Nurman Hakim, Sang Arsitek Khalifah

Sosok :: Penulis: Bobby Batara

Nurman Hakim (kiri) dan Marsha Timothy (kiri). Sumber: koleksi Bobby BataraNama Nurman Hakim relatif baru di blantika film nasional. Debutnya dimulai tahun 2008 dengan film 3 Doa 3 Cinta yang mempertemukan pasangan Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo dalam formula yang lebih serius. Maksudnya: mereka bermain dalam kisah drama berlatar agama. Film itu, selain didanai oleh berbagai lembaga donor asing, juga sempat keliling berbagai festival di mancanegara. Kini, Nurman kembali dengan film yang mengandalkan formula serupa yang bertajuk Khalifah. Bedanya, kali ini dia lebih percaya diri untuk menggunakan aktor yang lebih dewasa. Berikut ini petikan obrolan tentang film yang ditulis, diproduseri, disutradarai, dan juga disuntingnya.

 

Kali ini berlatar agama lagi?

Ya, tapi bukan dakwah. Belum ada kan [sambil tersenyum]?

 

Mengapa Anda mengambil tema-tema yang semacam ini?

Kebetulan saja tema ini dekat dengan kehidupanku. Bikin yang dekat-dekat saja dulu. Nanti film ketiga saya tak ada hubungannya dengan agama. Kebetulan tema yang saya angkat sekarang sedang ramai di luar negeri seperti di Belgia, di Perancis. Kalau di Indonesia persoalan jilbab mungkin tak jadi masalah. Nah kalau lihat orang bercadar, kesan negatif kerap muncul. Film ini ingin menunjukkan keseimbangan perspektif itu. Bahkan di Indonesia sendiri yang mayoritas Islam kadang-kadang melihat orang bercadar, “ah jangan-jangan dia teroris?”

 

Sebenarnya mau bicara apa sih film Khalifah ini?

Ini film pendekatannya feminis. Kata khalifah di Arab untuk perempuan itu tidak boleh. Jadi ceritanya ada TKW di Arab namanya Khalifah, ini riset saya. Nah, di sana namanya disuruh ganti. [Dalam] budaya Arab kan derajat laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Itu dasarnya.

Meski hidup dalam budaya patriarki, namun dirinya ingin agar bisa sejajar dengan laki-laki. Saat suaminya meninggal, di depan cermin dia bertekad untuk menjadi khalifah, bagi dirinya dan bagi anaknya.

 

Sebenarnya genre macam apa yang Anda sukai? Apakah ada yang khusus?

Secara genre tidak ada yang khusus. Mungkin drama hubungan antar manusia yang mengeksplorasi perasaan terdalamnya. Ya, lebih ke arah kontemplatif.

 

Bicara tentang gaya, film-film mana yang banyak mempengaruhi anda?

Soal gaya ada sedikit pengaruh film Iran macam Abbas Kiarostami atau Mokhsen Makhmalbaf. Gambar yang statis, tak ada track, blocking sederhana, perkuat naratif. Hampir tak ada pergerakan kamera. Kalaupun bergerak ya memakai kamera handheld.

 

Film ini dibintangi Marsha Timothy, [dan] Indra Herlambang. Mengapa anda menggunakan aktor yang bukan idola remaja macam film sebelumnya?.

Kecenderungan umum, kalau aktor biasa main komedi, dia akan diajak lagi untuk film sejenis. Selalu ada pengulangan. Kecenderunganku, yang biasa di komedi diajak main serius. Dulu kita tahu Nicholas Saputra yang ngepop dikasih karakter anak kampung. Dian Sastrowardoyo dikasih tantangan untuk menjadi penyanyi dangdut. Indra Herlambang, asosiasinya kan aktor komedi, ya dikasih tantangan untuk memerankan karakter serius, jadi melawan asumsi.

 

Apakah ada kesulitan saat proses syuting? Film berbau agama macam ini biasanya ada adegan menyitir ayat Alquran kan?

Kesulitan pasti ada. Makanya ada proses reading dan di sana kita eksplorasi dan diskusi perannya untuk setiap tokoh. Agar terjadi pembelajaran…

Ya, ada satu dua ayat dan ini perlu waktu untuk menjiwai. Bahkan untuk Titi Sjuman ada dialog dalam bahasa Arab. Ternyata Titi bisa memainkannya. Dia sudah berpengalaman. Di film Minggu Pagi di Victoria Park kan dia berbahasa Kanton.

 

Bagaimana dengan pendanaan, apakah film ini mendapatkan donor asing seperti 3 Doa 3 Cinta?

Proses untuk mendapatkan investor asing waktunya lama. Untuk membuat Khalifah ini kita kan ada target waktu harus syuting. Jadi Triximages produksi pakai dana sendiri dulu deh. Sesudah pospro, editing rough cut, kita perlu dana untuk bikin copy. Ketemu sama Frame Ritz. Mereka tertarik karena suka dengan ceritanya. Tak perlu waktu lama.

 

Sebenarnya target anda membuat film itu berapa lama sih?

Ya dua tahun satu judul lah. Kalau setahun satu, cari duitnya susah [sambil tertawa]. Menulis skenarionya aja setahun. Idealnya sih setahun satu ya…

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.