Misbach Jusa Biran Tutup Usia

Berita :: Penulis: Lintang Gitomartoyo

Misbach Jusa Biran ketika bertemu tim FI di rumahnya, Bogor, Februari 2012 (Foto: FI)Pendiri Sinematek Indonesia, sutradara, dan penulis skenario H. Misbach Jusa Biran (78 tahun) menghembuskan nafas terakhir hari ini Rabu, 11 April 2012 pukul 07:12 pagi di Eka Hospital, Tangerang. Beliau telah menjalani perawatan di rumah sakit sejak 31 Maret 2012 karena gangguan pernafasan. Menurut istrinya, Nani Widjaja, terdapat cairan di paru-paru Misbach, sehingga terjadi gangguan pernafasan. Menurut pihak keluarga, jenazah beliau akan disemayamkan di pemakaman Pondok Pesantren Al Ihya, Ciomas, Bogor. Beliau akan dimakamkan dekat makam putrinya, Sukma Ayu, yang sudah mendahuluinya beberapa tahun yang lalu. Pemakaman ini rencananya akan dilakukan pada pukul 15.30. 

Misbach Jusa Biran adalah sosok yang sangat berjasa dalam perfilman Indonesia. Lahir di Rangkasbitung, beliau adalah lulusan Taman Madya (SLA) Taman Siswa Jakarta. Di bidang produksi, beliau dikenal sebagai sutradara dan penulis skenario. Ia memulai pekerjaan di bidang film sebagai pencatat skenario di Perfini untuk film Puteri dari Medan (1954). Kemudian ia menjadi pembantu sutradara di film Tamu Agung (1955) karya Usmar Ismail. Film pertama yang ia sutradarai adalah Pesta Musik La Bana (1960), dilanjutkan dengan delapan film lainnya, termasuk Bintang Ketjil (1963), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966), dan film terakhir yang disutradarinya, Honey, Money and Djakarta Fair (1970).

Selain sebagai pembuat film, Misbach juga dikenal sebagai perintis pembentukan Karyawan Film dan Televisi (KFT); kemudian menjadi Ketua Umum sejak 1978 sampai 1991 dan anggota Dewan Penasehat; anggota Dewan Film Nasional periode 1969-1991; pengajar mata kuliah Sejarah Film Indonesia dan Penulisan Skenario Film di Akademi Sinematografi LPKJ; salah satu perancang terbentuknya Yayasan Citra, yang kemudian dilanjutkan dengan pendirian Arsip Film atau Sinematek Indonesia (sejak 1975), arsip film pertama di Asia Tenggara, yang dipimpin beliau dari awal berdirinya sampai tahun 2001. Ia juga menerima penghargaan Lifetime Achievement dari SEAPAVAA (South East Asia & Pacific Film & Audio Visual Archive Association) untuk pengabdiannya di Sinematek.

Misbach Jusa Biran juga dikenal sebagai wartawan dan penulis. Beberapa karyanya adalah Bung Besar (drama, 1958, menerima Hadiah Kedua Sayembara Penulisan Naskah Drama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), Menjusuri Djedjak Berdarah (Novel, 1967, yang kemudian difilmkan oleh Misbach sendiri pada tahun yang sama), Keajaiban di Pasar Senen (kumpulan cerpen, 1971), Oh, Film (kumpulan cerpen, 1973), dan Teknik Menulis Skenario Film Cerita (buku panduan, 2007).

Sepanjang hidupnya, Misbach Jusa Biran selalu dekat dengan insan perfilman dari berbagai generasi. Salah satu dokumentasi tentang Misbach Jusa Biran dapat dilihat dalam film dokumenter Misbach: Di Balik Cahaya Gemerlap karya Edwin yang sempat diputar di Bulan Film Nasional 2012 oleh Kineforum pada Maret 2012.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.