Pustaka Festival Film di Indonesia

Kajian :: Penulis: Lulu Ratna

Perbincangan mengenai festival film di Indonesia dimulai melalui tulisan mengenai pengalaman pembuat film menghadiri festival film. Awalnya tulisan tersebut terbit dalam media massa, kemudian diterbitkan bersama tulisan mengenai praktik film lainnya dalam bentuk buku. Hal ini dilakukan oleh Usmar Ismail (1983) dan Garin Nugroho (1998, 2005, 2019). Ismail (1983) menuliskan pengalamannya hadir di Festival Film Internasional Venice dan membandingkannya dengan Festival Film Indonesia (FFI). Sementara Nugroho (2005) menuliskan pandangan dan pengalamannya ketika menghadiri Festival Film Internasional di Berlin dan Rotterdam, melalui pembacaan terhadap program kedua festival film yang berfokus pada film-film Asia, khususnya film-film Asia Tenggara. Dalam salah satu acara diskusi di Vancouver Film Festival, Nugroho (2005) membahas sinema Indonesia pasca-1998 yang mengalami euforia peningkatan kuantitas film Indonesia, namun tanpa diikuti dengan peningkatan kualitasnya, walaupun tema film semakin beragam. Euforia ini dipicu oleh festival film dan komunitas film yang banyak bermunculan pasca-1998.

Dua kritikus film pada masa Orde Baru menulis buku yang menyoroti berbagai praktik festival film internasional, dengan menggunakan FFI sebagai acuannya. Salim Said (1994), yang juga Panitia Tetap FFI, menulis pengalamannya menghadiri 11 festival film internasional selama 1979-1989 dalam buku Dari Festival ke Festival: Film-film Manca Negara dalam Pembicaraan. Said menyatakan pentingnya subtitle Bahasa Inggris karena dapat mempengaruhi pengalaman festival film seseorang. Rosihan Anwar (1999), selaku Wakil Ketua Kelompok Kerja Tetap untuk Promosi dan Pemasaran Film Indonesia, membahas 18 festival film internasional yang ia hadiri selama 1981-1993 dalam buku Reportase Wartawan Film. Anwar mengurai secara cermat, efektifnya sistem kerja organisasi festival, film programming maupun program non-pemutaran film di festival film besar, seperti Cannes dan Berlin. Baik Said (1994) maupun Anwar (1999), selalu menyertakan konteks sejarah sosial politik negara tempat festival berlangsung. Selain kedua buku ini, buku festival film yang terbit selama era Orde Baru umumnya merupakan publikasi tahunan FFI (biasanya ditulis dalam bahasa Inggris demi kepentingan promosi film Indonesia di festival film internasional).

Sementara kritik terhadap praktik Festival Film Indonesia (FFI) era Orde Baru datang dari para pengajar dan kritikus film. Mereka menganggap sistem penilaian FFI membutuhkan standar artistik film akibat ketiadaan Direktur Artistik (Sumarno, 1995), akses film-film FFI yang eksklusif hanya bagi tim seleksi dan para juri (Peransi, 2005), teknis penyelenggaraan FFI yang tidak teratur (Siagian, 2006), serta tidak adanya bakat showmanship yang tinggi dalam penyelenggaraan FFI (Kristanto, 2004). Lebih jauh lagi, Nugroho (1998: 76-85) membahas beragamnya sudut pandang kritik film dalam penilaian lembaga festival film, seperti Cannes, Berlinale, Oscar dan banyak festival film lain di Amerika Serikat, yang memiliki agenda geopolitik dan budaya yang berbeda-beda, menghasilkan pemenang yang juga beragam di tahun yang sama. Menurutnya, ketiadaan lembaga penilaian film selain FFI, menandai tidak adanya demokratisasi yang diperlukan untuk menunjukkan kompleksitas film sebagai karya seni.

Berbagai pencatatan gerakan film pendek di Indonesia sejak masa Orde Baru hingga pasca-1998, dari FFI hingga praktik festival film non-pemerintah. dilakukan oleh Gotot Prakosa (2001, 2004, 2005, 2006). Dalam salah satu bukunya tersebut, Film Pendek dalam Penilaian (2001), bagian epilog buku yang ditulis oleh Arya Gunawan, membahas dampak festival film terhadap kota, dengan menggunakan contoh kasus festival film di Cannes dan Toronto. Prakosa (2004) juga membahas praktik sensor yang terjadi pada Jakarta International Film Festival (JIFFest) 1999 dan Festival Film Eropa 2000. Pembahasan sensor pada festival film juga dilakukan Laura Coppens (2011), melalui kasus yang terjadi pada Q Film Festival (berlangsung sejak tahun 2002), festival film bertema Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT), yang harus berhadapan baik dengan LSF maupun dengan kaum Islam fundamentalis, sebagai akibat tingginya gejala homophobia di Indonesia. Gotot Prakosa (2004) menyimpulkan, praktik festival film non-pemerintah pasca-1998 merupakan ungkapan demokrasi dan sebuah kebiasaan baru anak muda, yang pada saat bersamaan harus berhadapan dengan alat kekuasaan pemerintah, seperti LSF.

Ratna (2010) membahas karakter festival film lokal di Indonesia pasca-1998 yang diselenggarakan oleh festival film. Karakteristik pertama terletak pada dana penyelenggaraan festival, yang umumnya berasal dari pihak sponsor swasta, donatur dan dana pribadi. Kedua, penonton festival tidak dipungut biaya untuk menonton film, bahkan mendapatkan buku program festival secara gratis. Karakter yang ketiga, banyaknya film pendek (berdurasi maksimal 30 menit) dalam program pemutaran festival, atau festival memang hanya khusus memutar film pendek saja. Keempat, sifat festival film yang terbuka, dengan adanya banyak komunitas film atau organisasi budaya yang menjadi mitra festival. Sementara secara umum, Ratna menyebut karakter festival film lokal sebagai festival film yang berada di bawah radar publikasi nasional.

Penerbitan buku mengenai festival film umumnya berupa profil dan sejarah berdirinya satu atau beberapa festival film. Perbedaan terletak pada sudut pandang penulisnya. Buku Setengah Abad Festival Film Indonesia karya SM Ardan (2004) dan 17 Tahun Forum Film Bandung: Festival Film Bandung karya Edison Nainggolan (peny., 2004), lebih berupa pencatatan perjalanan festival film. Sementara buku Dari Denpasar Membentang Layar: Enam Tahun Perjalanan Denpasar Film Festival karya Agung Bawantara (2016) dan Your Healthy Dose of Short Films: Celebrating 17 Years of MInikino karya Edo Wulia et al. (2019), berisi pengalaman mengorganisir festival film dan pencapaian penting penyelenggaraan festival. Walau kedua jenis buku ini membahas festival film secara subyektif, namun keduanya penting mengingat pencatatan dan penerbitan sumber data pengkajian festival film masih jarang dilakukan di Indonesia. Profil empat festival film di Yogyakarta dibahas buku karya Imam Karyadi Aryanto (2015), yang merupakan adaptasi naskah penelitian tesis di Universitas Gadjah Mada.

Hadirnya internet di Indonesia pada akhir 1990-an, mendorong lahirnya blog, website dan media film daring. Kritikus film senior JB Kristanto mengalihkan karyanya, Katalog Film Indonesia (terbit tahun 1995, 2005, 2007, 2008, 2016), menjadi media daring melalui laman filmindonesia.or.id sejak tahun 2010. Laman yang memuat data jumlah penonton dan keterangan film seluruh produksi film Indonesia sejak tahun 1926 ini, mencantumkan penghargaan FFI sebagai masukan data film, selain artikel penelitian film di Indonesia, telah menjadi acuan data sekunder film Indonesia. Fenomena internet juga melahirkan kelompok kolektif kritikus film, Rumah Film (2007-2012) dan Cinema Poetica (sejak 2010 hingga kini), yang mempublikasikan tulisan-tulisan mereka mengenai perfilman Indonesia melalui media daring.

Kelompok Rumah Film merupakan kritikus film, akademisi, praktisi film dan pengamat budaya, sementara Cinema Poetica terdiri dari kritikus film, film programmer, peneliti dan praktisi film. Keduanya pernah menerbitkan buku hasil penelitian mereka mengenai perfilman Indonesia. Dalam buku kumpulan tulisannya, Tilas Kritik (2019), Rumah Film memuat bab yang berisi pengalaman menghadiri 7 festival film internasional di Eropa (2008-2012) dan hasil wawancara dengan para pembuat film internasional. Sementara buku Antarkota, Antarlayar (2020), memuat hasil penelitian Cinema Poetica mengenai komunitas film di Indonesia, melalui contoh kasus Banda Aceh, Makassar, Palu dan Yogyakarta. Salah satu hasilnya menyatakan bahwa festival film merupakan salah satu praktik yang penting bagi komunitas film (Pasaribu, Ramadani dan Yustriani, 2020).

Kedua buku tersebut diterbitkan bersama empat buku lainnya oleh Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (2019-2020) dan didistribusikan secara gratis melalui laman DKJ. Salah satunya buku Panduan Festival Film, ditulis oleh Nauval Yazid (2018), disusun oleh Tim COFFIE (Coordination of Film Festival in Indonesia) dan Komite Film Dewan Kesenian Jakarta. Buku ini berisi profil 28 festival film di luar Indonesia dan kesaksian 6 pembuat film Indonesia yang diundang menghadirinya, serta profil 27 festival film di Indonesia. COFFIE merupakan komunitas pekerja penyelenggara festival film (sejak 2012) dengan misi membangun koordinasi antar penyelenggara festival film dan profesionalitas pekerjanya melalui kegiatan lokakarya dan riset festival film. Yazid (2018) memberi pengantar definisi festival film menurut COFFIE, sebagai kriteria penyeleksian festival film dalam buku ini, salah satunya adalah program pemutaran film bagi publik. Hal ini menyebabkan tidak masuknya profil Festival Film Indonesia dan Festival Film Bandung ke dalam buku ini. Profil festival film yang diangkat dalam buku ini, juga termasuk festival film yang telah terhenti pelaksanaannya namun pengaruhnya masih terasa hingga kini. Yazid berpendapat, festival film di Indonesia masih bersifat apresiasi, karena belum ada Pasar Film (Film Market) seperti festival-festival film besar di luar Indonesia.

Pada tahun 2019, edisi revisi buku ini terbit dengan judul Direktori Festival Film Dunia dan Indonesia dan diluncurkan pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2019. Edisi ini menambah lima profil festival film non-pemerintah di Indonesia, Kalender Festival Film di Indonesia tahun 2019 (bagian dari tesis penulis), serta artikel kajian praktik festival film sebagai bentuk perlawanan. Amin Shabana, peneliti festival film dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, membahas peran strategis festival film, sebagai agen perubahan kritis bagi masyarakat dan simbol perlawanan kelompok yang termarjinalkan oleh suatu sistem negara. Perlawanan ini dilakukan melalui festival film berbasis isu, seperti: hak asasi manusia, lingkungan, politik, LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender), suku asli, disabilitas, dan perdagangan manusia.

Buku film lain yang juga diterbitkan oleh DKJ adalah Jiwa Reformasi dan Hantu Masa Lalu: Sinema Indonesia Pasca Orde Baru, yang diterjemahkan dari disertasi Quirine van Heeren (2020). Terdapat subbab mengenai festival film non-pemerintah, sebagai salah satu praktik film pasca-1998, yang merupakan saluran-saluran alternatif untuk distribusi dan pemutaran film, sebagai taktik untuk melawan struktur-struktur peredaran film yang bersifat hegemonik. Pembahasan festival film sebagai bagian dari tulisan menyeluruh mengenai perfilman Indonesia, khususnya dalam membahas FFI pasca-1998 yang masih menggunakan paradigma lama sebagai program seremonial semata. Ketidakpuasan pegiat film terjadi ketika FFI 2006 menobatkan film Ekskul (Nayato Fio Nuala, 2006) sebagai film terbaik, padahal film tersebut melanggar hak cipta dalam penggunaan ilustrasi musik. Kejadian ini melahirkan Masyarakat Film Indonesia (MFI), yang mengembalikan Piala Citra yang pernah mereka menangkan di FFI pasca-1998. Gerakan MFI menuntut pemerintah melakukan perbaikan kelembagaan film warisan Orde Baru yang diatur melalui UU Perfilman No 8 Tahun 1992.  Salah satu tuntutan perbaikan tersebut terkait pengekangan kebebasan berekspresi warisan Orde Baru lewat praktek sensor yang diatur dalam undang-undang perfilman. Sebagai wujud atas sikap penolakan praktek sensor film, MFI melalui Riri Riza, Dewi Umaya, Annisa Nurul Shanty, Lalu Rois Amri, dan Alm. Tino Saroengallo mengajukan judicial review atas UU Perfilman No. 8 tahun 1992 ke Mahkamah Konstitusi pada Desember 2007. MFI kemudian menawarkan bentuk Lembaga Klasifikasi Film praktek yang lebih baik dibandingkan sensor film. Tentang sikap MFI lebih lanjut dibahas oleh Eric Sasono (et al, 2011), M. Abduh Aziz (2019), dan Thomas Barker (2012).

Garin Nugroho (2019: 209-211) membahas FFI dua dasawarsa pasca-1998, ketika film Siti (Eddie Cahyono, 2014) meraih Film Terbaik dan Joko Anwar meraih Sutradara Terbaik pada FFI 2015. Siti lolos seleksi Festival Film Internasional di Telluride dan meraih penghargaan di Busan, sementara Joko Anwar mampu membawa film karyanya ke festival film dunia, seperti Venice, dan Toronto. Menurutnya, hal ini menandai apresiasi film nasional dan festival penting dunia berada dalam pertemuan apresiasi yang sama. Garin Nugroho menilai, FFI 2015 menjadi peta yang menunjukkan sinema Indonesia diselamatkan oleh para kreatornya, bukan oleh sistem. Padahal di banyak negara, sistem justru medium yang penting dalam menghidupkan sinema.

Pembahasan topik film festival programming secara khusus dilakukan Redaksi Cinema Poetica dengan memuat dua artikel yang masing-masing ditulis oleh film festival programmer (Ratna, 2015) dan pembuat film (Darmawan, 2008), serta dua artikel hasil wawancara terhadap dua orang programmer dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (Cempaka, 2015) dan Festival Film Internasional Rotterdam (Putranda, 2015). Keempat artikel ini membahas fungsi kuratorial dan programming dalam festival film dari beragam sudut pandang serta pengaruhnya terhadap posisi yang ingin diraih festival film dalam ekosistem perfilman. Selain itu, terdapat artikel yang membicarakan praktik festival film di berbagai kota di Indonesia (Desaga, 2014; Leksono, 2014), FFI (Mubarak, 2015) dan Q Film Festival (Bestika, 2015).

Kelompok kolektif lain di Jakarta, Forum Lenteng (sejak 2003) juga menulis tentang praktik festival film dalam laman Jurnal Footage. Berbeda dengan kelompok sebelumnya, Forum Lenteng juga aktif memproduksi film, menyelenggarakan lokakarya film, serta festival film dokumenter dan eksperimental internasional, Arkipel.. Kelompok pengkajian film juga muncul di Yogyakarta: Rumah Sinema (1999-2017) dan Montase (2005-sekarang). Rumah Sinema merupakan kelompok kritikus dan peneliti film yang menulis dan menerbitkan kajian media dan film. Selain media berkala kritik film Clea (2002-2008), Rumah Sinema juga menerbitkan buku-buku kajian media dan film Indonesia. Salah satunya, merupakan hasil penelitian mengenai pemetaan pembuat film Yogyakarta pada tahun 2015 yang telah diterbitkan. Sementara Montase, menerbitkan media buletin, berisi ulasan film dari dalam dan luar Indonesia (kini berubah menjadi media daring), dan buku mengenai produksi film. Seperti Forum Lenteng, Montase juga memproduksi film (pendek), yang banyak beredar di berbagai festival film.

Beberapa penelitian mengkaji penyelenggara festival film, yang dilihat dari sudut pandang kekuatan komunitas sebagai penyelenggara festival film (Hidayah, Mas’oed dan Irawanto, 2015) dan hubungan motivasi dengan kepuasan relawan festival (Pangestu, 2016). Kedua penelitian ini menunjukkan, keberhasilan festival film di Indonesia terletak pada kekuatan komunitas film dan relawan. Penyelenggaraan festival film membutuhkan berbagai modal agar festival film dapat berjalan, mulai dari modal dana, sumber daya manusia, reputasi hingga jejaring para pemangku kepentingan (stakeholder) dunia perfilman. Peran stakeholder perfilman dalam festival film menjadi kajian pada penelitian mengenai peran komunitas film sebagai basis pengembangan festival film (Habibi, 2012).

Penelitian mengenai penonton festival film dilakukan Dyna Herlina Suwarto (2017). Penelitian ini menunjukkan karakter penonton yang berbeda segmentasinya pada setiap festival film. Sebelumnya pada tahun 2007, Prima Rusdi pernah mengadakan Focused Group Discussion antar tiga orang penyelenggara festival film non-pemerintah di Jakarta: Jakarta International Film Festival, Festival Film Pendek Konfiden dan OK Video - Jakarta International Video Festival. Ketiganya mencatat adanya upaya mempertahankan keberlangsungan festival, melalui pemahaman yang baik terhadap siapa penonton festival, dan keberhasilan penyelenggara memosisikan festival di mata media massa.

Kegiatan utama dalam program festival adalah pemutaran film, maka penyelenggara festival film menentukan batasan film pada genre, cakupan wilayah asal, sifat kompetisi atau non-kompetisi. Batasan film pada festival film, serta tempat penyelenggaraan dan siapa penyelenggara festival film, merupakan klasifikasi festival film menurut Budi Irawanto (2004). Pada penelitian Prima Duria dan Robert (2019), kategorisasi festival film di Indonesia dibagi berdasarkan basis wilayah (fokus pada satu wilayah tertentu atau tidak), cakupan wilayah (nasional, regional, internasional), keterlibatan peserta (pelajar, mahasiswa, non-kriteria) dan aktivitas penyelenggaraan (ekshibisi dan kompetisi, khusus ekshibisi, khusus kompetisi). Irawanto (2011) juga mengkaji program festival film melalui pembacaan terhadap karya kompetisi Festival Film Dokumenter (FFD) yang memperlihatkan keterbatasan wawasan para pembuatnya, yang semakin menunjukkan kebutuhan akan FFD sebagai sumber referensi.

Penelitian mengenai aktivisme dalam festival film di Indonesia dilakukan oleh Alexandra Crosby (2017), Dosen University of Technology Sidney, yang menemukan bahwa festival film memainkan peran yang mendasar dalam menghasilkan aktivisme di Indonesia, yang telah membangun jaringan kerja serta bentuk-bentuk hibrida kegiatan aktivisme yang menimbulkan perubahan dalam mengkonfigurasi ulang produksi dan distribusi film. Crosby menjelaskan, festival merupakan ruang baru untuk mendiskusikan isu-isu penting, seperti korupsi politik dan solidaritas regional, yang penting dalam membangun komunitas, jejaring kerja, dan kampanye dalam skala yang lebih luas dibanding hanya sekadar melakukan produksi dan distribusi film. Komunitas film tidak hanya mengadakan festival film, namun juga memproduksi film sebagai inisiatif kecil dalam berurusan dengan politik tingkat lokal, yang merupakan bagian dari kampanye pro-demokrasi yang lebih besar di tingkat nasional, seperti yang dilakukan oleh Cinema Lovers Community di Purbalingga.

---------------------------------------------------------

Sebagian  artikel ini diambil dari tesis berjudul "Konsepsi Ruang Urban dalam Festival Film Dokumenter dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2019", untuk Sekolah Pascasarjana, Institut Kesenian Jakarta. Sementara sisanya merupakan bagian yang mengalami proses penyuntingan sehingga tidak masuk ke dalam tesis tersebut. Artikel ini membahas berbagai tulisan mengenai festival film di Indonesia yang pernah diterbitkan ke dalam buku, media daring, dan jurnal, Penulisan ini bertujuan memberikan landasan titik mula bagi para pelaku, pemerhati, dan peneliti festival film di Indonesia, yang semoga berhasil dicapai artikel ini.

---------------------------------------------------------

Daftar Pustaka

Anwar, Rosihan. 1999. Reportase Wartawan Film: Meliput Festival Film Internasional. Jakarta: Pustaka Antara Utama.

Ardan, SM. 1992. “Indonesian Participation in International Film Festivals” dalam Indonesian Film Panorama (penyunting Moch. Jufri et al.), hlm. 95-103. Jakarta: Permanent Committee Of Indonesian Film Festival.

_____. 2004. Setengah Abad Festival Film Indonesia. Jakarta: Panitia Festival Film Indonesia 2004 dan Jaringan Kreatif Independen Workshop Production Network.

Aryanto, Imam Karyadi. 2015. Festival Film di Daerah Istimewa Yogyakarta (Sub Studi Kajian Pengembangan Festival Film di DIY): Adaptasi Naskah Penelitian. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Aziz, M. Abduh. 2019. “Film Indonesia Masa Kini: Bayang-Bayang Politik Kebudayaan Orde Baru,” dalam Film dan Kebudayaan: Esai-Esai M. Abduh Aziz, hlm. 31-47. Jakarta: Panitia Mengenang Abduh.

Bawantara. Agung. 2016. Dari Denpasar Membentang Layar: Enam Tahun Perjalanan Denpasar Film Festival. Denpasar: Bali Gumanti.

Barker, Thomas. 2011. “Mempertanyakan Gagasan Film Nasional,” dalam Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita? Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia (penyunting Bahasa Inggris Khoo Gaik Cheng dan Thomas Barker, penyunting Bahasa Indonesia Ekky Imanjaya; penerjemah Veronika Kusumaryati, Puput Kuspujiati, Nayla Majestya), hlm. 7-27. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika, Asian Cinema, Binus Publishing.

Bestika, Vauriz. 2015. ”Pelabelan Diri dalam Q! Film Festival” dalam https://cinemapoetica.com/pelabelan-diri-dalam-q-film-festival/ Diunduh 8 Mei 2020.

Cempaka, Ayu. 2015. “Budi Irawanto: Asia Bukan Etintas yang Homogen” dalam https://cinemapoetica.com/budi-irawanto-asia-bukan-entitas-yang-homogen/ Diunduh 10 Februari 2018.

Coppens, Laura. 2011. “Wawancara dengan John Badalu,” dalam Asian Hot Shots: Sinema Indonesia (penyunting: Yvonne Michalik dan Laura Coppens; penerjemah Landung Simatupang). Yogyakarta: Penerbit Bentang. 381-386.

Crosby, Alexandra. 2017. “”It’s Not Just About the Films”: Activist Film Festivals in the Post-New Order Indonesia,” dalam Activist Film Festivals: Towards A Political Subject (penyunting Sonia Tacón dan Tyson Wils). hlm. 181-195. Bristol & Chicago: Intellect.

Darmawan, Ariani. 2015. “Festival Film Pendanaan Film dan Ideologi Ber-film” dalam https://cinemapoetica.com/festival-film-pendanaan-film-dan-ideologi-ber-film/ Diunduh 10 Februari 2018.

Desaga, Mahesa. 2014. “Festival Film di Kota Malang: Berharap Bukan Sekadar Ritual” dalam https://cinemapoetica.com/festival-film-di-kota-malang-berharap-bukan-sekadar-ritual/ Diunduh 29 April 2020.

Duria, Prima dan Robert. 2019. “Festival Film di Indonesia dan di Luar Negeri,” dalam Peta Perfilman Indonesia Tahun 2018, hlm. 45-51. Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Inodnesia: Jakarta.

Gunawan, Arya. 2005. “Festival Film: Sebuah Oasis di Tengah Kecamuk Dunia,”  dalam Film Pendek Independen Dalam Penilaian: Sebuah Catatan dari Berbagai Festival “Film Pendek dan Film Alternatif” di Indonesia (penyunting Gotot Prakosa), hlm. 257-274. Jakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia.

Habibi, Zaki. 2012. “Speak Out Your Films: When Asian Independent Film Festivals Send Messages to the World,” dalam Jurnal Komunikasi, hlm. 121-134. Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Volume 6 Nomor 2, April 2012.

Hidayah, Nurul, Mohtar Mas’oed dan Budi Irawanto. 2017. “Ketahanan Sosial pada Pemuda Penyelenggara Festival Film Dokumenter 2015,” dalam Jurnal Ketahanan Nasional, hlm. 158-174. Universitas Gadjah Mada, Volume 23, no.2, Agustus 2017.

Imanjaya, Ekky, et al. 2019. ”Hantu dan Uang di Venesia: Laporan dari Festival-Festival” dalam Tilas Kritik. Jakarta: Komite Film Dewan Kesenian Jakarta.

Irawanto, Budi. 2004. Menguak Peta Perfilman Indonesia. Yogyakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIPOL, UGM dan FFTV, IKJ.

_____. 2011. “Catatan dari Kursi Juri Festival Film Dokumenter: Wacana Film Dokumenter Independen Kontemporer,” dalam Mau Dibawa ke Mana Sinema Kita? Beberapa Wacana Seputar Film Indonesia (penyunting Bahasa Inggris Khoo Gaik Cheng dan Thomas Barker, penyunting Bahasa Indonesia Ekky Imanjaya; penerjemah Veronika Kusumaryati, Puput Kuspujiati, Nayla Majestya), hlm. 183-198. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika, Asian Cinema, Binus Publishing.

Ismail, Usmar. 1983. “Bagian Ketiga” dalam Mengupas Film, hlm. 113-145. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.

Kristanto, JB. 2004. “Film Festival,” dalam Nonton Film Nonton Indonesia, hlm. 223-259. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Leksono, Bowo. 2014. “Festival Film Purbalingga, Sebuah Perjalanan” dalam https://cinemapoetica.com/festival-film-purbalingga-sebuah-perjalanan/ Diunduh 7 Mei 2020.

Mubarak, Makbul. 2015. “Festival Film Indonesia, Festival Film di Indonesia” dalam https://cinemapoetica.com/festival-film-indonesia-festival-film-di-indonesia/  Diunduh 18 Februari 2018.

Nainggolan, Edison ed. 2004. 17 Tahun Forum Film Bandung: Festival Film Bandung 2004. Bandung: Forum Film Bandung.

Nugroho, Garin. 1998. “Film Sebagai Aliran: Kritik Film dan Fenomena Festival,” dalam Kekuasaan dan Hiburan, hlm. 76-85. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

_____. 2005. “Sinema Milenium Baru,” dalam Seni Merayu Massa, hlm. 79-108. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

_____. 2019. “Peta Baru Sinema Indonesia?” dalam Negara Melodrama. hlm. 209-211. Yogyakarta: Gading.

Pangestu, Jangkung Putra. 2016. “Hubungan Motivasi dan Kepuasan pada Relawan Organisasi Seni,” dalam Jurnal Tata Kelola Seni, hlm. 35-48. Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Volume 2 No. 2, Desember 2016.

Pasaribu, Adrian Jonathan et al. 2020. Antarkota Antarlayar: Potret Komunitas Film di Indonesia. Jakarta: Komite Film Dewan Kesenian Jakarta.

Peransi, D.A. 2005. “Oh, Festival,” dalam Film/Media/Seni, hlm. 74-77. Jakarta: FFTV-IKJ Press.

Prakosa, Gotot. 2001. Ketika Film Pendek Bersosialisasi. Jakarta: Yayasan Layar Putih.

_____. 2004. “Festival Bluuuuur,” dalam Film dan Kekuasaan, hlm. 61-75 Jakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia.

_____. 2004. “Sensor Mengancam Festival Film,” dalam Film dan Kekuasaan, hlm. 107-114 Jakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia.

_____. 2004. “Festival Sebagai Ungkapan Demokrasi,” dalam Film dan Kekuasaan, hlm. 115-120 Jakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia.

_____. 2005. “Film Pendek, dan Kebodohan Televisi,” dalam Film Pendek Independen Dalam Penilaian: Sebuah Catatan dari Berbagai Festival “Film Pendek dan Film Alternatif” di Indonesia, hlm. 215-221. Jakarta: Yayasan Seni Visual Indonesia.

Putranda, Pandji. 2015. “Gertjan Zuilhof: Mengikuti Film-Film Baru Ibarat Mendukung Klub Sepak Bola Favorit” dalam https://cinemapoetica.com/gertjan-zuilhof-mengikuti-film-film-baru-ibarat-mendukung-klub-sepak-bola-favorit/ Diunduh 10 Februari 2018.

Ratna, Lulu. 2010. “Indonesian Local Film Festivals” dalam http://fipresci.hegenauer.co.uk/undercurrent/issue_0609/ratna_indonesian.htm. FIPRESCI Publication. Diunduh 16 November 2019.

_____. 2015. “Program Festival Film Antara Penemuan dan Pertemuan” dalam https://cinemapoetica.com/program-festival-film-antara-penemuan-dan-pertemuan/ Diunduh 10 Februari 2018..

Rusdi, Prima. 2007. “Penyelenggara Festival Film,” dalam Bikin Film, Kata 40 Pekerja Film! hlm.  212-229. Jakarta: Penerbit Majalah Bobo.

Said, Salim. 1994. Dari Festival ke Festival: Film-Film Manca Negara dalam Pembicaraan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Sasono, Eric et al. 2011. “Kebijakan Kebudayaan - Kemana Pendulum Berayun? Kebijakan Ekonomi dan Budaya Perfilman Indonesia,” dalam Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia, hlm. 77-137. Jakarta: Rumah Film.

Siagian, Gayus. 2006. “Patokan dan Standarisasi Dalam Penilaian Film” dalam Menilai Film (penyunting Gotot Prakosa), hlm. 161-165. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Sumarno, Marselli. 1995. “Dicari, Direktur Artistik Festival,” dalam Suatu Sketsa Perfilman Indonesia: Kumpulan Catatan, hlm. 81-84. Jakarta: Lembaga Studi Film.

Suwarto, Dyna Herlina. 2017. “Penonton Festival Film di Yogyakarta,” dalam Jurnal Ilmu Komunikasi, hlm. 75-92. Universitas Negeri Yogyakarta. Volume 14, Nomor 1, Juni 2017.

Van Heeren, Quirine. 2020. “Praktik Mediasi Film,” dalam Jiwa Reformasi dan Hantu Masa Lalu: Sinema Indonesia Pasca Orde Baru (penyunting Adrian Jonathan Pasaribu), hlm. 36-115. Jakarta: Komite Film Dewan Kesenian Jakarta.

Wulia, Edo et al. 2019. Your Healthy Dose of Short Films: Celebrating 17 Years of Minikino Denpasar: Yayasan Kino Media.

Yazid, Nauval. 2019. Direktori Festival Film Dunia dan Indonesia (penyunting Rafika Lifi). Edisi Kedua. Jakarta: Komite Film Dewan Kesenian Jakarta.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.