Perkembangan Film Indonesia 2019: Bukan sekadar jumlah penonton.

Kajian :: Penulis: Agus Mediarta

Dalam paparan tentang perkembangan industri film, indikator kuantitatif hanyalah pijakan awal untuk membaca dan memahami kondisi dan pertumbuhan industri. Kumpulan data-data angka tersebut tidak mewakili gambaran utuh keadaan industri dan masih sangat membutuhkan analisis-analisis lain dengan pendekatan multidisiplin-multidimensi.

Dengan pijakan itulah, filmindonesia.or.id menyajikan sekumpulan data-data kuantitatif terkait keadaan industri film di 2019 dengan berbagai keterbatasan dalam analisisnya. Penyajian data bertumpu pada periode tahun kalender 2019 (01 Januari – 31 Desember) sebagai acuan periode dirilisnya film-film yang beredar melalui bioskop jaringan (theatrical release), dan pertambahan jumlah bioskop serta layar. Adapun penghitungan jumlah penonton dihitung berdasarkan rentang waktu dari film pertama rilis di 2019 sampai film terakhir rilis di 2019 selesai beredar (film Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan terakhir tayang 11 Februari 2020). Oleh karena itu, jumlah penonton atas film yang rilis perdana sebelum 01 Januari 2019 namun ditayangkan ulang di bioskop di tahun 2019 tidak dimasukkan dalam akumulasi jumlah penonton 2019.

Pertambahan Bioskop dan Layar

Sepanjang tahun 2019, terdapat penambahan 78 bioskop dengan 286 layar dari 5 bioskop berjaringan dan juga bioskop independen. Penambahan terjadi di 43 kota di 19 provinsi. 37 bioskop berada di ibukota provinsi, dan 41 bioskop berada di kota dengan status kota/kabupaten. Di akhir Desember 2019, terdapat 508 bioskop dengan 2.110 layar.

Dilihat dari persebarannya, penambahan bioskop baru masih terkonsentrasi di Jawa. Walau demikian, terdapat 11 kota/kabupaten dengan bioskop pertamanya di 2019, dengan total 32 layar. Pertumbuhan layar (15,68%) dan bioskop (18,14%) sepanjang 2019, belum melampaui capaian di sepanjang 2017 (layar 25,45% dan bioskop 23,79%). Dibutuhkan data tambahan dan analisis lebih lanjut tentang hambatan dan potensi perluasan atau penambahan bioskop di berbagai daerah di Indonesia.

Tema film

Pada Festival Film Indonesia (FFI) 2019, film Kucumbu Tubuh Indahku memperoleh 8 penghargaan, termasuk untuk kategori film cerita panjang terbaik dan sutradara terbaik. Sebelumnya, film Garin Nugroho tersebut mendapatkan pelarangan pemutaran di berbagai daerah. Namun, berbagai pelarangan tersebut juga mendapat tentangan dari berbagai pihak. Selain mendapat penghargaan Citra terbanyak di FFI 2019, Kucumbu Tubuh Indahku juga mendapat penghargaan di beberapa festival internasional, di antaranya Festival des 3 Continents 2018 dan Asia Pacific Screen Award 2018. Selain menunjukkan capaian estetik, pemberian penghargaan di FFI juga seolah menyuarakan keberpihakan industri film Indonesia pada masalah kebebasan berekspresi dan isu aktual lainnya.

Dalam lima tahun terakhir, film Indonesia semakin beragam menghadirkan aktualitas dan konteksnya melalui tema dan genre. Dari film peroleh Citra di FFI 2019 cukup terlihat. Aktualitas pada tema tak hanya muncul dalam kisah seperti Dua Garis Biru, Keluarga Cemara, dan 27 Steps of May, tetapi juga pada film laga, Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot.

Di luar hasil FFI 2019, film beredar tetap didominasi oleh genre umum yang sudah berlangsung lama, yaitu drama, horor, dan komedi serta penggabungan antara ketiganya. Namun, terdapat hal-hal menarik dari tahun 2019. Salah satunya adalah film Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot, sebuah film yang menjadi pembuka atas hadirnya film-film dalam semesta superheroes (Jagad Sinema Bumilangit/JSB) dari konten intellectual property (IP) nasional. Upaya JSB tentu diharapkan menarik banyak pihak untuk mengeksplorasi dan mengembangkan (melakukan inovasi) dari konten IP nasional. Selain itu, sepanjang 2019 terdapat 11 judul film sekuel (lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, dan dua di antaranya adalah film adaptasi) dan 29 judul film dengan tema adaptasi (17 berasal dari novel).

Penting untuk melihat perkembangan narasi pada film beredar yang dihasilkan dari adaptasi atau pengembangan berdasarkan materi IP. Hal tersebut dapat menjadi salah satu tolok ukur melihat pertumbuhan industri film dan keterhubunganya dengan berbagai sektor dalam ekosistem industri budaya. Hal yang sama juga dapat dilihat dari film sekuel. Tentu saja, menghasilkan karya-karya skenario asli juga sama pentingnya.

Dalam konteks industri, keduanya (adaptasi IP dan cerita asli) bertumpu pada apresiasi dalam bentuk jumlah penonton (serta jumlah profit) dan atau pengakuan dari institusi seni yang kredibel (kalangan kritik/akademik dan festival film). Artinya, pencapaian film sebagai karya tidak melulu ditentukan oleh satu faktor saja (jumlah penonton atau pengakuan). Oleh karena itu, industri film yang sehat mensyaratkan adanya keragaman (narasi/tema/genre), karena keseragaman atau “sekadar mengikuti trend” justru menciptakan “film Indonesia yang membosankan”.

Penonton Film Indonesia Beredar 2019

Penghitungan jumlah penonton berdasarkan film-film yang beredar di bioskop berjaringan dan independen (tidak termasuk pemutaran terbatas dan pemutaran keliling/roadshow di luar gedung bioskop). Penghitungan akumulasi jumlah penonton per tahun tidak memasukkan data penonton film yang ditayangkan ulang di bioskop jauh setelah siklus penayangan pertama (second run).

Sepanjang 2019, berdasarkan tahun katalog terdapat 130 judul film yang beredar termasuk film Humba Dreams yang tayang perdana di Shanghai International Film Festival, namun belum tayang perdana di jaringan bioskop di Indonesia. Berdasarkan peredaran di jaringan bioskop terdapat 129 judul dengan jumlah total 51.901.745 penonton. Jumlah tersebut, menunjukkan pertumbuhan penonton sebesar 1,38% dari perolehan 51.192.832 penonton di 2018. Angka pertumbuhan tersebut jauh di bawah pertumbuhan jumlah layar (15,68%). Sementara, pertumbuhan penonton di 2018 sebesar 20,77% disandingkan dengan pertumbuhan layar di tahun yang sama sebesar 17,83% .

Dari 15 judul film di 2019 dengan penonton di atas satu juta atau sebanyak 57% dari total jumlah penonton, tujuh di antaranya adalah film adaptasi. Selain itu, empat di antara adalah film peroleh penghargaan di FFI 2019 (Dua Garis Biru, Keluarga Cemara, Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot, dan My Stupid Boss 2). Jumlah film yang sangat jarang terjadi sebelumnya.

Penutup

Banyak faktor untuk memperhatikan keadaan atau perkembangan industri film. Industri film seperti halnya karakteristik umum industri budaya, memiliki resiko bisnis yang tinggi. Tidak ada resep keberhasilan yang tunggal. Oleh karenanya, hanya melihat jumlah penonton sebagai ukuran formula keberhasilan atau pencapaian justru akan membahayakan industri film Indonesia.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.