Pasar Bebas Film Lebaran

Kajian :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Film-film Lebaran di bioskop Bintaro Plaza (Foto: FI)Dari tahun ke tahun, Lebaran selalu menggerakkan massa. Mayoritas orang bergerak ke kampung halaman masing-masing. Sisanya ke pusat hiburan dan tempat wisata, dengan harapan dapat menghabiskan waktu bersama keluarga. Bioskop jelas terkena imbasnya. Kesempatan inilah yang kerap dimanfaatkan para produser untuk merilis film menjelang Lebaran. Logika sederhananya: di mana ada massa dan waktu luang, di sanalah ada kesempatan meraup uang.

Bisa dilihat bagaimana Lebaran selalu diramaikan film-film Indonesia, setidaknya dalam tiga tahun terakhir. Tahun kemarin ada empat film: Sang Pencerah, Lihat Boleh Pegang Jangan, Dawai 2 Asmara, dan Darah Garuda. Tahun sebelumnya lagi juga ada empat film: Get Married 2, Ketika Cinta Bertasbih 2, Meraih Mimpi, dan Preman In Love. Tahun 2008 yang lebih seru. Ada lima film yang bersaing di bioskop-bioskop: Barbi3, Chika, Cinlok, Laskar Pelangi, dan Suami-Suami Takut Istri The Movie. Ditambah lagi ada Kantata Takwa yang diputar di Blitz.

Tahun 2011 ini masyarakat disuguhi lima film. Satu film yang digadang akan mendominasi adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah. Film tersebut digandakan hingga 141 kopi, untuk disebarkan ke bioskop-bioskop seantero negeri. Di antara layar-layar yang diisi Ka’bah itulah, empat film nasional lainnya bersaing berebut penonton. Untuk kalangan umum, ada Tendangan Dari Langit, sebuah film sepak bola yang disutradarai Hanung Bramantyo. Untuk anak-anak, ada Lima Elang, film garapan Rudi Soedjarwo tentang pramuka. Ada juga dua film komedi: Get Married 3 dan Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap. Keduanya ditujukan untuk konsumsi anak muda.

Apabila hanya menghitung jumlah layar, kehadiran lima film nasional secara bersamaan terkesan positif. Total ada 434 layar yang diisi oleh kelima film tersebut. Rinciannya sebagai berikut: Ka’bah 131 layar—ditambah sekitar lima layar lagi di gedung non-21 Jawa Tengah/Jawa Timur, sesuatu yang di luar “tradisi”. Jadi seluruhnya: 136 layar—Tendangan Dari Langit 83 layar, Get Married 3 80 layar, Lima Elang 69 layar, dan Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap 66 layar. Data tersebut per 27 Agustus 2011, ketika Get Married 3 masuk bioskop, dua hari setelah empat film lainnya rilis bersamaan. Berarti menjelang Lebaran film nasional menempati 64,2% dari total 676 layar yang ada di Indonesia. Sisanya didominasi oleh Kungfu Panda 2 (149 layar) dan Fast & Furious 5 (69 layar). Persentase serupa bertahan hingga 7 September 2011, enam hari setelah Lebaran versi pemerintah (perubahan hari Lebaran ini kelihatannya juga ikut berpengaruh pada jumlah penonton).

Di satu sisi, jumlah layar film Lebaran tahun ini menunjukkan bahwa film Indonesia bisa menjadi tuan di rumah sendiri. Walau baru sebatas kuantitas, film lokal ternyata mampu bersaing dengan film luar. Masalahnya, jumlah layar barulah satu cerita, yang tak sepenuhnya merangkum realita. Masih ada cerita lain yang belum terkuak, yakni bagaimana film-film Lebaran tahun ini terancam tak ada yang balik modal.

 

Tidak Balik Modal

Total pendapatan seluruh film Lebaran tahun ini tidaklah menggembirakan. Menurut data yang diperoleh pada tanggal 6 September 2011, Tendangan Dari Langit menduduki peringkat teratas dengan dengan 328.256 penonton. Berikutnya adalah Di Bawah Lindungan Ka’bah dengan 269.092, Get Married 3 dengan 200.249, Lima Elang dengan 121.764, dan Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap dengan 88.039. Rata-rata penonton harian masing-masing film adalah sebagai berikut: Tendangan Dari Langit 25.250 penonton per hari, Ka’bah 20.699, Get Married 3 18.205, Lima Elang 9.367, dan Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap 6.772.

Apabila dibandingkan dengan modal masing-masing film, maka rata-rata penonton harian mereka tak cukup menunjang. Mari ambil contoh kasus Tendangan Dari Langit. Menurut sumber FI, film tersebut bermodalkan Rp 10 miliar rupiah. Apabila perolehan satu tiket kita pukul rata seharga sepuluh ribu rupiah (kalau masih tayang di gedung-gedung XXI), maka Tendangan Dari Langit perlu sekitar satu juta penonton untuk balik modal. Untuk mencapai jumlah penonton tersebut, film Hanung Bramantyo tersebut perlu sekitar 26 hari lagi dengan jumlah bioskop yang sama. Contoh kasus lagi: Lima Elang. Menurut sumber FI, modal film yang disutradarai Rudi Soedjarwo tersebut sekitar Rp 4,5 milliar. Berarti Lima Elang butuh sekitar 450 ribu penonton untuk balik modal. Berarti juga film tersebut perlu sekitar 35 hari lagi di bioskop. Get Married 3 diperkirakan sekitar 3-4 miliar rupiah, sementara Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap kelihatannya berada pada standar biaya produksi film nasional: sekitar dua miliar rupiah. Menurut pengakuan produsernya sendiri, Di Bawah Lindungan Ka'bah menelan biaya lebih dari Rp 20 miliar. Rasanya jumlah ini hanya bisa diraih dengan impian.

Masalahnya: jangankan 26 atau 35 hari lagi, seminggu lagi saja susah untuk film-film Lebaran bertahan di bioskop. Pendapatan mereka yang seret menjadikan prospek film-film itu tidak menarik untuk dipertahankan lama-lama. Selain itu, beberapa film baru sudah mengantri. Minggu depan akan rilis dua film nasional: Tarung (City of Darkness) dan Masih Bukan Cinta Biasa. Saat penulisan artikel ini, Captain America sudah meramaikan bioskop-bioskop nasional. Minggu-minggu berikutnya lagi sudah antre empat film nasional: Mati Muda di Pelukan Janda, Keranda Kuntilanak (22/9), Simfoni Luar Biasa, Badai di Ujung Negeri (29/9). Menurut kabar dari sejumlah media, film-film box office Hollywood, The Hangover Part II dan The Rise of the Planet of the Apes (sudah ditayangkan midnight di beberapa bioskop), juga akan segera dirilis. Ketika Mudik masuk bioskop 8 September kemarin, Di Bawah Lindungan Ka’bah turun jumlah layarnya, dari 124 ke 116. Begitu juga dengan Lima Elang, yang turun dari 69 ke 56 layar. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai semua film Lebaran turun dari bioskop.

Pertanyaan yang patut diajukan di sini: kenapa film-film Lebaran tahun ini flop? Seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya, Lebaran umumnya adalah tambang emas bagi para produser film. Tahun lalu, ada Sang Pencerah yang menembus lebih dari satu juta penonton. Tepatnya, 1,1 juta penonton. Tahun sebelumnya lagi, ada dua film yang melewati angka satu juta: Get Married 2 (1,18 juta) dan Ketika Cinta Bertasbih 2 (2 juta). Jangan lupakan juga prestasi Laskar Pelangi di tahun 2008, yang sukses menarik 4,6 juta penonton.

Tahun ini, jangankan satu juta, melewati angka 300 ribu saja sepertinya sulit. Padahal, tahun lalu 300 ribu merupakan jumlah penonton terendah sebuah film. Angka tersebut dicapai oleh Dawai 2 Asmara dengn 300.731 penonton. Tidak jauh di atasnya ada Lihat Boleh Pegang Jangan dengan 370.048 penonton. Jadi, ada apa sebenarnya dengan Lebaran tahun ini?

 

Imbas Kasus MPA

Satu spekulasi yang bisa dilayangkan adalah euforia masuknya film MPA. Euforia tersebut di satu sisi menjalar di kalangan penonton, namun di sisi lain juga dimanfaatkan oleh jaringan bioskop. Dalam kasus ini, kita perlu kembali melirik ke belakang. Dari awal Maret hingga akhir Juli 2011, film-film MPA tidak masuk Indonesia karena masalah pajak impor film. Sejumlah judul seperti Thor, Harry Potter 7.2, Transformers 3, dan Kungfu Panda 2, absen di bioskop.

Sepanjang periode tersebut, masyarakat bukannya tidak punya film untuk ditonton di bioskop. Ada sejumlah film Hollywood non-MPA, seperti Source Code, Drive Angry, dan Gnomeo & Juliet. Ada juga sejumlah film nasional, seperti Pupus, Pelet Kuntilanak, Kentut, Serdadu Kumbang, Ada Apa Dengan Pocong?, Catatan Harian Si Boy, dan Surat Kecil Untuk Tuhan.

Ketika akhirnya Harry Potter 7.2 masuk bioskop pada tanggal 29 Juli 2011, perhatian masyarakat praktis terpecah. Di satu sisi, ada film-film yang beredar sebelum Harry Potter, termasuk di dalamnya sejumlah film nasional. Di sisi lain, ada suguhan film-film MPA. Pada titik ini, pola rilis film di bioskop menjelang Lebaran patut diperhatikan. Selalu ada jeda dalam waktu rilis film MPA. Selang seminggu dari masuknya Harry Potter, bioskop-bioskop mulai menayangkan Transformers 3 pada 5 Agustus. Gelombang film MPA berlanjut dengan Fast & Furious 5 pada 12 Agustus, kemudian Kungfu Panda 2 pada 16 Agustus.

Adanya jeda memungkinkan masyarakat bernafas barang sejenak. Masyarakat dapat menyerap satu film terlebih dahulu, menyadari keberadaannya dan menontonnya, sebelum pindah ke film yang dirilis berikutnya. Bandingkan dengan pola rilis film Indonesia. Di tengah-tengah bulan puasa, tidak ada film nasional yang dirilis. Film-film nasional yang ada adalah film-film yang sudah ada sebelum kehadiran Harry Potter. Salah satunya adalah Surat Kecil Untuk Tuhan. Baru pada tanggal 25 Agustus, empat film dirilis bersamaan: Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tendangan Dari Langit, Lima Elang, dan Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap. Dua hari sesudahnya, Get Married 3.

Dibanding dengan film-film MPA, film nasional diharuskan bersaing dengan sesamanya dalam satu lahan yang dibagi ramai-ramai. Dalam waktu bersamaan, film nasional juga harus bersaing dengan dua atau tiga film MPA di lahan yang seolah terdesain tidak imbang, karena distribusi dan impor sebagian besar film berada di “satu tangan”. Di tangan yang sama itu distribusi film nasional menggantungkan nasibnya. Film nasional jelas sangat tidak diuntungkan.

Ibarat sebuah siklus, kehidupan film selalu berputar dari produksi hingga distribusi. Kasus MPA beberapa bulan lalu mengangkat isu distribusi ke ranah publik. Ada dominasi tersendiri dalam distribusi film di Indonesia, yang menjadikan peredaran film di Indonesia tidak sehat. Konsekuensinya: rezeki film Indonesia jadi terbatas, bahkan seperti terkesan diatur. Anjloknya prestasi film Lebaran tahun ini hanya mengkonfirmasi kekhawatiran tersebut. Pada titik ini, membenahi distribusi film sama dengan memberi nafas kehidupan pada film nasional.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.