Sepuluh Film Warkop, Letak Masalah pada Sutradara dan Skenario

Kajian :: Penulis: JB Kristanto, Marselli Sumarno

Dari kiri ke kanan: Indro, Dono, Kasino, dan Nanu. Sumber: IstimewaWarkop Prambors mengawali penampilan mereka dalam film pada 1979. Sejak Mana Tahan (1979) hingga Maju Kena Mundur Kena pada 1983, mereka telah menyelesaikan sepuluh film khas Warkop Prambors. Artinya, film-film komedi yang diolah untuk dan dimainkan oleh Warkop Prambors.

Film-film Warkop Prambors rata-rata sukses secara komersial, meskipun tidak berarti jenis yang laku harus begitu. Rata-rata susunan cerita yang dibangun cukup sederhana, selain berkesan dangkal. Belum lagi soal daya akting yang memerlukan kemampuan khusus, mengingat sifat perekaman film yang terputus-putus.

Reputasi Panggung
Larisnya film-film Warkop Prambors, menurut Arwah Setiawan (Ketua Lembaga Humor Indonesia), adalah berkat reputasi mereka sebagai pelawak panggung. Di panggung Warkop Prambors dikenal sebagai pelawak intelek, lawakannya punya relevansi sosial. “Meskipun dalam film tidak kelihatan intelek,” Arwah melanjutkan. “Kalangan bawah menerima humor mereka. Demikian pula kalangan menengah yang merasa sreg menonton film Warkop Prambors, karena terlanjur menerima image intelek tadi.”

Jika demikian, apa yang menjadi soal dengan film-film Warkop Prambors? Setelah mengamati sepuluh film Warkop Prambors sebagai fenomena film komedi, mungkin kita bisa menyimpulkan bahwa letak persoalannya adalah pada sutradara dan skenario. Dari sepuluh film, Nawi Ismail telah tiga kali ambil bagian: Mana Tahan (1979), Gengsi Dong (1980), dan Gede Rasa (1980)). Arizal tiga film: Pintar-pintar Bodoh (1980), Dongkrak Antik (1982), dan Maju Kena Mundur Kena (1983). Iksan Lahardi juga 3 film: IQ Jongkok (1981), Setan Kredit (1982), CHIPS (1982)), sementara Ali Shahab cuma sekali, Manusia 6.000.000 Dollar (1981) ).

Film yang disutradarai oleh Ali Shahab itu boleh dikata merupakan film Warkop Prambors yang terjelek. Ukuran keberhasilan yang digunakan di sini adalah banyaknya ‘gerr’ serta keterpaduannya sebagai film komedi. Ali Shahab mencoba memancing tawa lewat cerita ala spionase film seri televisi, Six Million Dollar Man, tapi pengadeganan yang bertele-tele menyebabkan film ini gagal.

Sering Abai
Sedangkan Nawi Ismail yang dikenal sebagai pembuat film humor agaknya mengalami hambatan ketika bekerjasama dengan Warkop Prambors yang kini cuma bertiga (Dono, Kasino, Indro) setelah Nanu absen. Nawi pandai main kata-kataan, tapi sering abai dalam merangkum seluruh kejadian menjadi satu cerita lucu. Mana Tahan adalah contoh yang jelas bagaimana tidak padunya film sehingga merupakan dadakan-dadakan lepas, yang tentu saja menurunkan nilainya sebagai film.

Posisi Iksan Lahardi juga tak beranjak jauh dari Nawi dalam keberhasilannya menampilkan lawakan Warkop Prambors. Bahkan Iksan lebih kurang berbakat dibandingkan Nawi. Secara teknis garapan Iksan lebih kasar, dan berkesan menghina selera penonton, misalnya yang menyolok dalam Setan Kredit.

Yang paling mendingan adalah pengarahan Arizal, yang memang tampak telah berusaha menghidupkan cerita yang lucu. Misalnya dalam kisah model detektif Pintar-Pintar Bodoh, kehidupan di seputar hotel Dongkrak Antik (yang sama sekali tidak ada hubungannya antara judul dan cerita), dan terakhir kehidupan di rumah kos Maju Kena Mundur Kena (judul ini juga tak jelas kaitannya dengan cerita). Kelemahan Arizal, ia kurang memperhalus adegan, atau tepatnya kurang berani membuang gambar-gambar yang sebaiknya dihilangkan karena justru membuat lelucon menjadi bertele-tele. Cara kerja Arizal yang terkenal cepat ternyata membuahkan penampilan Warkop Prambors yang lebih wajar, karena dengan cara itu spontanitas bermain lebih dimungkinkan.

Skenario Lucu
Menyinggung skenario, tiga film yang digarap Nawi Ismail didasarkan pada skenario yang disusunnya sendiri. Sisanya (7 film) digarap oleh Deddy Armand. Umumnya skenario-skenario film Warkop Prambors menempatkan personil Warkop Prambors sebagai pemuda-pemuda yang kurang bertanggungjawab, datang dari kalangan orang berada, dan seringkali masih mahasiswa. Singkatnya, menempelkan ciri-ciri intelek. Boleh dikata belum ada skenarionya sendiri yang lucu. Kisah diserahkan kepada Warkop Prambors untuk melucukannya dengan pengarahan sutradara.

Belum Tercapai
Film komedi minimal memang harus menghibur rakyat banyak. Tetapi bila soal kualitas dipertanyakan, sutradara yang terampil dan skenario yang lucu tentu akan menolong, sebab masih ada kesenjangan antara keberhasilan lawakan Warkop Prambors di panggung dan di film.

Di panggung mereka memang menampilkan kumpulan atau kolase banyolan sebagaimana grup-grup pelawak lain, meski harus diakui Warkop Prambors berusaha juga menyambung-nyambungkannya secara rapi dalam satu ikatan, entah tempat, masalah, atau apa pun namanya. Salah satu pertunjukan mereka yang paling berhasil adalah ketika mereka tampil pertama kali di televisi dengan bentuk dan kostum drama Bali.

Keutuhan seperti ini belum pernah tercapai di film, yang tentu memang lebih banyak dan lebih sulit masalahnya. Film terakhir mereka Maju Kena Mundur Kena, umpamanya, bisa dipakai sebagai contoh betapa belum berhasilnya grup ini membuat tontonan yang utuh. Kesan kumpulan banyolan masih ada. Padahal peluang untuk membuat sebuah kisah yang cukup mendalam dan utuh tersedia.

Seandainya mereka mau membatasi ruang gerak mereka sebagai pekerja bengkel saja, atau di rumah kos saja, maka tidak perlu ada naik sepeda bertiga sambil berpetuah “mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga.” Tidak perlu lari ke lapangan bola hanya untuk mencontoh film lucu televisi Dance Football. Dengan membatasi permasalahannya di rumah kos dengan datangnya kakek-nenek Marina (Eva Arnaz), tentu mereka tidak perlu mereka-reka masalah dan cerita. Kelucuan dengan demikian bukan dalam tingkah, banyolan, namun lebih berpusat pada ceritanya. Memang lebih rumit, karena perhitungan-perhitungan karakter dan logika cerita menjadi lebih dituntut. Tapi harapan akan keutuhan menjadi lebih mungkin. Film komedi memang harus membuat orang gembira, tapi juga harus tetap utuh, kalau mau dikatakan baik.

Sumber: Nonton Film Nonton Indonesia, JB Kristanto (Penerbit Buku Kompas, Jakarta: 2004)
Terbit pertama kali di Kompas, 19 Juni 1983.

Komentar

Silahkan masuk log terlebih dahulu untuk memberi komentar.