Romantisasi “Madre” dan “Tampan Tailor”

Kajian :: Penulis: JB Kristanto

Vino G Bastian dalam film Tampan Tailor

Menarik bahwa pada akhir Maret 2013 beredar dua film yang diperanutamai oleh salah satu dari sedikit aktor yang serius menekuni profesinya: Vino G Bastian. Kedua film itu adalah Madre dan Tampan Tailor. Kecuali dua film di atas, bulan Januari lalu dia juga muncul dalam film Mika. Menariknya adalah bahwa kemampuan Vino langsung bisa dibandingkan  kelebihan dan kelemahannya, baik yang disebabkan oleh dirinya sendiri maupun oleh faktor di luar dirinya.

Keseriusannya bisa dilihat dari film-film yang dia pilih untuk diperani. Ketiga film itu jelas memiliki cerita yang tidak biasa. Bahkan ketiganya tampak berusaha memperluas repertoar cerita film Indonesia agar tidak itu-itu saja, meski belum mau lepas dari sifat melodrama dan romantisasi berlebihan —ciri sejak awal industri film di negeri ini. Hal ini tidak lepas dari pengaruh tradisi berkisah wayang, ketoprak, sandiwara tahun 1930-an dan 1940-an, juga novel-novel sejak periode Cina Peranakan (yang banyak difilmkan), Mira W, Marga T, hingga novel pop dan novel remaja sekarang.

Sebelum menyinggung soal melodrama atau bisa juga disebut romantisasi (jenis dan aliran kesenian ini sama-sama berkembang di paruh pertama abad ke-19), lebih dulu kita kembali pada Vino dalam dua film terakhirnya.

Dua tokoh yang diperankannya, Tansen dalam Madre dan Topan dalam Tampan Tailor sebenarnya bertolak belakang. Tansen seorang pemuda pemuja kebebasan, sedang Topan adalah tukang jahit dan ayah satu anak yang berusaha bangkit dari kebangkrutan setelah ditinggal istrinya. Tansen jelas berakar dari kebudayaan Sunda. Sementara Topan tampaknya berasal dari Jawa Tengah, kalau ditilik dari aksen dialog yang diucapkan Vino. Upaya Vino mencapai pengucapan aksen ini patut dipuji meski kurang berhasil.

Semakin jelas bukti keseriusan Vino bila melihat karakter kedua tokoh yang diperankannya. Namun, serius dan berhasil adalah dua hal berbeda.

Vino lebih berhasil sebagai Tansen dibanding sebagai Topan, bukan karena aksen Sunda dan Jawa, tapi lebih karena karakter “tunggal nada” dalam Madre. Dalam film ini, Vino lebih mudah mengatur diri untuk bebas lepas, sedih, gembira, jatuh cinta, marah dan lain-lain. Semua itu masih dalam satu dasar karakter. Dalam Tampan Tailor, dia harus berubah karakter: dari ayah yang selalu menghembuskan optimisme pada anaknya dengan “berdusta” (seperti Roberto Benigni dalam Life is Beautiful, 1997), berubah menjadi putus asa dan pemarah. Ada alasan sah untuk perubahan ini: Topan ditangkap polisi dan kehilangan kontak dengan anak tercintanya, hingga harapan hidupnya pupus. Celakanya, sikap optimis Topan tadi tiba-tiba saja muncul dari tokoh Bintang, anaknya, tanpa sebab yang jelas.

Dari perbandingan ini, jelas bahwa faktor di luar diri Vino yang membuat dia lebih berhasil dalam Madre. Karakter Tansen sepertinya lebih mudah dipahami Vino dan tidak terlalu jauh dari “cap” yang ada padanya. Sementara kelemahan penokohan Topan, jelas adalah kelemahan skenario, kalau betul sutradara patuh pada skenario.

Kelemahan Vino sendiri adalah dia belum berhasil “masuk” ke dalam tokoh ayah, sebagaimana dia hampir “manjing” dalam Tansen. Dia tampak berusaha keras menjadi ayah, tapi jelas masih canggung “bermain” bersama anaknya. Olah tubuh Vino belum mendukung penjiwaan lakonnya. Padahal olah tubuh  bisa dengan mudah diasah dengan latihan-latihan. Yang lebih sukar adalah mengatasi kekurangan olah vokal yang membuat Tansen maupun Topan kurang menyatu dengan gerak tubuhnya. Suara Vino yang cenderung bernada tinggi harus bisa “ditekuk” dengan banyak latihan untuk mengikuti gerak aktingnya agar terdengar lebih meyakinkan.

 

Vino G Bastian dalam film MadreBerlebih

Seperti sudah disinggung sedikit di atas, Madre dan Tampan Tailor sama-sama mengambil bentuk melodrama, sebuah bentuk yang sangat populer di belahan dunia manapun, karena sifatnya yang menekankan sisi emosi sebagai sumber pengalaman estetik. Namun demikian, berbeda dengan bentuk serupa yang dipakai film Indonesia tahun 1970-an dan 1980-an, dua film terakhir ini sudah lebih patuh pada aturan sebab-akibat. Kepatuhan semacam ini merupakan perkembangan menggembirakan sejak tahun 2000-an.

Kelebihan utama Madre dan Tampan Tailor adalah pekerjaan tokohnya menjadi dasar kisah. Yang pertama pembuat roti, yang kedua tukang jahit. Masalahnya, hubungan antara pekerjaan dan karakterisasi tokoh dalam kedua film belum mulus. Dasar pemahamannya jelas, bahwa jenis pekerjaan mempengaruhi karakter seseorang. Tansen dalam Madre menunjukkan kaitan yang lebih jelas: disiplin pekerjaan membuat roti (berikut disiplin bisnis yang menyertainya) dengan kebebasan yang jadi prinsip hidupnya. Sementara Topan sebagai tukang jahit baru sebatas keterangan saja. Yang lebih penting dalam kisah Topan bukanlah pekerjaannya tapi usaha kalang kabut untuk bebas dari himpitan kemiskinan.

Kita mengenal Tansen dari narasi tentang dirinya sendiri — sebuah cara gampang untuk to tell dibanding to show. Ia tiba-tiba mendapat warisan dari kakeknya: biang roti yang diberi nama Madre. Dari biang roti itu pula dia menyadari riwayat keluarga yang mendahuluinya dengan bantuan “bentakan” dari pegawai kakeknya yang setia: Pak Hadi (Didi Petet, yang bermain baik sesuai standar dirinya). Bukan kesenangan membuat roti yang membuat Tansen bertahan, tapi Melan (Laura Basuki), gadis pemilik puluhan gerai roti yang ingin memiliki Madre sebagai penebus rasa bersalahnya terhadap kakeknya. Hubungan mendekat-menjauh Tansen-Melan ini yang kemudian menjadi jelujur utama kisah, sambil tetap keluar-masuk masalah Madre. Pak Hadi selalu mengingatkan siapa diri Tansen dan pembuatan roti. Suatu kelindan yang rapi jalinannya.

Sementara dalam Tampan Tailor, tidak jelas kenapa Topan harus menggadaikan mesin jahit yang jadi modal utamanya, hingga dia harus mencoba peruntungan menjadi calo, bahkan kemudian stunt-man dalam produksi film. Semuanya gagal, sampai malaikat penolong berupa gadis ketus Prita (Marsha Timothy) datang. Ia adalah pemilik sebuah kios yang berulang kali menyelamatkan anak Topan dan akhirnya memberikan kartu nama saudaranya, seorang eksportir jas. Keberuntungan tidak serta merta datang. Kerja baru di mana Topan merasa mendapatkan tempat ini, harus dia tinggalkan karena iri-dengki manajernya. Nasib seolah menganaktirikan dan terus menguji Topan sebelum akhir yang bahagia. Sebuah jelujuran yang mengingatkan kita pada Ratapan Anak Tiri (1973) dan banyak kisah-kisah melodramatis lain yang prinsipnya ingin mengharu-biru perasaan penonton sebelum diberi kelegaan di ujungnya.

Kisah Tansen tidak sesedih Topan, tapi sifat dasar melodrama tetap lekat pada filmnya. Salah satu hal yang paling menonjol dari melodrama adalah romantisasi berlebih, hingga kehilangan pijakan atas realitas. Romantisme sebetulnya sudah dibantah oleh realisme yang berkembang pada paruh kedua abad ke-19.

Dalam Madre, Tansen awalnya merasa aneh melihat Pak Hadi melakukan “ritual” mengambil dan memasukkan Madre ke lemari es. Kemudian, entah kenapa, dia melakukan hal yang sama dengan caranya sendiri. Gambaran tentang Tansen yang menjalani “ritual” ini begitu saja menunjukkan kealpaan yang esensial: tidak adanya penjelasan tentang betapa penting biang roti dalam usaha pembuatan roti. Barangkali penjelasan ini dianggap tidak penting, karena bisa mengurangi romantisme biang roti? Sebagai perbandingan, bisa dilihat bagaimana Ang Lee dengan detil menceritakan cara membuat bebek panggang yang benar dalam Eat Drink Man Woman (1994), sebuah film yang memasalahkan konflik etnis dan seksual dalam keluarga Cina.

Perbandingan yang mungkin tidak setara ini penting untuk memberi tekanan bahwa melodrama bisa jadi kendaraan untuk sesuatu yang serius, tanpa jatuh ke romantisasi berlebihan.  

Perbandingan sama juga berlaku untuk Tampan Tailor, yang melakukan romantisasi berlebih atas nasib Topan dan anaknya. Sikap berlebihan ini kelihatan juga dari sifat romantik ilustrasi musik yang menggunakan orkes penuh, hingga di sana-sini malah menenggelamkan gambar.

Hasilnya, kedua film jadi seperti olahan sinetron versi layar lebar. Tradisi sinetron memang dimulai oleh orang-orang film Indonesia 'lama', yang membuat sinetron saat produksi film lesu. Jejak melodrama khas film kita pun terpelihara.

Kalau saja cara mengolah cerita digeser sedikit, maka seluruh bangunan kisah akan bernada lain. Umpamanya: dalam Tampan Tailor kelihatan betapa rentan dan rapuhnya pekerja informal/pekerja rendahan saat berhadapan dengan struktur sosial-ekonomi formal. Dengan cara ini film tidak sekadar menjadi  produk romantisme atau reproduksi realitas seperti media massa cetak dan elektronik, tapi bisa menjadi sumber inspirasi.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.