Mira Lesmana: Produser Tidak Sama Dengan Cukong

Wawancara :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu, Amalia Sekarjati

(Foto: FI)Nama Mira Lesmana di perfilman Indonesia bisa dibilang melegenda. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak muda yang terlibat dalam Kuldesak, film Indonesia pertama setelah perfilman nasional stagnan sejak awal 90an. Film omnibus dikerjakan secara gerilya oleh kru yang berjumlah sedikit. Selang beberapa tahun, Mira menelurkan dua film yang sukses menarik banyak orang ke bioskop: Petualangan Sherina dan Ada Apa dengan Cinta?.

Atambua 39C menandai kembalinya Mira Lesmana ke perfilman Indonesia, setelah absen tiga tahun pasca kesuksesan Sang Pemimpi. Berbeda dengan dua film Miles Films sebelumnya, Atambua 39C diproduksi dengan kru dan dana yang terhitung minim. Mira Lesmana bercerita bagaimana proses produksi film tersebut dan pengalaman dia sebagai produser di industri film Indonesia.

 

Film Indonesia (FI): Bagaimana proyek Atambua 39C bermula? Kalau tidak salah, Anda sebelumnya ada proyek lain di sana. Apakah berhubungan?

Mira Lesmana (ML): Kami mengerjakan sebuah proyek dokumenter tentang pendidikan, bekerja sama dengan UNICEF, untuk melihat satu sistem yang sudah pernah diaplikasikan mereka di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sewaktu riset, mereka memberikan data tempat-tempat yang kira-kira terkait dengan sistem pendidikan ini. Mereka mau melihat hasil dan kelanjutannya bagaimana: respon dari masyarakat sekitar dan juga pemerintah. Karena, kalau pemerintahnya tidak mendukung, mereka harus diadvokasi untuk bilang bahwa ini berhasil.

Kemudian, kami mencoba menjelajahi beberapa tempat di NTT, salah satunya Timor. Kami ke Maumere, Sika, ke mana-mana. Kami mempelajari Timor lebih jauh lagi, dan ternyata narasumber terbaik kami temukan di Atambua ini. Waktu syuting di Timor, terutama di Atambua, itu berkesan sekali. Intinya, kaget melihat keadaan di sana. Tapi di saat yang sama, kita bisa enjoy banget. Baik masyarakatnya, tempatnya, meski masalah di sana juga masih banyak.

Waktu di Ende, saya berdiri melihat anak-anak syuting. Tim kami cuma tiga belas orang. Syutingnya tuh enak banget, enjoy banget. Waktu itu hari terakhir kami di Timor. Saya bilang sama asisten sutradara dan pimpinan produksi, kebetulan mereka lagi dekat saya. “Eh, kita mungkin nggak ya, bikin layar lebar di sini?” Saya sendiri sudah tahu bahwa itu tidak mungkin. Kalaupun jadi, filmnya tidak mungkin untuk mass audience. Harganya juga tidak bisa tinggi.

Tahu-tahu mereka bilang begini, “Bisa, Mbak! Harus bisa!” Terus saya bilang sama Riri [Riza], “Kalau gue bisa mengumpulkan 700 juta, kita bisa nggak bikin cerita buat layar lebar di Timor? Ya, tentang keadaan di sini.”  Dia juga dengan cepat bilang, “Bisa!” Di kepala saya, biaya 700 juta itu bisa dicari lewat funding dan bisa melalui beberapa jalur. Jadi, saya bilang sama Riri kalau batasnya di 700 juta itu. Pas sudah ditulis, di-breakdown, ternyata 1,3 M. (Tertawa)

Tetapi apa boleh buat. Kita harus usaha, kan? Ditekan-tekan, ya kira-kira jadi 1,2 M kalau untuk produksinya saja. Awalnya dari situ, sih. Setelah itu ya pergi lagi, riset lagi. Bagusnya, perjalanan kami untuk dokumenter saja sudah dua kali. Kami sudah sudah mengenal tempat, sudah mulai mengenal narasumber, sudah kenal. Prosesnya bisa lebih cepat.

FI: Apakah cerita Atambua 39C berdasarkan kisah dari orang-orang yang Anda temui?

ML: Sebenarnya, cerita-cerita itu dari selama kami ngobrol dengan mereka. Juga dari buku-buku yang kita baca, kemudian dikemas menjadi sebuah fiksi. Namun, kisah-kisah ini dialami oleh orang-orang di sana, yang ada di film Atambua 39C. Misalnya, tokoh Ronaldo. Ada banyak Ronaldo di sana: seorang bapak, punya anak laki-laki, istrinya di seberang. Atau Joao, remaja yang tidak punya ibu, putus sekolah. Kemudian, Nikia. Ia adalah korban pemerkosaan ketika masih kecil atau remaja, yang kemudian mengungsi ke Kupang. Itu juga ada. Walaupun tidak berarti ini dokumenter cerita yang dialami para pemainnya, tapi ketiga orang ini pun adalah pengungsi, warga baru. Sehingga, mereka dekat dengan ceritanya, mereka punya teman dan saudara yang juga mengalami hal sama.

FI: Bagaimana respon masyarakat di sana ketika Anda datang dengan rencana syuting Atambua 39C?

ML: Senang sekali. Mereka senang karena ada yang mau menceritakan, karena mereka juga memang merasa ditinggalkan. Maksudnya begini, saya sendiri merasa malu ketika sampai di sana, karena kita nggak pernah membicarakan Timor lagi. Dulu, kayaknya hanya dari tahun 1999 sampai 2003, orang masih membicarakan Timor Timur: perpisahan Timor Timur dengan Indonesia, serta tenaga-tenaga NGO yang masuk ke sana, yang membantu segala macam. Sekarang nggak ada.

Terakhir ada Tanah Air Beta, itupun filmnya bercerita saja seperti cerita anak-anak. Itupun ternyata, ketika saya sampai di Atambua, ternyata tidak seperti itu. Misal, bahasanya. Ternyata Timor punya banyak sekali bahasa. Orang Kupang tidak bisa mengerti bahasa Tetum. Seperti kata “beta”, kata itu nggak ada di Atambua, adanya di Kupang.  Biasanya di daerah bawah karena mereka dapat pengaruh dari Maluku. Tapi kalau Atambua, itu beda lagi. Apalagi orang-orang yang sebenarnya di perbatasan ini, karena bahasa yang digunakan oleh orang Atambua adalah bahasa yang lebih banyak dipakai di Timur, di Dili, orang Timor Timur.

FI: Filmnya sudah diputar di Atambua?

ML: Belum. Kami masih mencari dana lagi untuk membawa filmnya ke sana. Jadi, lagi menunggu funding dari Hubert Bals Fund. Ada juga dua NGO yang mencoba membantu. Respon mereka baik.

Saya maunya nggak cuma di Atambua, tapi ke Timor Leste juga, keliling kalau bisa. Mudah-mudahan tanggal 4 Januari kita bisa jalan, kalau dana terkumpul. Kalau sampai nggak pun, paling tidak, akan kami bawa ke Atambua saja. Tapi maunya sekalian. Nggak ada bioskop kan di sana.

 

Suasana pengambilan gambar Atambua 39 C (Foto: Miles Films)Independen

FI: Anda tadi mengatakan bahwa dari rencana biaya 700 juta menjadi 1,2 M. Di sisi lain, satu cerita yang cukup terkenal dari produksi Atambua 39C adalah sebagian biayanya terkumpul secara crowd funding melalui wujudkan.com. Kalau boleh diceritakan, bagaimana urutannya dari Anda menyusun rencana produksi sampai seluruh modal terkumpul?

ML: Mulainya begini, saya harus memperhitungkan film seperti Atambua 39C bisa dapat berapa penonton. Waktu bilang angka 700 juta ke Riri, saya sudah sadar kalau saya akan membuat film nggak mungkin ditonton kebanyakan orang. Bayangan saya waktu itu 10.000-30.000 penonton saja. Kalau kita bicara jumlah penonton segitu, distribusinya berarti tidak perlu terlalu besar. Kalau 10.000 penonton, uang yang masuk berarti kan cuma 100 juta.

Artinya, saya harus mencari dana yang sifatnya adalah funding, sehingga saya tidak mengandalkan pemasukkan dari tiket bioskop. Kalau masuknya cuma 100 juta-300 juta, berarti kan 1M harus dicari. Dapat dari Hubert Bals Fund 20.000 Euro, sekitar 250 juta. Dapat dari wujudkan.com sekitar 315 juta. Dapat dari sumbangan sahabat-sahabat Miles sampai 200 juta. Jadi, sudah dapat sekitar 750 juta. Kemudian, saya dapet presale TV. Ini sebenarnya juga sesuatu yang berat sekali waktu itu karena pihak televisi bilang, “Ini film apa, nih?” Tapi saya paket penjualannya dengan Ada Apa Dengan Cinta? dan Petualangan Sherina. Kalau tidak membeli Atambua 39C, tidak bisa dapat dua film itu. Pihak televisi setuju. Kami dapat dana lagi, tapi belum mencukupi.

Kemudian cari investor lagi, namun investasinya dalam jumlah aman. Dapat 400 juta. Ada dua orang, jadi masing-masing 200 juta. Dari penjualan televisi nanti kira-kira bisa dapat 10 ribu penonton, mereka sudah aman. Memang berarti Miles dapat nol. Artinya, saya bisa mengembalikan 400 juta itu kepada investor. Investor pun bilang, tidak apa-apa kalau tidak untung. Mereka juga mengerti. Miles sendiri siap untuk tidak mendapatkan keuntungan dari film ini. Investornya juga siap untuk tidak menerima keuntungan, yang penting uangnya balik.

Model penyusunan modal semacam ini bukannya yang pertama. Eliana, Eliana juga seperti ini. Begitu juga 3 Hari untuk Selamanya. Film itu banyak sekali unsur drugs, sex, dan saya tahu ini mungkin bisa bermasalah. Distribusi film itu jangan-jangan lebih sedikit dari Atambua 39C, karena waktu 3 Hari untuk Selamanya masih pakai seluloid, masih mahal. Untuk Atambua 39C, kami masih bisa bikin 20 DCP untuk 20 layar.

Beda halnya dengan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Satu biayanya 8 M, satu lagi 12 M. Atambua ini cuma sepuluh persennya. Jadi, lagi-lagi, kembali ke mau bikin film seperti apa. Prinsip Miles begini: marketing itu sudah harus dari awal. Kita mau bikin film seperti apa? Kita nggak pernah mau membunuh ide kita sendiri. Asal siap, sudah tahu konsekuensinya. Jangan berpikir, mau membuat film seperti ini terus berharap penontonnya akan mencapai 300 ribu, nggak masuk akal. Menurut saya, terlalu banyak produser yang targetnya terlalu jauh dan sebenarnya itu berbahaya. Kalau kita tidak paham film apa yang akan kita buat dan siapa penontonnya, kita tidak akan punya patokan.

Saya merasa saya pembuat film paling independen, terserah deh orang mau bilang apa. Saya independen dan saya bisa buat film apapun. Saya nggak pernah bikin film pesenan, nggak pernah dapat uang dari pemerintah. Apapun yang saya bikin, range-nya bisa macem-macem. Menyesuaikan saja. Saya lagi mau bikin ini, bisa nggak ya. Kalau bisa, kita bikin. Saya lagi mau bikin film buat anak-anak, ya saya bikin. Saya tidak mau mengikuti tren. Tidak ada tekanan dari mana pun. Tidak ada tekanan dari penonton, bahwa saya harus memenuhi keinginan mereka, tidak ada tekanan membuat film berdasarkan apapun lah. Tapi ya itu tadi harus mengerti marketing.

Orang sering salah mengartikan marketing sebagai promosi. Bukan begitu, promosi adalah bagian dari marketing, sementara marketing adalah memahami betul siapa yang sedang kamu mau ajak. Sebuah produk belum tentu cocok untuk semua kalangan, bisa jadi hanya untuk orang-orang tertentu saja. Jadi, di belakang kepala sudah harus selalu ada dan kemudian harga dari produk ini harus disesuaikan.

Beberapa kali orang tanya ke saya, “Kok bisa sih Mir, bikin film 1,2 M, terus besoknya 12 M, terus besok 9 M?” Well, karena tergantung apa yang sedang saya bikin, dan pasarnya beda-beda. Saya ngomong sama macam-macam orang. Kadang saya ngomong sama intelektual, kadang saya ngomong sama anak-anak, kadang saya ngomong sama remaja, kadang saya ngomong sama orang dewasa saja. Marketing itu begitu. Kamu kenal produkmu dan tahu siapa yang akan terima.

Film adalah bisnis yang penuh risiko. Kalau paham marketing, kemungkinan gagal bisa diperkecil. Yang berhasil melebihi ekspektasi juga ada. Laskar Pelangi tuh. Target saya cuma satu juta penonton. Karena target segitu, biaya produksi saya yang patok 8M. Satu juta penonton itu sudah untung. Malah jadi 4,7 juta, siapa yang sangka? Semua pada tanya formulanya bagaimana. Saya tidak tahu. Saya tahunya kalau filmnya bagus dan bisa dinikmati semua umur.

 FI: Dengan adanya kesadaran bahwa Atambua 39C tidak untuk semua orang, bagaimana kemudian Anda mempresentasikan film tersebut di hadapan publik Indonesia? Bagaimana strategi promosinya?

ML: Pasti beda banget dari Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Kalau Laskar Pelangi itu biayanya 8M. 3,5M untuk promosi. Kalau Sang Pemimpi, biayanya 12M. 4M untuk promosi, hampir 30% lah. Saya benar-benar promosi nationwide: pasang billboard, ada iklan televisi, bikin konser, bikin theme song, segala macam. Karena itu tadi, pasar kedua film itu sangat luas, bahkan nasional. Kalau membuat film yang dalam bayangan saya bisa dilihat semua publik, saya nggak mungkin cuma promosi di twitter.

Nah, untuk Atambua 39C, saya nggak mungkin mengulangi strategi serupa. Marketing itu harus jujur. Saya nggak bisa bilang, “Tontonlah Atambua 39C, film yang begini, begini, dan begini.” Buat apa? Saya menipu orang kan kalau orang sudah nonton terus merasa, “Yah, kok gini filmnya?” Menurut saya, itu tidak fair. Promosi haruslah jujur.

Dari trailer Atambua 39C sudah terlihat sebenarnya. Bahasanya Tetum. Ini jelas bukan film untuk semua orang. Promosi pun saya putuskan lebih banyak di social media dan lewat media partner. Kita pasang iklan di Kompas, karena menurut saya pembaca Kompas harusnya nonton film ini. Tapi, harus diperhitungkan belum tentu mereka tertarik, karena mereka juga kadang cuma mencari hiburan. Tapi setidaknya, menurut saya, mereka harusnya tahu tentang film ini. Jadi, bener-bener cuma media partner kita, Kompas. Selebihnya social media. Akun twitter 21 punya banyak follower. Ditambah juga akun twitter saya pribadi, Riri, Miles Films, dan facebook.

Kita juga membuat pameran foto, dua minggu di Anomali, Kemang. Itu juga kami pikir, pendatang di Anomali mudah-mudahan bisa tertarik dan menonton, khususnya anak muda. Walaupun waktu kami ke Anomali, sempet ada yang bilang, “Ini film tentang apa, sih?” Atau malah minta foto. Begitu ditanya, “Sudah nonton filmnya belum?” Terus dijawab, “Kata temenku filmnya berat.” (Tertawa). Kami senyum-senyum saja.

Makanya pas lihat jumlah penonton Atambua 39C, kami tidak terlalu kecewa. Kami senang bisa dapat 10.000 orang. Buat kami, target terpenuhi. Tentu senang banget kalau bisa sampai 30.000 orang, karena kalau sampai segitu, investor kita pun bisa untung. But, that’s okay. Sekarang, yang paling adalah memutar film sebagai usaha advokasi. Cerita Atambua 39C adalah bagian dari trauma yang seharusnya terceritakan dan mereka pun mau melihatnya. Orang UNICEF sudah nonton dan mereka seneng banget.

 

Nicholas Saputra dalam film Gie (Foto: Miles Films)Meleset

FI: Bagaimana dengan film-film lainnya yang Anda produseri? Berapa banyak yang memenuhi perkiraan Anda?

ML: Garasi itu meleset. Saya pikir bisa wide, bisa lebih wide dari yang saya perkirakan. Kalau Eliana, Eliana, sesuai. Untuk Rena, juga sesuai perkiraan. Rumah Ketujuh itu, pas. Tidak rugi, tidak untung juga. Kalau untung juga paling 1.000 perak kali, pokoknya pas-pasan banget. Toh, itu tadinya film televisi. Sang Pemimpi tuh pas. Kalau Sang Pemimpi tuh udah kita duga 2 juta. Ternyata 2,1 juta penonton. Ada Apa Dengan Cinta? juga nggak disangka, Petualangan Sherina apalagi.

Kalau Gie, saya sebenarnya waktu itu berharap bisa lebih. Ada sedikit salah duga, yang ternyata, penonton yang kita tuju itu malas ke bioskop. Penjualan DVD malah di luar dugaan. Ternyata orang-orang yang berusia 40-50 tahun ke atas lebih memilih nonton film itu di rumah, bukan di bioskop. Kami punya core audience kan 16-25 tahun ya. Tadinya saya pikir mereka akan keluar dari sarangnya. Ada yang keluar, tapi tidak sebesar yang saya duga.

Lucu lah waktu Gie itu. Kami suka nongkrong di bioskop untuk lihat reaksi penonton. Terus ada dua orang cewek, penggemar Nicholas [Saputra]. Selesai nonton, mereka bilang, “Itu barusan film apa, sih?” (tertawa). Mereka bilang lagi, “Kita shopping aja, yuk.” Saya sama Nico ketawa saja, sambil tutup muka pakai topi. Kadang-kadang menarik untuk melihat nature penonton kita. Saya pikir mereka penggemar Nico, tapi tetap saja begitu masuk dan filmnya nggak nyambung ya nggak bisa. Dan ternyata memang sejarah dalam Gie itu tak banyak yang tahu, anak muda sekarang terutama. Mereka butuh background untuk bisa menikmati Gie. Jadi, kalau mau bikin film sejarah, jangan yang eksperimental, harus beruntun dengan penjelasan yang lengkap.

FI: Saat ini, jumlah penonton film Indonesia terhitung rendah. Beberapa pembuat film berpendapat bahwa lebih aman membuat film dengan biaya produksi kecil, sehingga kalau rugi ya tidak terlalu rugi, kalau untung ya bagus. Sebelum Atambua 39C, Anda membuat dua film dengan produksi besar. Untuk ke depannya, bagaimana? Apakah Anda akan kembali membuat film dengan biaya produksi besar, atau bertahan di film-film kecil seperti Atambua 39C?

ML: Memang ada beberapa orang yang bilang ke saya, “Kayaknya kita bikin film-film kecil saja untuk mengembalikan penonton.” Menurut saya malah nggak bisa begitu. Betul, penonton akan mendatangi film-film ini, tapi tidak akan besar. Pasarnya tetap spesifik. Kalau bicara dari ekonominya, mungkin aman, tapi tidak akan mendatangkan banyak ke bioskop. Bukan yang seperti itu yang mereka cari di bioskop. They need a good film, they need a good story.

Seringkali ada produser yang datang ke saya dan bilang, “Duh, penonton lagi parah banget nih, angkanya jelek.” Terus saya bilang, film kamu jelek. Menurut saya, kalau filmnya jelek, penonton ya nggak akan datang. Banyak banget produser yang merasa filmnya itu bisa mendatangkan penonton berbondong-bondong, tapi filmnya tak memadai. Penonton film kita, dalam marketnya masing-masing, tetap kritis menurut saya. Penonton film komersil bisa kritis, begitu juga penonton film jenis lainnya. Jadi, kalau kamu bikin film kecil-kecil, akan ada orang-orang ini yang apresiatif dan tetap menonton, tapi ya hanya di situ saja.

Kalau menurut saya, harus bikin film besar, tidak bisa tidak, tapi yang bagus. Kalau kita mau jujur, penonton kita masih butuh sensasi ketika menonton film. Karena itu The Raid sukses. Filmnya pun baik, tidak sekadar sensasi. Banyak produser yang bikin sensasi tapi filmnya jelek. Nggak akan laku juga. Tapi kalau kamu bikin film yang sensasional dan bagus, pasti ditonton.

Menurut saya, Laskar Pelangi itu sensasional. Ada sepuluh anak dari Belitung, yang belum pernah main film sebelumnya, lalu muncul gemilang. Buat banyak orang, itu sensasional. Ceritanya sendiri sensasional. Oke, Surat Kecil untuk Tuhan itu sensasional dalam pengertiannya sendiri ya. Film itu tidak begitu besar biayanya, tapi ceritanya sensasional. Ceritanya menyentuh banyak orang. Tapi ketika mau diulang, susah bikin yang bagus lagi, nggak bisa. Ayat-Ayat Cinta itu sensasional. Orang pulang membawa sesuatu, tapi juga susah untuk diulang yang seperti itu lagi. Nah, coba lihat Di Bawah Lindungan Kabah, misalnya. Menurut saya, mereka mau buat sesuatu yang sensasional, tapi tidak berhasil, kan? Sensasional bisa macam-macam ya, tidak melulu bintang, tapi bisa ceritanya atau temanya. Tidak harus menggebu-gebu juga. Dan kamu tidak bisa bikin film yang sensasional dengan biaya produksi kecil.

Kalau melihat film-film yang box office di Indonesia ini, ada nggak yang harganya kecil? Nggak ada, kecuali Surat Kecil untuk Tuhan. Itu juga nggak kecil-kecil amat. Coba kalau dikumpulkan film yang box office dari dulu-dulu seperti Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta?, Eiffel I’m in Love, Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih I, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, nggak ada yang dana produksinya kecil. The Raid tidak kecil itu. Ini ngomong bujet juga bukan yang jutaan dolar, tapi tetap saja terhitung tinggi. Get Married yang lumayan, tapi film itu juga tidak bisa dibilang dana produksinya kecil. Kalau bikin film besar, production value kelihatan dan orang senang lihat production value dalam film.

Saingan kita itu macam Breaking Dawn dan Skyfall. Bayangkan orang awam. Kalau mau menonton Atambua 39C dan ada Skyfall, mendingan mana? Skyfall, kan? Kecuali orang yang memang, “Gue harus belajar, gue harus tahu” atau yang beranggapan, “Apa tuh Skyfall film Hollywood.” Tapi kan nggak banyak orang yang kayak gitu. Nah, kalau filmmu punya production value yang tinggi, seperti Laskar Pelangi, mau dilawan sama Skyfall pun saya percaya diri. Sang Pemimpi itu diputar bersamaan dengan Avatar. Saya nggak masalah. Akan ada orang yang mungkin menonton dua-duanya, karena punya uang. Atau terpecah. Tapi menurut saya aman. Orang akan mau menonton tanpa terlalu banyak berpikir, pilih yang mana, ya? Kalau memang penggemar Hollywood, dia akan menonton film Hollywood. Yang penggemar film Indonesia, yang tahu akan mendapatkan kualitasnya, ya dia akan menonton Sang Pemimpi. Nah, bedanya waktu itu Avatar semua umur, kalau Sang Pemimpi kan spesifik remaja. Film itu tidak seperti Laskar Pelangi yang semua umur.

Kita harus sadar juga dengan penonton kita. Bayangkan, kalau orang punya uang cuma 10.000 dan dia dari kelas yang biasa. Dia akan mempertimbangkan, mendingan beli pulsa, nongkrong di café, atau nonton film. Jadi, ya filmmu harus di atas Starbucks sama di atas pulsa. (Tertawa) Kalau sama saja, ya dia akan memilih nongkrong, beli kopi, free wi-fi, sama temen-temen cekakakan, atau teleponmu terisi pulsa. (Tertawa). Saingannya begitu kan. Berat. Dan di bioskop nggak bisa ngobrol (Tertawa). Artinya, pengalaman menonton dua jam di bioskop harus meaningful.

Ke depannya, saya akan tetap bikin dua-duanya. Saya akan bikin film sesuai target audiencenya. Target audience saya siapa sih? Ya saya sendiri. Nonton film Hollywood, bisa. Nonton film Zhang Yimou juga bisa, juga. Kalau saya lagi pengen bikin yang semua orang suka, atau Hollywood style, saya akan bikin. Karena kadang kalau habis dari festival film dan nonton banyak film di sana, saya akan cari film Hollywood. Gila nih film Hollywood banget ya, nggak mati-mati. (Tertawa) Kita semua butuh itu. Tapi saya juga nggak akan meninggalkan bikin film gaya Atambua 39C. Saya merasa punya tanggung jawab untuk bicara tentang hal-hal yang orang-orang lupakan. Saya juga merasa punya tanggung jawab untuk mengembalikan penonton ke bioskop. Jadi, saya perlu banyak doa. (Tertawa)

 

Salah satu adegan Laskar Pelangi (Foto: Miles Films)Distribusi

FI: Menurut Anda, apakah sistem distribusi yang ada juga mempengaruhi turunnya angka penonton?

ML: Tentu. Kalau sistem distribusi kita lebih baik,  jumlah penonton kita pasti bisa besar sekali. Tetapi, kita tidak bisa berkutat terus dengan masalah distribusi ini. Menurut saya, orang sepertinya sibuk sekali dengan urusan distribusi ini. Meski memang harus terus pelan-pelan kita benahi dan pemerintah harus turun tangan. Bioskop kelas dua harus disebar ke seluruh pelosok nusantara.

Manusia kita itu 250 juta, hampir 300 juta, tetapi bioskopnya cuma ada di kota besar dan di mall. Apa artinya? Kita cuma bisa bikin film untuk orang-orang yang biasa atau bisa nyaman masuk ke dalam mall. Banyak lho, orang tidak terbiasa masuk ke dalam mall, yang belum apa-apa akan merasa, “Itu bukan tempat gue.” Mungkin ada mall yang kelasnya lebih di bawah, tetapi masuk ke mall itu nggak cuma beli tiket kan akhirnya, tapi harus beli makan dulu, minum dulu, dan sebagainya. Jadi, kita punya target audience itu mau tidak mau adalah B. Ada sebagian yang C. Tapi manusia Indonesia ini banyak sekali yang butuh menonton ke bioskop. Film seperti Laskar Pelangi akhirnya bisa banyak yang tonton dan nikmati, karena terpaksa saya bawa keliling layar tancap, ke segala pelosok. Banyak dari kita yang nggak punya bioskop.

Kalau kita menyadari sistem distribusi tahun 1998 dengan sekarang, yang dulu itu jauh lebih jauh menguntungkan yang sekarang bagi produser. Karena tidak melalui distributor, langsung ke bioskop. Kerja jadi lebih berat untuk PH-nya, untuk produsernya. Tetapi pembagian yang 50:50 ini, 50 beneran buat kami. Kalau ada distributor, bisa dipotong lagi sampai 30%. Itu yang harus dipahami juga. Jadi, distribusi itu bisa tetap seperti ini. Kecuali kalau kemudian sudah melebar, dan ketika dia meluas lalu pemasukan lo bisa menjadi lebih banyak, ada distributor itu masuk akal. Nggak apa-apa dipotong. Karena lo yakin, langsung bisa disebarkan. Kayak di Amerika sana. Film-film Hollywood kan paling sedikit dicetak 4000 copy. Kalau nggak ada distributor, produser yang mengerjakan, mati saja.

Memang bisa dibayangkan kalau bioskopnya bertambah, layarnya bertambah, dan segala lapisan itu bisa, wah itu oke banget. Dan saya nggak mengerti kenapa itu nggak terjadi juga. Kalau pemerintah turun tangan ya, maksudnya. Kalau pengusaha, mungkin takut, bersaing dengan 21 atau semacamnya. Tapi kalau pemerintah turun tangan, itu kan kebijakan. Yang nantinya bisa pelan-pelan berdiri sendiri. Menurut saya, pemerintah tidak pernah memikirkan perfilman Indonesia secara menyeluruh, tidak pernah bulat.

Film kita masih terlalu dibagi dalam kelas. Komersial atau industri, dan kebudayaan. Menurut saya, film seharusnya tetap dipikirkan dalam satu kesatuan. Nggak bisa dipisahkan. Pemisahan itu kan hanya dalam pola pikir dan pola pendistribusian. Tapi kan secara keseluruhan, kalau kamu benar-benar bisa belajar, itu saling menopang. Kalau terus menopang yang kebudayaan, tapi tidak menopang film komersial yang bagus, jadinya begitu. Jadinya film kecil-kecil.

Ambil contoh kasus di Australia. Kemarin saya sempat keliling mengunjungi beberapa comission di Australia. Mereka bilang, film Australia sekarang itu susah sekali untuk maju. Karena semua pembuat film mengharapkan funding. Ketika mereka mengharapkan funding, ada kriteria film seperti apa yang bisa dibiayai. Di Australia, film-film yang yang sifatnya cultural. Jadi, mereka tidak mau bergerak sendiri mencari uang investasi untuk sebuah film, semuanya menunggu, dan ketika filmnya jadi ya kelasnya itu. Sekarang ada banyak sekali film bagus, tapi kelasnya bukan kelas untuk penonton umum. Industri tidak bisa hidup, dan jadi masalah karena pembuat filmnya tidak mau mencari uang sendiri. Semuanya menunggu dari pemerintah. Belum lagi kalau berantem: kalau yang satu dikasih dan yang lain tidak dikasih.

Itu sebabnya, menurut saya, sistem funding harus dipikirkan masak-masak dan dilakukan secara hati-hati. Banyak pembuat film yang bilang “Wah, ini pemerintah sih nggak kasih uang”. Tapi kita juga bisa cari sendiri, kan? Jangan terlalu bergantung sama pemerintah, walau pemerintah memang punya tanggung jawab. Pemerintah perlu bikin sekolah film, ajarkan mereka mencari investasi. Pemerintah perlu bikin skema investasi yang memudahkan orang film dapet investasi. Bukan dengan dikasih segini dan segini. Daripada kasih ikan, mending kasih pancingannya.

 

Salah satu adegan Sang Pemimpi (Foto: Miles Films)Cukong

ML: Kita memang punya sejarah yang dulu bilang kalau produser adalah cukong. Padahal nggak begitu. Produser tidak sama dengan cukong. Banyak yang datang ke saya dan bilang, “Mbak Mira bukannya sudah bikin film box office gila-gilaan, ya? Bukannya sudah kaya? Kok masih saja cari funding?” Nggak ngerti kan orang-orang bagaimana cara kita kerja. Saya kerja sama investor. Keuntungan itu datang ke mereka. Kita harus berbagi. Semakin besar dapat untungnya, semakin besar pula yang kita bagi. Belum berbagi ke bioskop. Saya bisa untung 5 M di satu film, bisa jadi cuma dapat 1 M di film lain. Begitulah cara saya mendapat investor untuk proyek-proyek film ke depannya. Kalau kebanyakan produser yang cukong kan dari uang mereka sendiri. Memang bisa semua duit masuk kantong, tapi saya tidak bekerja seperti itu. Saya kan bukan orang kaya. Saya cuma punya ide, menawarkan ide ke orang-orang yang mau mendukung. Kantor saja kami belum punya sendiri, masih sewa.

FI: Apa sih perbedaan dan pembagian kerja antara produser, produser lini, co-producer, dan executive producer?

ML: Produser yang utama. Dia adalah orang yang memutuskan apa yang akan difilmkan, siapa yang akan menyutradarai. Kemudian, memastikan dananya terkumpul, mengumpulkan dan memilih semua krunya. Dia juga yang memastikan dan berpikir marketing tadi, ini film buat apa dan siapa. Nah, kalau line produser itu sama dengan pimpinan produksi (pimpro). Kalau filmnya besar sekali, seorang line producer bisa punya dua pimpro di bawahnya. Karena produser lini itu bahasa yang menurut saya tidak enak, dan kalau production manager seharusnya posisinya lebih tinggi, kita akhirnya tetap pakai istilah line producer. Line producer melaksanakan hariannya, persis di bawah produser.

Kalau co-producer itu beda lagi. Kadang-kadang ada proyek yang di bagian-bagian tertentu, seorang produser dibantu oleh produser lain. Misalnya, untuk mencari dana. Misalnya, saya di film Babi Buta yang Ingin Terbang, saya berperan sebagai co-producer. Kenapa? Sebenarnya yang menginisiasi proyek itu adalah saya. Saya yang membawanya ke Jepang, mencoba memperkenalkan ke beberapa orang, kemudian sampai dapat bantuan dari Hubert Bals. Setelah itu saya melepas proyeknya, produser diambil alih oleh Meiske Taurisia dan Edwin. Mereka jalan sendiri, saya membantu menyebarkan supaya ini dibantu, tidak terlibat lagi di dalam produksi secara keseluruhan. Kesehariannya tidak, secara keseluruhan mereka mendapat dana dari mana saja, juga tidak. Mau mendistribusikannya gimana, itu juga nggak. Dia punya produser lain lagi, dari Hongkong kalau tidak salah, yang membantu mencari funding tambahan.

Kalau executive producer, itu sebenarnya hanya digunakan di sistem studio di Hollywood. Inilah orang-orang yang berkuasa, yang bisa menaruh uangnya di film. Tapi kalau di kita kan nggak ada. Sehingga, investor itu kemudian mendapat titel executive producer. Tapi kalau kayak Raam Punjabi, bisa tuh istrinya yang dapat titel Executive Producer, karena mereka hampir seperti studio, kan? Uangnya datang sendiri, tidak ada pinjaman, tidak ada investor. Misalnya yang produksi istrinya dan dia bilang sama bos perusahaannya, “Gue izin bikin film ini untuk ini, dana yang akan masuk segini-segini.” Berarti dia jadi Executive Producer. Dia mengiyakan untuk aspek finansial.

FI: Soal FFI, kapan Anda akan memasukkan film Anda ke FFI lagi?

ML: Tadinya saya pikir tahun ini saya bisa. Tadinya saya berharap, dengan hadirnya ibu Mari Pangestu, akan terjadi perubahan besar. Tapi ternyata tidak. Orangnya masih dia-dia juga di dalam situ. Ya sudahlah. Ya, menurut saya, FFI itu nggak independen saja. Saya terlalu obsessed dengan independensi (Tertawa). Udah gitu, kalau orang nanya independensi itu apa, saya punya definisinya sendiri lagi. Banyak orang kita yang mengaku independen, tapi sebenarnya tidak independen sama sekali.

FI: Memangnya, kalau menurut Anda, pembuat film independen itu apa?

ML: Istilah independent filmmaker itu lahir di Amerika, karena di sana ada sistem studio, yang mengekang banyak orang dengan aturan-aturan studio. Sehingga lahirlah anak-anak muda, orang-orang yang bekerja di luar sistem, dan mereka menyebut diri mereka independen. Di Amerika sendiri sebenarnya masih banyak perdebatan. Karena awalnya yang membuat mereka punya gaya, yang out of the box, out of Hollywood, ya di awal-awal itu. Misalnya, kameranya goyang-goyang, atau yang lain-lain, ada definisi-definisinya sendiri. Ada yang bilang, kalau filmnya kelihatan berbiaya kecil, itu independen tuh. Jadi, perdebatan itu masih terjadi. Tetapi sebenarnya yang utama adalah non-hollywood money. Tetapi sekarang banyak sekali independent filmmaker yang dibiayai oleh Hollywood. Sudah jadi perdebatan juga, tuh. Apa sih independent filmmaker itu?

Pada akhirnya, menurut saya, kita harusnya tidak dikotak-kotakkan. Agak sinis sebenarnya ketika saya bilang saya yang paling independen, karena Miles sering sekali dicap seolah-olah sebagai studio. Kalau menurut saya, mau studio, mau independen, filmnya bagus nggak sih? Sebuah film seharusnya bisa bicara untuk dirinya sendiri. Ia harus bisa berdiri sendiri.

Menurut saya, mengkotak-kotakkan itu berbahaya. Seolah-olah ada pemahaman, ketika filmnya bagus, tapi kamu nggak independen, filmnya jadi nggak bagus. Kok begitu? Atau, kalau penonton sudah sejuta, kamu nggak bisa bilang dirimu independen. Kesannya kalau independen, film nggak boleh laku. Terus saya jadi bingung. Uang saya yang cari sendiri. Ide saya cari sendiri. Saya tidak punya sebuah tatanan, saya tidak punya studio. Karena film saya laku, film saya nggak independen? Itu kan menyebalkan.

Pada akhirnya, saya jadi sinis. Terserah. Terserah orang mau bilang saya apa. Saya cuma bikin film yang saya mau, pokoknya begitu. Dan menurut saya, begitulah independent filmmaker. Saya buat film yang saya rasa perlu dibuat. Tanpa ada pengaruh dari pemerintah, dari iklan, dari apapun itu. Saya lebih baik memikirkan penonton film saya saja. Saya masih mau bicara sama anak-anak, saya masih mau ngomong sama remaja, saya masih mau bicara sama kaum intelektual. Saya mau bicara dengan sebanyak mungkin orang yang saya bisa temui.

Komentar 1

Netral
4 tahun yang lalu

Artikel yang bermanfaat dan menambah ilmu. Saya izin copas :)

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.