Pierre Rissient Tentang Lewat Djam Malam dan Film Indonesia

Wawancara :: Penulis: Asmayani Kusrini

Pierre Rissient ketika memberi sambutan di pemutaran Lewat Djam Malam di Festival Film Cannes 2012 (Foto: Asmayani Kusrini)Pada malam pemutaran perdana hasil restorasi film Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail, ia duduk di sudut panggung di depan layar. Malam itu, 17 Mei 2012, di Salle Buñuel, Cannes 17 Mei 2012 bersama penonton lainnya, ia mendengarkan Thierry Frémaux (Direktur Artistik Festival Film Cannes), Kent Jones (Direktur Eksekutif World Cinema Foundation), Lee Chor Lin (Direktur National Museum of Singapore), dan Alex Sihar (Direktur Yayasan Konfiden) memberi kata sambutan. Tak ada yang menegurnya untuk pindah. Bahkan bodyguard dan para penjaga ketertiban yang bertugas menertibkan wartawan bandel di dalam gedung sinema itu pun tidak berkata apa-apa. Terlihat, orang-orang hormat padanya. Melihat sapaan dari para wartawan senior, sepertinya mereka semua kenal padanya. Sesekali, ia protes saat beberapa orang terlihat akan mengambil tempat duduk yang rupanya sudah ia pilih.

Setelah empat orang dari organisasi-organisasi yang bertanggung jawab membawa film Lewat Djam Malam ke Cannes selesai berpidato, ternyata ia pun diberi kesempatan untuk berbicara. Namanya Pierre Rissient, kritikus film senior ternama di Prancis. Todd McCarthy mantan kepala bagian kritik film di Variety yang kemudian pindah ke The Hollywood Reporter pernah membuat film dokumenter tentangnya yang berjudul Pierre Rissient: Man Of Cinema (2007). Tak heran semua orang dari lingkaran dunia film yang hadir di Festival Film Cannes—setidaknya yang sudah menghadiri festival ini selama lebih dari 10 tahun belakangan —mulai dari sutradara, kritikus, dan programmer, kenal dengan Rissient.

Film dokumenter karya Todd McCarthy menampilkan testimoni dari sejumlah orang yang 'ditemukan' dan berhutang budi dalam karier sinema mereka kepada Rissient. Mulai dari Clint Eastwood, Jane Campion, Hou Hsiao Hsien, Werner Herzog, John Boorman, Quentin Tarantino, Olivier Assayas, Abbas Kiarostami, hingga Christine Hakim. Dari mereka, kita paham mengapa Rissient dianggap berperan penting terhadap perkembangan Festival Film Cannes. Rasa ingin tahunya yang tak terbendung terhadap sinema dan bakat-bakat baru dari negeri-negeri jauh membuat Rissient melanglang buana ke berbagai belahan dunia untuk menemukan 'film lokal'. Ia tersohor sebagai kritikus yang tak kenal kompromi, sekaligus juga pembela karya-karya film seni yang pantang menyerah. Kredonya yang terkenal ”Menyukai suatu film saja tidak cukup. Kau harus menyukainya karena alasan yang tepat” dicetak di atas kaus oblong—busana kegemarannya—oleh-oleh Festival Film Telluride, AS.

Berawal dari distributor film berpengaruh di Paris, kemudian sebagai konsultan, editor, asisten sutradara untuk Claude Chabrol dan Jean-Luc Godard, Rissient kemudian mengembangkan jaringan sosial perfilman ke seluruh dunia. Pria kelahiran Paris, 4 Agustus 1936 ini adalah tokoh kunci yang mendedikasikan hidupnya untuk memastikan sebuah film yang menurutnya layak diapresiasi, bisa ditonton oleh sebanyak-banyaknya orang. Ia tahu hampir segala hal tentang film yang pernah dibuat, tahu semua orang dari ujung barat ke selatan, utara ke timur, dari Kazakhstan hingga Indonesia. Sehubungan dengan itu pula, Rissient diminta untuk memberi sedikit gambaran tentang film Lewat Djam Malam di depan penonton malam itu.

Rissient pernah menonton Lewat Djam Malam pada tahun 1977, ketika ia pertama kali berkunjung ke Indonesia. Pada masa itu, Rissient menonton karya Usmar Ismail ini tanpa subtitel, menikmati gambar-gambar sambil berusaha merangkai sendiri persepsinya tentang isi film itu. Jadi, rasanya tidak ada yang lebih pas untuk dimintai pendapat tentang hasil restorasi Lewat Djam Malam selain Rissient.

Kami menemui Rissient usai penayangan perdana Lewat Djam Malam. Setelah itu, kami kembali menemuinya di acara Indonesian Cocktail Party keesokan harinya di Majestic Beach, di mana Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya Ukus Kuswara mengucapkan terima kasihnya atas jasa-jasa Rissient memperkenalkan sinema Indonesia di Cannes. Rissient sangat bersemangat bercerita tentang pengalamannya berkenalan dengan sinema Indonesia.

Asmayani Kusrini mewawancarai Rissient untuk Film Indonesia.

 

Film Indonesia (FI): Anda pernah melihat Lewat Djam Malam sebelum dan sesudah di restorasi. Apakah menurut Anda ada yang berubah setelah puluhan tahun?

Pierre Rissient (PR): Saya harus memberi selamat kepada teman-teman Anda yang sudah merestorasi film ini. Museum Singapura yang merestorasi film ini adalah salah satu sumber utama sinema di Asia. Saya bahagia sekali karena akhirnya saya bisa menontonnya lagi dan kali ini dengan subtitel. Waktu pertama kali saya menontonnya, saya hanya bisa melihat dan menduga apa yang sedang terjadi di layar, tapi waktu itu pun saya bisa mendapatkan dan merasakan semangat yang ingin ditunjukkan film ini. Satu hal yang baru saya temukan saat menonton tadi adalah kualitas musiknya. Saya sama sekali tidak menyadari hal itu sebelumnya. Ada semacam musik jazz di situ. Lewat restorasi film ini, saya menyadari bahwa negerimu punya musik jazz yang bagus pada jaman itu.

FI: Dan film ini sendiri bagaimana menurut Anda?

PR: Ini salah satu film yang paling menarik menggambarkan situasi setelah perang di Indonesia. Kaya akan pesan sosial, karakter-karakter menarik yang saya percaya merupakan gambaran masyarakat Indonesia saat itu. Film seperti inilah yang diharapkan bisa ditonton di setiap festival, karena kita jadi paham situasi lokal dengan menonton film lokal, tapi juga mengandung pesan universal. Untuk itu sekali lagi saya harus mengungkapkan hormat saya kepada Museum Singapura atas kontribusinya.

FI: Bagaimana Anda bisa mengenal film-film Indonesia jauh sebelum orang lain memberi perhatian terhadap film-film kami?

PR: Seperti yang saya bilang dalam pidato tadi, saya menonton film Indonesia sejak 1977. Tidak sengaja sebetulnya. Saya berada di Hongkong tahun 1973, saat itu orang mengidentifikasikan film Asia dengan Bruce Lee. Mereka hanya tahu Bruce Lee. Tapi saat saya ke Hongkong, saya melihat film-film lain yang membuka mata saya bahwa masih ada banyak hal lainnya di Asia selain Bruce Lee.

Salah satu film yang saya temukan adalah A Touch Of Zen karya King Hu (Rissient membawa film ini ke Cannes dan masuk nominasi Palem Emas tahun 1975- Red.). Setelah A Touch Of Zen, saya berpikir jika orang belum menyadari bahwa ada film yang begitu bagus di Asia, kemungkinan besar banyak film-film lain yang masih tersembunyi di wilayah ini. Jadi tahun 1977 ketika saya sedang di Sydney Film Festival, saya memutuskan untuk singgah di negeri-negeri sekitar, salah satunya Indonesia.

Persinggahan saya yang pertama adalah Jakarta. Di sana saya mendapat kesempatan untuk bertemu Taufik Ismail, semoga dia masih hidup. Ia baik sekali, kami bertemu di Taman Ismail Marzuki. Beliaulah yang memungkinkan saya mendapat akses ke film-film Indonesia. Saat itu, kami di Barat tidak ada yang tahu sedikitpun tentang sinema Indonesia, khususnya film-film independen. Tidak seperti sekarang, akses sudah terbuka. Waktu itu saya juga menonton film-film Usmar Ismail yang lain seperti Enam Djam di Djogdja dan Tiga Dara. Saya sangat terkesan. Semoga film-film itu juga bisa direstorasi dan saya bisa menontonnya seperti Lewat Djam Malam.

FI: Anda sempat bertemu dengan beberapa sutradara lainnya di Indonesia?

PR: Sayangnya saya tidak sempat bertemu Usmar Ismail karena beliau sudah meninggal waktu itu. Tapi saya sempat bertemu dengan Asrul Sani di tahun 1977. Saya ingat Asrul, ia seorang penulis yang cerdas lagi pandai mengartikulasi gagasan dan pikirannya. Asrul adalah penulis skenario yang baik, tapi jujur saja, dia bukan sutradara yang baik... [tertawa]. Setiap orang punya kelebihan sendiri-sendiri. Saya juga ingat Wim Umboh. Ia orang yang sangat berantakan, tak terorganisir, tapi salah satu sutradara terbaik di Indonesia.

Salah satu filmnya yang saya tonton dan sangat menarik adalah Matjan Kemajoran. Saya juga menonton beberapa filmnya, yang walaupun tidak sebagus Matjan Kemajoran, tapi terlihat ia punya bakat bermain dengan kamera. Terlihat jelas, ia salah satu sutradara yang sangat berbakat. Wim Umboh adalah salah satu sutradara favorit saya. Orang yang berantakan tapi berbakat. Filmnya Pengemis dan Tukang Becak adalah salah satu film favorit saya.

Selain itu, saya juga menyaksikan cikal bakal sinema Indonesia [dalam bentuk teater] tradisional seperti wayang orang Bharata. Sayangnya, pertunjukan seperti ini menghilang seperti juga pertunjukan boneka (puppet show).

FI: Dan Anda akhirnya kembali lagi ke Indonesia?

PR: Saya begitu terkesan dan akhirnya kembali lagi ke Indonesia setahun kemudian, pada 1978. Saya menonton beberapa film lagi dan bertemu dengan beberapa sutradara lainnya seperti Djajakusuma. Mereka semua masih tergolong muda. Salah satu film yang juga sangat menarik waktu itu adalah Atheis karya Sjuman Djaya. Saat itulah saya berkenalan dengan Christine Hakim, Slamet Rahardjo, dan seorang sutradara lain yang juga menulis banyak naskah panggung, Teguh Karya.

Ada satu lagi, saya tidak ingat namanya, [orangnya] sangat baik. Filmnya tidak sempurna tapi bagus. Dia sangat sopan dan sangat religius. Filmnya kalau tidak salah tentang perempuan dan istri? Saya sudah lupa. Saya menonton salah satu filmnya ketika itu di festival film. Tapi setelah itu, filmnya tak lagi sebaik yang saya tonton di festival itu.

FI: Mungkin Anda orang Prancis pertama yang bertemu dengan begitu banyak sutradara-sutradara senior di Indonesia. 

PR: [Tertawa] Sepertinya begitu. Christine memperkenalkan saya kepada Garin Nugroho. Mungkin saya orang Prancis pertama yang menonton film-film Garin. Kami juga berteman baik setelah itu. Dan saya sudah menonton sejumlah film-film Indonesia terbaru, mungkin saya belum menonton semuanya, mungkin juga Anda tidak setuju dengan saya, tapi sepanjang pengalaman saya menonton film-film Indonesia terkini, di antara semua sutradara-sutradara baru yang muncul di Indonesia setelah tahun 1970-an, Garin Nugroho adalah yang terbaik.

FI: Saya juga berpikir begitu. Tapi kenapa Anda bisa berpendapat Garin yang terbaik?

PR: Saya bukan orang Indonesia, tapi saya sudah beberapa kali berkunjung ke Indonesia. Saya sudah menonton banyak film Indonesia, saya sudah mendengarkan musik-musiknya, saya sudah melihat banyak hal di Indonesia dan semua itu membuat saya berkesimpulan bahwa Garin itu sangat Indonesia. Tentu ini sangat subjektif, tapi setiap kali saya berkunjung ke suatu negara, yang saya suka dari film-film setempat adalah film yang menggambarkan semangat budaya lokal. Tidak hanya di Indonesia, tapi di mana saja, banyak sutradara begitu dipengaruhi oleh film-film Amerika sehingga lupa akan budayanya sendiri. Bagi saya, karya-karya Garin selalu kental berakar pada budaya lokal.

FI: Anda termasuk rajin mempromosikan film Indonesia dalam lingkaran pertemanan, ini karena Anda kenal dekat dengan para pelaku perfilman di Indonesia atau karena memang kualitas film-film tersebut?

PR: Dua-duanya. Bagaimana saya tahu kalau Indonesia punya film bagus? Kontak langsung. Menemukan karya film itu kan lebih ke hubungan antar manusia. Saya beruntung bertemu dengan orang-orang tersebut. Indonesia juga sangat beruntung punya duta sinema seperti Christine Hakim. Dari beberapa orang yang saya temui ini, saya menonton film, saya tersentuh dengan film tersebut dan tentu saja ingin berbagi dengan yang lain, tidak hanya dengan teman saya tapi dengan sebanyak-banyaknya orang. Salah satu tugas programmer kan seperti itu. Bagaimana awalnya film Lewat Djam Malam bisa direstorasi, dimulai dengan saling kontak dulu kan? Saling berkenalan. Merestorasi film itu kan mahal. Tanpa pendekatan pesonal rasanya proyek seperti ini tidak akan berhasil. Itu sering yang dilupakan orang. Pendekatan personal.

Selain karena hubungan personal, kualitas film tentu saja sangat berpengaruh. Saya sudah bekerja dengan banyak pekerja film lainnya, tidak hanya di Indonesia. Saya suka film dengan kualitas yang baik yang merepresentasikan apa yang terjadi di negeri itu dan ingin menghargai integritas film tersebut. Saya jadi ingat film karya Eros Djarot, Tjoet Nja' Dhien ada versi edit internasionalnya. Saya juga melihat versi awal Opera Jawa. Mungkin saya akan terdengar pretensius, tapi seharusnya film itu bisa lebih baik. Film itu sangat mengagumkan. Masterpiece. Film-film seperti itulah yang selalu membuat saya ingin mencari dan mencari lagi.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.