Nobar di 12 Kota

Berita :: Penulis: Redaksi FI

Adegan film Batas (foto: Keana Production)Direktur Sejarah dan Nilai Budaya, Endjat Djaenuderadjat mengatakan, siap memfasilitasi kelestarian film inspiratif karya anak bangsa melalui beberapa program. Salah satunya adalah nonton bareng (nobar) yang  melibatkan sedikitnya 1200 siswa SD, SMP dan SMA sampai mahasiswa  di 12 kota dan kabupaten sepanjang September dan Oktober ini.

Kota Kupang (Nusa Tenggara Timur) menjadi lokasi pertama kegiatan nonton bareng yang melibatkan siswa tingkat SD sampai tingkat SMA serta mahasiswa. Film Batas menjadi salah satu film yang diputar pada acara PENTAS di Kupang dengan menghadirkan 500 siswa dan guru hadir pada pemutaran hari pertama di Aula El Tari Kantor Gubernur Provinsi NTT.

Selanjutnya, nonton bareng akan digelar di Jayapura (Papua), Kepulauan Aru (Maluku), Maros (Sulawesi Selatan), Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Malang (Jawa Timur), Gunung Kidul (DI Yogyakarta), Kuningan (Jawa Barat), Lebak (Banten), Palembang (Sumatera Selatan), Padang (Sumatera Barat), dan Banda Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam).

Dalam nobar ini para siswa tidak hanya menonton tapi juga mengupas film tersebut bersama  sejumlah sutradara atau aktris/aktor pendukung film. Ada lima film yang diputar dalam acara nobar ini: Garuda di Dadaku 2, Lima Elang, Batas, Negeri 5 Menara serta Ruma Maida. Rencananya nobar akan menjadi agenda tahunan.

"Menanamkan kecintaan pada Tanah air, membangun budaya jujur selama ini diberikan melalui mata pelajaran di sekolah namun kami berupaya mencari cara yang lebih efektif dan mengena dengan dunia anak muda… salah satunya melalui film," kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti.

 

Bioskop Rakyat

"Jangan dibayangkan kalau menonton film itu selalu harus dalam bioskop yang memang dipersiapkan secara baik untuk sistem suara, layar, ruang kedap suara dan tempat duduk khusus. Kami ingin gedung yang menjadi pusat kebudayaan di daerah dapat diberdayakan dan disulap menjadi tempat pemutaran film dan diskusi," kata Wiendu.

Idealnya bioskop rakyat dapat diadakan di propinsi-propinsi yang belum memiliki sarana bioskop. "Kami akan membantu dengan menyediakan sarana penunjang terwujudnya bioskop rakyat terutama di daerah-daerah yang komunitas seninya aktif dan memahami betul peta perkembangan seni dan budaya di daerahnya."

Idealnya dibutuhkan dana Rp500 miliar per tahun untuk mendukung program persemaian karakter bangsa melalui pemutaran film-film skema pendidikan yang bermutu dan menarik ditonton. "Kami baru optimistis kalau anggarannya Rp500 miliar, sekarang ini pemerintah baru mampu mengalokasikan Rp100 miliar per tahun untuk program-program yang diperuntukkan pembangunan karakter melalui perfilman,"  kata Guru Besar bidang pariwisata Universitas Gadjah Mada ini.

"Karena Indonesia memiliki 400 lebih kabupaten/kota, kalau rata-rata setiap tahun nonton bareng di 100 kota, maka selesainya sampai empat tahun," katanya. Saat ini, anggaran baru cukup untuk 12 kota dan untuk tahun depan diperjuangkan bisa meningkat 50 kota.

Dari berbagai sumber.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.