Palu dan Purbalingga Juara Festival Film Solo 2013

Berita :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Yusuf Radjamuda mengangkat keris LadrangHalaman Belakang karya Yusuf Radjamuda (Palu) menjadi film terbaik kategori Ladrang atau umum, sementara Lawuh Boled karya Misyatun (Purbalingga) juara kategori Gayaman atau pelajar. Pengumuman pemenang ini menutup perhelatan Festival Film Solo (FFS) 2013, yang memutar 48 film pendek dari 1 sampai 5 Mei 2013 di Teater Besar ISI Surakarta.

Di samping pemenang di atas, Sinema Purnama karya Andra Fembriarto (Jakarta) mendapat penghargaan khusus dari juri Ladrang, dan DBD-Diet B4 Die karya Budi Pasadena (Solo) meraih sabuk juara Tarung Solo. Tahun ini tidak ada film yang mendapat hibah dari Forum Pendanaan Film, karena dewan juri menganggap tidak ada proyek yang layak.

 

Para pemenang

Yusuf Radjamuda menjadi sineas luar Pulau Jawa pertama yang menang di FFS. Sebelumnya, baik kategori Ladrang maupun Gayaman, FFS dijuarai oleh sineas Yogyakarta, Jakarta, dan Purbalingga. Halaman Belakang sendiri mendapat saingan ketat dari Liburan Keluarga karya Tunggul Banjarsari (Solo), On the Way karya Jeihan Angga (Solo), dan Sinema Purnama karya Andra Fembriarto (Jakarta).

“Tidak sulit bagi kami untuk merasakan energi dan capaian keempat film nominasi Ladrang tahun ini. Semuanya kuat dengan caranya sendiri-sendiri. Dalam kontinuitas penjurian dari tahun ke tahun, terjadi lompatan yang begitu besar, yang terasa dari keragaman tema, keutuhan cerita, dan ketegasan penuturan,” tutur Hikmat Darmawan, mewakili Seno Gumira Ajidarma dan Ifa Isfansyah sebagai dewan juri Ladrang, “Film pemenang adalah karya yang paling mampu memenuhi logika film pendek, dan pencapaian tersebut kami temukan dalam film Halaman Belakang.”

Misyatun, sutradara Lawuh BoledDewan juri Ladrang merasa perlu memberikan penghargaan untuk Sinema Purnama akan sikap politiknya yang berani. “Film ini menyajikan pembacaan yang relevan akan kondisi sosial-politik saat ini, menghadirkan pendidikan yang segar akan politik khalayak, menghadirkan penggambaran yang parodik tapi unik tentang perbedaan agama dan dunia film independen,” jelas Hikmat, “Penghargaan khusus ini merupakan pernyataan kami kalau film ini penting, dan juga dorongan bagi kawan-kawan semua untuk memutar Sinema Purnama bagi khalayak seluas-luasnya.”

Kemenangan Lawuh Boled melanjutkan dominasi Purbalingga di kategori Gayaman. Dua tahun sebelumnya, ada Pigura karya Darti dan Yasin serta Langka Receh karya Eka dan Miftakhatun yang jadi pemenang. Tahun ini, selain Lawuh Boled, Purbalingga turut diwakili oleh Hanacaraka karya Yasin Hidayat, yang bersaing dengan Asmaus Kronistus Nularus karya Dito Tunjung Parahyta (Jakarta) dan Nitisara karya Rana Maulidia Hadi (Batu). “Keempat film nominasi Gayaman masing-masing memiliki gagasan yang baik, yang diimbangi dengan penyampaian secara laras,” tutur Benny Benke, mewakili Senoaji Julius dan Astu Prasidya sebagai dewan juri Gayaman, “Film pemenang adalah film yang memiliki pesan sosial yang kuat dan relevan bagi lingkungannya.”

Di Tarung Solo, Budi Pasadena merebut sabuk juara yang di tahun sebelumnya dipegang oleh Bani Nasution. Tarung Solo merupakan kompetisi khusus film-film pendek dari kota penyelenggara; penentuan pemenang dilakukan lewat pemungutan suara. DBD-Diet Be4 Die menang mutlak dengan 132 pemilih. Total ada 228 pemilih, 21 di antaranya tidak memberikan suara. Film pertama Budi ini mengalahkan Blipblip (Bani Nasution) dan Damn It V (Alvin Ramanadey).

 

Budi Pasadena (kiri), juara Tarung SoloCatatan-catatan

Di malam pembukaan, Ricas Cwu, direktur festival, menyebut FFS sebagai tempat untuk “menonton film pendek terbaik Indonesia”. Animo serupa sepertinya dirasakan oleh pengunjung festival tahun ini, yang jumlahnya melewati 4.142 penonton tahun lalu. Tahun ini, selama lima hari penyelenggaraannya, FFS menyerap 5452 penonton, dengan komposisi: 5.307 dari sembilan Pemutaran Utama, 145 dari tiga Pemutaran Fokus.

Setiap harinya, FFS mengadakan empat pemutaran, yakni pada jam 14.00, 16.00, 19.30, dan 21.30. Belajar dari pengalaman tahun lalu, panitia festival kali ini membuka bagian balkon Teater Besar untuk menampung penonton. Teater Besar sendiri berkapasitas 500 orang: 300 di bagian bawah, 200 di bagian balkon. Dalam sejumlah pemutaran di jam 19.30 dan 21.30, jumlah penonton melebihi kapasitas ruang pemutaran, sehingga penonton duduk lesehan di dua jalan berundak Teater Besar.

Ada satu catatan bagi panitia festival dari dewan juri Forum Pendanaan Film. “Perlu diadakan lokakarya pengayaan kualitas agar tercipta kesiapan yang lebih baik di pihak peserta,” tutur Shalahuddin Siregar dan BW Purbanegara selaku dewan juri Forum Pendanaan Film bersama Ajish Dibyo, "Proposal karya yang masuk tahun ini menunjukkan konstruksi logika yang tidak utuh, sebagian besar tidak melakukan riset, dan sedikit yang punya statement kuat." Tidak seperti tahun lalu, panitia FFS tidak mengadakan lokakarya penulisan naskah dan pitching di penyelenggaraan kali ini. Hanya kelas pemutaran yang dipertahankan, itupun dengan format yang diubah. Tahun lalu, kelas pemutaran dilaksanakan sepanjang festival dengan dua pemateri tetap. Tahun ini, kelas pemutaran dilakukan di tiga hari terakhir festival, yang diisi oleh sesi berbagi pengalaman sejumlah pegiat pemutaran film di Indonesia.

Forum komunitas juga tidak diadakan tahun ini. Tahun sebelumnya, forum komunitas diadakan di Wisma Seni Taman Budaya Surakarta, tempat para sineas peserta festival dan perwakilan komunitas menginap. Forum komunitas ini merupakan kesempatan untuk mengobrol santai tentang isu-isu terhangat di komunitas film. Ditiadakannya forum komunitas tahun ini berimbas pada sepinya Wisma Seni, yang di tahun sebelumnya ramai dengan pertemuan dan obrolan informal para pegiat film dan perwakilan komunitas.

Satu terobosan yang panitia FFS lakukan tahun ini adalah Omnibus Solo. Program ini ditujukan bagi keempat finalis kompetisi Ladrang; tantangannya adalah membuat film pendek berdurasi tiga menit menggunakan toycam. Peserta baru mendapat informasi akan program ini di hari ketiga festival, dan memang diniatkan panitia seperti itu untuk menantang para peserta mengeluarkan ekspresi yang spontan dalam karyanya. Waktu pengerjaannnya maksimal 18 jam; tema yang diajukan panitia adalah ‘film tentang film’. Omnibus ini diputar di acara penutupan festival, dan akan diunggah ke buttonijo.com.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.