Nani Widjaja: Lima Dasawarsa di Film dan Televisi

Wawancara :: Penulis: Arie Kartikasari

Nani Widjaja ketika diwawancarai FI di Sentul (Foto: FI)Mengawali karier bermain film sejak tahun 1960an, Nani Widjaja telah aktif selama lima dasawarsa. Dari 110 film yang ia bintangi, sebagian besar sebagai pemeran pendukung. Tidak hanya bermain film, ia juga menjadi saksi dari berjuangnya para pemain film di akhir 1960an, saat produksi film hanya ada dalam hitungan jari, dan para pemain film bertahan untuk hidup sehari-hari. Menyikapi bahwa semua peran dalam media apapun—film maupun sinetron—sama penting adalah kunci Nani Widjaja dalam menjalani pekerjaannya.

Film Indonesia (FI): Bagaimana awalan gemar berkegiatan di sanggar kesenian bisa membawa Anda ke film?

Nani Widjaja (NW): Awalnya saya memang ikut sanggar seni dari kecil. Sejak kecil saya suka menari. Sampai sekarang juga, tapi tarian sederhana ya, yang penting bisa olah tubuh saja. Saya bergabung dengan Sanggar Tunas Mekar dan sempat menjadi duta seni Indonesia, menari di beberapa negara. Sanggar itu sendiri berfungsi untuk membina anak-anak muda yang memiliki potensi seni. Jadi tidak hanya sanggar tari, tapi ada teaternya juga. Saya juga berlatih teater, itu yang membawa saya masuk pada dunia film.

FI: Di antara itu semua, juga masih sekolah sampai pada jenjang perkuliahan, dan mengambil jurusan Kriminologi?

NW: Sebenarnya itu karena saya ingin menantang diri saya. Waktu itu masuk jurusan kriminologi susah sekali, apalagi untuk perempuan. Jarang sekali. Setelah saya coba sendiri ternyata saya bisa masuk kriminologi juga (tertawa). Tapi jujur saja, saya mengambil manfaat cukup banyak di jurusan itu. Dari kuliah tersebut saya mengerti tentang bermacam-macam karakter orang. Karena kita juga belajar psikologi. Hal ini sangat berguna saat saya harus memainkan karakter saya, atau saat saya harus berhadapan dengan lawan main.

FI: Banyak sekali film-film yang dibintangi oleh Anda sebagai pemain pendukung. Sebetulnya apa kontribusi pemain pendukung dalam film?

NW: Untuk saya pemain pendukung itu sama pentingnya dengan pemain utama, karena pemain utama tidak akan menonjol tanpa adanya pemain pendukung. Ia semacam penambah atau bahkan pelengkap dimensi. Menjadi pemain pendukung untuk saya sama pentingnya dengan pemain utama. Saya memperlakukan keduanya sama. Pada saat saya bermain menjadi Ibu Ngasirah (Mas Ayu Ngasirah, R.A. Kartini), saya ingat sekali saya memilih ikut dengan kru yang datang duluan ke lokasi shooting. Kebetulan kita shooting di daerah Jepara juga. Selama berhari-hari saya mencoba memahami kehidupan masyarakat di sana. Bahkan sempat bertemu dengan orang yang mengenal Kartini, termasuk ibunya. Di hari kesekian saya ada di sana, akhirnya saya mendapatkan model perempuan yang cukup tua, yang akhirnya saya jadikan bahan eksplorasi akting saya. Saya ikuti dia, saya lihat dia dari kejauhan, kadang mengobrol. Semua itu saya lakukan, sementara peran Ngasirah sendiri bukan peran utama. Tapi menurut saya penting untuk serius. Bahkan tidak memandang media.

FI: Ini maksudnya tidak memandang bermain di film ataupun sinetron?

NW: Benar. Kadang saya masih lihat ada pemain yang meremehkan itu. Padahal sudah menjadi tugas mereka untuk bermain dengan baik. Saya beruntung bisa bermain dalam serial Bajaj Bajuri. Perannya bagus, serta rekan main yang lain juga bermain dengan baik. Saya lihat latar belakang mereka juga memang benar-benar seniman, seperti Mat Solar, Fanny Fadillah dan Rieke Dyah Pitaloka. Totalitas berakting juga membawa mereka mampu bermain dengan bagus, dan jadi diingat terus oleh penonton.

FI: Seperti apa kewajiban seorang pemain, ketika dia mendapatkan skenario?

NW: Kalau proses saya, begitu menerima skenario jelas saya baca dulu, lalu ditandai bagian-bagian yang harus saya mainkan, lalu mulai fokus dengan detail yang ada di skenario. Misalnya, seperti apa ruang tempat saya nanti berakting? Background-nya seperti apa? Tapi pada waktu di awal sekali biasanya saya juga bertanya dan berdiskusi dengan sutradara, seperti apa karakter yang harus saya mainkan ini. Kita yang proaktif bertanya kepada sutradara. Orangnya seperti apa? Misalnya orang kaya yang tidak sekolah dengan orang miskin tetapi pintar, itu saja berbeda. Tetapi sekarang ini prosesnya berbeda, jauh lebih cepat. Tidak ada waktu untuk mengerjakan seperti itu. Dulu, kontrak shooting saja sampai empat bulan, sekarang tidak selama itu.

 

Lima periode

FI: Melihat rentang perjalanan karir Anda, kira-kira terbagi menjadi berapa periode?

NW: Menurut saya jadi lima periode. Pertama tahun 1950an, saat layar bioskop masih layar segi empat dan hitam putih, shooting masih menggunakan kamera 16mm. Kebanyakan pemain adalah orang-orang teater, zamannya Mat Item dan sisa-sisa orang dulu masih ada. Di zaman itu juga muncul pemain seperti Mieke Wijaya. Awalnya memang orang-orang sandiwara. Kalau berbicara masih lantang (mencontohkan dengan gerakan besar/luas pemain teater) "Aku katakan...".

Setelah itu zamannya Pak Usmar Ismail. Dia mengetengahkan ide baru karena baru selesai belajar di luar negeri. Ada Teguh Karya juga. Masa akhir tahun 1960an adalah salah satu masa yang susah sekali dalam memproduksi film. Beberapa teman pemain sampai ada yang alih profesi dan tidak bermain film lagi. Setelah Pak Usmar sudah tidak aktif lagi, lalu diteruskan oleh generasi Sjuman Djaya dan Wim Umboh. Dari 1960an mereka sudah berkecimpung sebagai pembuat film, tapi di era 70an mereka baru menjadi pemimpin, menjadi sutradara, menulis skenario dan lain-lain. Sjuman Djaya juga baru pulang dari Moskow. Periode itu agak panjang, sampai pada periode 80an. Baru setelah itu periode baru lagi setelah ada tamatan anak-anak Institut Kesenian Jakarta sebagai pembuat film. Sampai dengan tahun 1980 dan 1990an. Di tahun-tahun itu film produksi turun kan. Lalu di masa yang sekarang ini lah.

FI: Bagaimana para aktor dan aktris akhirnya dapat menghidupi diri dan tetap bermain film di masa akhir 1960an?

NW: Beberapa orang, seperti saya dan Sukarno M. Noor misalnya, tetap berusaha untuk berada di jalur seni. Kalau saya memang penari, tetapi kalau Sukarno M. Noor, seorang pemain yang garang luar biasa. Tiba-tiba saya dengar dia ikut main sandiwara. Saking cintanya dengan seni, di pertunjukan teater dia menari, tari payung, saya ingat sekali (tertawa). Ketika main film biasanya dia menjadi jagoan yang jauh sekali dengan saat harus dia menari dengan luwes. Begitu juga WD Mochtar. Dia cinta sekali dengan kesenian. Kita juga bisa melihat, pada akhirnya dia tetap dikenal, orang bisa melihat karya-karya dia. Saya sendiri tetap berusaha di bidang seni, karena cuma itu yang saya bisa. Sebetulnya seperti Sukarno M Noor, latar belakangnya sebagai pegawai PTP (kantor pos), dia bisa saja kembali ke tempat itu, tetapi dia memilih untuk menari, karena cinta sama seni. Tentu saja, para istri mereka ikut membantu sebisanya, membuat dan menjual kue, misalnya.

FI: Bagaimana dengan keluarga Anda sendiri?

NW: Di masa itu Bapak (Misbach Jusa Biran) masih bisa bikin cerita, kadang juga mengerjakan film-film pendek penyuluhan dari BKKBN misalnya. Jadi pemasukan keluarga bisa dari situ. Yang agak down, meski alhamdulillah sekarang tidak lagi, yaitu pada saat bapak mengundurkan diri dari dunia film.

 

Paha dan dada

FI: Kenapa Bapak memilih untuk mengundurkan diri dari dunia film?

NW: Karena maraknya film-film paha dan dada yang terbuka itu. Sampai-sampai datang selamatan saja Bapak tidak mau, katanya "Saya nggak mau nyelametin film-film kayak gitu." Itu kan memang diajarkan oleh agama, ya sudah. Awalnya sempat bingung, bayangkan di saat anak-anak masih kecil, sementara film sedang booming, kayak kacang goreng, tapi bapak mengundurkan diri. Sementara saya masih muda, belum terlalu aktif di film. Bapak lalu bilang, "Ya sudah, ada Allah ini." Ternyata ada saja jalannya, sehingga keluarga juga bisa bertahan. Sampai Bapak akhirnya mengerjakan Sinematek. Alhamdullillah, akhirnya sekarang orang-orang bisa terbantu dengan Sinematek ini. Awalnya memang tidak enak, tapi akhirnya Allah bisa tunjukkan, akhirnya enak juga sekarang ini.

FI: Bagaimana awal kenalan dengan Bapak?

NW: Bapak juga sempat jadi jurnalis, jadi sebelumnya memang sudah kenal. Dia dan Pak Djamaludin Malik waktu itu pernah meminta saya main di filmnya. Kita juga bertemu di beberapa acara film. Mungkin memang jodoh, kenapa saya anggap ini jodoh, karena bukan dari cinta lokasi dan alhamdulillah sampai dengan punya cucu sekarang ini, saya masih sama dia.

Waktu itu pada film Dibalik Tjahaja Gemerlapan, sutradaranya bapak dan saya ikut main, di situ sepertinya kita mulai dekat. Awalnya biasa saja, tapi lalu ada perasaan beda sama bapak. Pada waktu itu yang mengamati Titiek Puspa dan almarhum Rachmat Kartolo. Saat itu mereka sudah berkeluarga, mereka yang kompor-komporin kita. Setelah film itu mulai kami lalu lebih dekat. Setelah itu baru di Menjusuri Djedjak Berdarah, Operasi X, saya ikut main. Jadi deh (tertawa). Menurut saya berbeda ya, proses kita lebih lama, jadi bukan cinlok. Sementara dulunya Bapak tidak mengharapkan menikah dengan aktris, makanya jangan mendahului Allah ya, (tertawa).

FI: Anda tergabung dengan Golden Girls, sebetulnya apa latar belakangnya?

NW: Sebetulnya nama itu muncul tahun 1998 kalau tidak salah. Setelah kita sama-sama shooting sinetron Opera Sabun Colek yang waktu itu tayang di SCTV. Yang memberikan julukan itu Sys NS, karena kalau kita mengobrol bareng seru sekali. Kebetulan waktu itu juga ada serial yang sama di RCTI.

Sebenarnya jauh sebelumnya kita sudah bersama-sama. Apalagi dengan Ida Kusumah, dia adalah yang paling tua di antara kita, karirnya juga lebih lama, kebetulan kita di zaman yang sama. Kalau saya shooting, walau di luar kota, kadang dia datang ke lokasi shooting. Ini lebih pada persahabatan, silaturahmi saja, bukan bisnis.

 

Etos kerja

FI: Bagaimana berinteraksi dengan pemain lebih baru?

NW: Menurut pribadi saya, dari segi pekerjaan sama saja. Kalau yang sekarang etos kerjanya lebih cepat. Tinggal menyiasati bagaimana agar kita bekerja jauh lebih cepat. Jadi harus tetap banyak tanya pada sutradara. Seperti saat shooting dengan Aditya Gumay kemarin, saya sendiri agak kaget dengan hasilnya. Saya pikir, karena ini film religi, hasil filmnya, setelah ditonton akan mengharu biru dan sempat khawatir akan membosankan. Ternyata justru jadi segar sekali. Sepertinya saya harus bertanya sama Adit, bagaimana cara dia mengolah itu (tertawa). Saya kagum dengan Adit.

Ada pemain yang saya lihat tidak serius dalam prosesnya, tetapi juga tidak semuanya seperti itu. Ada yang pada saat latihan, saya sedang serius dengan dialog saya, tetapi dia malah bercanda. Yang seperti itu kebanyakan memang prosesnya instan, karena dia memang tidak tahu, tidak mengerti dengan apa yang sedang mereka lakukan. Saya rasa sampai sekarang ini keseriusan itu jadi hal yang penting, terbukti pemain-pemain yang serius masih menjadi pemain sampai sekarang, sementara pemain yang instan terbukti langsung hilang. Dalam satu tahun, orang sudah lupa siapa dia. Ada pemain muda yang menghormati kita, ada juga yang tanya-tanya. Memang disiplin juga diperlukan untuk profesi ini. Bahkan telat sekalipun alasan yang terlalu klise ya. kadang saya cuma berpikir ya sudahlah namanya Jakarta, kemana-mana macet. Jadi telat. (tertawa).

FI: Apakah Anda pernah bergabung menjadi anggota PARFI? Seperti apa ruang lingkup kerja PARFI, untuk anggotanya?

NW: Sekarang saya sudah tidak mendaftar menjadi anggota PARFI. Tetapi dulu saya anggota. Dulu ada ketentuan misalnya anggota hanya boleh menjadi peran utama di satu film saja, dalam masa produksi yang bersamaan. Juga peran pembantu juga, maksimal tiga film yang bersamaan. Hal semacam itu yang tampaknya sepele bila tidak dilakukan. Padahal efeknya ke kesejahteraan anggota. Supaya semuanya bisa kebagian. Sehingga tidak yang satu bersinar, tetapi yang lain tidak bermain selama setahun misalnya. Dan kita harus mempertahankan sistem itu untuk berjalan. Memang tidak wajib, tapi etikanya seperti itu, karena misinya memang menyejahterakan anggota. Memang cukup banyak yang dikerjakan PARFI. Misalnya pemain-pemain yang hanya dibayar setengah bayarannya oleh produser. PARFI akan membantu membela hak anggotanya.

Dulu awalnya saat Pak Suryosumanto menjabat sebagai ketua PARFI, sifatnya lebih kekeluargaan. Kongres dan struktur tetap berjalan, tetapi tetap dekat, seperti keluarga. Berbeda dengan sekarang sepertinya latar belakangnya lebih beragam, kepentingannya lebih beragam juga. Itu sih pendapat saya, kalau mereka keberatan juga terserah saja, kan ini pendapat saya (tertawa).

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.