Nayato Fio Nuala: Saya Buat Film Untuk Nonton Film

Wawancara :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu, Arie Kartikasari

Suasana pengambilan gambar Keranda Kuntilanak, Bogor, Agustus 2011 (Foto: FI)Saat ini, nama Nayato Fio Nuala beredar sebagai sutradara paling produktif di industri film nasional. Tahun 2011 ini, terhitung hingga bulan September, sudah ada sembilan film yang dirilis atas namanya. Tahun sebelumnya, ada tiga belas. Sepanjang kariernya sejak 2003, Nayato sudah memproduksi 50 film: 25 film atas nama Nayato, 15 film Koya Pagayo, 5 film Ian Jacobs, 3 film Chiska Doppert, dan 2 film Pingkan Utari. Produktivitas Nayato jadi kian impresif apabila kita turut memperhitungkan prestasi film-filmnya di box office. Sejauh ini, belum ada film Nayato yang gagal di peredaran. Semuanya balik modal (bahkan untung), dengan rata-rata 300 sampai 500 ribu penonton per film, karena dia mampu menekan biaya serendah mungkin dengan sistem produksinya.

Tahun 2006 silam, nama Nayato dikenal publik via kontroversi Ekskul. Film tersebut didapuk sebagai film terbaik di Festival Film Indonesia. Namun, sejumlah pihak tidak puas dan protes terhadap kemenangan Ekskul. Pasalnya, Nayato ditenggarai menggunakan scoring dari sejumlah film asing tanpa izin. Kejadian tersebut konon membuat Nayato memilih untuk menjauh dari perhatian pers dan publik. Namanya menjadi semacam misteri dalam perfilman Indonesia, mengingat sedikit sekali informasi tentangnya di media.

Pada 17 Agustus 2011, redaksi FI mendapat kesempatan mengunjungi Nayato saat syuting Keranda Kuntilanak, yang mulai tayang di bioskop tanggal 22 September. Suatu kesempatan yang tak pernah diberikan kepada pers bahkan produser filmnya. Lokasinya di sebuah villa berhalaman luas di bilangan Bogor. Terhitung ada 13 kru di lokasi syuting, ditambah dengan tiga pemeran. Ketika kami datang, mereka sedang syuting sebuah adegan mencekam, di mana salah seorang karakter mendadak hilang. Mereka mengambil gambar di sebuah ruang kosong di bawah tangga, yang ditata ulang sehingga terlihat seperti kamar tidur. Ada satu kamera dan dua lampu. Nayato berdiri di depan monitor, mengecek apakah gambar yang diambil sudah sesuai standar atau belum.

Setelah tiga kali take, Nayato menghampiri kami. Dia menunjuk sebuah poster di dinding: Tarung (City of Darkness), yang baru tayang mulai tanggal 15 September lalu. “Film terbaru saya. Saya buat pakai hati. Sedikit,” ujarnya bercanda. Setelah itu ia harus berkutat membantu Tya Subiyakto dalam pembuatan film Kehormatan di Balik Kerudung. Dialog tersebut memantik percakapan kami dengan Nayato untuk tiga jam ke depan, yang diselingi oleh tiga kali syuting. Sepanjang tiga jam tersebut, ia bercerita tentang bagaimana dia selama ini membuat film, film seperti apa yang sebenarnya dia ingin buat, dan sejumlah kisah sepanjang kariernya yang produktif itu.

 

Metode Produksi

Film Indonesia (FI): Tahun lalu, Anda menghasilkan 13 film. Tahun ini, sudah ada tujuh film. Bagaimana metode kerja Anda sehingga bisa memproduksi film secepat itu?

Nayato (N): Setiap kali saya syuting, selalu ada dua editor yang ikut. Setiap habis take gambar, memory card dari kamera dikasih ke mereka, terus mereka susun gambarnya sesuai yang saya mau, baru kemudian dikirim ke kantor. Kerja jadi cepat.

FI: Editing dilakukan offline?

N: Online. Karena kualitas gambarnya sudah bagus. Klien senang kerja sama kami, karena gambar yang kami hasilkan bagus, dan cepat kerjanya. Biasanya kan sering ada komplain kalau resolusi gambar rendah segala macam. Pas lihat hasil syuting harian, mereka bingung kenapa warnanya beda, cahaya gelap terang. Klien tidak senang lihat yang seperti itu. Sama kami tidak. Film kami hampir tidak ada gambar yang gelap. Bisa dilihat bagaimana kualitas gambar kami. [Menunjuk layar laptop] Lihat, cahaya sama warnanya tidak terlalu beda jauh. Tidak perlu repot pas post-production. [Mengganti gambar di laptop] Nah, ini ada yang sedikit over cahayanya. Paling nanti diturunkan sedikit. Tapi kalau diperhatikan, warnanya sudah matang, padahal belum diapa-apain. Ini masih fresh habis syuting.  Karena itu kerja kami bisa cepat. Lebih murah juga. Setiap selesai take, gambar bisa langsung disusun. Setiap hari kami mengusahakan jadi 15 menit.

FI: Maksudnya 15 menit?

N: 15 menit durasi film. 15 menit yang akan penonton lihat di layar. Kalau syuting hari ini kurang dua atau tiga menit, kami lunasi di syuting hari berikutnya. Bagaimanapun juga setiap hari harus jadi 15 menit, sampai akhirnya seluruh film jadi. [Diam sejenak] Lagi pula kami selalu syuting di Bogor. Semua kru juga tinggal di Bogor. Jadi cepat kalau ada apa-apa. 

FI: Apakah mereka juga berasal dari sini?

N: Oh, tidak. Mereka aslinya dari mana-mana. Ada yang Bekasi, ada yang dari Tangerang. Tapi semuanya sudah pindah ke sini. Beberapa bahkan sudah bertahun-tahun tinggal di sini. Sudah beranak-pinak. [Tertawa] Kantor kami juga dekat-dekat sini. Jadi kalau mau syuting, mau apa, bisa cepat. Tidak seperti di Jakarta. Macet. Karena itu film kami hampir semuanya tidak ada yang di Jakarta. Seratus persen di Bogor, kecuali beberapa di Bandung. Kami ada stok gambar Jakarta, seperti beberapa established shot jalanan di Jakarta, rumah-rumah. Jadi cepat buat filmnya.

FI: Selama ini, Anda selalu bekerja dengan kelompok Anda tersebut?

N: Iya. Mereka sudah paham banget dengan apa yang saya mau. Saya tinggal bilang apa yang saya mau, mereka bisa langsung mengerjakannya. (Kru ini dibayar bulanan, di samping mendapat penghasilan lagi setiap ada syuting)

FI: Total ada berapa orang dalam grup Anda tersebut?

N: Dua puluh orang. Latar belakangnya macam-macam. Ada yang dulunya kerja di sinetron. Ada yang dulunya kerja bareng saya di iklan. Ada juga yang bawa saudaranya buat kerja sama saya.

FI: Sistem kerjanya bagaimana? Apakah mereka turut berkontribusi juga dalam proses kreatif? Atau ada tata kerjanya sendiri?

N: Saya yang mengatur. Saya yang mikir. Yang lain tidak boleh ada yang mikir. Komando ada di Nayato seorang. [Tertawa] Kerja kami begini: tidak boleh ada diskusi di lokasi syuting. Kalau kelamaan diskusi, nanti lama. [Tertawa] Tapi ya itu, mereka sudah paham dengan apa yang saya mau. Mereka sudah sangat terbiasa dengan cara kerja begini. Pernah sekali kami minta anak IKJ buat edit film kami. Tiga jam dia lihat stok gambar kami, dia cuma bengong. “Saya tidak tahu Mas harus mulai dari mana,” begitu katanya. [Tertawa] Saya paham kenapa bisa sampai begitu. Kami syuting tidak pernah pakai clapper. Buat apa keluar duit lagi buat sewa orang buat jadi clapper. [Tertawa] Anak-anak sudah tahu apa yang saya mau. Tak masalah jadinya. Setiap habis syuting, bisa langsung edit, karena sudah tahu jalan ceritanya bakal kayak bagaimana. Anak IKJ itu belum tahu. [Tertawa]

FI: Sehari syuting bisa berapa lama?

N: Rata-rata 12 jam. Jadi kalau mulai jam sembilan pagi, balik jam sembilan malam. Mulai jam 10 pagi, balik jam 10 malam. Kalau mau syuting malam, biasanya kami mulai jam lima sore, sampai sekitar jam tiga subuh. Karena biasanya jam lima sudah mulai terang. Kami tidak pernah melewati kerja 12 jam. Ada kan yang namanya kekuatan kerja. Biasanya itu turun setelah sepuluh jam. Daripada besok-besok jadi masalah, mending sekarang istirahat, besok syuting lagi. Jadi lebih cepat kerjanya. Kami tidak pernah syuting 24 jam penuh.

FI: Satu film kira-kira berapa hari syuting?

N: Tergantung filmnya. Film horor itu biasanya cepat. Film drama lebih lama sedikit. Film action apalagi. Biasanya tujuh hari syuting. Kalau filmnya bagusan dikit, maksudnya bujetnya rada besar, bisa sampai sepuluh hari. Tergantung kebutuhan saja sebenarnya. Tapi rata-rata tujuh hari syuting. Jadi lebih cepat juga karena kami biasanya syuting tidak pakai naskah. Sinopsis saja.

FI: Pada setiap film Anda selalu tercantum penulis naskahnya. Bagaimana selama ini peran mereka?

N: Oh, mereka tetap menulis naskah. Kami pernah kerja sama Titien [Wattimena], sama Viva [Westi]. Mereka tetap nulis naskah. Kami ikutin apa yang mereka tulis. Tapi masalahnya begini. Kadang ada penulis skenario yang nulis naskah kayak nulis novel. Banyak banget lokasi kejadiannya. Dari sini, ke sini, ke tempat mana lagi. Bikin film kan beda sama nulis novel. Pas bikin film, pindah lokasi tidak gampang. Buat apa kami sewa satu lokasi cuma buat syuting satu scene. Kalau bisa diakalin, lebih baik. Kalau sudah begitu kan, naskah terpaksa kami ubah. Kami kasih tahu ke penulis skenario kalau naskahnya akan kami rombak.

Masalah nama mereka tetap masuk, itu hak mereka. Yang pasti naskah kami rombak. Makanya banyak penulis naskah yang tidak senang sama saya. Naskahnya dirombak terus. Syuting tidak pakai skenario. Satu set yang tadinya cuma satu kejadian, saya ubah buat beberapa kejadian. Yang penting tetap sesuai sama sinopsis. Buat apa kami sewa kafe cuma buat satu adegan ngobrol. [Tertawa] Jadi uang sama waktu kami tidak habis di satu lokasi saja. Buat penulis skenario yang sudah paham, mereka ikut saja kalau naskahnya kami ubah. Kecuali kalau kerja sama beberapa penulis, seperti Titien sama Viva. Kami ikut apa yang mereka tulis.

FI: Selain pertimbangan uang dan waktu, apakah ada pertimbangan kreatif dari keputusan Anda dalam mengubah naskah?

N: Oh, ada. Begini, ada naskah film yang enak dibaca, tapi setelah jadi film tidak enak ditonton. Ada yang nggak nyambung. Ada yang inilah, itulah. Nonton film kan beda sama baca novel. Tidak ada waktu lama buat penjelasan. Maksudnya gini lho, maksudnya gitu lho. Tidak ada kan orang yang mau jelasin itu semua. [Tertawa] Saya sederhana saja. Film itu yang penting enak ditonton.

FI: Enak ditonton dalam arti gambarnya enak dilihat atau bagaimana?

N: Gambar penting. Tapi feel juga penting. Kalau nonton film horor, bisa kaget berapa puluh kali, bisa ketawa berapa puluh kali. Bukannya cerita tidak penting, tapi kadang penonton juga tidak ingat itu. Anak-anak yang masuk bioskop dan nonton mereka. Pas misalnya mereka lihat ada karakter yang mati, kadang mereka juga tidak peduli kenapa dia mati. Mereka pedulinya bisa kaget berapa puluh kali. Itu kan yang penonton mau.

FI: Dengan syuting tanpa naskah, lantas bagaimana cerita dalam film Anda disusun?

N: Kami bikin cerita selesai syuting, saat editing. Setiap genre kan ada polanya. Biasanya kami mengedit dulu gambar kami. Kalau sudah jadi dan dirasa ada yang kurang, kami syuting sehari lagi buat mengisi yang bolong dalam cerita. Dalam film horor jelas kapan penonton harus ditakutin, kapan harus tenang, kapan harus ditakutin lagi. Sekarang kami sudah buat film komedi-horor empat kali. Sudah hafal polanya harus bagaimana. Pokoknya cerita ada di kepala sutradara. [Tertawa]

 

Suasana pengambilan gambar Keranda Kuntilanak di Bogor, Agustus 2011 (Foto: FI)Kamera dan Gambar

FI: Selama ini syuting pakai kamera apa?

N: Canon 5D dan 7D. Mungkin sudah sekitar 30 film lebih. Dua tahun lalu, pas orang-orang pakai kamera ini buat foto, saya sudah pakai buat syuting. [Tertawa]

FI: Kenapa pakai kamera itu?

N: Karena gambar yang dihasilkan. Banyak pilihan kualitas gambar yang bisa kita pakai: dari yang standar sampai yang high definition. Kalau buat film horor, bisa pakai gambar yang biasa. Kalau film drama, kami biasanya pakai resolusi yang lebih tinggi. Selain itu, kamera ini bukaannya luar biasa. Syuting cukup pakai dua lampu, cahayanya sudah dapat. Pas syuting Tarung malah tidak pakai lampu sama sekali, tetap dapat cahayanya. Padahal itu syuting di lorong kereta bawah tanah Hong Kong. Gelap.

Sebenarnya kamera ini tidak gampang dipakainya. Karena setiap kali kamera ini mati, setting-nya berubah. Namanya juga kamera foto, bukan kamera video. Setiap kali off, pas dinyalain lagi, setting-nya berubah. Diafragma berubah. Bahkan setelah setting-nya dikunci sekalipun. Ini yang sebenarnya orang sulit kontrol. Makanya banyak yang bilang pakai kamera ini susah. Saya sendiri awalnya kesulitan pas pakai kamera ini.

FI: Butuh berapa lama sampai akhirnya Anda terbiasa menggunakan kamera itu?

N: Setelah syuting dua film. Baru setelah itu saya biasa. Sejak itu saya tahu bagaimana mengatur cahayanya. Bagaimana mengatur resolusi gambarnya, sehingga pas saya blow up gambarnya tidak flat seperti sinetron. Udah terlihat film. Soalnya, kalau syuting kamera selalu statis. Tidak gerak ke mana-mana. Diam di satu tempat, ganti adegan, baru kameranya dipindah.

FI: Tapi film-film Anda banyak sekali menggunakan gerak kamera.

N: Nah, untuk yang bergerak-gerak itu saya buat pas post-production. Misalnya mau buat efek kamera handheld, saya goyang-goyang saja gambarnya pas editing. Zoom in sekalipun saya buat waktu editing. Resolusi gambar yang dihasilkan sudah sangat bagus, jadi kalau mau diapa-apain gambarnya tidak bakal rusak. Masih bisa buat pemutaran layar lebar. (Nayato menjelaskan juga bagaimana dia "mengakali" sistem fokus kamera fotografi yang enteng itu dengan menambahkan sebuah alat lain agar stabil sewaktu pengambilan gambar.)

FI: Kenapa tidak pakai kamera video Alexa umpamanya?

N: Saya pakai kamera video juga (ia menunjuk kamera video profesional yang selalu berada di samping juru kamera). Tapi, untuk behind the scene (tertawa), dan untuk pengambilan suara. Susahnya, kalau saya ganti kamera, saya harus mengubah seluruh sistem peralatan dan alur kerja yang sekarang saya pakai.

 

Awal Karier, I-Sinema, dan Ekskul

FI: Awalnya Anda belajar film dari mana?

N: Di Taiwan. Saya belajar teknis film di sana.

FI: Berapa lama di Taiwan?

N: Delapan belas tahun.

FI: Waktu itu formalnya belajar apa?

N: Artistik. Kamera saya belajar sendiri. Guru saya orang film banget. Dia dulunya artistik, terus jadi sutradara. Terus lama-lama mulai ikut produksi sana-sini. Semuanya saya coba. Dari pegang kabel sampai pegang kamera. Saya coba semua. Terus balik ke Indonesia, saya buat iklan. Pas pegang kamera, saya bosan diomelin sutradara terus. Akhirnya saya jadi sutradara, supaya bisa omelin orang. [Tertawa] Saya sebenarnya tidak terlalu suka jadi sutradara.

FI: Kenapa?

N: Saya punya masalah komunikasi. Saya agak sulit bicara sama orang sebenarnya. Kalau bicara, bawaannya ketus terus. [Tertawa] Bicara sama produser saja seringnya lewat telepon. Untungnya saya punya tim. Saya punya teman-teman yang sudah paham betul apa yang saya mau. Mereka sudah terlatih. Saya yang melatih mereka. Buktinya syuting Tarung cuma tiga orang. Jadi tuh film. [Tertawa] Tapi saya yang pegang kendali. Karena saya yang tahu dari A sampai Z. Saya yang tahu konsep cerita. Saya yang bicara sama produser. Jadi saya yang pegang kendali. Mereka ikut saja. Kesannya saya seperti diktator. Tapi kalau tidak begitu, tidak jalan. Toh, dengan sistem seperti ini, teman-teman saya juga bisa hidup, bisa makan.

FI: Proses produksi film Tarung sendiri bagaimana?

N: Film itu no-budget production. Sudah bukan lagi low-budget, tapi no-budget. Karena memang buatnya hampir tidak pakai duit. [Tertawa] Kami produksi di sela-sela kerja kami yang begini. Setahun kami kerja seperti itu.

FI: Syutingnya di mana?

N: Beberapa syuting di Bogor. Beberapa di jalur kereta bawah tanah di Hong Kong. Di Hong Kong, syuting tidak pakai izin. Gerilya banget syutingnya. Orang Hong Kong saja tidak berani syuting di situ. [Tertawa] Kru cuma tiga orang, termasuk saya. Satu bawa kamera, satu bawa harddisk sama laptop. Tidak pakai lampu. Semua alat dimasukkin ke ransel. Jadi bisa langsung lari kalau dikejar polisi. Kami beberapa kali pindah stasiun kereta karena ketahuan polisi. [Tertawa] Tidak pakai figuran. Pakai saja orang-orang yang lewat. Kami buat sendiri. Soalnya kami tidak punya teman. Kami tidak bergaul sama filmmaker Jakarta Selatan itu. Kami kan filmmaker Bogor Tengah. [Tertawa] Dulu rasanya pengen banget bergaul sama filmmaker. Tapi kami tidak diterima. Ya sudahlah. Di sini saja. [Tertawa]

FI: Bukankah Anda pernah terlibat dalam I-Sinema?

N: Dulu. Iya pernah.

FI: Dulu bagaimana di I-Sinema? Targetnya seperti apa?

N: Oh, dulu itu idenya bagus banget. Saya waktu itu kerja di iklan. Rizal [Mantovani] bikin video klip. Ada Riri [Riza]. Ada Mira [Lesmana] juga yang pengen bikin film. Akhirnya Nan (Achnas) bikin kan: Bendera. Riri bikin Eliana, Eliana. Saya mau buat film komedi, judulnya Jakarta. Tapi tidak jadi. Saya akhirnya bikin satu film televisi. Judulnya Atas Nama Cinta.

FI: Waktu itu I-Sinema sebagai sebuah gerakan maunya ke arah mana? Alternatif produksi?

N: Waktu itu belum ada produksi film di Indonesia. Jadi dibilang alternatif juga tidak bisa.

FI: Jadi, gerakan estetik?

N: Maunya seperti itu. Idenya dari Mira. Idenya bagus banget. Tidak mau diatur produser. Tidak mau diatur 21. Tidak mau diatur lembaga sensor. Tapi akhirnya kesibukan masing-masing bikin semua itu tidak kesampaian. Lucunya, sebelum bikin film, kami sudah press conference. Saking percaya dirinya. Lucu, orang biasanya bikin dulu baru ngomong. Ini terbalik.

FI: Kenapa sekarang I-Sinema tidak ada jejaknya?

N: Memang tidak ada jejaknya. Tidak penting juga. Gaya-gayaan saja. Harusnya kita seperti Korea. Di sana erat banget. Hubungan antarindividunya kuat banget. Mereka bisa sampai sehebat itu, karena mereka kompak banget. Beda sama di sini. Pola pikir kita itu bagaimana ya, harus diubah mungkin. Di sini terlalu banyak hantam-hantaman.

FI: Kalau boleh tahu, dulu kasus Ekskul bagaimana?

N: Ekskul itu awalnya tidak selebar itu kasusnya. Itu bukan film penting. Mendadak jadi penting, seakan-akan jadi hidup-mati perfilman Indonesia. Cuma itu saja. Kebetulan waktu itu ada musuh bersama. Ekskul jadi kena kepentingan-kepentingan politik itu. Akhirnya toh tidak ada perubahan juga. Hasilnya apa? Sensor juga sama saja sekarang.

FI: Waktu itu tuduhannya, Anda mengambil musik orang tanpa mencantumkan sumbernya...

N: Memang, saya pakai musik orang. Tapi waktu itu mengambil musik itu sering banget terjadi. Ekskul itu aslinya film kecil. Bukan film yang diniatkan untuk ikut festival. Itu film yang kami mau putar di sekolah-sekolah. Idealnya begitu. Itu film kecil. Waktu itu Eka Sitorus bikin pementasan Bang Bang You’re Dead, terus kami kepikiran, “Yuk, syuting yuk, bikin film.” Pas editing, saya pikir, “Ah, film kecil ini. Film buat ditonton ramai-ramai.” Jadilah saya pakai musik orang. Toh, memang niatnya buat film kecil. Tahu-tahu ikut festival. Bukan saya yang masukkan film itu.

Ekskul sudah beredar enam bulan sebelum festival. Tidak laku malah. Ada yang ribut nggak? Tidak ada. Tahu-tahu masuk festival. Di situ saya sudah bingung. Saya tidak mengerti penilaiannya bagaimana. Kok bisa menang? Terus kok malah ribut? Berentet begitu. Efeknya terasa sampai sekarang. Dari situ saya belajar banyak. Saya tak mau gara-gara itu berhenti bikin film. Masa kami berhenti film karena kasus itu. Tidak juga kan. Kami tetap buat film. Caranya ya seperti ini.

 

Impian Ke Depan

FI: Dalam film-film Anda, kami lihat ada sejumlah poster film “seni”, yang dalam konteks film Anda jadi terkesan mencolok. Ada poster Breathless dan Blow-Up di Ekskul, My Blueberry Nights di Virgin 2, Amelie di Cinta Pertama dan Gaby dan Lagunya. Poster Blow Up juga muncul di Kepergok Pocong. Apakah itu film-film favorit Anda?

N: Oh, iya. Saya suka banget Breathless. Blow Up juga. Itu filmnya [Michelangelo] Antonioni kan? Iya, saya suka banget film-film dia. Sebenarnya poster-poster itu bisa ada di film, karena itu ada yang di rumah. Diambil sama art director buat dipasang dalam film, buat jadi pajangan. Sialnya, poster film saya cuma adanya itu, jadi berulang kali bikin film, pakainya poster-poster itu saja. [Tertawa]

FI: Dengan referensi film-film Anda, yang jujur saja berbobot, apakah ada satu film ideal yang Anda ingin buat?

N: Jelas. Saya mau buat film-film seperti sutradara-sutradara besar itu. Tapi saya mellihat film seperti bacaan. Ada majalah hiburan, ada koran. Jalur saya ya film-film hiburan. [Tertawa] Saya sebenarnya penonton film serius. Tapi siapa yang bisa bikin film seperti itu di sini. Tidak realistis. Sebenarnya ada yang bisa seperti itu di sini. Garin Nugroho contohnya. Bahagia betul orang seperti itu. Dia bisa konsisten di jalurnya. Saya bukannya tidak bahagia. Tapi saya masih mau hidup senang, makan enak. Garin juga bisa hidup senang, makan enak. Tapi untuk mencapai posisi itu kan tidak gampang. Ada istilah “sinema popcorn”. Kalau saya “sinema instan”. Seperti buat mie, tinggal seduh, makan enak, selesai. [Tertawa]

FI: Tapi Anda masih berniat film yang Anda ingin buat, film yang bukan karena tuntutan kerja?

N: Mau. Mau banget. Pakai duit sendiri, mikir-mikir. Saya tidak mau buat film yang tidak laku. Idealnya, film artistik tapi laku. Tapi itu kan susah. Hanung Bramantyo yang bisa seperti itu. Saya selalu nonton film-filmnya dia. Saya suka. Saya mau seperti Zhang Yimou, tapi tidak mungkin. [Tertawa] Mungkin karena lingkungannya beda. Zhang Yimou besarnya di teater. Saya besarnya di Glodok, nontonnya DVD bajakan. Di Taiwan juga saya nongkrongnya sama yang pop-pop. Yang buat film gaya MTV. Saya lagi nunggu film Tree of Life, yang diperankan Brad Pitt itu. Nah, saya kaget juga pas dengar Tree of Life bakal masuk Indonesia. Pikir saya, “Keren juga nih.” Mending daripada nonton Transformers yang tidak jelas itu. Setengah jam nonton Transformers saya keluar. Pusing saya nontonnya. Harry Potter okelah. Tapi Transformers itu nggak deh. Saya sebenarnya tidak suka film-film seperti itu.

Tapi terus terang saya bukan orang yang suka bikin film. Saya sukanya nonton. Di rumah saya punya banyak koleksi film. Di setiap ruangan saya pasang LCD buat nonton film. Total ada enam televisi di rumah. Jadi di rumah saya bisa nonton di mana saja. Saya sebenarnya buat film untuk nonton film. Selesai syuting, saya pulang, saya nonton. Memang seringnya apa yang saya buat bukan yang saya mau, tapi tetap harus dijalanin. Tidak enak memang, tapi kalau tidak saya jalanin, saya makan apa.

FI: Kira-kira seperti apa satu film itu yang Anda mau buat?

N: Seperti film yang menang Cannes itu. Judulnya 4 Months, 3 Weeks, 2 Days. Film Romania tahun 2010. Saya pengen banget film seperti itu. Sudah pernah ada rencana sebenarnya. Saya sudah kumpulin teman-teman, sudah kumpulin pemain. Pas mau jalan, pemainnya diambil buat proyek lain. Pas mau minta dia buat main di proyek itu, harganya naik. Nggak jadi deh.

Secara teknis saya yakin dengan kemampuan saya. Pernah nonton film Monsters? Itu film Inggris. Box office. Yang buat namanya Gareth Edwards. Tentang satu kota yang dihabisin. Drama cinta. Sutradaranya sendirian. Produser dua orang, sama pemain dua orang. Dia pakai kamera yang sama kayak kami. Saya malah pakai kamera itu buat behind the scene. Syuting tanpa skenario selama dua bulan. Dia bikin filmnya sendiri. Dia sendiri saja bisa buat film, masa kami yang 20 orang tidak bisa. Akhirnya balik ke kami sendiri juga. Ada niat, ada kamera, ada peralatan. Tinggal tunggu kesempatan.

FI: Apakah Anda pernah merasa lelah membuat film-film yang Anda buat selama ini?

N: Lelah tidak. Jenuh iya. Jenuh banget. Seperti yang saya bilang tadi, saya kejar durasi. Setiap hari harus jadi 15 menit. Karena itu kami jalan seperti ini. Sama teman-teman. Saling membantu. Walau di lapangan ada yang pegang lighting, ada yang pegang kamera, buat saya mereka sudah seperti asisten sutradara. Itu juga yang kadang bikin saya terganggu. Karena kadang setiap satu film jadi, orang kami ada yang diambil orang. Bukan artinya kami yang paling bagus. Bukan. Tapi kesannya ini jadi seperti batu loncatan saja. Saya jujur agak repot kalau harus mengajari orang baru. Saya tidak cari orang pintar. Saya cari orang yang bisa diajak kerja sama. Bodoh tak apa, yang penting bisa kerja sama.

Begitu juga saya kerja sama produser selama ini. Saya maunya kerja sama produser yang bisa diajak kerja sama, sama produser yang sudah jadi. Mereka kasih duit, kami buat film. Mau filmnya hasilnya bagaimana, itu tanggung jawab saya. Saya juga sebaliknya nggak bohongin mereka. Nggak bikin mereka susah. Yang penting pekerjaan selesai. Jadwal oke, angka oke, kita jalan. Buktinya saya bisa hubungan sama [Chand] Parwez selama sepuluh tahun. Sekali lagi, kami bukan yang paling bagus. Buat saya, film kami tidak ada yang bagus. Tapi kami opsi yang paling aman. Produser percaya sama kami karena kerja kami cepat dan tepat waktu. Karena itu kami bisa buat banyak film setahun.

FI: Dengan sistem kerja Anda seperti ini, kapan kira-kira Anda akan punya waktu untuk buat film yang Anda mau?

N: Nah, itu dia. Saya tidak bisa berhenti. Padahal saya mau. Ini contohnya mau masuk bulan puasa, harusnya kan saya lebih santai, lebih tenang. Karena nggak mungkin buat film horor dekat bulan puasa. Kerja bisa lebih santai. Kami bisa ngobrolin film yang mau kami buat seperti apa. Bisa bikin rencana. Tahu-tahu datang produser. Bawa duit pula. Ya sudahlah. Langsung hijau mata saya. [Tertawa] Saya bisa nahan, tapi kalau ada duit cash di meja, pikir saya, “Kenapa tidak ini dulu? Yang lain nanti saja.” Masa orang di luar sana susah-susah cari duit, saya ditawarin duit di meja malah saya tolak. Saya langsung khilaf. [Tertawa]

Komentar 4

Happy
7 tahun yang lalu

Your article is GREAT!!! I'm really fascinated about this driector, even if I think a lot of his movies are REALLY bad; but his output and the QUALITY of picture ar amazing and often quite some good ideas, especially within Indonesian movie industry. Your article gave me great insight into film director's work and I'm even more fascinated.

I was also very interested about his "I-Sinema"-experience, since I organized a little retro about "I-Sinema" back here in Europe a couple of years ago.

Please keep up your work, as there are so few things about Indonesian Cinema to read about !!!

Thank you!!

ayu_hartadiningrat
7 tahun yang lalu

Setiap pekerja film tentunya mempunyai sudut pandang yang berbeda beda tentang film dan industrinya, nayato mungkin terlalu jujur dalam mengungkapkan ... dan itu yang bisa dirasakan film indonesia akan sangat sulit maju karena dari sineasnya sendiri terjebak pada iklim kemunafikan antara berkarya dan cari duit ... satu film indonesia yang di produksi PH major dengan budget 5M keatas sering kali tidak balik modal, dan PH harus membuat sinema kancut istilah dari orang film jakarta selatan kepada orang orang spt nayato, tp mereka kadang tidak sadar bahwa penghasilan untung dari jenis Film Kancut di pakai untuk membuat film besar sineas jakarta selatan ... Film indonesia tdk akan bisa maju kalau pemikiran para sineas terjangkit munafik akut dan gontok gontokan, saya sempet ngobrol dengan nayato dikantor beliau di bogor ..... buat saya saling menghargai itu penting


thank you

fahd
7 tahun yang lalu

konflik perut dan idealisme, bukan di industri film aja, musik juga begitu. Ga bs disalahkan, tp bila kt selaku penikmat film sudah mulai pintar menilai bobot suatu film. Maka dapat dipastikan industri film kita akan mulai meredup. Sebaiknya jangan terlalu berpikir instan, karena sesuatu yg instan nikmatnya tak bertahan lama. Good luck

raka0808
6 tahun yang lalu

test

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.