Murti Hadi SJ: Soegija Bukan Film Dakwah

Wawancara :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Murti Hadi SJ pasca pemutaran Soegija untuk pers, 24 Mei 2012, Jakarta. (Foto: FI)Soegija bertutur tentang perjalanan A Soegijapranata SJ, uskup pertama asli Indonesia, dari tahun 1940 sampai 1949. Film yang disutradarai Garin Nugroho ini cukup masif skala produksinya. Konon, sekitar 200 kru, 2000 pemain ekstra, dan 14 miliar rupiah dikerahkan untuk mereka ulang suasana di tahun-tahun perang kemerdekaan. Di balik proyek film ini ada SAV Puskat, pusat pelatihan dan produksi audiovisual yang didirikan oleh para imam Jesuit tahun 1969 di Yogyakarta. Adalah Romo Murti Hadi Wijayanto SJ, salah seorang pengurus SAV Puskat, yang pertama kali memiliki ide untuk mengangkat Soegijapranata ke layar lebar. Ide tersebut yang kemudian ia kembangkan bersama Garin Nugroho, Djaduk Ferianto, Armantono, dan kawan-kawan lainnya sampai menjadi film Soegija.

Pada tanggal 24 Mei 2012, seusai pemutaran Soegija untuk pers di XXI Setiabudi One, Jakarta, Murti Hadi bercerita tentang proses di balik Soegija.

 

FI: Bagaimana awalnya ide film Soegija dikembangkan?

MH: Begini, Puskat sebelumnya sudah dua kali membuat dokumenter sejarah gereja. Ada 100 Tahun Sendangsono. Ada Bethlehem van Java, tentang Romo Van Lith. Film berikutnya saya pikir harus tentang anak didiknya van Lith: Romo Soegijapranata. Di sini ide film Soegija pertama kali ada. Ketika sampai Soegijapranata, saya ingin bicara soal ke-Indonesia-an. Waktu itu juga Romo Banar memberi tahu kalau Mas Garin [Nugroho] juga punya rencana membuat film tentang Soegijapranata. Romo Banar meriset sendiri dan menulis buku, saya sendiri riset setahun buat filmnya. Pada tahun kedua itulah kami ketemu dan jadi satu tim.

Kebetulan Garin waktu itu ada acara di Jogja. Saya datangi saja dan tanya, “Mas, katanya mau buat film tentang Soegijapranata ya?” Dia jawab iya. Saya pun mengajak untuk kerja sama. Puskat siap kontribusi untuk riset, Mas Garin memikirkan artistik dan segala keputusan kreatif. Garin memang seorang Muslim, namun concern kami serupa: membuat karya yang bisa mengangkat tokoh Soegijapranata ke mata publik. Jadilah kami mengadakan pertemuan sebulan sekali sampai akhirnya masuk ke tahap penulisan skenario. Skenario ditulis hampir setahun. Setelah draft ke-12, barulah kami turun ke lapangan untuk syuting. Saya produser, Garin sutradara.

FI: Apakah Soegija awalnya direncanakan sebagai dokumenter?

MH: Tidak juga. Kebetulan saja Puskat sebelumnya produksi dokumenter. Tapi kami terbuka untuk ide-ide baru di Soegija. Kalau pun ada rencana, itu juga untuk televisi. Untuk layar kecil. Baru setelah ketemu seniman-seniman ini kepikiran buat layar lebar. [Tertawa]

FI: Dari seluruh perjalanan hidup Soegijapranata, kenapa memilih untuk mengangkat sepuluh tahun perjalanannya sepanjang Perang Kemerdekaan, dari tahun 1940 sampai 1949?

MH: Di situ ada peristiwa-peristiwa penting. Waktu itu kami memang kesulitan. Kalau mau mengikuti perjalanan dia dari awal sampai akhir. Banyak sekali yang sudah dia lakukan. Jadilah kami mengambil masa paling krusial: perang kemerdekaan. Memang pada akhirnya kami memakai sejumlah elemen fiktif untuk menyatukan banyak kejadian dan banyak karakter ini, sehingga bisa jadi satu cerita yang utuh dalam Soegija.

FI: Ada berapa banyak elemen fiktif dalam Soegija?

MH: Fiktifnya banyak. Kejadian historis lebih banyak menjadi background dalam film. Kalau mau dihitung, elemen fiktif bisa sampai 60%. Fiktif di sini saya maksudkan bukan fiksi yang dibuat-buat ya. Ini fiktif yang kami bentuk setelah memperlajari kejadian dan orang-orang yang berada di Soegija waktu itu.

Tokoh Lantip [diperankan oleh Rukma Rosadi] itu sebenarnya namanya Munajat. Dia banyak menulis tentang Soegija. Dia dekat dengan beliau. Karena itu kami pakai catatan harian dia juga dalam menyusun film. Tokoh Suwito [Eko Balung] kami dapat inspirasi dari Suwandi, mertua WS Rendra. Yang kami undang kakaknya Suwandi. Dia bercerita pengalaman dia di keluarga tahun ’48. Dia cerita kalau pemusik pribumi main sama orang Belanda, dia harus berdiri, tak boleh duduk. Cerita-cerita kecil seperti itu yang menarik.

FI: Berapa lama risetnya?

MH: Sekitar tiga tahun.

FI: Dari mana saja sumbernya?

MH: Catatan-catatan yang kami pakai tahun ‘47 sampai ‘48. Kami punya banyak data di situ. Salah satunya adalah Perang Lima Hari di Semarang, yang memulai sejumlah kegiatan diplomatik antara Jepang dan sekutu. Itu menyelamatkan kota Semarang dari serangan Jepang. Clash pertama dengan Belanda tahun ‘47, di Jogja, di mana Soegija membuat pidato ke pihak Belanda untuk gencatan senjata. Clash kedua dengan Belanda tahun ‘48, di Jogja juga, di mana Soegija banyak menulis tentang kondisi perang waktu itu.

Soegija menghubungi Vatikan untuk mengirim duta. Saya tidak tahu negara pertama siapa, tapi mengingat tindakan Soegija kejadian tahun ’47, bisa jadi Vatikan adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Kalau Vatikan mengakui, berarti pengaruhnya ke Eropa waktu itu sangat besar.

Selain buku dan catatan harian yang sudah saya sebutkan tadi, kami juga banyak mengambil inspirasi dari foto-foto tahun 40an. Lalu juga narasumber yang kita kenal, yang mengalami Soegija pada waktu itu. Lebih banyak umat yang tinggal di gereja, yang kenal dekat dengan Soegija.

FI: Belakangan ini banyak isu beredar kalau Soegija merupakan film dakwah, kristenisasi, dan sejenisnya. Bagaimana Anda dan tim produksi menyikapinya?

MH: Dulu kami selalu takut kalau Soegija dianggap film Katolik. Tokoh utamanya seorang uskup. Salah-salah orang kira ini film dakwah. Ini bukan film dakwah. Ini film tentang nasionalisme. Dan renungan-renungan Soegija sangatlah universal. Itu yang kami tekankan. Bukan dia sebagai uskup. Tapi itu juga yang bisa kita jadikan teladan dari Soegija. Dia berani keluar dari keuskupannya, berani keluar dari jubahnya, untuk bertemu dengan masyarakat, dengan banyak orang di luar lingkungannya. Kami pun sampai pada kesimpulan: kalau mau ngomong Soegija, harus bicara soal Indonesia juga.

FI: Apakah bioskop akan menjadi satu-satunya ekshibisi atau ada rencana pemutaran setelah itu?

MH: Di luar dugaan, kami mendapat banyak tawaran untuk pemutaran di mana-mana. Kami yakin bioskop takkan cukup, karena banyak daerah yang tidak punya di bioskop. Jadi setelah Soegija selesai diputar di bioskop, kami akan mengadakan pemutaran kelling, dari kota ke kota, dari gereja ke gereja. Pastinya kami mengutamakan pemutaran di tempat umum terlebih dahulu, baru masuk ke lingkungan gereja. Meski begitu, film ini tentunya bisa diputar di mana saja, terbuka bagi siapa pun yang mau memutar.

FI: Saya menangkap ada dua peran yang Soegijapranata pegang sepanjang film. Satu, dia berperan sebagai penyebar kesadaran bahwa Indonesia telah merdeka. Dua, tindakan dia menyebarkan kesadaran kalau orang Katolik juga orang Indonesia.

MH: Betul, ada konteks demikian. Waktu Perang Kemerdekaan, ada dua konflik yang terkait dengan umat Katolik. Banyak orang menanggap Katolik sebagai agama penjajah. Karena agamanya dari Barat. Banyak pastur Katolik di Indonesia waktu itu juga yang berasal dari Belanda. Umat Katolik sendiri pun juga jadi minder. Harus ikut berjuang atau tidak. Soegija yang mencairkan dua itu. Dia yang berjuang di luar lingkungan keuskupannya, untuk membantu bangsa, dengan mengontak Vatikan dan sebagainya, dengan membuka gereja sebagai tempat mengungsi. Soegija tidak terikat oleh agama untuk berjuang. Ini yang tercermin dari kutipannya yang terkenal itu: “100% Katolik, 100% republik”.

Untuk umat Katolik sendiri, dia meyakinkan mereka yang masih ragu untuk berjuang. Ada satu adegan sebenarnya yang tidak masuk dalam film, ketika Soegija memarahi seorang pemuda Katolik yang bertanya, “Apakah kami harus ikut berjuang?” Jawaban Soegija, “Ulangi ucapanmu sekali lagi. Pergi sekarang berjuang. Kamu boleh pulang kalau kamu sudah berjuang.”

FI: Dalam film juga ada satu garis cerita tentang keluarga Tionghoa dan diskriminasi yang mereka hadapi. Apakah pada waktu itu sentimen anti-Tionghoa memang sudah kencang?

MH: Sebenarnya tidak terlalu ya. Waktu itu memang ada banyak golongan dan semuanya menuju satu hal yang sama: kemerdekaan. Cerita tentang Tionghoa ini ada setelah Perang Lima Hari di Semarang. Ada penjarahan besar-besaran di Semarang. Kaum Tionghoa lebih berada. Toko-toko mereka jadi sasaran penjarahan. Waktu perang, Semarang kan diblokade oleh Jepang. Seusai perang, rakyat kelaparan dan terjadilah penjarahan yang dimaksud. Dalam film, penjarahan tersebut memang tidak kami gambarkan. Cukup menjadi latar belakang yang dipahami setiap tokoh. Cukup ada sejumlah dialog saja yang merujuk ke sana.

FI: Apakah kemudian memasukkan cerita tentang etnis Tionghoa dalam Soegija supaya film bisa punya suara untuk masa sekarang?

MH: Betul, betul sekali. Komitmen kami saat membuat Soegija adalah film ini harus bisa bicara pada kondisi sekarang. Tidak boleh cuma sekadar penceritaan ulang dari perjalanan hidup Soegija, tidak boleh juga hanya memotret kondisi masa lampau. Film ini haruslah bisa bicara pada zaman sekarang, pada orang-orang masa kini. Jadilah kami menekankan juga cerita Tionghoa ini. Kami ingin bicara tentang multikultur, tentang keterbukaan terhadap banyak kultur. Keadaan yang sama kita hadapi juga kan di masa sekarang. Melalui film Soegija, kami mau bilang kalau semua orang sama. Hanya ada Indonesia, bukan kelompok-kelompok yang terpisah oleh ras dan agama.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.