Ramai-ramai Membuat Film dengan Biaya Besar

Kajian :: Penulis: JB Kristanto, Marselli Sumarno

Sesudah dilanda kelesuan produksi menjelang akhir tahun lalu, kini beberapa produser film tengah bersiap dengan rencana baru untuk bisa menerobos kelesuan tadi. Mereka berencana membuat film dengan biaya besar, untuk ukuran Indonesia, tentunya. Tidak kurang daripada enam produksi film telah direncanakan. Tiga di antaranya sudah pada tahap pengambilan gambar, yaitu Kartini, Pasukan Berani Mati, dan Jaka Tarub. Yang masih dalam persiapan: Wolter Monginsidi, Kuantar ke Gerbang, dan Kipas Akar Wangi. *

Jumlah enam dalam waktu hampir bersamaan tentu bisa dianggap banyak. Sesudah November 1828 (1978) yang saat itu menelan biaya sekitar Rp300 juta, baru Janur Kuning (1979) yang menelan biaya besar. Ada juga beberapa film horor dan sejenis science fiction yang pernah menelan biaya di atas Rp200 juta, selain tentunya film-film PPFN seperti Serangan Fajar (1981) dan Kereta Api Terakhir (1981) yang juga menelan biaya tidak kepalang tanggung, dan malah bisa dibilang di luar ukuran yang bisa dimengerti. Namun karena film-film ini dibiayai oleh sebuah perusahaan negara yang tampaknya memang tidak terlampau mementingkan kembalinya modal, maka film-film PPFN bisa merupakan kekecualian.

Berapa besar

Biaya itu bisa dikatakan besar bila dibandingkan dengan biaya rata-rata produksi satu film umumnya. Sekarang satu film biasa rata-rata memakan biaya Rp150 juta. Ini angka rata-rata karena biaya itu berkisar antara Rp120 juta sampai sekitar Rp175 juta. Biaya produksi sebesar inilah yang dianggap aman untuk pemasaran. Ini tidak berarti bahwa sebuah film tidak bisa dibuat dengan biaya, katakanlah Rp100 juta. Sangat bisa. Umpamanya, dengan menggunakan lokasi yang tidak terlampau berjauhan, dengan bintang yang tidak usah dibayar mahal, dan lain-lain. ”Tapi itu sama saja dengan bunuh diri,” kata seorang produser. Artinya, film itu akan sulit dijual.

Sebaliknya biaya besar juga bukan dengan sendirinya menghasilkan keuntungan besar. ”Masih ada unsur judinya,” kata seorang staf pembuat film Kartini yang konon akan menelan biaya Rp400 juta—jumlah yang tidak kepalang tanggung untuk produser swasta, apalagi bila mengingat pasaran harga film sekarang ini. Ini berarti ia harus memasukkan uang sekitar Rp280 sampai Rp300 juta hanya untuk pemasaran di Jawa saja. Padahal rata-rata harga jual sebuah film di Jawa selama ini berkisar pada angka Rp125 juta. Ia juga memperhitungkan bahwa film ini akan ditonton wanita.

Perhitungan di atas adalah menurut perkiraan Th A Budi Susilo, produser pelaksana Gramedia Film. Ia mengatakan, sebuah film harus bisa memperoleh 70 persen pemasukkannya dari Jawa. ”Menjual sebuah film dengan harga Rp40 juta di Jawa Tengah saja berat,” katanya. ”Kecuali kalau si pembeli yakin bahwa film itu akan sukses.”

Film-film biaya besar di atas umumnya menelan biaya di atas Rp250 juta. Dengan perkiraan modal kembali dalam setahun, maka mencari keuntungan lewat film dengan biaya besar itu memang memerlukan kerja keras.

Variasi

Tapi seorang produser yang mau menaruh modal sekian besar itu tentu punya perhitungan, kalau tidak tentu hanya bunuh diri saja, sama seperti membuat film yang sangat murah. Kemungkinan untung memang masih tetap terbuka. Umpamanya begini: film itu harus mampu menyedot paling tidak 300.000 penonton di Jakarta. Jumlah penonton ini artinya penghasilan bersih Rp90 juta untuk produser. Ditambah penjualan di Jatim, Jateng, dan Jabar, maka film itu paling tidak bisa menghasilkan sekitar Rp 200 juta. Kalau perhitungan ini klop, maka keuntungan sudah bisa dibayangkan.

Namun apa perhitungan produser itu sendiri? ”Kami membuat Pasukan Berani Mati dengan pertimbangan variasi tema,” kata Gope Samtani dari Rapi Film. Menurutnya tren sekarang ini adalah film horor, dan ia ingin membuat sesuatu yang lain. ”Kami sudah lama merencanakan. Sekarang sudah waktunya,” tuturnya. Ia mengakui bahwa biaya besar selalu punya risiko pemasaran. ”Tapi kami sudah punya keberanian sekarang untuk mulai.” Keberanian itu agaknya didasarkan pada pengalaman bahwa film dengan biaya ”biasa” sulit dalam pemasaran termasuk penjualan di bursa internasional. ”Rasanya penting untuk membuat film bagus, meski lebih mahal jatuhnya.”

Yang Laku

Seorang produser lain yang tak mau disebut namanya menilai, produser terus-menerus mencari hal-hal baru. Para produser toh cenderung ke film yang laku, jadi tekanannya bukan pada apakah produksi itu mahal atau tidak, tapi apakah akan laku atau tidak. Hal ini didasari pengertian bahwa yang laku itu yang bagus. ”Dengan kata lain,” lanjut produser tersebut, ”para produser mencari apa yang baru, bukan apa yang mahal. Sebab utamanya adalah tuntutan mutu hiburan yang meningkat. Ada tingkat kepuasan penonton yang harus dilayani. Jika tidak, akan membosankan. Seperti halnya sejumlah acara televisi yang tak digarap secara memikat akhirnya cuma ditinggalkan oleh peminatnya.” ”Dan saya kira dalam semua hal ada peningkatannya, kalau nggak pasti akan mati,” katanya menyimpulkan. Ini berarti dibutuhkan keseimbangan antara harapan penonton dan kualitas produksi. Namun bagaimanapun juga bisnis film itu mirip perjudian. Keberanian memakai biaya besar sejauh mungkin pasti aman.

Pandangan yang agak berlainan dilontarkan oleh Manu Sukmajaya, produser Sukma Putra Film. Manu menyatakan, biaya besar (di atas Rp200 juta) sebenarnya hanyalah akibat kenaikan ongkos produksi sehubungan dengan kenaikan BBM. ”Jika pada 1978 dan 1979 ongkos produksi bernilai 150 juta rupiah, maka pada 1982 akan menjadi 250 juta rupiah. Ada kenaikan 40 persen,” katanya.

”Film yang bermutu butuh biaya besar,” kata Manu. Saat ini ia tengah memproduksi Kipas Akar Wangi, yang diperkirakan akan mencapai 250 juta rupiah, dan bulan Juli mendatang film Kuantar ke Gerbang yang minimal diperkirakan akan menghabiskan 400 juta rupiah.

Manu kemudian berpendapat suasana produksi sebenarnya tidak lesu, demikian pula peredarannya. Yang mengacaukan, kata Manu, adalah kelatahan dalam produksi dan peredaran. Misalnya, di satu kota diputar sejumlah film horor sekaligus sehingga suasana pasar akan kacau. Tidak pilihan, istilah Manu.

Biaya besar, apapun alasannya, ternyata tetap mengikuti pola-pola dunia pertunjukan: selalu mencari hal-hal baru, terus menerus. Sebagai ilustrasi, biaya besar juga ”diderita” oleh produksi-produksi Hollywood. Menurut Variety, ongkos rata-rata produksi pada 1981 adalah 6,3 milyar rupiah, pada 1982 turun sedikit menjadi rata-rata 6,2 milyar. Namun begitu, Hollywood menjangkau pasaran dunia sedangkan produksi nasional masih terbatas wilayah pemasarannya.

Menggembirakan

Apapun alasan para produser ini, namun suasana ini rasanya bisa dianggap menggembirakan. Kalau dulu banyak keluhan kepada para produser karena mereka hanya sekadar latah, tidak memiliki showmanship dan lain-lain keluhan lagi, kini ternyata mereka mulai menunjukkan geraknya. Tentu saja karena paksaan keadaan: mereka harus tetap hidup. Persaingan juga unsur pemaksa. Hukum bisnis pertunjukan memaksa mereka harus selalu menyuguhkan yang baru.

Sumber: Nonton Film Nonton Indonesia, JB Kristanto (Penerbit Buku Kompas, Jakarta: 2004)

Terbit pertama kali di Kompas, 21 Maret 1982.

-----------------------------------------------------------------------

* Kartini saat di-release berjudul RA Kartini (1982) sementara Wolter Monginsidi diubah menjadi berjudul Tapak-Tapak Kaki Wolter Monginsidi (1982). Kembali ke atas

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.