Marcel Batara Goempar: "Posesif" Dan Permainan Eksplorasi Ruang

Wawancara :: Penulis: Pandji Putranda

Marcel Batara Goempar, 2017. Sumber: Palari Films

Malam itu pelataran Kemang Village tidak terlalu ramai. Cuma ada pertunjukan live music yang membawakan lagu-lagu Top 40s. Saya mencari-cari Marcel Batara, Director of Photography film Posesif. Sempat waswas lantaran ponselnya sempat tidak bisa dihubungi. Untung tidak makan waktu lama untuk menemukan Marcel, yang ditemani istrinya beserta anjing French Bulldog bernama Boxer. "Makan dulu kali ye." ujarnya sambil membolak-balik menu.

Sore sebelumnya, Marcel menemani sang istri menonton film Posesif. Dia juga menanyakan pendapat saya tentang filmnya, "gimana menurut lo?" sambil terkekeh ramah, sementara Boxer menatap saya tajam dari bawah meja.

Posesif menceritakan dunia remaja yang gelap, tegang, serta terpisah dari dunia orang dewasa. Eksplorasi relasi antar individu belia yang jujur tanpa pretensi. Sinematografi film ini berbeda dari film-film remaja lainnya, di sini dunia remaja bukan gambar cerah berwarna-warni mencolok yang menyarankan keceriaan dan semacam kenaifan melainkan berwarna cenderung realistis dan berkesan kontemplatif.

Bagaimana Marcel terlibat dalam film ini? Bagaimana ia mengejawantahkan premis tersebut ke dalam bahasa sinema? Seperti apa proses kreatif yang dilewatinya bersama kru lain?

 

Boleh diceritakan awal keterlibatan kamu di film Posesif?

Awalnya gue ditelepon sama Zaidy (produser Posesif) dan dia ngajak untuk gabung. Katanya sih Edwin (sutradara Posesif) sendiri yang milih gue [tertawa]. Gue juga nggak tahu kenapa. Jadilah gue sama Edwin ketemuan di Kinosaurus buat ngobrolin film ini. Awalnya dia minta gue baca naskahnya, pelajari dulu, terus gue tanya balik apa pendekatan yang dia pakai sebagai sutradara, terus... ya udah, gabung deh.

Gue juga nggak gitu ngerti kenapa Edwin milih gue. Tahun lalu gue sempet ketemu Edwin di acara Berlinale Talent Campus. Di acara itupun kami cuma ngobrol-ngobrol biasa aja, nggak ngomongin proyek atau apalah.

 

Ini kolaborasi pertama dong, ya?

Iya ini pertama kalinya kerja bareng Edwin.

 

Bagaimana saat pertama kali kamu membaca naskahnya? Proses kreatif seperti apa yang kamu pikirkan waktu itu?

Pertama kali baca naskah Posesif, jujur aja ya, gue ngerasa ini film ecek-ecek banget [tertawa]. Terkesan sangat remaja. Untungnya Edwin dan Zaidy selalu ngasih referensi ke kehidupan pribadi gue, jadinya gue curhat banget dari A sampai Z, apalagi karena masa-masa SMA yang punya pengaruh besar buat gue.

Tapi gue juga lihat potensi di naskah ini. Satu yang menarik dan gue coba untuk jabarkan adalah perihal "ruang". "Ruang" masing-masing karakter yang masih terbuka untuk dieksplorasi bareng Edwin. Misalnya, "Di mana mereka ketemu?". Oke mereka ketemu di sekolah. Setelahnya di mana? Di rumah? "Rumah" mereka itu seperti apa? Sama halnya dengan "di mana mereka pacaran?", "di mana mereka berantem?". Hal-hal kayak gini yang kami bedah bareng. Sampai di titik "ke mana mereka kabur?". Gue bilang ke Edwin kalau ruang yang terakhir ini harus bisa keluar sepenuhnya dari zona mereka, harus kontras dengan penggambaran zona-zona 'nyaman' mereka sebelumnya. Edwin senang dengan pilihan-pilihan ruang yang gue tawarkan. Mungkin karena pengalaman pribadi gue yang pernah kabur sama cewek gue dulu [tertawa].

Ada juga beberapa ruang yang gue paksakan sesuai maunya gue, seperti rumahnya Yudhis yang gede dan kosong. Gue nggak mau rumah Yudhis dan Lala terkesan sama. Kan nggak sedikit tuh film yang rumah karakter-karakternya terkesan sama? Nah, gue coba untuk dapetin perbedaan-perbedaan itu. Sama kayak rumahnya Lala. Gue mikir "gimana sih rumah yang isinya bapak sama anak perempuan tunggal?". Gue interpretasikan bokapnya Lala sebagai orang yang praktis. Rumah mereka sederhana dan apa adanya saja. Lalu spot Lala nangis di ruang medali. Gue coba gambarkan ruang yang jadi semacam sanctuary buat penghuninya.

Terus di diskotik. Tadinya tuh didekor lampu-lampu aneh gitu [tertawa], gue minta lepas karena malah nggak berasa atmosfer diskotiknya, akhirnya diganti lampu tembak aja. Edwin juga ngasih referensi film The Neon Demon (2016) untuk lighting. Di adegan itu juga harusnya ada dialog. Tapi lagi-lagi, Edwin cukup intuitif untuk bermain di gestur dan ekspresi aja. Akhirnya kami coba memaksimalkan aspek-aspek itu (tata lampu, suara, ekspresi, dan gestur pemain) ketimbang memaksakan dialognya harus ada. Jangan-jangan adegannya malah berantakan kalau ada dialog?! Untungnya para pemain bisa get along dengan ruang-ruang yang kami tawarkan.

 

Apa yang krusial dari penggalian ruang, zona tiap-tiap karakter?

Pendekatannya. Gue harus siasati atmosfer ruang yang mendukung adegan dan representatif untuk masing-masing karakter tentunya. Ini kan film roman remaja sederhana, kalau pendekatan ruang dan atmosfernya dibuat berlebihan, nantinya akan terlihat maksa dan malah nggak dapet feel-nya. Sayang banget kalau begitu.

 

Teknisnya sendiri bagaimana? Untuk menyiasati konsep ruang tadi, peralatan apa saja yang kamu pakai, ada eksplorasi juga untuk hal ini? Lalu apa yang mendasari pemilihan teknis kamu saat proses syuting?

Personally, gue sangat mementingkan kualitas. Dan itulah kenapa gue minta kameranya high-end digital. Kalau nggak salah kami sempet mau pakai Red Scarlet, tapi akhirnya dipinjemin kamera Red Helium. Kebetulan banget nih, blessing in disguise, Edwin juga sudah terbiasa dengan lensa Master Prime kamera itu. Gue maunya sih Leica, ya [tertawa]. Apalagi karena film ini banyak main di malam hari, dan sensitivitas lensa Leica cukup mendukung untuk adegan-adegan dengan pencahayaan minim. Tapi ya... karena mahal, akhirnya pakai Master Prime yang clean. Gue juga sudah terbiasa dengan Master Prime. Beberapa film gue sebelumnya pakai lensa itu. Ukurannya juga cocok buat syuting di dalam mobil, nggak terlalu besar.

 

Gimana dengan adegan di kolam renang?

Nah, pilihannya waktu itu ada dua: Ragunan atau Bandung. Sempet coba shoot di Ragunan, tapi akhirnya kami jalan juga ke lokasi yang di Bandung karena penasaran. Di tempat itu (Bandung), setelah muter-muter nyari posisi, akhirnya kami masuk ke basement yang ternyata ada banyak kaca untuk melihat langsung ke dalam kolam renang. Jadi lo bisa lihat yang lagi pada berenang. Bisa banget diakalin buat nambah varian shot [tertawa].

Tadinya Edwin mau pakai kamera underwater, tapi menurut gue sayang sih. Daripada dipaksain pakai kamera underwater dan kualitas gambarnya jadi turun, kenapa nggak manfaatin kaca-kaca ini aja? Gue pikir keberadaan kaca-kaca ini malah enak buat eksplorasi shot.

 

Riset Batara Goempar untuk film Posesif. Sumber @batarakala

 

Kalian diskusi apa saja untuk adegan-adegan di bawah permukaan air ini?

Nah, yang gue suka dari kolaborasi sama Edwin, ada satu shot Lala lagi meringkuk sendirian di dalam kolam, yang sebenernya nggak kami omongin secara detail. Di naskah cuma tertulis "Lala nyebur ke kolam". Udah gitu aja. Lalu Edwin bilang, "gue mau dapetin Lala kelihatan mikir di dalam air." Gue juga jadi mikir tuh gimana ngambilnya. Tapi ternyata gestur dari Lala oke banget, dan shot itu berhasil buat gue. Karena kalau lo perhatikan dialognya, Lala tuh ikut loncat indah karena dia selalu teringat ibunya. Jadi gue ingin secara nggak langsung mengarahkan penonton, gue mau penonton menginterpretasikan kalau di momen inilah Lala sedang berdialog dengan mendiang ibunya. Waktu Lala bingung, dia nyebur sendirian dan idle di dalam air, ini yang dia lakukan untuk berkomunikasi sama ibunya. Tapi itu bahasa-bahasa puitisnya ajalah [tertawa]. Di mata gue sendiri sih, gestur meringkuk Lala di adegan itu juga mirip dengan posisi janin bayi di rahim ibu hamil.

Adegan underwater-nya juga nggak ada yang pakai tripod. Jadi berantakan aja kelihatannya kan? [tertawa]

 

Masih soal teknis, Edwin adalah sutradara yang gemar bermain-main dengan medium seluloid. Kamu sendiri gimana? Apa kamu juga familiar dengan medium ini? Ada nggak obrolan untuk pakai seluloid di film ini?

Gue inget banget pas Edwin ditanya "mau kamera apa?", dia minta dikenalin soal Red dan Alexa. Secara produksi, dari awal produsernya memang mau digital. Tapi Edwin tetep maunya sih pakai 35 (mm/seluloid) [tertawa]. Gue sih ayo aja pakai seluloid, nggak masalah. Seinget gue, Edwin riset sendiri soal kelebihan dan kekurangan (Red dan Alexa), dia juga mau nyoba kayak apa rasanya pakai digital.

Dan gue baru pertama kali ketemu sutradara kayak dia. Jadi dia sempet nyeletuk, "syuting pakai digital ternyata harus lebih lama ya?" Waduh, gue belum pernah denger tuh ada sutradara lain bilang begitu. Setahu gue, menurut kebanyakan orang, syuting digital justru lebih cepet. Tapi seorang Edwin bilang kalau dia syuting digital, dia harus punya waktu lebih lama. Dia bilang "karena gue udah lihat gambarnya, gue udah tahu shot-nya kayak apa, jadi gue bisa eksplor lagi dengan cara lain." Kebayang kan seliar apa eksplorasinya? Mungkin, mungkin lho ya, pengalaman dia pakai seluloid membuatnya kurang bisa eksplorasi macam-macam. Ketika ruang eksplorasinya unlimited kayak gini, gue cuma ngeledek "ini pasti film dengan shot terbanyak yang pernah lo bikin." [tertawa]

 

Kamu ikut proses editing juga?

Nggak ikut full. Gue pertama kali lihat filmnya itu pas preview di Kemang Village. Proses gue kan cuma color grading aja, nggak pakai suara. Tapi memang ada yang gue diskusikan dengan Edwin, misalnya dalam pemilihan shot. Akhirnya kami diskusi lebih lanjut. Gimana ya, istilahnya gue (Director of Photography) kan 'tangan kanan'-nya sutradara, kadang mereka punya 'call' intuitif yang ternyata asyik dan padu untuk diaplikasikan, sekalipun mungkin kurang cocok dengan pendapat gue.

 

Bagian mana yang paling lama didiskusikan dengan Edwin, mengingat kamu bisa dibilang sedang berusaha memahami bahasa sinematografinya?

Wah banyak [tertawa]. Tapi dia ngasih gue banyak referensi film yang cukup membantu untuk memahami mood dan nuansa film Posesif. Gue juga pernah debat soal keinginan gue membawa nuansa dark side-nya film Drive (2011). Mood di film itu somehow cocok banget untuk diterapkan di Posesif, terutama untuk adegan-adegan Yudhis di mobil dan ruang personalnya.

Overall gue seneng banget dengan cara kerja Edwin yang ngasih keleluasaan eksplorasi, apalagi kami bisa dengan santainya eksplorasi bareng-bareng, nggak didikte atau dibatasi lah. Dan sebagai filmmaker, kami memang harus punya banyak referensi visual. Biar nggak mandek di situ-situ aja gambarnya.

 

 

Catatan:

- Lensa Master Prime dibuat khusus supaya mampu merekam citra dalam kondisi yang sangat beragam, mulai dari sangat minim cahaya sampai sangat terang. Teknologi tertentu yang digunakan untuk membuat prisma lensa dan saputan (coating) khusus membuat semakin banyak detil citra yang dapat tertangkap dengan perantaraan lensa.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.