Putrama Tuta: Sekarang Semua Orang Bisa Jadi Boy

Wawancara :: Penulis: Adrian Jonathan Pasaribu

Pada tanggal 1 Juli 2011, Boy akan kembali menyambangi penonton Indonesia lewat film Catatan Harian Si Boy, yang disutradarai oleh Putrama Tuta. Sebelumnya, kiprah Boy dapat diikuti lewat lima film, mulai dari Catatan Si Boy (1987) hingga Catatan Si Boy V (1991), yang semuanya disutradarai oleh Nasri Cheppy. Kelima film tersebut yang kemudian melejitkan nama Onky Alexander sebagai Boy, idola generasi muda pada jamannya.

Beda zaman, beda pula generasi yang dihadapi oleh Boy. Di dekade 80-an, Boy menjadi idola anak muda dengan gaya hidupnya yang mewah, serta banyak perempuan cantik yang mengitarinya. Di tahun 2011 ini, Boy berhadapan dengan generasi yang akrab dengan teknologi digital. Hal tersebut bisa dilihat dari bagaimana Catatan Harian Si Boy jadi pembicaraan di jagat Internet, beberapa minggu sebelum tanggal rilisnya. Di Twitter, sebagai bagian dari promosi film, Boy hadir lewat akun @catatan_si_boy, yang secara reguler menuliskan kejadian dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu, Boy turut menanggapi opini orang-orang tentang film Catatan Harian Si Boy, yang sudah menonton film tersebut di sejumlah pemutaran. Kesannya: Boy seperti hadir kembali di antara kita.

FI menemui Putrama Tuta pada hari Minggu, 26 Juni 2011, di Plasa Senayan, Jakarta. Selama hampir sejam, dia bercerita tentang tujuan yang ingin ia capai lewat Catatan Harian Si Boy, proses pengembangan idenya, hingga lika-liku di balik produksi film tersebut.

Putrama Tuta, 2011. Foto: Adrian Jonathan/FIBoy dan Generasi Anak Muda

FilmIndonesia.or.id (FI): Menurut biodata, Anda kelahiran tahun 1982. Film Catatan Si Boy sendiri tahun 1987. Apakah Anda sempat merasakan sensasi Boy dulu?

Putrama Tuta (PT): Saya sendiri hanya tahu sedikit tentang Boy. Waktu itu masih SD kelas 5, kelas 6 mungkin. Dari dulu sebenernya saya tidak terlalu suka sama Boy. Soalnya kalau ada cowok seperti Boy, cowok seperti saya tidak bakal dapat cewek. Sudah pasti itu. (Tertawa). Boy sangat terasa hype-nya, kerasa banget impact-nya, adik saya saja yang umurnya 14 tahun mau nonton Catatan Si Boy. Saya ingat bagaimana every boy wants to be like him, every girl wants to be with him. Seperti itu kan zaman dulu.

FI: Apakah banyak dari anggota tim produksi yang sempat merasakan sensasi Boy?

PT: Banyak banget. Karena saya gak melihat orang-orang di set mau foto sama bintang film, kecuali sama Onky Alexander. Kalau yang lain, ya sudahlah, sudah sama-sama tahu. Tapi kalau Onky semuanya antre buat foto bareng dia. Tiba-tiba di satu hari, profile picture di Facebook isinya foto bareng Mas Onky semua. (Tertawa)

Yang tidak sempat merasakan sensasi Boy dulu adalah pemainnya. [Ario] Bayu besarnya di New Zealand. Dia tidak tahu Boy itu siapa. Tara Basro malah belum lahir waktu itu. Heri (Albert Halim) belum lahir. Justru itu bagus menurut saya. Mereka tidak boleh tahu Boy itu seperti apa. Kalau tahu, mereka akan mengarahkan semuanya ke arah sana. This is a new film, brand new story, brand new concept. Jadi memang kita harus create sesuatu yang baru. Dari dulu film-film Boy kan selalu bawa yang baru. Becandaannya baru, gayanya baru. Satu-satunya yang kita ambil dari Boy yang lama adalah esensinya, impact-nya.

 FI: Kenapa Anda tertarik mengangkat kembali Catatan Si Boy sebagai film pertama Anda?

PT: Karena ada kesempatannya. Blessing saja sebenarnya. Saya pikir kenapa tidak sekalian saja. Catatan Si Boy bukanlah film yang mudah untuk dibuat. Banyak orang berpikir kalau dengan mengerjakan Boy saya sebenarnya sedang mengambil jalan mudah. Padahal tidak begitu juga. Boy itu pernah besar pada zamannya, makanya kalau salah sedikit, aduh. Oleh karena itu, saya tidak berani bikin remake, tidak mau juga bikin remake. Kalau filmnya dianggap sekuel, tidak bisa juga. Karena semuanya, karya tulisnya, semuanya bener-bener brand new. Benang merah yang saya ambil hanya catatan hariannya saja. Jadi bisa dibilang pemeran utama Catatan Harian Si Boy sebenarnya adalah buku diary Boy, bukan Satrio, bukan Boy. Semua masalah yang terjadi dalam film karena ada catatannya si Boy. Saya mau ambil impact apa yang dikasih Boy sama generasi muda.

FI: Kalau diperhatikan, karakter-karakter dalam Catatan Harian polanya mirip dengan Catatan Si Boy. Ada Herry (Albert Halim) yang karakternya mirip Emon (Didi Petet). Ada juga Andi (Abimana) yang mirip dengan Kendi (Dede Yusuf). Apakah Satrio (Ario Bayu) bisa dilihat sebagai Boy (Onky Alexander)?

PT: Tidak juga, tidak bisa dilihat begitu. Maksudnya begini, kalau nonton Catatan Si Boy dulu, Boy adalah tokoh ikonik sendiri, dia leading. Misalnya, kalau karakter Kendi dihilangkan, filmnya masih bisa jalan kan? Di Catatan Harian Si Boy, kalau karakter Andi dihilangkan, filmnya tidak mungkin jalan. Jadi, ceritanya bukan tentang Satrio, walaupun yang bawa ceritanya dia dan Natasha.

Menurut saya, persahabatan dalam Catatan Harian Si Boy lebih kental dari film Boy yang dulu. Semuanya befungsi: Andi, Heri, Nina, Ciput pun ada fungsinya. Ciput menjadi alasan kenapa Nina bergerak mencium Satrio. Semuanya punya reasoning di sini. Beda dengan Emon, Heri bukan sekadar penggembira, dia juga memegang peranan kunci. Seperti Andi, kalau tidak ada dia, persahabatan teman-temannya Satrio sudah hancur. Dengan satu-dua dialog, Andi bisa mengubah pandangan mereka tentang pertemanan. Andi punya kehidupan sendiri. Andi adalah sebuah karakter yang kita ciptakan untuk hidup sesuka hatinya. Justru dengan begitu, dia punya fungsi yang substansial. Dia adalah lemnya. Kalau kita melihat Kendi dulu, apakah dia lemnya? Mungkin Emon yang jadi lemnya, tapi tetap tidak sekuat Andi.

Cerita Catatan Harian Si Boy lebih kental ke friendship, daripada ke sosok seorang superhero. Sedangkan menonton Catatan Si Boy seperti menonton Superman atau Batman. Boy itu ikon. Dia adalah seorang superhero. Di Catatan Harian Si Boy, saya mau buat bagaimana caranya Satrio itu real dan dekat dengan penonton. Karena itu saya pilih Ario Bayu sebagai Satrio. Bedanya sama Satrio, Boy itu tidak pernah susah. Waktu nonton Catatan Si Boy, orang bilangnya mau jadi Boy, mau punya BMW, mau berangkat ke luar negeri, mau punya cewe cantik. Tapi, maaf, di era sekarang semua orang bisa ke luar negeri. Kalau mau punya BMW, kita masih bisa mencicil buat beli. Maksudnya, sekarang semua orang bisa jadi Boy. Satrio saja bisa, kenapa anak-anak muda zaman sekarang cuma duduk dan tidak melakukan apa-apa? Do something with your life.

FI: Anda sendiri bagaimana melihat generasi muda sekarang?

PT: Beda. Setiap generasi punya karakternya sendiri-sendiri. Saya tidak bisa menyamakan. Saya tidak bisa juga kasih judgement. Dengan adanya film Catatan Harian Si Boy, aku berharap mereka bisa ambil sedikit essensinya. Menurutku, generasi muda zaman sekarang fine-fine saja. Mereka bisa menjalani kehidupan selayaknya anak muda. Ada yang nabung dua juta tiap bulan, supaya nanti bisa jalan-jalan sama pacar atau orangtuanya. Ada juga yang sehari bisa ngabisin sepuluh juta di club. Salah satu dialog Andi yang saya ingat, “Nggak apa-apa sebenarnya kalau lo mau nerusin bisnis bokap lo.” Semua orang bisa jadi Boy. Tinggal diatur mau dibawa ke arah mana: jadi Boy yang baik, atau Boy yang tidak baik.

Melihat generasi muda sekarang, saya akhirnya menyesuaikan dialog dalam film. Semua pemain saya suruh nonton Catatan Si Boy sebelum syuting. Satu hal yang saya tekankan pada mereka: jangan pernah duplikasi. Saya bilang satu-satu ke mereka, “Her, lo tuh bukan Emon. Ndi, lo tuh bukan Kendi. Bay, lo tuh bukan Boy.” Saya ingin mereka paham kira-kira apa yang penonton dulu rasakan waktu menonton Catatan Si Boy, apa yang mereka rasakan ke tokoh si Boy dan teman-temeanya. Seperti itulah yang harus dibawa ke penonton sekarang, tapi mereka harus melakukannya dengan cara mereka sendiri. Jangan pernah duplikasi karakter yang lama. Setelah proses yang cukup panjang, mereka alhamdullilah bisa, setelah proses yang cukup panjang.

Boy Dari Balik Layar

FI: Berapa lama produksi Catatan Harian Si Boy, dari awal munculnya ide sampai filmnya jadi?

PT: Hampir empat tahun. Tiga tahun lebih. Reading hampir dua bulan, syutingnya sendiri 30 hari.

 FI: Awalnya, bagaimana Anda mencari informasi tentang kemungkinan memfilmkan lagi cerita Boy?

PT: Saya ketemu sahabat saya, namanya Zacky Sulisto. Kita mengobrol, dan dia setuju kalau Catatan Si Boy bisa diangkat lagi, tapi dengan cara yang baru. Akhirnya kita cari ke mana-mana, sampai ke PT Millenium, yang ternyata dulu namanya Bola Dunia. Kantornya sudah pindah dan segala macam. Dari Mas Didi [Petet], kita tahu kalau Prambors yang pegang hak ciptanya Catatan Si Boy. Katanya, “Yang punya hak itu Prambors, ngapain lo cari jauh-jauh.” Prambors pun bilang, “Ngapain lo bikin Catatan Si Boy lagi, udah barang gudang tuh.” Akhirnya saya coba meyakinkan kalo kami tidak membuat remake, tapi sesuatu yang baru. Alhamdulillah, mereka terima.

 FI: Menurut catatan produksi, ada tiga perusahaan yang terasosiasi dengan Catatan Harian Si Boy: Tuta Media, Masima, dan 700 Pictures. Kalau boleh diceritakan, bagaimana ketiganya terlibat dalam film ini?

PT: Masima adalah holding company dari Prambors. Mereka yang memegang hak cipta Catatan Si Boy. Saya mendapatkan kepercayaan dari mereka untuk membuat Catatan Si Boy, tapi saya tidak mau membuat ulang, karena eranya Boy sudah lewat. Kita harus bikin sesuatu yang baru. Jadilah, saya dari Tuta Media mengajak teman-teman dari 700 Pictures. 700 Pictures sendiri ada di bawah payungnya Tuta Media. Karena dulu Catatan Si Boy dibuat oleh PT Millenium dan Parkit, kita juga mengajak mereka. Boy tidak akan ada tanpa mereka. Saya ingin menjalankan ini dengan orang-orang yang berjasa mengangkat Boy pada zamannya dulu.

FI: Pengembangan skenarionya sendiri bagaimana?

 PT: Ada banyak yang terlibat. Priesnanda Dwi Satria, Ilya Sigma, saya sendiri, Joko Anwar, Salman Aristo. Saya sama Joko, kita berdua jadi semacam konsultan kreatifnya. Awalnya pas ceritanya mau dikembangkan, ada bantuan dari Timothy Marbun, ada bantuan dari Mas Salman Aristo, ada bantuan dari Pak Johan Teranggi. Mereka bertiga bantu kita ceritanya mau dikembangkan seperti apa. Penulisan naskah menjadi tanggung jawab Priesnanda dan Illya. Mereka yang memegang kontrol, walau banyak orang terlibat di sini. Terus akhirnya saya dan Joko rapikan bersama.

 FI: Apakah ada rencana untuk menjadikan Catatan Harian Si Boy sebuah franchise atau serial seperti Catatan Si Boy dulu?

PT: Wah, kami fokusnya sama yang satu dulu ini aja dulu. Buatku, mending kami bisa buat satu, tapi yang satu ini kami buat dengan benar. Yang penting prosesnya. Jangan bercanda dengan prosesnya. Kasihan, orang bayar ke bioskop 15000, 20000, 25000, 50000 kan buat mencari rasa. Itu yang paling penting. Kalau prosesnya benar, hasilnya pasti benar.

 FI: Apakah Catatan Harian Si Boy ini pengalaman penyutradaraan Anda yang pertama, atau sebelumnya sudah pernah?

PT: Ini yang pertama. Sebelumnya pernah menyutradarai satu film pendek, tapi sampai sekarang belum diedit. Masih ada di komputer, bentuknya masih file. (Tertawa)

Sebenarnya, saya lumayan banyak terlibat di produksi film, tapi bukan sebagai sutradara. Dari SMP, dari kecil sebenarnya, saya mau bikin film. Awalnya gara-gara nonton Rocky. Film itu mengubah hidup saya. He is nothing, dan saya merasa semua orang punya kesempatan yang sama seperti Rocky Balboa. Saya merasa, “Dia aja bisa, kenapa saya tidak bisa?” Jadilah, saya fascinated sama bioskop, bukan pada filmnya. Filmnya sebenarnya juga penting, tapi judulnya besok kita mungkin juga sudah lupa. Yang spesial adalah melihat orang dalam bioskop teriak, ketawa, nangis. Rasanya beda. Karena itu, saya dari kecil ingin sekali membuat film.

Akhirnya pun saya datang ke ibu Rahayu Effendi, dan digandenglah saya masuk ke sebuah tempat bernama P2FTV (Pusat Pendidikan Film dan Televisi). Di situ saya bohong. Umur saya aslinya 19 tahun, tapi saya bilang ke semua orang kalau saya sudah kuliah. Saya sebangku sama Indra Birowo. Dia saja tahunya saya anak kuliahan. Dia tidak tahu kalau saya siangnya pakai seragam SMA, tapi malamnya kuliah. (Tertawa)

Akhirnya di situ saya belajar dari banyak filmmaker yang bagus. Ibu Budiyati Abiyoga, dia adalah orang yang membuka dunia film ke saya. Begitu juga ibu Rahayu Effendi. Dari mereka, pelan-pelan semuanya saya coba. Dari nongkrong di lokasi syuting, sampai jadi asisten untuk casting. Terus saya lanjut belajar film business di Victoria College of Arts, Melbourne, Australia. Awalnya sekolah golf. Worth it. Semua kerja keras itu, akhirnya worth it juga.

FI: Di Catatan Harian Si Boy, Anda awalnya mau memproduseri atau menyutradarai?

PT: Produser. Awalnya saya berperan sebagai produser. Jujur saja tidak ada niat untuk menyutradarai.

FI: Di titik mana Anda lantas memutuskan untuk menyutradarai?

PT: Karena saya tidak dapat sutradara. Ada banyak sutradara sebenarnya yang dipertimbangkan. Salah satunya Joko Anwar. Saya pernah bilang ke dia, “Jok, direct dong.” Dia jawabnya, “Gue gede di Medan, gimana lo mau nyuruh gue direct si Boy?!” Dan dia benar. Rencananya kan kan mau bikin film si Boy, film tentang kehidupan anak muda di Jakarta. Kalau mau bikin film tentang Jakarta, harus punya pengalaman di Jakarta. Sampai akhirnya suatu hari, Joko Anwar dan Richard Oh bilang ke saya, “lo aja yang direct.” Janjinya mereka, “Kalau lo direct, 24 jam kami bakal ada di sebelah lo.” Pas mulai syuting, dia malah terbang ke London. Ya sudahlah. Modal bismillah saja. (Tertawa)

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.