Niat Besar Prisia Nasution untuk Sang Penari

Sosok :: Penulis: Amalia Sekarjati

Prisia Nasution saat Press Screening film Sang Penari, Jakarta, November 2011 (Foto: FI)Prisia Nasution tampaknya sangat berniat untuk bisa berakting di film Sang Penari, bahkan sebelum mendapatkan peran Srintil. Ia menjalani dua kali casting dan mengambil kursus singkat akting di Sydney. "Dibilang niat banget ya memang niat banget, sih. Casting pertama gagal, kemudian aku baca bukunya dan bukunya bagus sekali. Jadi aku pikir, sayang banget kalau tidak dapat peran di sini. Aku sampai tanya ke mbak Shanty (Shanty Harmayn), kalau ada peran apapun, walaupun cuma tiga adegan sekalipun, aku mau. Namun ternyata di-casting lagi dan dapat peran Srintil. Kebetulan aku juga ikut Teater Populer sama Om Slamet (Slamet Rahardjo). Lumayan ditempa (aktingnya) di situ. Iseng-iseng juga aku ke NIDA (National Institute of Dramatic Art) dan mengambil kursus singkat akting selama sebulan.” ujarnya.

Setelah mendapat peran Srintil, ternyata tantangan yang dihadapinya juga tidak sedikit. Mulai dari dialek, kebutuhan untuk bisa menari, sampai latar belakang cerita yang terjadi pada tahun 1960-an. "Aku harus bisa menari, karena aku tidak punya dasar di bidang tari. Jadi aku benar-benar terjun langsung ke daerah itu, melihat ibu-ibu pada zaman itu yang sekarang sudah pada tua. Mencari tahu, apa sih yang mereka pikirkan ketika itu? Kalau mereka lagi cerita-cerita, "Zaman dulu tuh..", nah dari situ yang aku tangkap dan gambarkan lewat aktingku."

Tidak hanya itu, kesehariannya yang akrab dengan perkotaan bertolak belakang dengan kehidupan desa karakternya. "Aku juga membunuh karakter kota aku dengan tidak membawa laptop dan gadget lainnya ke sana. Padahal sebenarnya aku gadget-freak, tapi tidak ada yang dibawa dan mengandalkan telepon genggam saja. Di sana juga lampunya cuma lampu sentir, ya dijalani saja. Lama-lama mata jadi terbiasa dengan ruang gelap dan melihat dengan penerangan cuma dari lampu sentir. Ketika pulang lalu melihat mall lagi matanya sudah beda, ya." ceritanya dibarengi tawa.

Ia menjalani pendalaman akting untuk peran Srintil sekitar setahun dan banyak berbaur serta belajar dari masyarakat sekitar. "Untuk dialog, aku langsung mengobrol sama orang-orang di Banyumas. Aku ke Banyumas sendiri dan bertemu para penari Lengger Banyumas zaman sekarang dan juga satu penari legendaris bernama Mbok Ndariah. Umurnya sudah 90 tahun. Namun bukan cuma gerak tarian yang aku lihat, tapi bagaimana tariannya juga bergeser."

Prisia Nasution, yang sering dipanggil dengan Pia, memandang perannya sebagai Srintil tidak muluk-muluk, walaupun ini menjadi debut pertama aktingnya di layar lebar setelah sebelumnya lebih dikenal sebagai model dan bintang film televisi. "Ya siapa sih yang nggak mau main film? Apalagi film ini. Jadi ya, aku ditunjuk jadi Srintil, ya aku siap. Aku melihatnya secara kerucut: aku terpilih jadi Srintil, lalu mainkan dengan baik. Sudah, titik. Aku sudah cukup bahagia dengan proses syutingnya. Menurutku aku sudah memainkan karakter sesuai dengan yang aku mau dan mau aku gambarkan, dan aku dapat (menggambarkan itu)." jelasnya.

Untuk rencana selanjutnya Pia sedang bersiap-siap untuk bermain di serial Laskar Pelangi.

Komentar 1

jarry_juicestop
8 tahun yang lalu

Salah satu kunci sukses sebuah film terletak pada bagaimana sang pemain menghidupkan karakter yang ia perankan.
sukses terus untuk film Indonesia.

Pemberian komentar tidak diakifkan.