Mereka di Puncak karena Mereka Bersikap

Sosok :: Penulis: JB Kristanto, Bre Redana, Marselli Sumarno

Dua hari berturut-turut Christine Hakim tekun mengikuti diskusi bulanan yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Film Deppen awal pekan lalu. Diskusi kali itu tentang peredaran dan pemasaran film nasional, bukan tentang akting. Kalau ia tekun menyerap dan menyumbang pikiran mengenai peredaran film Senin dan Selasa lalu, sebetulnya itu bukan hal yang tiba-tiba. Sejak filmnya yang keempat, Kawin Lari (1974), ia selalu secara pribadi mengecek jumlah penonton filmnya di bioskop, entah secara langsung ataupun lewat telepon. Kesimpulan pengamatannya, film nasional amat terdesak oleh film impor. Dan ia punya bukti terakhir. Film terbarunya, Bila Saatnya Tiba, diganti oleh film impor di suatu bioskop Jakarta saat jumlah penonton masih memadai.

Keprihatinan ini tentu bukan monopoli Christine Hakim seorang. Ini keprihatinan umum orang film. Tapi kalau seorang bintang peraih lima Citra berusaha berbuat sesuatu untuk persoalan itu sebisanya, rasanya ini bukanlah sikap bintang film Indonesia umumnya. Belum lagi sikapnya yang tegas membatasi diri dalam memilih peran, yang agaknya bisa ditelusuri dari latar belakangnya tumbuh sebagai orang film: lingkungan Teater Populer yang dengan pimpinan Teguh Karya berusaha bekerja sebaik mungkin menjauhi hura-hura. Lingkungan yang sama ini pernah pula dikenyam oleh El Manik, Ray Sahetapy, dan Deddy Mizwar. Dua yang terakhir ini pernah kuliah di Departemen Drama Institut Kesenian Jakarta.

Empat nama di atas boleh dikata adalah aktor dan aktris film kita yang kini berada di puncak justru karena mereka bersikap. Puncak mereka menang Citra, tapi juga mereka tak pernah sepi dari tawaran main.

***

Mereka ini–kecuali Christine Hakim yang dengan Cinta Pertama (1973) langsung melesat–semuanya betul-betul merayap dari bawah untuk mencapai prestasinya sekarang. Manik, umpamanya, mengawali karirnya di dunia film dalam Mereka Kembali (1972). Deddy Mizwar mulai 1976 dalam film Cinta Abadi, sedangkan Ray Sahetapy dengan film Gadis pada 1980. Mereka selalu menghindari peran yang tipologis sifatnya sehingga kita sukar memberi cap tertentu, dan tak ada yang bisa kita lakukan kecuali menghargai permainan mereka. Untuk perbandingan, mungkin bisa kita lihat pada Yenny Farida yang sekarang juga laris. Dalam dua tahun ia bisa menyelesaikan 17 film. Dengan itu, cap bintang seks pun melekat pada dirinya. Contoh lain, cap bintang remaja pada Rano Karno yang pada usia sekarang pun masih harus memainkan peran-peran yang sama.

Sikap memilih peran agar terhindar dari citra yang tipologis ini tentu bukan hal mudah dalam dunia industri perfilman Indonesia, yang sangat tergantung musim itu. Risikonya antara lain tentu saja penghasilan. ”Apa untuk kebutuhan pribadi saya harus mengorbankan banyak hal untuk perjuangan saya?” kata Christine.

Sikap keras seperti ini tentu tak bisa diterapkan begitu saja oleh tiga rekan prianya. Di samping harus memikirkan keluarga, mereka toh harus merasa lebih luwes menghadapi realitas tanpa harus mengorbankan permainan. El Manik, umpamanya, yang dalam pergaulan disenangi banyak kawan, punya cara tersendiri menghindar dan memilih peran yang dianggapnya baik. Ketika ditawari main dalam film Carok (1985), pertama-tama ia dicalonkan sebagai pemeran utama tokoh anak muda jagoan. Ketika membaca skenario, ia merasa bahwa tokoh bapak sang jagoan lebih menantang, lebih pas dengan dirinya, karena peran itu memungkinkannya main lebih tumpat, meski porsinya hanya peran pembantu. Maka diplomasi pun dijalankan. Ia berhasil meyakinkan produser dan sutradara bahwa peran sang jagoan lebih pas untuk Barry Prima. Begitulah akhirnya, ia berperan sebagai sang bapak dan berhasil menggaet satu lagi Piala Citra.

***

Selain memilih peran dan memilih teman kerja yang dianggap bisa diajak kerja sama, empat aktor dan aktris itu umumnya juga ”ngotot” memasalahkan peran yang sudah mereka terima. Persiapan yang baik mereka lakukan, seperti yang pernah dilakukan Ray Sahetapy ketika berperan sebagai petinju dalam film Opera Jakarta (1985). Cukup lama ia serius berlatih tinju di Sasana Garuda Jaya yang mengorbitkan Ellyas Pical itu. Pada saat pembuatan pun, mereka secara intens berdialog dengan sutradara agar persepsi mereka tentang peran itu bisa diterima dan sesuai dengan kemauan sutradara.

Selama pembuatan, dialog dipertahankan terus. Bahkan kadang-kadang dialog itu sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum pembuatan berlangsung. Ray berkisah bagaimana ia selama seminggu ”hidup bersama” dengan Nya Abbas Akup sebelum pembuatan film Gadis. Deddy Mizwar siang malam berbincang-bincang dengan Sofyan Sharna ketika mereka berdua bersama-sama mencari lokasi untuk pembuatan film Sunan Kalijaga (1983) yang laris sekali dan sekaligus melontarkan ketenaran Deddy Mizwar.

Usaha-usaha para pemain film yang sekarang cukup memberi warna dalam perfilman Indonesia ini seolah- olah memberi kesan bahwa mereka bukan sekadar bintang yang disanjung bak dewa-dewi gemerlap, tapi ada sesuatu dalam diri mereka yang ingin dipertahankan dan disampaikan lewat peran-peran mereka. Christine Hakim yang kini berusia 29 tahun, umpamanya, semakin sulit saja mendapat peran wanita dewasa, hingga ada cerita bahwa ia ikut berperan dalam penggarapan skenario Bila Saatnya Tiba (1985). ”Sekarang saya merasa kesulitan mencari partner kerja yang tidak sekadar menginginkan saya main. Partner kerja yang sama-sama punya kebutuhan. Jadi saya tidak cuma dituntut untuk menggugah emosi supaya orang lain nangis, tapi juga kalau saat saya main, saya jadi bagian pemain lain,” kata Christine.

Tentang peran wanita dalam cerita film? ”Tuntutan buat saya semakin besar. Ini datang dari diri saya sendiri dan masyarakat. Terus-terang, tapi ini nanti dibilang sombong, kebanyakan peran yang ditawarkan umumnya menempatkan wanita yang tidak jelas perannya dalam masyarakat. Wanita dari sisi ibu rumah tangga melulu. Tapi itu memang protes yang harus saya lewati. Saya nggak pernah kecewa pada apa yang pernah saya lakukan.”

Tidak juga kecewa batal sekolah ke luar negeri? ”Sekarang ini sutradara baik tak lebih daripada lima orang. Itu pun kalau begini-begini saja, tak sampai lima atau sepuluh tahun lagi perfilman bisa habis. Saya berharap bisa bekerja sama dengan yang junior,” katanya. Kini ia terlibat kerja sama dengan PT Kanta Indah Film. ”Perusahaan itu membutuhkan saya dan saya membutuhkan mereka,” ia menjelaskan. Konsekuensinya memang beberapa tawaran yang datang beruntun ia tolak. Urusan sekolah pun ditunda.

***

Tindakan Christine Hakim itu boleh dikata merupakan usaha meluaskan basis, yang dengan sendirinya akan meluaskan kesempatan dirinya bermain. Menghadapi kondisi demikian, Deddy Mizwar tetap optimis, ”Selama masih ada orang yang mau bikin film baik. Tapi untuk tahap sekarang, jangan bicara tentang film baik dululah. Tapi film yang bener sajalah, yang layak.”

Meski tidak secara langsung, tampaknya di lingkungannya sendiri Deddy pun berusaha meluaskan basis. Masih tinggal di rumah orang tuanya, di bilangan Kemayoran, Deddy mengorganisasi Sanggar Seni Budaya Betawi. Anggota yang tercatat sampai 200 orang tapi yang aktif hanya 30 orang. Kalau hari Minggu, perabot-perabot rumah dikeluarkan semua. Rumah itu menjadi ajang latihan. Sanggar yang umurnya sudah masuk tahun ketiga ini bermaksud menggalakkan seni budaya, terutama di kampung-kampung. ”Yang biasa sekarang kan yang untuk golongan elit,” katanya. Maka grup yang dikoordinirnya ini kebanyakan main di kampung-kampung.

Christine sendiri, yang juga masih nebeng tidur di rumah orang tuanya dan mengaku tak punya mobil, toh menyempatkan diri membangun rumah kecil yang nyelip di wilayah perkampungan di Puncak dan membeli rumah terpencil di daerah Cibubur. ”Buat nyepi,” katanya. Namun konon ini pun sebuah persiapan ke arah terbentuknya sanggar.

Ray Sahetapy dan El Manik mungkin belum bisa berbuat seleluasa itu mengingat keduanya sudah berkeluarga. Namun ini tak berarti mereka sepi kegiatan jika pekerjaan utamanya sebagai pemain film sedang kosong.

Manik, yang merasa sekarang sudah terbebas dari jebakan permainan dari itu ke itu terus, memecut diri untuk terus belajar tentang akting, bahasa, dialek-dialek daerah, menghapal naskah. Pokoknya, ia merasa dirinya harus selalu siap pakai, sikap yang profesional. Ray Sahetapy mungkin belum sampai tahap itu. Ia masih dalam pencarian dirinya sendiri. Malah persoalannya kini adalah: ”Ingin anti-akting saya sendiri. Melepaskan yang jadi milik saya sekarang,” katanya berat. Dalam hal ini ia malah sering belajar dari istrinya, Dewi Yull, seorang pemain berbakat, namun tanpa latar belakang pendidikan akting macam-macam seperti dirinya. Ia sering heran mengamati istrinya yang bisa tampil begitu wajar. Jawab istrinya, ”Saya hanya melihat apa yang di depan saya dan mencoba melakukannya.”

Ray juga sadar bahwa lingkungan sangat berpengaruh pada dirinya. Karena itu kalau tidak ada kegiatan di film, Ray rajin mengunjungi lingkungan yang pernah menumbuhkannya, menemui beberapa teman atau sutradara untuk berdiskusi. ”Ngobrol saja ke sana kemari. Begitulah perjalanan saya tiap harinya kalau tak ada shooting,” katanya.

***

Sikap mereka rasanya masih minoritas dalam dunia perfilman kita, selain juga ”membatasi” penghasilan mereka sendiri. Tapi tampaknya mereka juga tak terlampau peduli dengan hal-hal itu. Bahkan jika melihat hidup keseharian dan citra yang ingin mereka lemparkan lewat layar film, kelihatannya mereka lebih menampilkan sikap anti-bintang.

Kesadaran bahwa mereka hidup dari film, sementara mereka tak bisa sembarangan menerima tawaran, menyebabkan mereka juga tahu diri dalam mengatur keuangan. Deddy Mizwar dan Ray Sahetapy, umpamanya, mencicil rumah BTN. Sedangkan El Manik yang sudah punya dua anak kecil malah memandori sendiri pembangunan rumahnya.

Mobil juga bukan lagi lambang status buat mereka, seperti yang bisa kita saksikan pada zamannya The Big Five (Yatie Octavia, Robby Sugara, Jenny Rachman, Roy Marten, dan Doris Callebaute). Deddy, umpamanya, tampaknya merasa cukup dengan Corona bekas, dan Ray sebuah mobil kecil. Manik lebih sering tampil tanpa mobil.

Sikap mereka sebenarnya memang bisa kita lihat pada satu-dua orang dari zaman sebelumnya. Slamet Rahardjo, umpamanya, adalah salah seorang tokoh yang paling tidak telah mengilhami mereka. Atau, Bambang Hermanto yang tidak terlalu menggantungkan diri pada film sehingga bisa lebih bersikap. Namun, bahwa ada empat orang yang kini berada di puncak dan tak sepi tawaran tentu merupakan oasis dalam dunia film kita.

Sumber: Nonton Film Nonton Indonesia, JB Kristanto (Penerbit Buku Kompas, Jakarta: 2004)

Terbit pertama kali di Kompas, 16 Februari 1986.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.