Raditya Dika: Gue Membuat Apa Yang Gue Mau Tonton

Sosok :: Penulis: Amalia Sekarjati

Raditya Dika, saat peluncuran film Cinta BrontosaurusRaditya Dika, yang lebih banyak dikenal sebagai penulis blog, buku, dan stand-up comedian, merasa cukup puas dan senang atas kelahiran film barunya, Cinta Brontosaurus. Selain banyak belajar, ia merasa puas karena bisa sepenuhnya menggarap naskah untuk film ini, tanpa bantuan langsung dari orang lain. Berbeda dengan film pertamanya, Kambing Jantan, yang melibatkan dua penulis lain (Salman Aristo dan Mouly Surya) maupun film selanjutnya, Cinta dalam Kardus, yang melibatkan Salman Aristo dan dibantu pengembangannya oleh tim Wahana Penulis. Walaupun sebelumnya ia pernah menulis naskah untuk film Maling Kutang, ia mengatakan bahwa penulisan naskah untuk film ini berbeda. “Ilmunya kan (waktu itu) belum ‘sampai’. Sekarang juga masih belajar. Namun buat gue, gue sudah senang sama film ini.” ujarnya saat ditemui di konferensi pers film tersebut, usai pemutaran untuk pers di Planet Hollywood, 6 Mei silam.

Walaupun judul film ini diambil dari judul buku keduanya, tetapi film tersebut tidak persis menceritakan apa yang ada di buku. Ia menyusun dan membuat lagi cerita utama yang menjadi benang merah dalam film ini. Untuk itu, proses pembuatan naskah film ini terhitung cukup lama. “Buat film ini, karena gue tahu gue yang akan main, gue perfeksionis banget sama skripnya. Butuh waktu 1,5 tahun untuk menulis ini, tujuh kali ganti draft. Sampai produser gue (Chand Parwez) sudah bilang bisa syuting, tapi gue belum siap. Untungnya Pak Parwez mengerti. Akhirnya, gue tulis lagi sampai akhirnya draft terakhir itu cuma titik sama koma saja yang berubah. Baru gue yakin kalau ini sudah selesai dan bisa syuting.” jelasnya soal proses penulisan yang cukup panjang.

Meskipun terbiasa menulis, Dika mengaku tetap harus belajar menulis untuk medium yang berbeda, yakni film. “Beda medium, beda teknik, kan? Kalau beda teknik, berarti harus belajar. Nah, gue belajar banyak. Dari buku, banyak bertanya ke penulis naskah yang lain (salah satunya Salman Aristo), ngobrol, dan banyak membedah film Hollywood. Gue sering mengunduh skenario film-film itu, gue bedah, gue baca, dan akhirnya menulis skenario film ini.”

Pengalaman membuat serial TV (yang berawal dari serial web) Malam Minggu Miko cukup membantunya menulis film ini, meskipun penerapannya tetap berbeda. “Elemen-elemen yang berhasil di serial itu, gue inkorporasikan dalam film ini. Cuma, durasi serial itu kan pendek, sedangkan ini film panjang. Jangkauan dan dimensi dalam film lebih luas, skenario untuk film juga lebih dinamis, dan nilai produksinya juga lebih besar.” Untuk mempelajari penulisan naskah film, ia tidak mengambil sekolah atau kursus formal tertentu, tetapi mengandalkan belajar dari buku tentang penulisan naskah oleh Syd Field dan Robert McKee, misalnya. Ia juga banyak belajar dari salah satu penulis film kesukaannya, yang banyak mempengaruhinya, yaitu Woody Allen lewat film Annie Hall.

Menariknya lagi, dalam film Cinta Brontosaurus, Dika terlibat hampir di setiap proses pembuatan film. Termasuk ikut melihat pengerjaan post-production film tersebut di Technicolor, Bangkok, Thailand. “Mungkin karena Pak Parwez percaya sama gue, jadi gue selalu dilibatkan. Dari mulai ide, pemilihan pemain, sampai post-production, yang nggak ada hubungannya sama gue. Gue tidak banyak mengerti soal sound atau grading warna, tidak mengerti apa-apa. Namun, Pak Parwez mau gue ikut supaya bisa melihat prosesnya. Pengalaman itu cukup memperkaya gue dan membuat gue lebih percaya diri untuk menghasilkan karya baru lagi.”

 

Yang gue ingin

Setelah menulis blog dan buku dengan gaya komedi, Dika juga aktif dalam komunitas Stand Up Comedy. Tidak hanya pernah menjadi pembawa acara untuk ajang pencarian bakat di bidang tersebut, tapi ia juga sering tampil sebagai stand-up comedian. Sejak Desember-Maret lalu, ia juga telah membuat serial komedi Malam Minggu Miko, yang pada awalnya hanya tayang di saluran Youtube miliknya, tapi kemudian ditayangkan di Kompas TV. Sebelumnya, ia juga mengisi segmen “Kambingisme” di acara Metro TV Mata Najwa, berupa tayangan soal isu yang tengah ramai dibicarakan publik dan diangkat dari perspektif humor dirinya.

Apapun mediumnya, Dika selalu memasukkan unsur komedi. Kenapa? “Kebetulan, gue memang suka sama komedi. Mulai dari baca novel Lupus yang gue suka banget, akhirnya gue bilang sama diri sendiri, kayaknya gue harus jadi komedian. Itu sejak gue kelas 4 SD, dan akhirnya setiap gue menulis diary maupun hal-hal lain, semua larinya ke komedi. Gue belajar stand-up comedy, belajar menulis naskah komedi, menulis naskah pendek buat Malam Minggu Miko pun, gue belajar. Jadi, semua gara-gara gue mau seperti Lupus, seperti Hilman.” jelasnya. Ketertarikannya untuk mencoba berbagai bidang, termasuk film, berangkat dari satu alasan. “Gue membuat apa yang ingin gue konsumsi. Misalnya, gue menulis film-film yang gue buat, karena gue ingin melihat film dengan skenario komedi romantis yang seperti selera gue ada di film nasional. Jadi, gue membuat apa yang gue mau tonton.” ujarnya lagi.

Kecuali dalam Maling Kutang, Dika tidak hanya menulis cerita atau naskah untuk filmnya, tetapi juga bermain sebagai tokoh utama. Kenapa memilih diri sendiri dan bukan orang lain yang memerankan? “Belum ada kesempatan untuk itu, sih. Mungkin gue agak ‘rakus’ kali ya, karena memang pas gue baca naskah yang gue buat, ya gue sudah membayangkan gue yang akan main. Jadi, tahap eksplorasi kreativitas gue tuh baru sampai situ.” Dia juga mengaku, menulis naskah yang sekaligus ia mainkan, memberikan kesempatan baginya untuk berbuat ‘curang’. “Iya, karena adegan-adegan yang gue mainkan ya yang gampang-gampang semua. Nggak ada adegan gue nangis.” tambahnya sambil tertawa. Walaupun mulai sering berakting dalam film, Dika mengatakan tidak akan meninggalkan akarnya sebagai penulis.

Sebelumnya, Dika juga sempat ikut mendirikan dan menjadi pemimpin redaksi di penerbit Bukune. Dalam situsnya, ia juga menyebutkan dirinya sebagai creativepreneur. Setelah buku, apakah ia juga akan mendirikan rumah produksi film? “Malam Minggu Miko itu diproduksi rumah produksi gue bersama Mba Tyas Abiyoga, seorang produser film juga. Secara administratif dipegang dia, tapi secara kreatif, gue yang pegang. Jadi, gue mengawali dengan itu. Cuma kalau rumah produksi kecil untuk film, kayaknya nggak, deh.” ujarnya diikuti tawa. Setelah tayang sebagai serial web dan televisi, Malam Minggu Miko pun menjadi inspirasi film layar lebar Cinta dalam Kardus, yang akan tayang pada Juni mendatang.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.