

FI: Jadi lo kayak ngebangun stok...

LA: Ya. Dan mereka nggak terikat. Artinya setelah itu mereka jalan sendiri dan itu sudah hak mereka. Gue senang kalau dari karya awal ini mereka jadi sesuatu.

FI: Untuk peluncuran film, lo juga bikin acara tambahan seperti pameran foto. Dulu MPDVP juga begitu. Kenapa?

LA: Buat gue karya film tidak tunggal. Bisa ada film belakang layar (behind the scene) dan fotografi yang berdiri sendiri. Sebuah produksi yang besar bisa melahirkan banyak karya. Fotografer kita Diana (Putri Tarigan) nggak akan bisa dapat momen seperti ini tanpa ada film ini. Jadi kenapa nggak dimanfaatkan? Dia bisa punya karya sesuai interpretasi dia dan bisa pameran karena event-nya pas. Jarang sekali ada orang yang berpikir bahwa ada karya di dalam karya. Buat gue ini kesempatan bagus karena waktunya pas dan orang-orangnya juga mendukung.

FI: Kenapa hal yang sama nggak berlaku untuk musik?

LA: Nah, untuk musik sebetulnya menurut gue Bonita (and the HusBand) punya kesempatan menjual lagu-lagu yang dia bikin, misalnya untuk Sanubari. Gue membebaskan dia untuk jual ringback tone (RBT), video clip, album single, atau apapun! Tapi gue nggak punya duit membiayai produksinya. Tapi dia tetap bisa saja jalan sendiri dengan karya yang dia punya dan bersinergi. Tapi Bonita itu orang yang idealis. Dia nggak mau jual RBT. Kalau yang dari MPDVP, Endah n Rhesa atau Stranger mau. Dalam Kisah 3 Titik, kita hanya pakai satu lagu dari Bonita untuk title akhir. Gue nggak tahu cara menjualnya karena prinsip Bonita tetap kukuh. Gue nggak mau memaksakan kemauan gue terhadap dia dan gue menghargai pilihannya. Mungkin saja kalau dalam film gue berikutnya Bonita bikin lagu lagi, bisa kita kumpulkan jadi mini album. Barangkali bagus juga kalau kita tunggu sampai terkumpul! [tertawa] Kerjasama dengan Bonita enak. Sama seperti kerjasama dengan Syaharani dalam Betina, walaupun gue mintanya mendadak, tapi dia bisa cepat tanggap. Dia suka ceritanya dan minta waktu dua minggu untuk bikin lagu.

Pada saat pameran foto tanggal 1 Mei, kita putar juga film belakang layar karya Adri. Menurut gue Adri adalah sutradara yang menjanjikan. Mungkin dia belum dapat kesempatan yang bagus. Gue pingin dengan karya film belakang layar ini banyak orang yang lihat bahwa dia adalah sutradara berbakat. Sebetulnya susah juga putar film belakang layar di TV karena harus bayar. Rencana gue setelah diputar di galeri untuk pameran, akan gue masukkan ke YouTube supaya karya Adri bisa kelihatan. Buat gue film belakang layar adalah karya tersendiri. Idenya dari dia, jadi itu memang karya dia, gue nggak ikut campur dari awal sampai selesai. Gue sudah bilang ke Adri bahwa ini karya dia. Hasilnya lumayan lah.

FI: Apa lo akan coba menumbuhkan bakat-bakat baru juga di luar sutradara?

LA: Bakat-bakat baru harus dibina. Caranya, ya, hunting aja. Misalnya ada teman yang bilang, "Kemarin gue shooting sama si A bagus, lho, hasilnya keren!" Terus gue coba lihat. Minta dikenalin, ngobrol. Minta showreel. Gue harus membangun jaringan ini karena kru yang udah mapan pertama mahal, kedua sibuk. Dan mereka belum tentu bisa kerjasama dengan orang baru. Tergantung proyek juga. Kalau uangnya kecil, nggak harus pakai kru mahal ya, mereka bisa diberdayakan. Artinya simbiosis mutualisme! Mereka bisa punya CV dan kita kasih kesempatan buat mereka. Gue senang bisa kerjasama sama orang-orang baru yang bakatnya menonjol. Pasti ada yang 'fresh' dari mereka karena pada masih muda dan menggebu-gebu. Walaupun kadang-kadang saking menggebu-gebunya suka nggak masuk akal! [tertawa] Kemauannya harus diredam! Suka keras kepala yang nggak ketulungan... Padahal seharusnya mereka bisa lihat situasi bahwa ini kerjasama, bukan sendiri-sendiri. Harus dikasih pelajaran juga bahwa lo belajar banyak dari sini, bukan di kampus aja. Jadi menumbuhkan kepercayaan diri buat yang nggak percaya diri, selain bisa kasih lihat bedanya antara tempat sekolah dan lingkungan kerja.



Lola Amaria pada saat menyutradarai Lumba-Lumba (Sanubari Jakarta)Produksi Film

FI: Dalam memilih kru, pasti ada keterbatasan. Produksi film banyak sekali sekarang. Bagaimana cara lo bersaing supaya bisa dapat kru yang baik?

LA: Gue percaya bahwa kru yang terpilih itu memang sudah jodoh. Misalnya gue pingin kru A nih. Sudah sepakat, tapi ada saja halangannya. Pemain juga begitu. Waktu K3T ada satu pemain anak kecil, tokoh anaknya Titik Janda yang sudah workshop dan ikut persiapan dari awal. Tapi pada hari pertama shooting dia kabur. Dia shooting iklan sama orang lain. Kita mampus, kan? Detik itu juga kita harus cari pengganti. Akhirnya dapat yang lebih bagus. Dia nggak ikut latihan. Pemain tokoh ini harus dekat sama Ririn (Ekawati), Mbah Dince (Dimas Hary) dan Rangga (Djoned), itu kan susah! Untung anaknya mau berinteraksi sama orang lain dan cepat akrab. Pada akhirnya dia lebih bagus, meskipun bergabungnya mendadak. Anak yang tadinya sudah latihan dari awal malah kalah bagus sama anak yang baru ini. Gue tadinya udah pasrah dan tanya Bobby, sutradaranya. "Bob, apa lo mau bertahan dengan anak yang kabur atau lo mau cari yag baru? Menurut gue sih kalau anak ini dimaafkan dia akan belagu nantinya, padahal dia belum jadi apa-apa." Tapi keputusan gue serahkan ke sutradara. Bobby memilih cari aktor baru, apapun resikonya. Pilihan pemain itu haknya Bobby, jadi gue kembalikan ke dia. Gue cuma kasih saran. Apapun keputusan dia harus gue harus back-up.

FI: Bagaimana dengan kru lain yang bidangnya lebih teknis?

LA: Ketika baca skenario gue udah tahu, ini musiknya mesti Mas Thoersi (Argeswara). Sekarang gimana caranya deal sama Mas Thoersi masalah waktu dan honor. Pertama kasih dulu ceritanya. Kalau memang dia nggak suka, mau dibayar berapapun dia nggak akan mau, kan? Kalau dia sudah suka ceritanya, baru deal waktu dan gaji. Begitu semuanya disepakati baru jalan. Tapi kadang-kadang waktunya ada, uang nggak cocok. Atau sebaliknya. Ya, kita nggak bisa paksa karena mungkin bukan jodohnya. Tapi ketika bikin film ini Mas Adit (Adityawan Susanto) yang menangani sound suka ceritanya. Waktunya juga ada, fee-pun disetujui. Mas Thoersi, Mas Wawan (I Wibowo) pun begitu. Mas Monod (Nur Hidayat), DOP-nya pun begitu, sedangkan dia membantu banyak sekali dalam produksi ini. Artinya orang-orang yang gue pilih memang pas.

FI: Itu kan orang-orang senior semua. Mereka nggak risih kerja sama sutradara baru pilihan lo?

LA: Nggak, karena gue menjembatani. Gue ada di tengah-tengah mereka dan Bobby. Gue fasilitasi Bobby dan memberi pengertian ke mereka. Yang penting harus ada komunikasi yang baik. Mungkin selama ini banyak kasus miskomunikasi sampai jadi berantem, sampai akhirnya hubungannya berantakan. Orang-orang yang senior ini kadang-kadang ada yang seniman banget, kadang-kadang juga ngatur. Tapi sepanjang itu memang bagus untuk filmnya nggak apa-apa karena mereka pasti kasih masukan supaya semuanya bagus. Tentu nggak semua bisa diakomodir, artinya dari Bobby juga harus jelas maunya apa. Masukan keduanya kita tampung.

FI: Tapi kalau kayak gitu gue ngerasa kok bebannya berat di lo banget?

LA: Banget! Ya, memang! Gue menghindari chaos aja sih.

FI: Mestinya kan si sutradara jadi sparring partner lo dalam soal eksekusi kreatif. Sementara tugas lo mulai dari ngerancang produksi sampai cari duitnya. Kalau kerja sama orang baru begini, beratnya justru karena lo harus...

LA: Mikirin...

FI: Mengontrol eksekusi kreatifnya.

LA: Iya, karena gue membela filmnya. Buat gue, bagaimanapun gue harus bikin produk ini jadi bagus. Karena produk ini bukan milik gue aja, atau mereka aja, tapi milik kami. Semua orang yang terlibat berhak mengklaim ini karyanya. Dan gue pingin semua porsinya pas, nggak cuma menonjol musiknya, audionya, gambarnya atau artistiknya aja. Gue pingin semua racikannya pas dan semua merasa memiliki. Itu fungsi babak belurnya gue di sini. Gue nggak ada masalah dengan capek, kerja sampai nggak tidur, kadang gue harus ngurusin si ini berantem sama si itu. Gue nggak peduli, yang penting hasil yang kita kerjakan bagus. Kalaupun begitu dilihat di layar kesannya biasa aja, tapi kita semua udah berusaha mencapai hasil yang maksimal.

FI: Apa proses belajar dalam produksi dan pasca produksi lebih penting daripada filmnya?

LA: Iya, karena proses belajar itu yang utama. Buat gue tiap film punya nasibnya sendiri. Penonton penting, balik modal juga penting, tapi lebih penting lagi proses jalannya produksi. Mulai dari mendapatkan ide, melakukan riset, memilih kru dan pemain, proses cari lokasi, rapat kreatif, revisi skenario dan berantem-berantem kecil. Begitu mulai shooting udah nggak bisa diganggu-gugat. Begitu shooting, kita pakai dasar semua yang sudah kita setujui. Shooting itu kan cuma eksekusi sebetulnya. Yang ribet itu sebelumnya. Sesudah shooting berjalan, berantem lagi di pasca produksi. Misalnya ternyata sesudah kita lihat, opening-nya harus diganti. Jadi kayak main puzzle. Editor punya kepentingan untuk menjahit film supaya jadi bagus. Sutradara dan DOP juga punya kepentingan. Jadi berantem, tapi berantemnya seru, demi anak yang mau lahir ini! Dan gue berada di tengah-tengah mereka! [tertawa]

FI: Kenapa lo nggak kepingin punya PH (production house/rumah produksi - Red)?

LA: Sedang dirintis!

FI: Kenapa lo selama ini jalan tanpa PH dan pakai PH orang lain?

LA: Terlalu rumit mengurus pajaknya... Kayaknya gue orang kreatif yang pingin fokus itu aja. Gue orangnya bebas, nggak ingin mengurus kantor. Tapi mau nggak mau sekarang harus mikirin itu! Mungkin gue harus kena kasus dulu sama PH. [tertawa] Jadi pengalaman yang sudah-sudah itu jadi pelajaran mahal. Kalau bisa jangan sampai kejadian lagi.

FI: PH ini baru akan berdiri sesudah K3T?

LA: Dan ini pakai nama gue, lho! [tertawa] Ini juga aneh! Harusnya bukan nama gue, tapi nama perusahaan. Mungkin PH-nya mau menghindari pajak, jadi minta pakai nama gue. Gue kan bukan badan hukum. Tapi waktu itu gue nggak bisa tolak. Nah, berikutnya gue harus jalan sendiri!

FI: Akan tetap pakai nama Lola Amaria Production? Jadi lo sebetulnya 'didorong' untuk bikin perusahaan?

LA: Iya! Sepertinya... 'it's a sign' gitu! [tertawa]




Lola Amaria di lokasi syuting Pembalut (Sanubari Jakarta) bersama sutradara muda Billy Christian (kiri)

Tema, Bisnis Film dan Penonton

FI: Pergeseran lo jauh banget dari produksi-produksi awal seperti film-filmnya Aria (Kusumadewa) dan juga Betina yang lebih absurd dan eksperimental secara artistik sampai ke film-film lo sekarang yang lebih politically motivated. Ini kenapa?

LA: Soalnya begini. Semua orang pasti punya karya personal. Betina itu gue anggap film personal gue yang nggak perlu banyak orang harus ngerti. Itu pijakan pertama, hal-hal lain nggak gue pikirkan. Tapi makin lama, ketika kerjasama dengan orang lain, ternyata ada hal-hal yang harus dipikirkan. Misalnya produser, investor, penonton, gaya, jualan dan marketing. Gue harus ngikutin itu karena masuk ke industri. Gue nggak bisa kayak Betina, mau ngapain saja bisa karena bikinnya pakai duit gue. Sekarang nggak bisa begitu karena ini karya 'kami'.

FI: Betina itu duit dari mana?

LA: Duit gue sendiri. Sekarang nggak bisa begitu lagi. Gue mesti cari cara supaya uang investor bisa kembali, filmnya juga harus stylish, musiknya pun harus nge-pop. Gue harus mendengarkan banyak orang kalau bikin karya bersama. Makin lama gue juga mencari bentuk. Gue pingin style gue terbentuk sendiri lewat pilihan film-film yang sosio-realis, berhubungan dengan kemanusiaan seperti LGBT, buruh, TKI. Sepertinya jalan gue akan ke situ meskipun gue nggak dengan sengaja memilih. Sesudah MPDVP gue dapat beberapa tawaran bikin film. Ada tiga film yang gue lepas, meskipun duitnya banyak, tapi kayaknya hati gue nggak di situ. Daripada gue paksa tapi hasilnya jelek, kayaknya lebih baik gue nganggur aja dulu. Atau ada film lain yang gue suka gagasannya, tapi timnya gue nggak suka. Dan gue nggak bisa memilih tim gue sendiri karena proyeknya sudah telanjur jadi, tinggal cari sutradara. Gue nggak bisa juga kayak begitu, takutnya kerja jadi nggak nyaman. Akhirnya gue memilih Sanubari yang nggak ada duitnya atau K3T, tapi gue puas. Ternyata ada hal lain di luar uang yang mungkin membuat gue happy.

FI: Tapi lo kan nggak bisa pro bono selamanya. Waktu yang lo habiskan untuk mengerjakan satu film kan panjang.

LA: Bikin film itu setahun! Caranya begini: gue bikin film yang nggak ada duitnya. Tapi gue juga cari proyek-proyek kecil kayak PSA (iklan layanan masyarakat - Red.) atau dokumenter yang bisa menghidupi. Jadi kayak subsidi silang. Kadang-kadang ada tawaran juga di luar genre gue sekarang. Kayaknya gue akan terima, tapi gue akan minta orang lain yang menyutradarai. Gue hanya menjaga.

FI: Jadi proyek yang lo suka lo kerjain walaupun nggak ada duitnya karena lo percaya filmnya bisa jadi 'tandatangan' lo. Terus kalau proyek cari duit dikerjakan anonim?

LA: Misalnya sesudah gue bikin MPDVP, gue juga dapat kerjaan PSA yang berhubungan sama tenaga kerja. Shooting-nya cuma tiga hari. Sesudah film buruh ini jadi, ada beberapa lembaga donor yang mau bikin dokumenter penyuluhan. Menurut gue ini bagus. Gue mau ngerjain ini karena uangnya ada. Gue juga bisa mengerjakannya sambil liburan, karena shooting di luar kota. Temanya juga bagus, soal kemanusiaan, walaupun filmnya bukan untuk umum. Produksi-nya juga dengan kru kecil. Proyek kayak begini gue kerjakan dengan nama gue, nggak pernah anonim!

FI: Proyek K3T ini bisa diceritakan rencana distribusinya nggak? Kalau gue perhatiin dari tahun kemarin film kita makin susah dapat penonton. lo bukan hanya keluar dengan film yang sangat nggak biasa...

LA: Tapi juga yang jarang penonton... Jadi strategi penontonnya, karena film ini kerjasama dengan pemerintah, yang mungkin juga nggak mengharapkan uang balik, tapi lebih penting sebagai sosialisasi. Jadi yang kita usahakan adalah ketemu serikat-serikat buruh dan pengusaha yang peduli sama buruh. Selain itu juga beberapa LSM yang peduli sama buruh. Kita ngajak mereka untuk nonton bareng booking bioskop. Jadi kita tawarin pas hari libur, mereka booking bioskop, kemudian kita ajak artisnya datang bergantian ke setiap acara. Bisa dibagi wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Tangerang... Dengan begitu kita bisa mengajak orang memenuhi bioskop.

FI: Jadi lo identifikasi benar segmen penonoton lo dan lo giring ke bioskop? Kenapa nggak dibuat road show?

LA: Karena kan masuk 21. Kalau di 21 kan serentak, dengan begitu waktu tayangnya pendek. Kalau kita harus jalanin semua sendiri biayanya akan besar banget. Misalnya kita harus berbagi jalan ke Jogja, Surabaya, Malang, Bandung, Makassar... itu semua kan perlu uang. Kita harus sediakan tiket pesawat sejumlah orang yang diberangkatkan untuk promosi ke setiap kota. Kita nggak mampu lagi menyediakan uang sebanyak itu. Jaman sekarang banyak film yang pakai social media sebagai alat promosi, walaupun nggak selalu efektif. Bisa membantu sih...

FI: Lo berkesimpulan nggak efektif itu dari film yang mana? MPDVP atau Sanubari?

LA: Sanubari sih di Twitter oke banget. K3T ini susah banget. Sesudah sekian bulan akun Twitter-nya cuma punya 400 follower dan nggak naik-naik. Sanubari, mulai dari cuma 100 langsung 10 ribu dalam waktu nggak sampai tiga bulan.

FI: Berarti segmennya berbeda banget.

LA: Iya. Karena banci-banci kan biasanya Twitteran. Jadi memang cepat. Dan layar bioskop juga sedikit untuk Sanubari, jadi penuh terus. Bisa bertahan tiga minggu! Kita cuma putar di Plaza Senayan, Pondok Indah, Blok M, Megaria. Nggak ada tempat lain. Di Senayan yang paling lama, tiga minggu. Padahal jenis filmnya begini. Mungkin juga itu karena Plaza Senayan adalah tempat mereka hangout. Mungkin kalau kita putar di Bekasi atau di mana malah nggak rame. Nah kalau buat K3T, kita sudah coba gempur setiap hari lewat social media, tapi respon-nya nggak antusias. Jadi kita usahakan jemput bola, bekerjasama dengan beberapa komunitas seperti Serikat Buruh atau perusahaan. Misalnya pengusaha punya 1.500 karyawan. Dia bisa kosongkan dua studio untuk karyawannya. Paling berapa sih biayanya? Jadi yang kayak begitu aja. Waktu premiere tanggal 29 April kita mengundang perwakilan dari serikat buruh datang, setelah nonton mereka akan rancang strategi mereka sendiri. Kalau sudah bagian acara ini, peran gue adalah mencarikan jadual artis mana yang kosong untuk semacam jumpa fans. Kita datangi supaya ramai. Bisa nonton bareng sama Ririn atau bisa foto bareng kan bikin para buruh senang. Bisa jadi segmen film ini nggak cuma buruh, juga publik umum. Tapi gue pingin banget para buruh bisa nonton film ini karena ceritanya tentang mereka.

FI: Caranya lo bisa bikin proyek ini dibiayai oleh pemerintah karena pemerintah yang minta atau lo yang cari?

LA: Dua-duanya. Jadi kita saling kerjasama. Mungkin pemerintah juga perlu film ini dan kita punya ide seperti ini, jadi bisa jalan bareng. Kita punya ide tapi nggak punya uang. Pemerintah punya uang tapi nggak tahu mesti diapain. Ini artinya sinergi, kan, sepanjang tidak mengganggu kedua belah pihak. Ada pembicaraan di depan, kita sama-sama setujui, hasilnya dilihat. Film ini kalau dilihat, sama sekali bukan kayak film Kementerian. Biasanya kan film Kementerian itu seperti penyuluhan, terlalu hard sell. Banyak orang tanya, "Gimana caranya lo bisa gabung sama Kementerian tapi filmnya kayak begini?" Bisalah! Kan ada kesepakatan dari awal. Pak Muhaimin (Iskandar) juga nggak pernah reseh ikut campur. Dia bilang kok, "Saya nggak akan ikut campur karena saya bukan ahli di bidang ini." Buat gue ini hadiah. Gue paling benci kalau belum apa-apa sudah dibilangin harus begini dan begitu. Apalagi kalau di tengah jalan harus ada perubahan. Tapi proyek ini seperti durian runtuh.

FI: Administrasinya juga beres? Dana nggak turun telat atau harus mark-up?

LA: Nggak. Dari awalnya dikasih dana sekian dan kita bikin sesuai dengan dana yang ada. Film kan ada yang idea-oriented ada yang budget-oriented. Proyek ini budget-oriented. Dananya ada sekian kita bikin sesuai.

FI: Balik lagi ke soal penonton. Target lo memenuhi bioskop berapa minggu?

LA: Nggak tahu sih, ini juga kita masih deg-degan. Kemarin di Plaza Senayan kita mau ngecek poster dan trailer, sambil nonton film Indonesia Finding Srimulat. Bioskopnya setengah penuh waktu itu. Keren lah film itu, sesudah lewat dari seminggu penontonnya masih banyak. Di sebelahnya ada Mursala. Itu jam tujuh malam hari Minggu, film itu keluar Kamis, berarti itu hari keempat. Gue tanya ke penjual tiket soal penontonnya. Ternyata sejak Kamis film itu belum ada penontonnya. Film itu masih diputar. Tapi kalau hari Minggu itu nggak ada penonton, Senin pasti turun. Jadi gue agak miris melihatnya. Gue takut memikirkan, "Bagaimana film gue nanti, ya?"

FI: Lo bisa pilih bioskop?

LA: Bisa.

FI: Dan lo tetap akan pilih Plaza Senayan untuk film ini?

LA: Iya. Soalnya Plaza Senayan untuk orang-orang yang A+ (kelas menengah ke atas - Red), sama dengan Pondok Indah. Film ini tetap harus diputar di kelas ini di Jakarta Pusat dan Selatan. Biasanya kita juga minta di Megaria, Blok M, Cijantung dan daerah Bekasi, Cikarang, Tangerang yang memang basisnya buruh. Kita bikin 45 kopi DCP untuk 76 bioskop. Itu untuk bergantian diputar di beberapa kota. Tapi nggak tahu di satu bioskop kayak Plaza Senayan akan bertahan berapa lama. Buat gue seminggu aja sudah lumayan, karena pada minggu berikutnya akan ada dua film Indonesia yang baru lagi. Apalagi Iron Man lagi main. Barengan kita juga ada dua film Indonesia lain, filmnya Mouly (Tidak Bicara Cinta) dan Trio Macan. Buat gue, walaupun filmnya Mouly katanya hanya akan diputar di lima bioskop, gue tahu orang mengincar film itu karena filmnya bagus. Meskipun Mouly, sama seperti Edwin, bikin film kelas festival, tapi banyak orang yang juga pingin nonton film jenis begitu, kan?

Buat gue sih kayak main judi jadinya. Kadang gue punya strategi A tapi meleset. Kadang nggak punya strategi apa-apa kayak Sanubari, tapi bertahan. Jadi kalau ditanya bagaimana sistem marketing bagaimana balikin modal atau bagaimana cara menambah penonton, gue nggak tahu lagi!

FI: Tapi untuk proyek ini lo nggak harus balikin modal, kan?

LA: Nggak harus sih, tapi paling nggak gue akan lebih senang kalau yang nonton banyak. Jadi sesudah selesai dari bioskop, kita mungkin akan mengadakan road show layar tancep ke beberapa daerah yang berkaitan dengan buruh. Barangkali ini lebih efektif supaya bisa ada diskusinya juga.

FI: Tapi untuk road show kan lo nggak dibiayai?

LA: Road show akan dibiayai oleh daerah yang minta film ini. Kita akan kerjasama dengan orang yang punya event, sementara kita punya film. Jadi bentuknya kerjasama. Biasanya kalau road show nggak ada penjualan tiket, orang nonton gratis. Biasanya yang bikin acara membiayai perjalanan dan akomodasi, kadang-kadang ada screening fee (sewa film). Penyelenggara acara bisa cari sponsor, selama tidak merugikan kedua belah pihak. Buat gue yang penting filmnya ditonton.



Lola Amaria saat pengambilan gambar Kisah 3 TitikPendidikan

FI: Latar belakang pendidikan lo apa?

LA: Psikologi dan public relations.

FI: Oke, jadi lo kuliah di dua jurusan?

LA: Nggak. Yang satu cuma setahun, tapi yang sampai selesai public relations.

FI: Kan lo nggak sekolah film, ya. Dari mana lo dapat semua keahlian itu? Pertama dari me-manage tim. Film lo Betina itu barangkali kru-nya nggak besar, tapi film-film lo selanjutnya kan semuanya banyak orang dan banyak kepala. Gimana caranya lo me-manage tim dan memastikan bahwa keputusan-keputusan kreatif yang dihasilkan tim ini sesuai apa yang lo mau?

LA: Gue kan punya pengalaman, walaupun nggak banyak, tapi kadang-kadang pengalaman itu berharga. Misalnya di saat yang genting, gue harus ngambil keputusan penting yang nggak boleh salah. Misalnya menentukan opening atau ending. Juga jadual picture lock (tahap akhir penyuntingan gambar). Ini kan deadline yang penting. Kalau misalnya gue terus menunggu-nunggu pendapat orang lain, sampai versi picture lock berubah-ubah, berarti gue nggak punya pendirian. Tapi gue harus yakin dan tahu apa yang gue mau, supaya bisa memutuskan picture lock. Ini juga dipengaruhi perjalanan karir gue sebelumnya. Gue pernah sama Aria lama. Gue pernah juga sama Pic[k]lock lama. Juga sama Nia (Dinata)... walaupun cuma sekali bikin film, tapi Ca Bau Kan itu kan panjang sekali prosesnya. Gue banyak belajar dari sana. Contohnya gue harus mengambil keputusan ketika hari hujan, sementara set harus diambil hari itu juga. Atau jadual pemain yang hanya kosong hari ini, nggak bisa besok. Soal-soal begini kan penting dan genting. Nah, gue nggak bisa nunggu-nunggu dulu baru berpikir. Sense of crisis yang gue punya ini gue dapat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Bukan hanya ngambil keputusan soal teknis film, tapi termasuk juga soal memecat kru atau pemain.

FI: Lo nggak menghadapi resistensi? Nggak ada yang bilang, "Apa-apaan ini anak baru!" ?

LA: Ada! Sering banget! Tapi kan kalau nggak begitu gue nggak maju-maju! Ada orang yang sifatnya kalau dimarahin terus sakit hati, ngomong-ngomong dan provokasi. Itu nggak apa-apa. Kalau buat gue ketika gue masih mau marah-marah atau nyindir itu masih oke. Tapi kalau sampai udah nggak mau negur berarti kan udah males. Kalaupun orangnya [yang gue marahin] sakit hati nggak apa-apa, yang penting dia tahu bahwa dia salah. Dan gue nggak mau membiarkan orang salah berlarut-larut. gue pun kalau marah pasti manggil dan ngomong berdua. nggak mungkin di depan orang. Tapi kalau ada orang yang melakukan kesalahan elementer berkali-kali kan bodoh namanya. Yang penting buat gue orangnya mau ngaku salah dan nggak mengulangi. Sesudah itu kita bisa balik kerjasama lagi. Kalau gue diamkan itu kan nggak mendidik.

FI: Gimana lo ngelihat kaitan antara background pendidikan lo dan cara kerja lo sekarang?

LA: Dari psikologi sebenarnya kan bisa tahu karakter orang. Ilmu itu penting banget. Tapi pada saat gue kuliah gue ngerasa ini pelajaran yang aneh. Tapi ternyata manfaatnya banyak. Untuk film kita butuh [pemahaman] karakter. Dan di lapangan untuk kenal banyak orang dan pemain. Bukan hal yang mudah untuk menyatukan satu kelompok yang lebih dari 10 orang untuk bersama. Kadang-kadang si A suka ngambek. Si B sukanya lain lagi. Kadang-kadang ada yang suka jadi provokator. Dalam produksi yang banyak orang dan waktunya panjang, kemungkinan apa aja bisa terjadi. Entah berantem, provokasi... Ada caranya untuk bisa meredam semua itu dalam waktu yang panjang.

FI: Balik ke soal sekolah film vs non sekolah film.

LA: Buat gue sekolah itu tetap penting! Sayangnya dulu orang tua gue nggak membolehkan gue sekolah film. Tapi karena passion gue gede banget tetap saja balik ke film juga. Dulu nggak diizinkan karena nggak ada masa depan lah, terus mereka bilang "apaan tuh IKJ"! Waktu itu tahun 1995, nyokap gue bilang, "Ngapain masuk IKJ? Segala bentuk maksiat ada di sana!" Ih, padahal di mana aja ada maksiat, kan? Akhirnya gue nggak dikasih izin. Tapi gue tetap gabung sama orang film. Teman-teman gue anak IKJ juga. Tapi buat gue perjalanan karir ini juga kayak sekolah. Gue memang nggak belajar teknis, tapi gue belajar dari buku, ikut workshop, gue dapat beasiswa, gue banyak nonton film dan datang ke forum-forum diskusi, juga belajar dari orang-orang film senior. Buat gue itu ilmu berharga. Gue kejar tuh Garin Nugroho mau diskusi, biarpun hujan-hujanan, karena gue pingin tahu dia jawab apa kalau ditanya penontonnya dan cara dia mempresentasikan filmnya di depan umum. Buat gue itu pengalaman yang sulit, tapi kan gue sudah kepingin banget.

FI: Itu kan sudah di level presentasi publik. Gimana caranya lo bisa belajar apa yang ada di belakang layar?

LA: Gue pertama kali ikut produksi film Beth-nya Aria. Gue ngikutin prosesnya dari awal sampai akhir, dari dia punya ide skenario terus kalau nggak salah sesudah itu dia casting dan cari kru. Waktu hunting lokasi gue ikutan, shooting juga... sampai proses dia cari uang dan lihat bagaimana semua teman-teman bantu dia, sampai pasca produksi, bahkan sampai road show. Gue belajar banyak dari situ. Gue lihat juga bagaimana satu film yang nggak bisa ke 21, juga ada jalur distribusi yang lain. Yang kayak begitu gue ikutin! Gue pingin tahu bagaimana cara berunding sama kampus, bagaimana pembagian tiketnya. Sampai cara menjalani roadshow-nya. Semuanya gue pelajari. Nah, film kedua, Novel Tanpa Huruf 'R' sama juga. Gue terjun langsung sebagai produser di situ. Apalagi menghadapi orang kayak Aria. Walaupun kita waktu itu pacaran, tapi ini kan kerja! Jadi rumit juga karena waktu itu nggak ada dana, sementara gue harus bisa ngerjain sampai selesai. Tekanannya tinggi. Itu sekolahan gue banget! Dari situ gue tahu proses belakang layar dan gue mencintai proses itu.

Komentar 1

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.