Sukarno M Noor, Hari Esok Aktor Tua

Sosok :: Penulis: JB Kristanto, Efix Mulyadi

Kantor Parfi di Kuningan kelihatan sibuk setiap hari. Ada beberapa meja dengan karyawan duduk di kursi masing-masing. Di ujung dekat pintu masuk ruangan Pengurus Besar Parfi, duduk seorang sekretaris. Di hadapannya tersedia satu buku tempat setiap tamu yang ingin bertemu dengan pengurus Parfi wajib menuliskan keperluan mereka. Bersama kami, ada lima orang tamu yang mesti sabar menanti giliran. Setelah setengah jam menunggu, dengan sedikit memaksa, kami segera membuka pintu. Yang menyambut adalah Ketua Parfi sendiri. Rambutnya sebagian sudah memutih. Berkumis. Beberapa kerutan dan lipatan di wajahnya tampak jelas ketika ia tertawa lepas.

Namanya Sukarno M Noor. Ketua Persatuan Artis Film Indonesia. Aktor terbaik dalam FFI ’79 yang lalu. Ia selalu sibuk mengurus sekian banyak anggota, dan menurut pengakuannya, hal itu ia lakukan tanpa imbalan. Menurut pengakuannya pula, mekanisme kantornya mulai berjalan. Tamunya setiap hari tak terhitung. Itu sebabnya untuk menemuinya tidak segampang dulu lagi. Bukan karena ’sok’, tapi itu karena Parfi sedang dalam proses bertumbuh menjadi kuat dan berarti bagi anggota.

Sukarno mengatakan, kesediaannya bekerja tanpa imbalan adalah karena terdorong rasa suka berorganisasi yang sudah ia lakukan sejak SMP. Alasan lain, ia prihatin pada posisi bintang film kita yang begitu lemah di hadapan produser.

”Gelar Best Actor bagi saya kan hanya sekedar pujian. Di sisi lain saya dituntut untuk meningkatkannya. Yang menjadi pertanyaan, kemungkinan apa yang bakal tersedia bagi seorang Sukarno M Noor?” katanya. Usianya menjelang setengah abad, sementara kebanyakan film kita menokohkan remaja. Sekalipun memegang Citra di tangan, tidak selalu mudah buatnya merebut peran utama dalam film-film, karena ia sudah berumur. Parfi, tentu belum bisa berbicara banyak untuk itu. Produksi film sedang lesu, dan yang dibintangi oleh seorang aktor terbaik belum tentu lebih mendatangkan keuntungan komersial.

Tidak Menyerah

Jadi? Ya, nasib oranglah, katanya. Tapi itu tidak berarti ia menyerah, seperti tokoh yang diperankannya dalam Kemelut Hidup (1977), film yang mengantar memperoleh Piala Citra kemarin ini. Sang tokoh dalam usia begitu tua terus berusaha keras meraih kesempatan. Tidak menyerah, itulah rupanya kata-kata yang tepat untuk merumuskan sikapnya sejak dulu.

Pada 1950-an ia ditolak di mana-mana. Perfini, Persari, Tan & Wong Brothers Bintang Surabaya, dan Golden Arrow—perusahaan film di kala itu—rupanya tak melihat peluang yang menarik yang bisa diperoleh dari seorang pegawai pos (PTT). Sukarno pun pontang-panting keluar-masuk pintu perusahaan-perusahaan tersebut, melamar sana-sini, dengan sia-sia. Keputusan sudah dicanangkan. Langkah sudah diayunkan. Api sudah dinyalakan. Tiga tahun, tiga kali 360 hari, ia berkutat. Tapi satu kesempatan kecil pun dalam film tidak berhasil ia peroleh. Yang didapatnya malah peran dalam suatu drama. Ia memainkan peran utama dalam Runtuhan karya Muscar. Ternyata, yang lebih penting bukan utama tidaknya peran itu, tapi kesempatan main dan diketahui orang. Dan memang benar. Tb Sanusi (karyawan PFN) yang dikenalnya pada kesempatan itu mengajak main film.

Pintu kecil yang terkuak tidak disia-siakan Sukarno. Film pertamanya adalah Meratjun Sukma (1953). Dengan berani, ia keluar dari tempatnya bekerja yang lama, PTT, dan memilih hidup di dunia film, yang sebenarnya belum jelas prospeknya.

Sejak film pertama sampai sekarang, sekitar 27 tahun berselang, separuh lebih usianya sudah dihabiskan di dunia ini. Tapi, ”hanya sekitar empat tahun saya benar-benar menikmati kemanisan dunia film,” katanya. Itu berarti sisanya, yang jauh lebih lama, dilewati dengan susah-payah. Toh ia tidak ”lari” darinya. Dengan tekad bulat, ia tetap bergulat di dunia ini. Sukarno sering melewatkan masa prihatinnya yang berkepanjangan dengan mencari nafkah dari sumber lain, tanpa melepaskan komitmennya pada dunia satu ini. Banyak pekerjaan pernah ditanganinya termasuk jual koran dan membantu di restoran.

”Bukan macam pekerjaan yang menentukan martabat seseorang, kan?” katanya.

Ladang Baru

Itu barangkali benar. Di tengah kelesuan produksi film, Best Actor sejak 19 tahun yang lalu ini toh tidak merasa tercemar namanya sekalipun ia menjalankan berbagai usaha. Akhir-akhir ini Sukarno mencoba membuka ladang baru. Catering. Pesanan pertama datang dari produser pertunjukan drama, Jangan Kirimi Aku Bunga, yang manggung di TIM tempo hari. Ia menyediakan makanan selama kelompok drama itu berlatih dan main. Seluruh anggota keluarga ikut bekerja, mulai dari pembantu anak-anak, sampai sang nyonya. Bahkan, Rano Karno, putranya yang sudah punya nama di dunia perfilman, juga tidak sungkan-sungkan menjadi pengantar rantangan ini.

Merintis usaha keluarga ini—dengan pesanan yang belum ajek—mau tidak mau harus dilakukan Sukarno untuk menutup anggaran hidup keluarga besarnya. ”Saya mesti menghidupi 17 jiwa,” tutur Karno. ”Enam anak saya, satu menantu, istri, cucu, dan lima pembantu. Hasil usaha ini memang belum begitu pasti, tapi sedikitnya, ya, bisa numpang makan gratis, kan?” tuturnya lagi.

Alasan Sukarno memilih jenis usaha ini ternyata sederhana sekali: istri pintar masak, dan terutama, bisa numpang makan. ”Mas Karno kan orang Sumatra. Si Sumatra ini kan tukang makan. Seleranya bermacam-macam,” tukas sang nyonya. Maka berlatihlah sang nyonya memenuhi selera Sukarno. Bisa diduga, keterampilan menyuguhkan hidangan dengan anggaran kecil yang dulu karena terpaksa, kini membuahkan hasil.

Tetap Tahan Lapar

Hidup prihatin bukan barang baru bagi Sukarno. Kalau industri film tidak lesu seperti sekarang, penghidupan hanya terasa lebih mudah. Tahun ini, sampai ia meraih Citra kemarin, Sukarno belum menerima satu pun tawaran main. Itu berarti sudah lima bulan ia hidup tanpa penghasilan. Untung, ia termasuk orang yang suka menyimpan kelebihan duitnya. Tapi menganggur berkepanjangan tentulah semakin menipiskan simpanan tersebut. Kebutuhannya besar, tanggungannya banyak.

”Kalau setahun mendapat empat peran pembantu utama saja, kebutuhan hidup itu sudah terpenuhi.” Kalau tarifnya untuk peran tersebut sekitar Rp2 juta, kebutuhannya minimal Rp8 juta. Dan dengan sederhana, ia mencoba menutupnya selain menggerogoti simpanan, dengan membuka usaha catering tersebut. Usaha, yang baru tumbuh ini, memang belum bisa diandalkan. Mesti ada kebijaksanaan lain, kompromi, meskipun ada Citra di tangannya.

”Kalau peran dan skenario cocok, tak ada salahnya main di bawah sutradara siapapun,” ujarnya. Meskipun secara jujur, ia merasa lebih senang bekerja sama dengan sutradara yang sudah dikenalnya, karena itu memudahkan kerja sama. Yang penting, ia tidak merasa melulu seorang aktor—terbaik tahun ini—tapi juga seorang kepala keluarga besar, ayah beberapa anak, dan bertanggung jawab kepada keluarga mendiang adiknya.

”Saya sendiri masih sanggup menahan lapar,” katanya. Tanggungan jiwa sebanyak itu toh memaksanya untuk bersikap longgar, dalam batas tertentu. Yang jelas, katanya, menjaga supaya tidak dianggap telah menjual martabat diri sendiri.

”Kemungkinan apa yang bakal tersedia bagi seorang Sukarno M Noor?” rupanya bakal menjadi pertanyaan yang melingkar-lingkar di kepala Sukarno, seorang pemain yang telah menunjukkan dedikasinya selama 27 tahun, selalu memegang peran utama, dan sejak 19 tahun lalu sudah menyandang gelar Best Actor. Kemungkinan apa yang tersedia baginya, memang pantas menjadi pertanyaan.

Yang jelas, berkecimpung di dunia film selama seperempat abad belum membuatnya mampu memberi tempat berteduh bagi keluarganya. Bulan depan keluarga ini akan pindah ke kawasan Kemang, Jakarta, untuk memperlancar usaha catering-nya. Saat ini mereka masih tinggal di Jalan Sindang Barang 2, Bogor. Rumah di dua tempat tersebut bukan milik sendiri. Rumah sederhana, dengan sebilah keris warisan menempel di dinding, mobil milik Rano Karno, Datsun merah milik ’usaha keluarga’ dan sejumlah anak dan pembantu tenaga kerja untuk usaha barunya ini. Kemungkinan apa bagi pemain film sebaik namun setua Sukarno M. Noor memang sulit dijawab sekarang ini.

Sumber: Nonton Film Nonton Indonesia, JB Kristanto (Penerbit Buku Kompas, Jakarta: 2004)

Terbit pertama kali di Kompas, 20 Mei 1979.

Komentar

Pemberian komentar tidak diakifkan.