Sang Penari ke Academy Awards 2013

Berita :: Penulis: Totot Indrarto

Salah satu adegan dalam film Sang PenariFilm Terbaik FFI 2011, Sang Penari (Ifa Isfansyah), resmi ditetapkan sebagai wakil Indonesia dalam kompetisi Film Berbahasa Asing Academy Awards ke-85, yang malam puncaknya bakal digelar 26 Februari 2013. Sembilan film pilihan dalam kategori tersebut baru diumumkan pertengahan Januari 2013, dan lima unggulannya pada 24 Februari. Tahun ini pemenang Oscar untuk film berbahasa asing adalah A Separation (Asghar Farhadi, Iran), yang minggu ini mulai beredar.

Selain Sang Penari, sampai saat ini sudah ada 47 film lain didaftarkan dalam kategori berbahasa asing yang mulai dilombakan 1956 itu. Pendaftaran ditutup 30 September mendatang. Ifa Isfansyah akan bersaing dengan sejumlah nama besar yang film-filmnya kerap memenangi festival-festival internasional, antara lain Michael Haneke (Austria), Christian Petzold (Jerman), Lasse Hallstrom (Swedia), Ursula Meier (Swiss), dan Kim Ki-duk (Korea Selatan).

Peserta kompetisi Film Berbahasa Asing merupakan wakil resmi yang dipilih dan didaftarkan oleh perwakilan yang oleh The Academy of Motion Picture Arts and Sciences dianggap merepresantasikan industri perfilman setiap negara. Di Indonesia, mereka mempercayakan pada PPFI (Persatuan Produser Film Indonesia). Asosiasi yang didirikan 1956 antara lain oleh Djamaludin Malik dan Usmar Ismail setiap tahun membentuk tim seleksi untuk memilih wakil Indonesia. Sayangnya, keberadaan tim dan proses seleksi tersebut terkesan dilakukan diam-diam.

Setidaknya sejak 2005 berkembang wacana agar pemenang Festival Film Indonesia (FFI) otomatis menjadi wakil Indonesia di Academy Awards. Riri Riza, yang filmnya saat itu, Gie, terpilih manjadi wakil Indonesia pernah menyatakan, "Mestinya film pemenang FFI yang dikirim, karena akan jadi official entry sebuah negara, semacam kontingen. Untung Gie bisa lolos, meski belum dinyatakan menang di FFI tahun ini." Niniek L Karim, Ketua Dewan Juri FFI 2008 yang kemudian menjadi Ketua Kelompok Kerja Festival Film Indonesia (KKFFI) 2009-2010, bahkan berjanji akan memperjuangkan hal tersebut ke Badan Pertimbangan Perfilman Indonesia (BP2N) dan pemerintah.

Termasuk Sang Penari, sejak 1987 Indonesia sudah mengirim 15 film, tapi belum satu pun berhasil masuk unggulan. Dari jumlah itu, hanya terdapat empat Film Terbaik FFI, yaitu Nagabonar (MT Risyaf, 1987), Tjoet Nja’ Dhien (Eros Djarot, 1989), Gie (Riri Riza, 2005), dan Sang Penari (Ifa Isfansyah, 2013).

Adapun film-film lainnya adalah: Langitku Rumahku (Slamet Rajardjo, 1990),  Bibir Mer (Arifin C. Noer, 1992), Daun di Atas Bantal (Garin Nugroho, 1988), Sri (Marselli Sumarno, 1999), Ca Bau Kan (Nia Dinata, 2002), Biola Tak Berdawai (Sekar Ayu Asmara, 2003), Berbagi Suami (Nia Dinata, 2006), Denias, Senandung di Atas Awan (John de Rantau, 2007), Jamila dan Sang Presiden (Ratna Sarumpaet, 2009), Alangkah Lucunya Negeri Ini (Deddy Mizwar, 2010), dan Di Bawah Lindungan Ka'bah (Hanny Saputra, 2011).

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.