Loyalitas Oka Antara sebagai Aktor

Wawancara :: Penulis: Amalia Sekarjati

Oka Antara2006 menjadi tahun perkenalan Oka Antara bagi khalayak perfilman nasional. Waktu itu ia bermain sebagai pemeran utama dalam Gue Kapok Jatuh Cinta arahan Awi Suryadi dan Thomas Nawilis. Ia juga mengisi salah satu lagu yang menjadi soundtrack film tersebut. Setelah itu, Oka sempat terlibat di beberapa film sampai akhirnya menjadi pemeran pendukung di film Ayat-Ayat Cinta (2008). Berkat kemahiran yang ia tampilkan dalam film arahan Hanung Bramantyo itu, ia dinominasikan sebagai Pemeran Pendukung Pria Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2008. Oka kembali menjadi pemeran utama di Hari untuk Amanda (2010), yang kemudian diganjar dengan penghargaan Pemeran Utama Favorit pada Indonesian Movie Award 2010. Film yang sama juga mengantar Oka sebagai Unggulan Pemeran Utama Pria Terbaik pada FFI 2010. Setahun setelahnya, ia kembali diunggulkan di FFI dalam kategori yang sama untuk aksinya di Sang Penari.

2014 menjadi tahun perkenalan Oka Antara bagi khalayak perfilman internasional. Dua film yang ia perankan, Killers dan The Raid 2, tayang perdana di Sundance Film Festival pertengahan Januari silam. Killers sudah beredar di bioskop nasional awal Februari lalu, sedangkan The Raid 2 baru akan tayang Maret mendatang. FI berkesempatan mewawancarai aktor kelahiran 8 Juli 1980 ini. Ia bicara tentang perannya di film Killers, kecintaannya terhadap seni peran, dan loyalitas terhadap pekerjaannya sebagai aktor.

 

filmindonesia.or.id (FI): Bagaimana awal mula keterlibatan Anda bermain di Killers dan kemudian The Raid 2: Berandal?

Oka Antara (OA): Kalau ditarik ke belakang, gue pertama kali kenalan tuh sebenarnya sama Gareth (Evans), di pemutaran perdana The Raid: Redemption. Dikenalkan Joe Taslim. Gue sudah kenal sama Joe sebelum dia bermain di The Raid: Redemption. Jadi gue bilang ke Joe, minta dikenalkan sama Gareth. Setelah dikenalkan, kami memang nggak ngobrol banyak, nggak bertukaran kontak. Pertemuan itu selesai begitu saja.

Beberapa bulan kemudian, tahun 2012, Gareth menambah kontak pin Blackberry (BB) gue. Gue tanya, dia tahu pin gue dari siapa. Dia bilang dari Joe. Langsung gue kroscek dong, bener nggak, sih? Joe bilang, bener kok itu Gareth, dan memang dia yang kasih. Wah, ada apa, nih? Langsung gue tanya. Dia bilang, “Ka, gue mau menawarkan lo main di film kecil, yang akan gue sutradarai bersama salah satu dari Mo Brothers, Timo Tjahjanto.” Dia bilang, itu proyek dari luar. Ada beberapa sutradara dari luar yang akan menyumbangkan film pendeknya. Dia sama Timo diberi kesempatan untuk menyumbangkan satu film pendek juga. Judulnya Save Haven, untuk kompilasi V/H/S/2, dengan gaya syuting found footage.

Lalu, ya seperti aktor-aktor yang lain ketika ditawarkan kesempatan sama seorang kaliber besar, gue tidak bertanya-tanya lagi, gue langsung “Iya, mau.” (Tertawa) Biasanya kan yang seperti itu orang-orang yang berniat tulus ya. Nggak mengundang resmi ke kantor untuk screen test atau apa tapi malah menambah kontak pin BB dan mengajak makan siang. Minggu depannya kami makan siang bertiga: saya, Timo, dan Gareth.

Untuk sampai Killers, ceritanya begini: ternyata kerjasama kita semua di film pendek Safe Haven itu dijadikan audisi untuk peran utama di Killers. Tetap ada audisi yang sebenarnya, tapi proyek itu jadi semacam uji coba. Kebetulan, film mereka juga bilingual, ada Bahasa Indonesia dan Inggris. Karakter peran di film itu tidak dieksplorasi dan tidak berat-berat banget, jadi saya mengira-ngira, mungkin mereka ingin melihat kerjasama saya seperti apa. Mungkin ya, mungkin secara attitude, profesionalitas. Namun, ketika mau dicoba untuk Killers, itu tetap lewat audisi yang sebenarnya. Saya sempat audisi tanpa membaca skenario utuh dan hanya sinopsis. Satu, adegan yang cukup tinggi emosinya. Adegan kedua yang dites adalah adegan bersama istri. Pada waktu itu yang dites bukan Luna Maya, tapi ada pemain lain. Lalu, ya pada akhirnya terpilih, dan dites sekali lagi dengan Luna Maya.

FI: Ada perbedaan yang besar antara peran Anda sebagai Rasus di Sang Penari dengan peran Anda sebagai Bayu di Killers. Mengapa memilih tawaran peran yang begitu berbeda?

OA: Sebenarnya genre filmnya sendiri yang secara tidak langsung memilah peran tersebut. Yang pertama film masa lalu, kalau Killers, ya latar belakangnya di zaman sekarang. Jadi, jenis filmnya sendiri yang membedakan tawaran perannya.

Gue kan di sini aktor ya. Menurut gue, aktor tuh tidak ada di posisi untuk memilih. Ya, kami hanya menerima tawaran pekerjaan yang datang. Kalau ada banyak tawaran, baru kita bisa pilih-pilih. Soal peran, kadang-kadang, bisa saja kan kita melihat ada orang yang mau membuat film bagus, lalu kita ingin terlibat, tapi kan belum tentu ditawarkan ke kita. Jadi, mungkin di situasi ini, jawaban yang tepat adalah timing kali, ya. Satu kebetulan karena yang menawarkan gue adalah Mo Brothers dengan genre fantastik. Karakter perannya lumayan berat, dan sangat bertolak belakang dengan peran Rasus di Sang Penari. Kebetulan juga dari Sang Penari, belum ada film panjang yang bisa saya jadikan transisi, kecuali film pendek Safe Haven tadi. Tidak ada film panjang di tengah-tengahnya. Jadi, kesannya terlihat jomplang dan jobless. (Tertawa) Tapi ya gue bersyukur, karena ini jadi kesempatan gue untuk mencicipi genre baru dan tantangan peran yang berbeda.

FI: Namun, buat Anda sendiri, apa yang jadi pertimbangan Anda ketika memutuskan untuk terlibat dalam satu film?

OA: Gue tidak pernah memposisikan diri gue sebagai seorang yang pemilih karena gue selalu ingin menantang diri gue. Dari dulu, gue tuh pengen banget main banyak film. Cuma nggak tahu kenapa, emang nggak ada yang menawarkan. Ini gue nggak bercanda lho ya. Kesempatan yang ditawarkan ke gue tuh nggak terlalu banyak. Gue nggak tau apa ini jadi faktor, tapi gue barus sadar ketika ada teman wartawan yang bilang, kalau dari film pertama gue sampai sekarang, nyaris sutradaranya nggak ada yang sama.

Hal itu membuat gue sempat merasa insecure sama diri gue. Kenapa gue kayaknya jarang dipanggil (untuk kerja) sama orang yang sama? Apakah gue tidak pernah dianggap favorit atau kerja gue mengecewakan? Pertanyaan itu selalu muncul dalam diri gue. Lingkup industri film di sini kan kecil. Jadi, kita selalu melihat pemain film ya itu-itu saja. Sedangkan, gue ada di (bidang) film. Jadi, gue merasakan ketika gue nggak dipanggil casting sama sutradara favorit gue. Banyak banget. Gue jadi hafal karena gue nggak pernah dipanggil casting. Buat audisi saja jarang dipanggil. Kalau sekarang sih gue bersyukur karena gue jadi tahu, karakter sutradara itu bisa beda-beda.

FI: Apa seorang aktor harus menunggu tawaran casting? Apa Anda tidak bisa menawarkan diri untuk terlibat dalam suatu produksi film?

OA: Kalau punya manajer yang bagus sih lo bisa menyalahkan manajer lo. Namun, kebetulan satu setengah tahun ini gue sendiri tanpa manajer. Seumur hidup nggak pernah punya asisten, nggak pernah punya supir, jadi gue mengerjakan semuanya sendiri. Kebayang ya pusingnya? (Tertawa) Mungkin, bagus juga ya kalau gue punya manajer yang bisa gue andalkan untuk bisa masuk kemana-mana dan merekomendasikan gue ke sutradara-sutradara tertentu. Punya manajer yang bisa menegosiasikan kesempatan lo buat main di filmya dia. Namun, sampai saat ini, gue belum bisa menemukan manajer yang bisa mendapatkan pekerjaan untuk gue di film, yang sesuai sama yang gue inginkan. Jadi, selama lo nggak punya mediator untuk itu, lo hanya bisa menunggu. Bisa sih kalau lo melakukan pendekatan secara personal, tapi kan lo mesti kenal dulu sama sutradaranya.

FI: Dengan publikasi Sang Penari yang cukup besar-besaran, mengapa butuh jeda sekitar satu setengah tahun antara Sang Penari dan proses produksi Killers? Apa ada jeda waktu tertentu yang Anda jaga antara satu film dengan film lain?

OA: Jadi begini, setelah Sang Penari, kebetulan gue sudah terikat sama sebuah production house (PH) untuk sebuah sinetron religi. Jangan tertawa, tapi begitulah hidup. Jadi, memang ada sebuah produksi sinetron religi yang sudah tandatangan kontrak. Gue bersyukur banget sih karena sinetron religi tersebut cukup sukses sehingga ada dua musim, 2011 dan 2012. Itu yang cukup menyita waktu gue pada saat itu. Soalnya, gue bukan tipe orang yang bisa mengerjakan dua hal sekaligus. Jadi, gue sempat konsentrasi di sana dulu, gue ingin kasih yang terbaik. Biasalah, standar orang-orang film yang mau akting baik di sinetron. Padahal nggak bisa juga ya. (Tertawa) Jadi, ya sudahlah, gue fokus dulu di sinetron tersebut, baru gue main film. Kebetulan, pada waktu itu memang tawarannya Killers.

 

Pembunuh amatirOka Antara dalam film Killers

FI: Kembali ke Killers. Dari mana referensi Anda untuk merumuskan dan menemukan sosok Bayu yang Anda tunjukkan ke penonton?

OA: Perlu saya jelaskan karakter Bayu dulu sebelum saya menjawab pertanyaan ini. Dalam skenario, karakter Bayu sudah diciptakan sedemikian rupa oleh penulis sebagai seseorang yang waras pada awal film. Lalu seiring dengan keterpurukannya dalam hidup dan obsesinya terhadap video-video sadis, dia menemukan dirinya sebagai pembunuh melalui insiden yang terjadi secara tidak sengaja. Karena semuanya terjadi begitu cepat, dia kesulitan untuk mencerna itu semua. Bayu bukan pembunuh berdarah dingin. Dia pembunuh amatir yang selalu gagap mengeksekusi rencana pembunuhannya. Saat membunuh pun dia mengalami gejolak emosional. Makanya dia selalu bertanya ke Nomura tentang perasaan aneh itu setelah melakukan pembunuhan.

Buat saya pribadi, susah sekali mengolah perasaan Bayu. Di setiap misi pembunuhan, dia selalu memberikan respon emosi yang berbeda. Di satu adegan dia bisa dengan dinginnya membakar orang yang dianggap pantas untuk mati. Di adegan lain (di hotel), dia bisa membunuh orang yang tidak dia incar dan menyesal setelahnya. Ada adegan pembunuhan yang membuat gue bereaksi spontan menangis, ada juga yang tertulis di skenario. Itulah yang membuat Bayu lebih manusiawi daripada Nomura.

Untuk referensinya, saya pernah menonton film tentang seorang tentara yang tidak tahan akan tugasnya bertempur di medan perang dan harus membunuh banyak orang. Sosok seperti Bayu itu bisa ditemukan di kebanyakan tentara yang belum siap untuk perang tetapi tidak memiliki opsi untuk mundur. Bayu bukan karakter superhero atau villain yang keren. Gue harus menunjukkan transisi dia dari orang baik menjadi monster, lalu balik lagi menjadi orang baik.

FI: Untuk peran Anda ini, selalu ada diskusi intensif dengan sutradara ya?

OA: Jelas. Gue harus memiliki imajinasi yang liar dalam menginterpretasikan setiap adegan pembunuhan, tapi tetap disupervisi oleh Mo Brothers. Kenapa gue dari tadi menjelaskan panjang soal pembunuhan-pembunuhan itu, karena itu yang nggak pernah gue rasakan. Gue nggak pernah membunuh orang. Kalau masalah rumah tangga hancur, karir terpuruk, itu masih bisa gue cari referensinya karena itu kan masih dekat dengan kehidupan gue sehari-hari. Atau kadang, dengan gue merasa keterpurukan di hal lain, tetap bisa gue seret emosinya ke karakter Bayu.

FI: Pada film Killers, ada perubahan gestur Bayu ketika ia menjadi sosok yang sehari-hari dan ketika ia menjadi pembunuh. Apa yang Anda lakukan untuk menjaga gestur Anda ketika memerankan Bayu?

OA: Yang gue tau, acting is biological. Selama sebelum syuting Killers, gue selalu memupuk rasa insecurity, rasa kurang nyaman terhadap diri gue, yang pada nantinya akan membuat gue menjadi seorang yang tidak percaya diri. Lalu, gue terus membuat kepala gue untuk overthinking. Berlebihan berpikir yang pada nantinya akan membentuk gue sebagai seorang yang akan terus gelisah. Cukup banyak yang gue lakukan, tapi yang dominan ya dua itu.

Namun, di saat gue memupuk insecurity dan jadi orang yang tidak percaya diri, itu bisa menjebak. Menjebak sekali ketika gue sampai di set, karena gue harus percaya diri ketika semua orang (di set) harus menonton gue meraung-raung, menangis, dan teriak-teriak. Gue harus percaya diri alias kebal kamera dan kebal dilihat orang. Itu kan tricky. Gue mempengaruhi diri gue untuk jadi orang yang tidak percaya diri, tapi di set gue juga harus percaya diri. Lalu, gue juga terus memikirkan terhadap masalah. Hal-hal kecil gue bawa-bawa terus, gue pikirkan secara berlebihan. Pada akhirnya, itu yang membuat gue gelisah, jadi anxious terus terhadap situasi gue. Ketika gue menerapkan dua hal itu, dengan sendirinya itu akan mendikte gerak tubuh gue dan mendikte gaya bicara gue ketika memerankan Bayu.

Oh iya, satu lagi yang lumayan susah buat gue sih, film ini kan ada sedikit adegan laganya. Sedangkan Bayu itu didefinisikan sebagai seseorang yang tidak menjaga kebugaran. Dia kan jurnalis yang kurus, yang profesi dan pekerjaannya memungkinkan dia untuk kurang tidur, sehingga gue harus mendapatkan fisik seperti itu. Mungkin tidak sedrastis di Sang Penari, tapi di film itu kan tidak ada adegan laga. Jadi, itu juga agak tricky di set ketika gue harus melakukan adegan laga padahal gue tidak diperbolehkan menjaga kebugaran gue.

FI: Apakah karakter yang Anda perankan bisa tetap terbawa pada kehidupan sehari-hari ketika proses produksi sudah selesai?

OA: Jelas. Sang Penari itu cukup lama karena gue merasa terikat sekali dengan tokoh Rasus. Waktu itu, gue merasa dekat sekali dengan karakternya. Saya kadang merasa, kesedihan dia adalah kesedihan saya juga. Cuma beda zaman saja. (Tertawa) Itu lepasnya agak susah ya. Kalau di Killers juga sebetulnya susah banget. Namun, waktu itu baru tiga minggu selesai syuting Killers, gue udah harus masuk The Raid 2. Jadi, gue berpikir, untuk menjauhkannya, gue harus melepaskan diri gue dengan nggak menonton film. Untuk keluar dulu dan bersenang-senang di luar film, tanpa harus memikirkan film atau seni peran dulu. Gue nggak memikirkan itu.

Kalau gue boleh terus terang, sebetulnya tiga minggu itu nggak cukup. Seminggu liburan aja, lo bisa ngapain, sih? Sebetulnya gue butuh cuti lama banget, sebulan atau dua bulan lah, untuk bisa lepas dulu dari satu film, misalnya.

FI: Bagaimana peran Anda di The Raid 2?

OA: Yang gue banggakan dengan peran gue di The Raid 2 adalah gue dapat porsi yang seimbang antara drama dan action-nya. Spesialisasi gue kan bisa dibilang bukan di action, tapi di drama. Jadi, dikasih adegan-adegan yang emosional di The Raid 2 ini tuh gue senang banget. Gue dikasih kesempatan untuk perform di satu adegan tertentu yang emosional, gue senang banget. Gue berterima kasih sama Gareth karena karakter tokohnya punya kedalaman. Nggak cuma satu dimensi aja, tapi bisa dalam.

FI: Film Anda diputar di Sundance Film Festival 2014 dan juga akan diedarkan secara internasional. Apa ini jadi kesempatan untuk memperluas karir ke dunia internasional?

OA: Yang gue tahu adalah ketika gue mengambil tawaran bermain di film ini, gue nggak memikirkan apa-apa. Gue jalani saja. Gue suka sama tantangan perannya dan ini genre yang baru buat gue, makanya gue ambil. Gue nggak berpikir, apakah film ini berskala internasional atau bukan. Untuk seorang aktor, yang ingin terus belajar, gue nggak pernah menutup diri untuk film-film kecil. Juga nggak menuntut diri gue untuk selalu jadi peran utama. Menurut gue, film sama aja. Selama itu bisa menyalurkan passion gue di akting, ya gue ambil. Kalau memang Killers dan The Raid 2 masuk Sundance, itu merupakan bonus aja sih buat gue. Sama ketika gue main film pendek Safe Haven dan V/H/S/2 juga masuk di Sundance 2013. Gue ambil film pendek itu murni karena gue ingin kerjasama dengan orang-orang baru, pengalaman baru, genre baru, peran berbeda. Gue bersyukur banget karena gue sudah bisa menyalurkan passion gue di akting dan gue juga bisa mendapatkan bonus ditonton audiens yang jangkauannya lebih luas. Itu rasanya diapresiasi banget.

Nggak tahu ya, sebelum gue main Killers, gue belum pernah ke luar Indonesia merepresentasikan sebuah film. Mungkin Sang Penari  juga sempat melanglang buana di festival-festival. Namun, mungkin Sang Penari  memilih untuk tayang perdana di Indonesia terlebih dahulu jadi seolah-olah tidak dianggap eksklusif oleh festival luar yang menerimanya. Kan ada pride festival yang seperti itu, ya. Gue juga tahu kalau Sang Penari sempat keliling di beberapa festival luar. Namun, mungkin agak berbeda dengan dua film ini karena mereka tayang perdana di sana, punya distributor Amerika Serikat yaitu XYZ Film, dan ada tim publisis yang menjadwalkan promosi di Sundance, termasuk wawancara dengan media. Jadi, itu pengalaman yang baru aja sih buat gue, bahwa ternyata ini bisa dicapai oleh orang-orang kita dari genre yang bermacam-macam.

FI: Namun, apa pada dasarnya Anda menyukai film dengan genre thriller sebelum bermain di Killers dan The Raid 2?

OA: Bermacam-macam sih. Gue suka film dari yang berat, ringan, komedi romantis, sampai film tentang politik. Dari thriller, horror, action, buat gue sama aja sih. Tergantung apa yang lagi gue ingin cari saat itu. Gue nggak punya kesukaan khusus terhadap genre tertentu.

 

Oka Antara dalam film KillersPersiapan

FI: Menurut Anda, apakah saat ini tawaran peran untuk aktor dalam film Indonesia lebih beragam atau cenderung begitu-begitu saja?

OA: Gue melihat kalau sekarang sudah mulai banyak genre. Mulai banyak regenerasi juga. Itu bagus karena dari kompetisi yang sehat justru akan memicu pembuat film dan aktor untuk lebih bagus lagi dalam bekerja. Kalau buat gue pribadi sih gue nggak pernah terlalu memikirkan hal ini. Namun kadang, sudah banyak kesempatan, tetapi gue sangat menyayangkan bahwa banyak sekali prosesnya yang cenderung instan. Mau membuat film yang nilai produksinya bagus, nilai produksinya tinggi, tapi tidak memberikan waktu yang cukup untuk persiapan aktornya. Waktu yang diberikan kepada aktor untuk mendalami karakternya tidak cukup. Atau menurut aktornya secara pribadi, tidak cukup. Menurut gue itu disayangkan karena film itu kan kerja kolektif ya. Semua orang harus dikasih kesempatan untuk menunjukkan kerjanya yang baik.

Saking gue cintanya sama seni peran, gue suka miris ketika ditawarkan sebuah pekerjaan yang, misalnya, syutingnya minggu depan atau bulan depan karena ingin mengejar tayang bulan ini atau itu. Gue paling nggak peduli ini film tayangnya kapan. Film apapun. Yang penting, kita mulai pra produksi aja dulu bersama-sama. Mendalami karakter, gue dikasih workshop, dikasih pelatih akting, olah tubuh, olah vokal, bareng-bareng aja dulu. Have fun, bersenang-senang saja dulu. Kalau nggak ada proses itu, sepertinya instan banget. Gue tidak menyalahkan sih, mungkin gue juga harus lihat dari sisi lain agar lebih adil, sih. Bahwa mungkin produser atau pemberi dana dituntut sama investor untuk mengembalikan uang lebih cepat, misalnya. Cuma kalau ada proses tadi, akan lebih baik.

FI: Sebagai aktor, apakah Anda pernah memberi masukan terhadap naskah yang Anda mainkan? Tidak hanya improvisasi, tetapi dalam membangun adegan, misalnya.

OA: Pernah, pernah. Menurut gue, nggak ada tuh yang namanya draft terakhir. Semua masih bisa berubah. Gue bisa memberi masukan, misalnya ada adegan datang ke rumah yang ternyata nggak ada orangnya. Bisa aja kan kita cuma celinguk-celinguk terus pergi sambil mengumpat untuk menunjukkan kalau orang yang kita cari nggak ada daripada kita ngomong, “Sialan, nggak ada orangnya nih.” (Sambil memeragakan) Bisa, kan? Gue bisa menyarankan itu. Namun terkadang, untuk dialog, gue lebih suka mengucapkan kalimat sesuai yang ada di naskah, daripada cuma menangkap maksud kalimatnya lalu gue improvisasi sendiri. Makanya, gue lebih cenderung menghafalkan dialog dan gue latih agar bisa terucap dengan baik sesuai peran. Selain itu, penulis naskah menuliskannya seperti itu karena ada maksudnya, kan? Karena begini, ada situasi dimana terkadang aktor cuma dikasih naskah seadanya dan dia diminta berimprovisasi, karena sudah harus syuting. Mungkin itu yang memunculkan kebiasaan improvisasi dialog senyamannya aktor, daripada aktor yang berusaha menghidupkan naskah yang sudah tertulis.

FI: Pernah ada satu masa di mana aktor dianggap bintang yang dapat menarik orang untuk menonton filmnya. Bagaimana menurut Anda? Apakah hal tersebut masih berlaku atau sudah bergeser?

OA: Jangan salah, lho. Gue justru malah merasa beruntung di saat tidak ada satu orang yang memiliki star power untuk menarik penonton, karena di situlah gue bisa terpilih menjadi peran utama di beberapa film. (Tertawa) Ini gue blak-blakan aja ya. Gue sadar betul gue bukan seorang persona yang menarik di luar film. Maksudnya begini, orang tidak menyorot keluarga gue, gue jauh dari gosip, dan terus terang sebenarnya gue tidak pernah menghindari wartawan atau apa. Namun, mungkin karena persona gue kurang menarik ya. Ya gue berbeda lah dengan orang yang lajang, yang daya tariknya lebih kuat daripada gue karena dia lajang. Secara pribadi, gue juga seorang yang sebetulnya tidak begitu suka spotlight. Gue tidak pernah menghindari wartawan, tapi gue tidak begitu suka spotlight. Itu beda, ya.

Gue ngomong spontan aja ya, yang ada di kepala gue sekarang. Sebelum gue masuk Sundance, kalau lo cari foto gue di Google, gue cuma pernah datang red carpet itu sekali. Tahun 2010 di Indonesia Movie Award. Gue kalau mau datang ke acara penghargaan atau pemutaran perdana, gue akan menghindari red carpet, karena gue nggak begitu suka, gue nggak nyaman. Seringkali aktor dikait-kaitkan dengan fashion, dia harus pakai pakaian merk ini, dan tampil di red carpet. Sebenarnya karena gue orangnya nggak suka dandan, jadi gue nggak suka aja, dan kadang gue menghindari itu.

Tapi itulah, gue cerita ini karena sebenarnya untuk memberi tahu kalau gue tuh cinta sama seni peran, murni memang cinta seni peran tanpa atribut, tanpa embel-embel. Istri gue tahu gue cinta banget sama seni peran tanpa atribut, tanpa embel-embel. Makanya gue cenderung menjadi persona yang kurang populer di media. Kalau misalnya Sang Penari, Killers, dan nanti The Raid 2 dicabut dari resume gue, gue siapa? Brand ambassador ini, icon fashion ini, pernah pacaran sama si ini. No, I’m nobody. Gue bukan siapa-siapa. Coba saja asosiasikan nama gue dengan hal-hal lain selain film. Nggak ada.

FI: Apakah Anda bisa bertahan hidup hanya dengan menjadi aktor di film? Kalau tidak, bagaimana cara Anda menafkahi diri?

OA: Iya, nggak bisa kalau dari film saja. Gue nggak tahu bagaimana dengan aktor lain, tapi gue punya situasi yang berbeda. Gue punya istri dan punya tiga anak yang harus gue nafkahi. Apa yang harus gue lakukan adalah apa yang harus gue lakukan. Gue harus menurunkan ego gue di saat-saat tertentu untuk memprioritaskan hal lain. Jadi, yang gue pelajari selama ini adalah ketika kita ingin mencapai sesuatu, kita harus berani mengorbankan sesuatu juga. We gain some, we lose some. Nggak bisa kita ambil dua-duanya. Ketika gue harus main sinetron, gue tidak bisa main film. Ketika gue harus main film, berarti gue nggak boleh main sinetron. Gue harus fokus sama peran gue. Itu yang memang gue terapkan terhadap diri gue sendiri dari dulu. Loyalitas. Lo pekerjakan gue, ini proyek kesayangan lo, gue akan setia sama bayi lo ini. Gue ibarat tentara yang cuma bisa kasih kesetiaan. Lo kasih gue kepercayaan, gue akan kasih segalanya, gue dedikasikan sepenuhnya buat lo. Lo kasih gue kesempatan, gue akan bekerja sampai sesuai dengan ekspektasi lo.

FI: Beberapa aktor berangkat dengan menjadi model atau wajah sampul suatu majalah. Apakah Anda memulai karir di film dengan jalan yang sama?

OA: Perlu gue tegaskan kalau gue tidak pernah ikut modeling, tidak pernah jadi cover boy. Dulu gue mengklaim diri gue sebagai musisi. Gue pernah bikin lagu, nge-rap, sama teman-teman gue. Sebetulnya, pertama kali gue berkenalan dengan seni itu lewat musik rap. Dari iseng-iseng membuat mini album independen, lalu diambil minor label, sampai akhirnya gue punya kesempatan untuk sering pentas. Karya gue juga sempat diambil sama majalah untuk didistribusikan di terbitan mereka sebagai kompilasi artis-artis independen. Dari situ gue diantarkan untuk bertemu orang-orang di film. Orang yang pertama kali mengenalkan gue dengan film itu namanya Herlam Lingga. Dia produser pelaksana dan sudah menangani banyak film. Dia orang yang pertama kali menawarkan gue pekerjaan di film.

FI: Berarti dulu Anda belum tertarik dengan akting?

OA: Dulu gue melihat akting sebagai hal yang cupu (payah) banget. Apaan sih ngomong-ngomong begitu. Bahkan pertama kali akting, gue lupa apakah audisi atau syuting, ketika gue berdialog, gue malah melihat ke kamera. (Tertawa) Wah, dulu bisa keringet dingin parah banget. Gue nggak mengerti, gue nggak percaya diri. Cuma, alasan kenapa tetap gue jalani juga, alasannya standar banget, sih. Waktu itu gue nggak punya pilihan apa-apa. Gue baru lulus kuliah dan bingung mau ngapain. Gue tidak suka dengan tawaran yang ada, karena jurusan kuliah gue kan finance, keuangan di Perbankan. Gue ngerasa nggak pernah cocok. Tapi ya itulah gue, labil banget pada waktu itu. Nggak tau harus ke mana, jadi jalani apa yang ada saja. Gue nggak tahu juga kenapa gue bisa tiba-tiba di sini, tapi jawabannya ya itu, karena nggak punya pilihan.

Gue sendiri nggak pernah belajar seni peran secara akademis. Masih banyak banget hal-hal tentang seni peran yang gue belum tahu. Gue pernah diajarkan sama beberapa teman di IKJ ya. Mentor-mentor yang, banyak lah, gue nggak bisa sebutkan satu-satu. Pendekatan karakter itu bisa macam-macam. Ada yang lewat warna, lewat musik. Namun, kalau ditanya apakah gue mengaplikasikan itu semua, gue ambil sedikit demi sedikit dan gue kompilasikan dan akhirnya jadi formula gue sendiri.

FI: Anda mengawali karir di bidang seni dengan bermusik. Apakah Anda masih menekuni bidang tersebut sebagai pilihan karir yang lain?

OA: Nggak, lah. Gue tuh sering dibilang sama teman, keluarga, kenapa nggak jalani dua-duanya aja. Gue nggak bisa. Gue cuma bisa jalani satu. Kalau gue mau memanfaatkan aji mumpung, pasti sudah gue rilis dari dulu. Gue rilis sama Killers atau Sang Penari saja sekalian supaya popularitas gue naik. Namun, sebenarnya yang ingin gue capai bukan popularitas dan momentum cari uang atau momentum cari imej supaya gue dianggap multitalenta. Bukan itu. Yang gue incar adalah passion dan fokus utamanya. Jadi, kalau gue sudah dianggap menyia-nyiakan bakat di musik, ya biarlah. Kalau mau memanfaatkan karya gue di film, bisa kapan aja gue bikin lagu, gue endapkan, dan gue keluarkan pas film rilis. Bisa aja. Tapi itu bukan gue. Gue mau dikenal sebagai Oka Antara yang tulus dalam bekerja dan fokus.

FI: Saat ini apakah Anda masih bermain untuk Film Televisi (FTV)?

OA: Masih banget. Sebenarnya kalau buat gue, FTV itu solusi pintas untuk tidak terikat sebuah proyek sinetron yang berjangka waktu panjang. Kalau sinetron sekarang kan mengikuti rating, ya. Jadi kalau kita ingin berhenti di bulan apa, belum tentu bisa. Padahal kita sudah ada proyek film, misalnya. Nah, FTV itu adalah solusi tengahnya. Kita syuting, selesai semingu, kita bisa berhenti dan ambil kesempatan lain. Kalau ada tawaran film ya kita ambil, kalau nggak ada, kita cari yang lain atau FTV lain lagi. Beruntung sih karena industri TV masih bisa ada FTV. Itu beruntung banget.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.